Minggu, 09 Mei 2010

Contoh Skripsi Fisika 1

PENGEMBANGAN BAHAN PEMBELAJARAN MANDIRI KOMPUTASI
FISIKA DENGAN MENGGUNAKAN “MOODLE” SECARA ONLINE DI
JURUSAN FISIKA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
SKRIPSI
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
pada Universitas Negeri Semarang
Oleh:
Agung Purnomo
NIM. 4201401035
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN FISIKA
2006

PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia
Ujian Skripsi
Semarang, September 2006
Pembimbing I,
Pembimbing II,
Dr. rer. nat Wahyu Hardyanto, M.Si.
Isa Akhlis, S.Si., M.Si.
NIP.131405858
NIP.132231405
Page 3
iii
PENGESAHAN KELULUSAN
Skripsi ini telah dipertahankan di dalam sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan
Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri
Semarang pada
hari : Jumat
tanggal : 8 September 2006
Panitia Ujian Skripsi :
Ketua,
Sekertaris
Drs. Kasmadi Imam S., M.S.
Drs. M. Sukisno, M.Si.
NIP. 130781011
NIP. 130529522
Penguji I
Penguji II
Dr. Supriadi Rustad
Isa Akhlis, S.Si., M.Si.
NIP. 131695157
NIP. 132231405
Penguji III
Dr. rer. nat Wahyu Hardyanto, M.Si.
NIP. 131405858
Page 4
iv
PERNYATAAN
Saya menyatakan bahwa yang tertulis didalam skripsi ini benar-benar hasil karya
sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian atau seluruhnya.
Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau
dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.
Semarang, 1 September 2006
Penulis,
Agung Purnomo
NIM. 4201401035
Page 5
v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto:
✪ Hidup adalah perjuangan, kerja keras, pantang menyerah, do’a, usaha,
iman, dan taqwa.
✪ Kebijaksanaan muncul karena pengalaman, dan pengalaman didapat
karena ketidakpahaman (kebodohan).
Persembahan
1. Untuk Ayahanda Paimo, Ibunda Sumiah dan seluruh
keluarga (kakek almarhum, nenek, paman, bibi, dan
adik), terimakasih atas do’a, dukungan, nasehat, dan
kasih sayang yang telah diberikan.
2. Guru-guru yang telah memberikan ilmunya kepadaku.
3. Sahabat sekaligus kekasihku Subartuti yang telah
memberikan semangat kepadaku.
4. Teman-temanku Fisika, PKM FMIPA, DPM FMIPA,
Pramuka FMIPA dan Hima Fisika serta Perpusfi.
Tanpa mereka, Aku dan karya ini takkan pernah ada.
Page 6
vi
KATA PENGANTAR
Puji Syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi dengan baik.
Skripsi ini adalah laporan penelitian yang mengambil judul
Pengembangan Bahan Pembelajaran Mandiri Komputasi Fisika dengan
menggunakan “Moodle” secara online di Jurusan Fisika Universitas Negeri
Semarang.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai
pihak, skripsi ini tidak akan berjalan lancar. Oleh karena itu, penulis
menyampikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Drs. Sudijono Sastroatmojo, M.Si. selaku Rektor Universitas Negeri
Semarang yang telah memberikan kesempatan kepada penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini.
2. Drs. Kasmadi Imam Supardi, M.S. selaku Dekan FMIPA Unnes yang telah
memberikan ijin dan kesempatan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi.
3. Drs. M. Sukisno, M.Si. selaku Ketua Jurusan Fisika FMIPA Unnes yang
telah membantu proses perijinan pelaksanaan penelitian.
4. Dr. rer. nat Wahyu Hardyanto, M.Si. selaku pembimbing I yang dengan
penuh kesabaran telah memberikan bimbingan selama pembuatan skripsi.
5. Isa Akhlis, S.Si., M.Si. selaku dosen pembimbing II yang dengan penuh
kesabaran telah memberikan bimbingan selama pembuatan skripsi.
Page 7
vii
6. Sugiyanto, S.Pd. sebagai dosen Fisika yang telah membantu dan memberikan
dukungan pelaksanaan penelitian.
7. Seluruh dosen yang mengajar di Jurusan Fisika.
8. Wasi Sakti W. P., S.Pd. selaku asisten dosen Laboratorium Fisika yang telah
membantu dalam pelaksanaan penelitian.
Penulis
Page 8
viii
SARI
Purnomo, Agung. 2006. Pengembangan Bahan Pembelajaran mandiri Komputasi
Fisika dengan meggunakan “moodle” secara online di Jurusan Fisika
Universitas Negeri Semarang. Skripsi. Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing: Dr. rer. nat
Wahyu Hardyanto, M. Si. dan Isa Akhlis, S.Si., M. Si.
Kata Kunci: Bahan pembelajaran, moodle, online, tingkat keterbacaan teks, dan
tingkat ketertarikan user.
Latar belakang masalah dalam penelitian ini adalah keterbatasan ruang dan
waktu menjadi kendala utama bagi peningkatan kualitas pembelajaran.
Pertambahan jumlah peserta didik pada suatu lembaga berpotensi mengurangi
kualitas interaksi antara pendidik dan peserta didik sehingga hasil yang maksimal,
dalam bentuk pembelajaran berkualitas, semakin jauh dari harapan. Mendasarkan
pada latar belakang kemudian muncul permasalahan (1) apakah bahan
pembelajaran komputasi fisika menggunakan moodle yang dikembangkan oleh
penulis mudah dipahami menurut tingkat keterbacaan teks, (2) seberapakah besar
tingkat ketertarikan user menggunakan bahan pembelajaran komputasi fisika
secara online. Tujuan yang dicapai yaitu (1) mengetahui tingkat keterbacaan teks
bahan pembelajaran komputasi fisika, (2) mengetahui tingkat ketertarikaan user
terhadap bahan pembelajaran komputasi fisika. Manfaat penelitian ini yaitu
memberikan informasi bagi para pendidik mengenai bahan pembelajaran
komputasi fisika menggunakan moodle yang berkenaan dengan tingkat
keterbacaan teks dan tingkat ketertarikan user.
Moodle adalah sebuah paket perangkat lunak yang berguna untuk
membuat dan mengadakan kursus/pelatihan/pendidikan berbasis internet. Moodle
merupakan akronim dari Modular Object Oriented Dynamic learning
environment. Moodle dapat digunakan untuk melakukan aktivitas pembelajaran
secara online dan peserta didik dapat belajar secara mandiri. Bahan pembelajaran
ini ditampilkan di layar monitor komputer dengan memanfaatkan moodle.
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan untuk mengumpulkan data
adalah metode tes dan metode angket. Metode tes digunakan untuk mengetahui
tingkat keterbacaan teks bahan pembelajaran. Sedangkan metode angket
digunakan untuk mengetahui tingkat ketertarikan user terhadap bahan
pembelajaran menggunakan moodle yang dikembangkan oleh penulis.
Untuk mengetahui tingkat keterbacaan teks bahan pembelajaran adalah
menggunakan metode tes rumpang (cloze test). Dari hasil penelitian diperoleh
besarnya prosentase tingkat keterbacaan teks bahan pembelajaran adalah sebesar
83,5 % ini berarti bahan pembelajaran menggunakan moodle yang dikembangkan
oleh penulis termasuk ke dalam kriteria mudah dipahami. Sedangkan prosentase
tingkat ketertarikan dari user sebesar 78,2 %. Hal ini berarti bahan pembelajaran
menggunakan moodle yang dikembangkan oleh penulis termasuk ke dalam
kategori baik.
Page 9
ix
Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah bahwa bahan
pembelajaran yang dikembangkan oleh penulis termasuk ke dalam kriteria mudah
dipahami dan tingkat ketertarikan user termasuk kategori baik, sehingga bahan
pembelajaran tersebut dapat digunakan untuk belajar mandiri dan dapat digunakan
sebagai pelengkap kegiatan belajar mengajar. Mendasarkan pada hasil penelitian
yang telah diperoleh, disarankan (1) bahan pembelajaran dengan moodle dapat
dikembangkan lagi dalam rangka pembelajaran yang berkelanjutan, (2) program
ini perlu terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan dan perkembangan
IPTEK supaya peserta didik yang menggunakan tidak ketinggalan informasi dan
ilmu pengetahuan yang baru.
Page 10
x
DAFTAR ISI
hlm
HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING................................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN KELULUSAN .................................................... iii
LEMBAR PERNYATAAN ............................................................................. iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................... v
KATA PENGANTAR ..................................................................................... vi
SARI.................................................................................................................. viii
DAFTAR ISI .................................................................................................... x
DAFTAR TABEL............................................................................................. xiv
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xv
DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................... xvi
BAB I. PENDAHULUAN.............................................................................. 1
1.1. Latar Belakang......................................................................................... 1
1.2. Permasalahan ........................................................................................... 2
1.3. Tujuan Penelitian ..................................................................................... 3
1.4. Manfaat Penelitian ................................................................................... 3
1.5. Penegasan Istilah ..................................................................................... 3
1.6. Sistematika Penulisan Skripsi.................................................................. 4
BAB II. LANDASAN TEORI .......................................................................... 6
2.1. Pengantar Tentang Linux......................................................................... 6
Page 11
xi
2.1.1. Sejarah Linux............................................................................. 6
2.1.2. Linux dan Konsep Open Source ................................................ 6
2.1.3. Linux Suse.................................................................................. 7
2.2. Moodle..................................................................................................... 7
2.2.1. Pengertian Moodle..................................................................... 7
2.2.2. Desain Moodle........................................................................... 8
2.2.3. Manajemen Moodle................................................................... 9
2.2.4. Modul ........................................................................................ 12
2.3. Sekilas tentang e-Learning...................................................................... 17
2.4. Hakekat Pembelajaran Mandiri .............................................................. 21
2.5. Pembelajaran Mandiri dengan Moodle.................................................... 25
2.6. Ringkasan Materi Komputasi Fisika ....................................................... 26
2.6.1. Gerak Benda Jatuh..................................................................... 26
2.6.2. Grafik Pixel ............................................................................... 27
2.6.3. Benda pada Pegas ...................................................................... 29
2.6.4. Gerak Proyektil.......................................................................... 31
2.6.5. Rangkaian RC dan RL ............................................................... 33
2.6.6. Sistem Tiga Benda..................................................................... 36
2.6.7. Hamburan Rutherford................................................................ 37
2.6.8. Metode Runge Kutta.................................................................. 40
2.7. Deskripsi Sinau Online............................................................................ 41
2.8. Pemrograman Borland Delphi ................................................................. 44
2.8.1. Pengenalan Borland Delphi....................................................... 44
Page 12
xii
2.8.2. Bagian Umum Lingkungan Borland Delphi 7........................... 44
BAB III. METODE PENELITIAN .................................................................. 48
3.1. Desain Penelitian .................................................................................... 48
3.1.1. Luaran........................................................................................ 48
3.1.2. Tempat dan Waktu .................................................................... 48
3.1.3. Indikator .................................................................................... 48
3.1.4. Prosedur Kerja ........................................................................... 50
3.2. Metode Penentuan Obyek Penelitian....................................................... 50
3.2.1. Populasi ..................................................................................... 50
3.2.2. Sampel....................................................................................... 50
3.3. Instrumen penelitian Bahan Pembelajaran .............................................. 51
3.3.1. Tes Rumpang............................................................................. 51
3.3.2. Angket atau Kuesioner .............................................................. 52
3.4. Metode Pengumpulan Data ..................................................................... 52
3.4.1. Metode Tes ............................................................................... 52
3.4.2. Metode Angket ......................................................................... 53
3.5. Langkah-langkah Penelitian .................................................................... 53
3.6. Metode Analisis Data .............................................................................. 54
3.6.1. Tingkat Keterbacaan Teks......................................................... 54
3.6.2. Tingkat Ketertarikan User......................................................... 55
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN................................. 57
4.1. Hasil Penelitian........................................................................................ 57
4.1.1. Tingkat Keterbacaan Teks Bahan Pembelajaran....................... 57
Page 13
xiii
4.1.2. Tingkat Ketertarikan User terhadap Bahan Pembelajaran ........ 57
4.2. Pembahasan ............................................................................................. 60
4.3. Keterbatasan dan Kelemahan Penelitian ................................................. 62
4.3.1. Keterbatasan Penelitian ............................................................. 62
4.3.2. Kelemahan penelitian ................................................................ 62
BAB V. PENUTUP........................................................................................... 63
5.1. Simpulan ................................................................................................. 63
5.2. Saran........................................................................................................ 63
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 65
LAMPIRAN
Page 14
xiv
DAFTAR TABEL
hlm
Tabel 2.1 Analogi Mekanika dengan Listrik................................................... 34
Tabel 3.1 Range Prosentase dan Kriteria Kualitatif Ketertarikan User.......... 56
Tabel 4.1 Analisis Skor Angket untuk Sub Variabel Kepuasan Pengguna
(User Satisfaction) .......................................................................... 58
Tabel 4.2 Analisis Skor Angket untuk Sub Variabel Kemudahan
dalam penggunaan (Usability) ........................................................ 58
Tabel 4.3 Analisis Skor Angket untuk Sub Variabel Sistem Navigasi........... 58
Tabel 4.4 Analisis Skor Angket untuk Sub Variabel Rancangan Grafis
(Graphic Design) ............................................................................ 59
Tabel 4.5 Analisis Skor Angket untuk Sub Variabel Isi (Content)................. 59
Tabel 4.6 Analisis Skor Angket untuk Sub Variabel Waktu
Pemanggilan (Loading Time).......................................................... 59
Tabel 4.7 Analisis Skor Angket untuk Sub Variabel Pengaruh terhadap
Individu (Individual Impact)........................................................... 59
Page 15
xv
DAFTAR GAMBAR
hlm
Gambar 2.1 Koordinat Pixel dan Kartesian................................................... 28
Gambar 2.2 Benda pada Pegas ...................................................................... 30
Gambar 2.3 Hubungan antara Fa dan v ......................................................... 32
Gambar 2.4 Rangkaian RC............................................................................ 33
Gambar 2.5 Geometri dari Posisi dan Vektor Gaya pada Ion H2.................. 36
Gambar 2.6 Partikel Alpha yang Mendekati Atom Emas ............................. 38
Gambar 2.7 Geometri Lokasi dari Atom Target dari Partilkel Alpha ......... 38
Gambar 2.8 Halaman Utama ......................................................................... 42
Gambar 2.9 Tampilan Kategori Kursus Fisika ............................................. 42
Gambar 2.10 Halaman Login Sinau Online ................................................... 43
Gambar 2.11 Materi Komputasi Fisika........................................................... 43
Gambar 2.12 Lembar Kerja Borland Delphi................................................... 46
Page 16
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
hlm
Lampiran 1. Daftar Peserta Kuliah Semester Pendek (SP) Komputasi
Fisika Tahun 2005/2006 .......................................................... 68
Lampiran 2. Daftar User Name Mahasiswa Fisika........................................ 69
Lampiran 3. Petunjuk Mengerjakan Tes Rumpang ....................................... 70
Lampiran 4. Tampilan Tes Rumpang (Cloze Test) Keterbacaan Teks Bahan
Pembelajaran Komputasi Fisika ............................................... 71
Lampiran 5. Kunci Jawaban Tes Rumpang................................................... 80
Lampiran 6. Hasil Tes Rumpang Bahan Pembelajaran................................. 81
Lampiran 7. Perhitungan Besarnya Tingkat Keterbacaan Teks Bahan
Pembelajaran Komputasi Fisika................................................ 82
Lampiran 8. Analisa Tes Rumpang ............................................................... 83
Lampiran 9. Kisi-kisi Angket ........................................................................ 84
Lampiran 10. Tampilan Angket Observasi Responden................................... 85
Lampiran 11. Hasil Angket Observasi Responden.......................................... 91
Lampiran 12. Konversi Hasil Angket ke Analisa Angket Observasi
Responden................................................................................... 92
Lampiran 13. Perhitungan Besarnya Tingkat Ketertarikan User Terhadap
Bahan Pembelajaran Komputasi ................................................. 93
Lampiran 14. Analisa Angket Observasi Responden........................................ 94
Lampiran 15. Contoh Program Delphi .............................................................. 95
Lampiran 16. Moodle: Membuat Kuis Online dengan Mudah .........................101
Lampiran 17. Surat Usulan Pembimbing ..........................................................107
Page 17
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Usaha untuk meningkatkan prestasi mahasiswa dapat dilakukan dengan
media pembelajaran yang disesuaikan dengan mata kuliah yang akan disampaikan
oleh para pendidik. Dalam pemilihan media pembelajaran harus memperhatikan
faktor-faktor tujuan yang hendak dicapai, ketepatgunaan, keadaan peserta didik,
mutu teknis, dan biaya (Hamalik, 1993: 51).
Keterbatasan ruang dan waktu menjadi kendala utama bagi peningkatan
kualitas pembelajaran. Pertambahan jumlah peserta didik pada suatu lembaga
berpotensi mengurangi kualitas interaksi antara pendidik dan peserta didik
sehingga hasil yang maksimal, dalam bentuk pembelajaran berkualitas, semakin
jauh dari harapan. Dengan Moodle (Modular Object Oriented Dynamic Learning
Environment) merupakan Software yang open source untuk melakukan
pembelajaran mandiri dengan tanpa terikat oleh waktu dan tempat. Beberapa
fasilitas yang disediakan oleh moodle antara lain: modul bacaan, modul
penugasan, modul chat, modul forum, modul pilihan, modul kuis, dan sebagainya
(Prakoso, 2005: 3).
Moodle dapat dijalankan menggunakan komputer dengan memakai
program linux. Di Jurusan Fisika saat ini telah dikembangkan sistem jaringan
terpadu yang menghubungkan jaringan internet, jaringan Universitas, dan jaringan
Page 18
2
intranet yang meliputi jaringan Fakultas MIPA, Jurusan Fisika, dan jaringan
Laboratorium Fisika.
Manfaat dari pengunaan bahan pembelajaran sangat penting salah satu
manfaat dari bahan pembelajaran adalah mengatasi keterbatasan frekuensi tatap
muka antara mahasiswa dengan para pendidik. Dengan adanya bahan
pembelajaran tersebut mahasiswa dapat belajar secara mandiri dan tidak terlalu
menggantungkan belajar dari catatan saja.
Bahan pembelajaran dapat dibuat dengan berbagai bentuk antara lain
bahan pembelajaran yang ditulis dalam bentuk buku seperti modul dan bahan
pembelajaran yang ditampilkan ke dalam media audio visual melalui jaringan
internet dan atau intranet.
Berdasarkan kenyataan tersebut penulis mencoba mengembangkan bahan
pembelajaran komputasi fisika secara online dengan menggunakan moodle
sebagai upaya meningkatkan minat belajar dan sebagai alternatif pengembangan
keterampilan intelektual mahasiswa sebagai penerus generasi bangsa Indonesia.
1.2 Permasalahan
Dari uraian di atas permasalahan yang diambil dalam penelitian ini yaitu:
(1) Apakah bahan pembelajaran komputasi fisika yang dikembangkan oleh
penulis menggunakan moodle mudah dipahami menurut tingkat
keterbacaan teks.
(2) Seberapakah besar tingkat ketertarikan user terhadap bahan pembelajaran
komputasi fisika secara online.
Page 19
3
1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan di atas, tujuan penelitian adalah:
(1) Mengetahui tingkat keterbacaan teks bahan pembelajaran komputasi
fisika.
(2) Mengetahui tingkat ketertarikan user terhadap bahan pembelajaran
komputasi fisika.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai bahan informasi bagi
para pendidik mengenai bahan pembelajaran komputasi fisika menggunakan
moodle yang berkenaan dengan tingkat keterbacaan teks dan tingkat ketertarikan
user.
1.5 Penegasan Istilah
Dalam penelitian ini ada beberapa istilah yang perlu dijelaskan agar tidak
terjadi salah penafsiran. Adapun istilah yang perlu dijelaskan antara lain:
(1) Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (Undang-undang RI, 2003).
(2) Mandiri adalah berdiri sendiri (Poerwadarminta, 2002: 630). Jadi mandiri
yamg dimaksud disini adalah peserta didik yang tidak bergantung pada
orang lain.
Page 20
4
(3) Moodle adalah sebuah paket perangkat lunak yang berguna untuk
membuat dan mengadakan kursus/pelatihan/pendidikan berbasis internet
(Prakoso, 2005: 13).
(4) Online adalah orang yang berhubungan atau berkomunikasi secara
langsung dengan CPU komputer (Sudarmo, 2006: 298).
1.6 Sistematika Penulisan Skripsi
Untuk mempermudah memahami skripsi ini secara menyeluruh, maka
perlu dituliskan sistematikanya sebagai berikut:
(1) Bagian awal
Bagian ini terdiri dari: lembar judul, lembar persetujuan pembimbing,
lembar pengesahan kelulusan, lembar pernyataan, motto dan
persembahan, kata pengantar, sari karangan (abstrak), daftar isi, daftar
tabel, daftar gambar, serta daftar lampiran.
(2) Bagian isi
Skripsi terdiri dari lima bab yaitu :
Bab I
: Pendahuluan
Pendahuluan berisi latar belakang, permasalahan, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah dan
sistematika penulisan skripsi.
Bab II
: Landasan Teori
Bagian ini berisi teori-teori yang berkaitan dengan
permasalahan serta penyelesaian yang diajukan. Teori yang
Page 21
5
mendukung di sini meliputi pengantar tentang linux,
Moodle, sekilas tentang e-learning, hakekat pembelajaran
mandiri, pembelajaran mandiri dengan moodle, ringkasan
materi komputasi fisika, deskripsi sinau online, dan
pemrograman Borland Delphi.
Bab III : Metode Penelitian
Bab ini berisi desain penelitian, metode penetuan obyek
penelitian, instrumen penelitian bahan pembelajaran,
metode pengumpulan data, langkah-langkah penelitian serta
metode analisis data.
Bab IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan
Bab ini berisi hasil penelitian, pembahasan, keterbatasan
dan kelemahan penelitian.
Bab V
: Penutup
Bab ini berisi simpulan dan saran.
(3) Bagian akhir
Bagian ini berisi daftar pustaka yang berkaitan dengan penelitian,
lampiran-lampiran yang memuat kelengkapan-kelengkapan dan
perhitungan analisis data serta surat usulan pembimbing.
Page 22
6
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Pengantar Tentang Linux
2.1.1. Sejarah Linux
Pada tanggal 5 oktober 1991, Linus Benedict Torvalds, seorang
mahasiswa University of Helsinki di Finlandia, mengumumkan pada sebuah news
group (comp.os.minix) bahwa dia telah berhasil menciptakan sebuah sistem
operasi mirip unix yang sederhana, yang diberi nama Linux (Sembiring, 2002:10).
Linus Torvalds mulai mempublikasikan kernel Linux pertamanya, yaitu
versi 0,01. Setelah tiga tahun berlalu dengan berbagai pengembangan yang
dilakukan terhadap kernel-nya, akhirnya pada bulan maret 1994 Linux versi 1,0
resmi dirilis dan didistribusikan secara gratis ke seluruh dunia, lengkap dengan
source codenya (Wahana Komputer, 2004: 2).
Hampir semua software gratis (free software) yang diorganisasikan GNU
dapat dijalankan di Linux. Beberapa distribusi Linux yang terkenal antara lain
Redhat Linux, Coldera Open Linux, Slackware Linux, Debian Linux, Suse Linux,
Trinux, dan sebagainya.
2.1.2. Linux dan Konsep Open Source
Sekitar bulan juli 2003 kita mendengar tentang pemberlakuan undang-
undang HAKI di Indonesia, yang melarang penggunaan software bajakan.
Sweepingpun dilakukan sehingga perusahaan-perusahaan besar yang umumnya
6
Page 23
7
menggunakan sistem operasi Windows bajakan menjadi kelabakan. Perlu diakui
Microsoft telah mampu menebar daya tarik yang sangat luas di dunia, yang
akhirnya menyebabkan ketergantungan yang tinggi terhadap Microsoft.
Linux dikenal sebagai sistem operasi yang open source. Open source
adalah software yang kode pemrogramannya bisa diakses oleh pengguna sehingga
pengguna bisa membacanya, mengubahnya, dan membuat versi baru program
tersebut yang mencakup perubahan yang telah dilakukan (Sudarmo, 2006: 299).
Linux dapat didistribusikan dan digunakan secara bebas dan gratis dibawah lisensi
GNU General Public License (GPL) oleh siapapun juga tanpa harus membayar
(Wahana Komputer, 2004: 4).
2.1.3. Linux Suse
Linux Suse merupakan distro yang sangat populer di daratan Eropa, seperti
halnya Redhad di Amerika. Suse merupakan distro pertama yang menyertakan
bahasa Indonesia di dalamnya, berkat jasa seorang I Made Wiryana bersama
kelompoknya. Salah satu kelebihan dari distro ini adalah dengan adanya program
yast, dengan yast akan lebih memudahkan kita dalam pendeteksian hardware
secara otomatis (Wahana Komputer, 2004: 11).
2.2. MOODLE
2.2.1. Pengertian MOODLE
Moodle adalah sebuah paket perangkat lunak yang berguna untuk
membuat dan mengadakan kursus/pelatihan/pendidikan berbasis internet
(Prakoso, 2005: 13). Moodle diberikan secara gratis sebagai perangkat lunak open
Page 24
8
source (di bawah lisensi GNU Public License). Moodle dapat langsung bekerja
tanpa modifikasi pada Unix, Linux, Windows, Mac OS X, Netware dan sistem lain
yang mendukung PHP. Data diletakkan pada sebuah database. Data terbaik bagi
Moodle adalah MySQL dan PostgreSQL dan tak menutup kemungkinan untuk
digunakan pada Oracle, Acces, Interbase, ODBC, dan sebagainya.
Moodle didesain untuk mendukung kerangka konstruksi sosial (social
construct) dalam pendidikan. Moodle termasuk dalam model CAL+CALT
(Computer Assisted Learning + Computer Assisted Teaching) yang disebut LMS
(Learning Management System).
Moodle merupakan akronim dari Modular Object Oriented Dynamic
Learning Environment. Moodle adalah sebuah jalan menuju pendidikan tanpa
batas. Sebuah pionir yang akan membangun kreativitas dan pemikiran. Hal ini
dapat diterapkan ketika moodle dibuat, dan ketika pengajar dan pendidik
melakukan aktivitas pengajaran dalam pembelajaran online (Prakoso, 2005: 15).
2.2.2. Desain MOODLE
Desain moodle memberikan kemudahan bagi penggunanya dalam
mengelola situs, pengguna yang terdaftar dalam situs, serta pelatihan yang
dikelola oleh moodle. Moodle memberikan semua hal yang dibutuhkan untuk
mengadakan pelatihan online melalui modul yang ada. Jadi, seperti inilah desain
moodle:
(1) Mendukung pendagogi kontruksi sosial (kolaborasi, aktivitas, kritik
refleksi, dan sebagainya).
Page 25
9
(2) Sangat sesuai untuk kelas online dan dapat pula digunakan sebagai
tambahan kelas tatap muka.
(3) Simple, ringan, efisien, dan antar muka browser sederhana.
(4) Mudah diinstal pada berbagai macam platform yang mendukung PHP.
(5) Abstraksi database moodle mendukung hampir semua merek database
(kecuali definisi tabel).
(6) Daftar kursus/pelatihan yang diselenggarakan dilengkapi deskripsi dari
setiap pelatihan yang ada. Selain itu, moodle juga memberikan akses bagi
tamu (guest).
(7) Kategori kursus/pelatihan. Satu situs moodle mampu mendukung ribuan
kursus/pelatihan.
(8) Penekanan yang tinggi pada sisi keamanan, pemeriksaan ulang terhadap
formulir, validasi data, enskripsi cookie, dan sebagainya.
(9) Sebagian besar area entry, seperti resource (sumber/bahan pelatihan),
forum, jurnal, dan sebagainya; dapat diedit menggunakan editor HTML
WYSIWYG (What You See Is What You Get) yang terintegrasi dalam
moodle (Prakoso, 2005: 48).
2.2.3. Manajemen MOODLE
Untuk menyesuaikan desain yang ditentukan, diciptakan beberapa
manajemen yang mendukung. Berikut akan disampaikan tiga tipe manajemen
yang sangat signifikan dalam moodle. Manajemen dalam moodle memiliki:
(1) Manajemen situs
Page 26
10
a. Situs dikelola oleh seorang administrator (admin). Admin ditetapkan
ketika setup.
b. Plug-in theme memungkinkan admin untuk memilih warna situs, lay
out (tampilan), font (ukuran huruf) sesuai dengan kebutuhan.
c. Paket bahasa memungkinkan penyesuaian ke dalam banyak bahasa.
d. Kode moodle ditulis menggunakan PHP.
(2) Manajemen pengguna
a. Metode e-mail standar: murid dapat membuat acount login. Alamat
e-mail yang diisikan ketika registrasi dapat diverifikasikan melalui
konfirmasi.
b. Setiap pengguna hanya membutuhkan satu account untuk semua
server. Setiap account dapat memiliki akses yang berbeda.
c. Account admin mengatur pembuatan/pengadaan kursus dan
mengelola pengajar melalui pendaftaran pengguna moodle ke dalam
pelatihan yang ada.
d. Kewenangan seorang pengajar dapat dihilangkan untuk
memodifikasi sebuah kursus/pelatihan, misalnya bagi pengajar paruh
waktu.
e. Untuk meningkatkan keamananan, pengajar dapat menambahkan
“kunci pendaftaran” pada pelatihan yang dikelolanya. Hal ini
dilakukan untuk menghindari masuknya orang tak dikenal. Mereka
dapat memberikan kunci ini secara langsung maupun melalui e-mail,
dan sebagainya.
Page 27
11
f. Pengajar dapat menambah peserta didik secara manual (jika ia
menginginkan).
g. Pengajar dapat mengeluarkan peserta didik dari pelatihan jika
diinginkan.
h. Peserta didik dapat membuat profile online dengan menyertakan foto
dan deskripsi.
(3) Manajemen pelatihan/kursus
a. Pengajar berstatus penuh dapat mengontrol setting sebuah kursus
secara penuh, termasuk bagian kursus yang tidak dapat diakses oleh
pengajar lain.
b. Pilihan format kursus dapat diatur sesuai periode, topik atau diskusi
yang berfokus pada format sosial.
c. Susunan aktivitas pelatihan yang fleksibel forum, jurnal, kuis,
resource, pilihan, survei, penugasan, chat, dan workshop.
d. Semua penilaian dalam forum, jurnal, kuis, dan penugasan dapat
ditampilkan dalam satu halaman serta dapat di-download dalam file
spreadsheet.
e. Pencatatan log dan pelacakan penuh terhadap pengguna. Laporan
aktivitas setiap murid tersedia dalam grafik serta detail dari masing-
masing modul (akses terakhir, total waktu akses) dengan
menyertakan keterlibatan setiap peserta didik secara detail dalam
posting, memasukkan jurnal, dan sebagainya ke dalam satu halaman.
Page 28
12
f. Pengaturan skala. Para pengajar dapat mendefinisikan skala yang
akan digunakan dalam penilaian forum, penugasan, dan jurnal.
2.2.4. Modul
Sebagai penunjang pembelajaran mandiri, moodle memiliki tipe-tipe
modul yaitu:
(1) Modul Penugasan (Assigment)
a. Modul ini dapat dikelompokkan berdasarkan tanggal pengumpulan
dan urutan penilaian tugas.
b. Para peserta didik dapat meng-upload penugasan yang telah
dikerjakan (dalam berbagai format) ke dalam server. Tanggal
pengumpulan tugas oleh peserta didik akan tercatat secara otomatis.
c. Pengumpulan tugas walaupun terlambat dari tenggat waktu masih
dapat dilakukan. Namun, pengajar dapat menjadikan jumlah hari/jam
keterlambatan pengumpulan tugas sebagai bahan pertimbangan.
d. Untuk setiap penugasan yang diberikan, seluruh kelas dapat
memberikan penilaian (tanggapan dan komentar) dalam satu halaman
dan satu format.
e. Umpan balik dari pengajar ditambahkan ke dalam halaman
penugasan setiap peserta didik disertai pemberitahuan melalui e-mail.
f. Pengajar dapat memberikan penugasan baru yang terkait dengan
penugasan sebelumnya. Hal ini bisa dilakukan setelah diadakan
penilaian terhadap tugas sebelumnya. Tujuannya adalah mengadakan
penilaian ulang terkait penugasan sebelumnya.
Page 29
13
(2) Modul Chat
a. Modul ini memungkinkan interaksi sinkron (dalam waktu yang
bersamaan) berbentuk teks.
b. Modul ini menyertakan foto/gambar dan profil dalam jendela chat.
c. Modul chat mendukung URL, smiles, HTML, image, dan
sebagainya.
d. Semua sesi dapat direkam dalam log agar dapat dilihat di lain waktu.
Fasilitas ini juga diberikan bagi peserta didik.
(3) Modul Forum
a. Modul forum menyediakan berbagai macam tipe forum, di antaranya
forum khusus pengajar, berita khusus, forum terbuka, dalam sebuah
urutan sesuai kiriman pengguna.
b. Semua kiriman menyertakan foto pengirim.
c. Diskusi dapat dikelompokkan sesuai tema, flat atau urutan, terlama
dan terbaru.
d. Forum individu dapat didaftarkan ke setiap orang. Kopiannya dapat
dikirim melalui e-mail. Para pengajar dapat memaksa setiap orang
untuk terlibat dalam forum yang ada.
e. Guru dapat memilih untuk tidak menerima balasan (reply), misalnya
untuk forum berupa pengumuman.
f. Kumpulan diskusi dapat dipindahkan di antara forum. Fitur ini hanya
berlaku bagi pengajar.
g. Lampiran gambar (attached images) dapat ditampilkan dalam baris.
Page 30
14
(4) Modul Pilihan (Choice)
a. seperti sebuah polling, modul ini digunakan untuk voting
(mengambil pendapat atas suatu masalah) atau untuk mendapatkan
umpan balik dari para peserta didik.
b. Pengajar dapat melihat hasil polling yang ada dalam sebuah tabel
yang memperlihatkan pilihan seseorang.
c. Para peserta didik secara opsional dapat diberi izin untuk melihat
grafik hasil polling secara up to date.
(5) Modul Kuis (Quiz)
a. Pengajar dapat membuat database pertanyaan agar dapat digunakan
pada kuis yang berbeda.
b. Pertanyaan dapat dikelompokkan dalam kategori untuk memudahkan
akses. Kategori ini bisa dipublikasikan agar dapat diakses melalui
berbagai macam pelatihan dalam situs.
c. Kuis secara otomatis akan dinilai. Selain itu, kuis dapat diatur ulang
jika pertanyaan yang ada dimodifikasi.
d. Kuis dapat diatur ulang dalam jangka waktu tertentu. Jika melewati
jangka waktu tersebut maka kuis tidak akan tersedia.
e. Dalam opsi pengajar, kuis dapat dicoba beberapa kali. Selain itu, kuis
dapat menampilkan umpan balik/jawaban yang tepat.
f. Pertanyaan kuis dan jawabannya dapat diacak. Fitur ini bermanfaat
untuk mengurangi kecurangan .
g. Pertanyaan dapat menggunakan kode HTML dan image (gambar).
Page 31
15
h. Pertanyaan dapat diambil file eksternal (teks).
i. Kuis dapat dicoba beberapa kali jika diinginkan.
j. Percobaan dapat dilakukan secara komulatif (jika diinginkan), dan
akan berhenti setelah beberapa opsi.
k. Pertanyaan pilihan ganda mendukung jawaban tunggal dan
berganda.
l. Modul kuis mendukung untuk pertanyaan benar-salah.
m. Modul kuis juga mendukung bentuk pertanyaan pencocokan.
n. Modul kuis mendukung untuk pertanyaan acak.
o. Modul kuis mendukung pertanyaan bernomor (dengan cakupan
tertentu).
p. Kuis dapat diatur dalam format berbentuk pertanyaan yang disertai
jawaban atau pertanyaan dengan jawaban berbentuk teks.
q. Modul kuis mendukung deskripsi teks yang disertai dengan grafik.
(6) Modul Jurnal (Journal)
a. Privasi jurnal dapat diatur agar hanya diakses pengajar dan peserta
didik.
b. Setiap masukan jurnal dapat dimulai dengan pertanyaan terbuka.
c. Untuk jurnal tertentu, seluruh kelas dapat memberikan penilaian
dalam formulir yang terlampir pada halaman tersebut.
d. Umpan balik pengajar dijadikan satu dengan halaman masukan
jurnal, disertai pemberitahuan melalui e-mail.
(7) Modul Resource (Bahan pelatihan)
Page 32
16
a. Modul resource mendukung berbagai macam format (word, power
point, flash, video, audio, dan sebagainya).
b. File dapat di-upload dan dikelola didalam server, atau dibuat secara
on the fly menggunakan format web (teks atau HTML).
c. Bahan pelatihan eksternal di web dapat di-link atau disertakan dalam
antar muka kursus/pelatihan.
d. Aplikasi web eksternal dapat di-link dengan disertai data tambahan
yang diperlukan.
(8) Modul Survei
a. Alat survei (COLLES, ATLS) disertakan dalam moodle sebagai alat
untuk menganalisis kelas online.
b. Laporan survei online selalu tersedia disertai dengan grafik.
c. Data ini dapat di-download dalam bentuk spreadsheet Excel atau file
text CSV.
d. Antar muka survei menghindari kekuranglengkapan jawaban survei
sehingga apabila ada pertanyaan yang belum dijawab, survei tidak
akan dimasukkan.
e. Umpan balik dapat diperoleh dari peserta didik sebagai perbandingan
dengan rata-rata kelas.
(9) Modul Workshop
Page 33
17
a. Modul ini memungkinkan adanya penilaian mendalam terhadap
dokumen. Pengajar dapat mengelola serta mengelompokkan
penilaian yang ada tingkatan.
b. Modul ini juga mendukung adanya penilaian dengan rentang yang
luas.
c. Pengajar dapat menyediakan dokumen contoh agar peserta didik
dapat berlatih memberikan penilaian.
d. Modul ini sangat fleksibel dengan disertai berbagai macam pilihan.
2.3. Sekilas tentang e-learning
Menurut Effendi (2005), e-learning adalah semua kegiatan pelatihan yang
menggunakan media elektronik atau teknologi informasi karena ada bermacam
penggunaan e-learning saat ini, maka e-learning dibagi dua tipe yaitu :
(1) Synchronous training
Synchronous berarti ”pada waktu yang sama.” Jadi, synchronous
training adalah tipe pelatihan, dimana proses pembelajaran terjadi pada
saat yang sama ketika pengajar sedang mengajar dan murid sedang
belajar.
(2) Asynchronous training
Asynchronous berarti ”tidak pada waktu yang bersamaan.” Jadi,
seseorang dapat mengambil pelatihan pada waktu yang berbeda dengan
pengajar memberikan pelatihan. Pelatihan ini lebih populer di dunia e-
Page 34
18
learning karena memberikan keuntungan lebih bagi peserta pelatihan
karena dapat mengakses pelatihan kapanpun dan dimanapun.
Kemajuan penggunaan e-learning dimotivasi oleh kelebihan dan
keuntungan. Kelebihan yang ditawarkan e-learning antara lain :
(1) Biaya
Dengan adanya e-learning, instansi tidak perlu mengeluarkan biaya
untuk menyediakan peralatan kelas seperti papan tulis, proyektor dan alat
tulis.
(2) Fleksibel Waktu
e-learning membuat pelajar dapat menyesuaikan waktu belajar. Mereka
dapat menyisipkan waktu belajar setelah makan siang, setelah kuliah
selesai dan tidak ada pekerjaan mendesak. Pelajar mudah mengakses e-
learning. Ketika waktu sudah tidak memungkinkan atau ada hal lain yang
lebih mendesak, mereka dapat meninggalkan pelajaran e-learning saat itu
juga.
(3) Fleksibel Tempat
Adanya e-learning membuat pelajar santai mengakses pelatihan e-
learning di kampus. Selama komputer terhubung dengan komputer yang
menjadi server e-learning, mereka dapat mengaksesnya dengan mudah.
Terlebih lagi, bila server e-learning terhubung dengan internet, maka
pelajar dapat mengakses pelajaran di rumah. Di sekolah-sekolah, para
pelajar tidak perlu pergi jauh ke ruang kelas lain (misalnya tempat
bimbingan belajar). Mereka hanya perlu ke laboratorium komputer
Page 35
19
sekolah, dimana e-learning tersebut diinstal, untuk mengikuti tambahan
pelajaran.
(4) Fleksibelitas Kecepatan Pembelajaran
Pelajar memiliki gaya belajar berbeda-beda oleh karena itu, wajar bila di
dalam suatu kelas ada siswa yang mengerti dengan cepat dan ada yang
harus mengulang pelajaran untuk memahaminya. Akan tetapi, karena
guru di kelas mengajar dengan kecepatan sama untuk semua siswa, maka
siswa yang lebih lambat akan sulit memahami. Siswa yang lebih cepat
menginginkan lebih banyak materi, sedangkan siswa yang lebih lambat
menginginkan pengulangan pelajaran. e-learning dapat disesuaikan
dengan kecepatan belajar masing-masing siswa. Siswa mengatur sendiri
kecepatan pelajaran yang diikuti. Apabila belum mengerti, ia dapat tetap
mempelajari modul tertentu dan mengulangnya nanti. Apabila seorang
siswa mengerti dengan cepat, ia dapat menyelesaikan pelajaran lebih
cepat dan mengisi waktu dengan belajar topik lain.
(5) Standarisasi Pengajaran
Guru favorit dapat mengajar dengan baik sehingga materi sesulit apapun
mudah diserap. Sebaliknya penjelasan guru bukan favorit terasa sulit
dimengerti. Hal tersebut disebabkan perbedaan kemampuan dan metode
pengajaran yang ditetapkan guru. e-learning dapat menghapuskan
perbedaan tersebut. Pelajaran e-learning selalu memiliki kualitas sama
setiap kali diakses dan tidak tergantung suasana hati pengajar.
Page 36
20
(6) Efektifitas Pengajaran
Karena e-learning merupakan teknologi baru, pelajar dapat tertarik dan
mencobanya sehingga jumlah peserta pelatihan meningkat. e-learning
yang didesain dengan instructional design mutakhir membuat pelajar
lebih mengerti isi pelajaran. Penyampaian pelajaran e-learning dapat
berupa simulasi dan kasus-kasus, menggunakan bentuk permainan dan
menerapkan teknologi animasi canggih. Bentuk-bentuk pembelajaran
tersebut dapat membantu proses pembelajaran dan mempertahankan
minat belajar.
(7) Kecepatan Distribusi
Tim desain pelatihan hanya perlu mempersiapkan bahan pelatihan
secepatnya dan menginstal hasilnya di server pusat e-learning. Jadi,
semua komputer yang terhubung ke server dapat langsung mengakses.
Apabila ada perubahan materi pelatihan, administrasi hanya perlu
mengubah di server e-learning, tanpa mendatangi semua kantor cabang.
(8) Ketersediaan On-Demand
Karena e-learning dapat sewaktu-waktu diakses, Anda dapat
menganggapnya sebagai ”buku saku” yang membantu pekerjaan setiap
saat.
(9) Otomatisasi Proses Administrasi
e-learning menggunakan suatu Learning Management System (LMS)
yang berfungsi sebagai platform pelajaran-pelajaran e-learning. LMS
Page 37
21
berfungsi pula menyimpan data-data pelajar, pelajaran, dan proses
pembelajaran yang berlangsung (Effendi, 2005: 14).
2.4.
Hakekat Pembelajaran Mandiri
Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap
orang sepanjang hidupnya (Arsyad, 2002: 1). Proses belajar itu terjadi karena
adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Oleh karena itu belajar
dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Salah satu pertanda bahwa seseorang itu
telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang
mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan,
keterampilan, atau sikapnya.
Belajar merupakan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian
kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain
sebagainya. Juga belajar itu akan lebih baik, kalau si subyek belajar itu mengalami
atau melakukan, jadi tidak bersifat verbalistik (Sardiman, 2004: 20).
Pembelajaran terjemahan dari kata “instruction” yang berarti self
instruction (dari internal) dan external instruction (dari eksternal). Beberapa teori
belajar mendiskripsikan pembelajaran sebagai berikut :
(1) Usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan
menyediakan lingkungan, agar terjadi hubungan stimulus (lingkungan)
dengan tingkah laku si belajar (Behavioristik).
(2) Cara guru memberikan kesempatan kepada si belajar untuk berfikir agar
memahami apa yang dipelajari (Kognitif).
Page 38
22
(3) Memberikan kebebasan kepada si belajar untuk memilih bahan pelajaran
dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuan
(Humanistik).
Sedangkan pembelajaran yang berorientasi bagaimana si belajar
berperilaku, memberikan makna bahwa pembelajaran merupakan suatu kumpulan
proses yang bersifat individual, yang merubah stimuli dari lingkungan seseorang
kedalam sejumlah informasi, yang selanjutnya dapat menyebabkan adanya hasil
belajar dalam bentuk ingatan jangka panjang (Sugandi, 2004: 9). Pembelajaran
kita perlukan untuk dapat membentuk karakter, menumbuhkan budi pekerti dan
menjadi manusia otentik (Harefa, 2004: 62).
Belajar mandiri diartikan sebagai usaha individu mahasiswa yang otonom
untuk mencapai kompetensi akademis. Belajar mandiri memiliki ciri utama bahwa
mahasiswa tidak bergantung pada pengarahan belajar yang terus-menerus, tetapi
mereka mempunyai kreatifitas dan inisiatif sendiri serta mampu untuk bekerja
sendiri dengan merujuk pada bimbingan yang diperolehnya (Sunardi, 2001).
Adapun yang dimaksud dengan kemandirian belajar mahasiswa adalah
kemampuan mahasiswa untuk melakukan kegiatan belajar yang bertumpu pada
aktifitas dan tanggung jawab mahasiswa dengan didorong oleh motivasi diri
sendiri. Sedangkan untuk metode melatih kemandirian mahasiswa tidaklah sama
tergantung dengan jurusan bidang studi yang diambil (Sebelas Maret University
2002).
Dunia pendidikan terus bergerak secara dinamis, khususnya untuk
menciptakan media, metode, dan materi pendidikan yang semakin interaktif dan
Page 39
23
komperhensif. Media yang secara lazim tersedia antara lain: buku, majalah, jurnal,
koran, tabloid untuk media offline, radio, TV, dan terakhir internet sebagai media
online (Oetomo, 2002: 119). Contoh sebuah produk aplikasi telah lahir untuk
membangun lingkungan e-Education course management system dari e-college.
Aplikasi tersebut mengandung unsur-unsur silabus berbasis web, e-mail, diskusi
beralur, forum diskusi elektronik, bahan kuliah online, buku nilai online dan ujian
berbasis komputer (Oetomo, 2002: 128).
Ada beberapa istilah yang mengacu pada pengertian yang sama tentang
belajar mandiri. Istilah-istilah tersebut antara lain adalah: (1) independent
learning, (2) self-directed learning, (3) autonomous learning. Wedemeyer (1973)
menjelaskan bahwa belajar mandiri adalah cara belajar yang memberikan derajat
kebebasan, tanggung jawab dan kewenangan yang lebih besar kepada pebelajar
dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan belajarnya. Pebelajar
mendapatkan bantuan bimbingan dari guru atau orang lain tapi bukan berarti harus
bergantung kepada mereka.
Rowntree (1992), mengutip pernyataan Lewis dan Spenser (1986)
menjelaskan bahwa ciri utama pendidikan terbuka yang menerapkan sistem
belajar mandiri adalah adanya komitmen untuk membantu pebelajar memperoleh
kemandirian dalam menentukan keputusan sendiri tentang:
(1) Tujuan atau hasil belajar yang ingin dicapainya.
(2) Mata ajar, tema, topik atau isu yang akan ia pelajari.
(3) Sumber-sumber belajar dan metode yang akan digunakan.
Page 40
24
(4) Kapan, bagaimana serta dalam hal apa keberhasilan belajarnya akan
diuji.
Pengertian senada juga dijelaskan oleh Knowles (1975), belajar mandiri
adalah suatu proses dimana individu mengambil inisiatif dengan atau tanpa
bantuan orang lain untuk:
(1) Mendiagnosa kebutuhan belajarnya sendiri.
(2) Merumuskan/menentukan tujuan belajarnya sendiri.
(3) Mengidentifikasi sumber-sumber belajar.
(4) Memilih dan melaksanakan strategi belajarnya.
(5) Mengevaluasi hasil belajarnya sendiri.
Dari beberapa pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam
pendidikan dengan sistem belajar mandiri pebelajar diberikan kemandirian (baik
secara individu atau kelompok) dalam menentukan:
(1) Tujuan belajarnya (apa yang harus dicapai).
(2) Apa saja yang harus dipelajari dan dari mana sumber belajarnya (materi
dan sumber belajar).
(3) Bagaimana mencapainya (strategi belajar).
(4) Kapan serta bagaimana keberhasilan belajarnya diukur (evaluasi).
Belajar mandiri juga dapat dipandang sebagai proses (metode) maupun
produk (tujuan). Sebagai proses, belajar mandiri dijadikan sebagai metode dalam
sistem pembelajaran tertentu. Sedangkan sebagai produk mengandung arti bahwa
suatu sistem pembelajaran dengan berbagai strateginya ditujukan menghasilkan
pebelajar mandiri. Sebenarnya, pendidikan dengan sistem belajar mandiripun,
Page 41
25
secara tidak langsung akan membentuk dan mengembangkan keterampilan belajar
mandiri. Sehingga produknya adalah pebelajar mandiri (Chaeruman 2003).
2.5.
Pembelajaran Mandiri dengan MOODLE
Moodle yang merupakan akronim Modular Object Oriented Dynamic
Environment adalah sistem manajemen perkuliahan yang merupakan software
yang open source, salah satu yang membedakan moodle dengan paket e-learning
yang lain adalah kemampuan moodle untuk menangani pedagogi yang
menyangkut aspek sosial belajar.
Moodle adalah salah satu perangkat lunak yang mendukung pembelajaran
jarak jauh. Ada idealisme besar dibalik penciptaan perangkat lunak ini,
pendidikan untuk semua. Melalui moodle pendidikan bisa diperoleh tanpa
mepedulikan status, usia, tempat atau jarak (Andi 2005). e-learning dapat
didefinisikan sebagai upaya menghubungkan pembelajar (murid) dengan sumber
belajarnya (database, pakar/guru, perpustakaan) yang secara fisik terpisah atau
bahkan berjauhan. Interaktifitas dalam hubungan tersebut dapat dilakukan secara
langsung maupun tidak lansung (Simamora 2002). e-learning atau electronic
learning kini semakin dikenal sebagai salah satu cara untuk mengatasi masalah
pendidikan, baik di negara-negara maju maupun di negara yang sedang
berkembang. Banyak orang menggunakan istilah yang berbeda-beda dengan e-
learning adalah pembelajaran yang menggunakan jasa elektronika sebagai alat
bantunya (Soekartawi 2003).
Page 42
26
Internet pada dasarnya adalah kumpulan informasi yang tersedia di
komputer yang bisa diakses karena adanya jaringan yang tersedia di komputer
tersebut. Oleh karena itu bisa dimengerti kalau e-learning bisa dilaksanakan
karena jasa internet (Soekartawi 2003). Internet akan menjadi suplemen dan
komplemen dalam menjadikan wakil guru yang mewakili sumber belajar yang
penting di dunia (Anwas 2003).
2.6. Ringkasan Materi Komputasi Fisika
2.6.1. Gerak Benda jatuh
Pada suatu lokasi tertentu di bumi dan dengan tidak adanya hambatan
udara, semua benda jatuh dengan percepatan konstan sama. Percepatan ini
disebabkan oleh gravitasi bumi dan diberi simbol g. Besarnya kira-kira g = 9,80
m/s2. Ketika membahas benda-benda jatuh bebas bisa memakai persamaan:
gt
vv +
= 0
(2.1)
di mana diasumsikan bahwa positif adalah arah gerak ke bawah dan benda
mempunyai kecepatan awal v0 (Giancoli, 2001:39).
Dari eksperimen dapat ditunjukkan bahwa sebuah benda yang jatuh
(dengan memperhitungkan hambatan udara) akan mendapat gaya hambat yang
besarnya bergantung pada kecepatan dari benda tersebut, sedimikian hingga
percepatannya tidak konstan. Gaya tersebut diekspresikan sebagai:
2
2
1
Avc
Fa
ρ
=
(2.2)
dimana c adalah faktor koefisien hambatan udara yang tak bersatuan. A adalah
luas penampang lintang dari benda, ρ kerapatan udara (sekitar 1.2 kgm-3) dan v
Page 43
27
adalah kecepatan benda. Dari eksperimen menunjukkan bahwa benda yang
smooth (seperti bola kasti) dengan cross section area berupa lingkaran (
)2
r
A π
=
didapat c sekitar 0,46.
Untuk mendapatkan percepatan pada arah ke bawah dari bola dengan jari-
jari r digunakan hukum kedua Newton.
a
F
mg
ma

=
(2.3)
dengan mensubtitusikan persamaan (2.2) dan serta membagi m maka didapatkan:
2
2
2
1
v
m
r
c
ga
π
ρ

=
(2.4)
(Hardyanto, 2005)
2.6.2. Grafik Pixel
Layar pada monitor atau printer dihasilkan oleh beberapa pixel singkatan
dari picture element. Misalkan pada layar monitor terdiri dari 512 pixel horisontal
dan 322 pixel vertikal. Masing-masing terdiri dari warna hitam atau putih. Pixel
diberi nomor dari nol, jadi untuk arah horisontal yang disebut dengan sumbu Px
diberi nomor dari 0 sampai dengan 511, begitu juga untuk sumbu vertikal yang
disebut dengan sumbu Py diberi nomor dari 0 sampai dengan 321.
Pada koordinat kartesian arah vertikal digunakan sebagai sumbu y dengan
y positif menuju ke atas dan arah ke bawah sebagai sumbu y negatif, arah
mendatar digunakan sebagai sumbu x dengan x positif ke arah kanan dan x negatif
ke arah kiri. Tetapi layar monitor menggunakan orientasi yang berbeda. Monitor
menggunakan arah ke bawah sebagai sumbu y positif, disamping itu monitor juga
tidak mengenal nilai negatif (Nugroho, 2005: 21).
Page 44
28
Gambar 2.1. Koordinat Pixel dan Kartesian
Untuk mengkonversikan koordinat kartesian ke koordinat pixel, kita
asumsikan bahwa ada transformasi linier antara koordinat pixel (Px, Py) dari titik
P, dan koordinat kartesian (x, y) dari titik P sebagai berikut:
2
1
kxk
px
+
=
(2.5)
4
3
kyk
py
+
=
(2.6)
Asumsikan bahwa grafik pada sumbu x akan diplot pada interval [xmin,
xmax] dan sumbu Y terletak pada interval [ymin, ymax]. Asumsikan pula bahwa pixel
horisontal diberi nomor dari 0 sampai dengan a , sedangkan untuk pixel vertikal
diberi nomor 0 sampai dengan b . Jadi jika layar monitor memiliki 800 pixel
horisontal dan 600 pixel vertikal, maka a = 799, dan b = 599.
Berikut adalah beberapa kemungkinan untuk konstanta k:
(1) Jika x = xmin, maka Px = 0
(2) Jika x = xmax, maka Px = a
Page 45
29
(3) Jika y = ymin, maka Py = b
(4) Jika y = ymax, maka Py = 0.
Dengan mensubstitusikan 4 kemungkinan ini pada persamaan transformasi
(2.5) dan (2.6), sehingga akan didapatkan solusi untuk k1, k2, k3, dan k4:
min
max
1
1
x
x
a
k

=
(2.7)
max
min
min
2
x
x
x
a
k

=
(2.8)
max
min
3
1
y
y
b
k

=
(2.9)
min
max
max
4
y
y
y
b
k

=
(2.10)
(Hardyanto, 2005)
2.6.3. Benda Pada Pegas
Ketika sebuah getaran atau osilasi terulang sendiri, ke depan dan ke
belakang, pada lintasan yang sama, gerakan tersebut disebut periodik. Bentuk yang
paling sederhana dari gerak periodik direpresentasikan oleh sebuah benda yang
berosilasi di ujung pegas. Dengan menganggap bahwa massa pegas dapat
diabaikan, dan bahwa pegas dipasang horisontal, seperti pada gambar 2.2,
sedemikian sehingga benda dengan massa m meluncur tanpa gesekan pada
permukaan horisontal. Semua pegas memiliki panjang alami di mana pada
keadaan ini pegas tidak memberikan gaya pada massa m, dan posisi massa di titik
ini disebut posisi setimbang. Jika massa dipindahkan apakah ke kiri, yang
menekan pegas atau ke kanan, yang merentangkan pegas, pegas memberikan gaya
Page 46
30
pada massa yang bekerja dalam arah mengembalikan massa ke posisi
setimbangnya. Oleh sebab itu gaya ini disebut gaya pemulih. Besar gaya pemulih
F ternyata berbanding lurus dengan simpangan x dari pegas yang direntangkan
atau ditekan dari posisi setimbang (Giancoli, 2001: 365).



= xk
F s
(2.11)
Gambar 2.2. Benda pada Pegas
Dengan mengaplikasikan hukum kedua Newton pada sistem dan
diperoleh:


=
− amxk
(2.12)
Percepatan a memberikan:
)(
)(
t
t
x
m
k
a



=
(2.13)
Bila sistem mendapat hambatan udara persamaan paling sederhana untuk
gaya, yang berbanding lurus dengan kecepatan namun arahnya berlawanan
adalah:
Page 47
31



= vb
F d
(2.14)
Dengan b adalah suatu konstanta yang menyatakan besarnya redaman
(Tipler, 1998: 448). Hukum kedua Newton yang diterapkan untuk gerak benda
bermassa m pada pegas dengan konstanta gaya k bila gaya redaman

− vb adalah:
x
x
ma
F =
(2.15)



=

− amvbxk
(2.16)
yang menghasilkan:





=
v
m
b
x
m
k
a
(2.17)
(Hardyanto, 2005)
2.6.4. Gerak Proyektil
Hukum gerak Newton kedua adalah percepatan sebuah benda berbanding
lurus dengan gaya total yang bekerja padanya dan berbanding terbalik dengan
massanya. Arah percepatan sama dengan arah gaya total yang bekerja padanya.
Bentuk persamaannya dapat dituliskan:
m
F
a



=
(2.18)
di mana a adalah percepatan, m adalah massa, dan ΣF merupakan gaya total
(Giancoli, 1998: 95).
Setiap gaya F adalah vektor yang memiliki besar dan arah. Persamaan ini
dapat dituliskan dalam bentuk komponen pada koordinat persegi panjang sebagai
berikut:
Page 48
32
m
F
a
x
x

=
(2.19)
m
F
a
y
y

=
(2.20)
Gerak proyektil dengan hambatan udara, besar gaya hambat udara adalah:
2
2
1
Avc
F a
ρ
=

(2.21)
Gambar 2.3. Hubungan antara Fa dan v
Dari gambar 2.3 diketahui bahwa:
v
vx
=
θ
cos
(2.22)
v
vy
=
θ
sin
(2.23)
Dimana besar v dapat dihitung dengan
2
2
y
x
v
v
v
+
=
(2.24)
Dengan mengikuti hukum kedua Newton
m
F
a
ax
x

=
(2.25)
Page 49
33
θ
ρ
cos
2
1
2
v
m
A
c
ax

=
(2.26)
dan
m
F
g
a
ay
y


=
(2.27)
θ
ρ
sin
2
1
2
v
m
A
c
g
ay


=
(2.28)
Persamaan di atas dapat disederhanakan menjadi:
x
x
kvv
a

=
(2.29)
y
y
kvv
g
a


=
(2.30)
dimana
m
A
c
k
ρ
2
1
=
(2.31)
(Hardyanto, 2005)
2.6.5. Rangkaian RC dan RL
Gambar 2.4. Rangkaian RC
Gambar 2.4 memperlihatkan sebuah rangkaian untuk mengisi kapasitor,
yang mula-mula tak bermuatan. Saklar, terbuka pada awalnya, ditutup pada saat t
Page 50
34
= 0 (Tipler, 2001: 188). Muatan mulai mengalir melalui resistor dan menuju plat
positif kapasitor. Jika muatan pada kapasitor pada beberapa saat adalah Q dan arus
adalah I, aturan Kirchoff memberikan:
0
=


c
R
V
VV
(2.32)
atau
0
=


C
Q
IR
V
(2.33)
Dalam rangkaian ini, arus sama dengan laju di mana muatan pada
kapasitor meningkat:
dt
dQ
I =
(2.34)
mensubtitusikan
dt
dQ
I =
untuk I dalam persamaan (2.33) memberikan:
RC
Q
R
V
dt
dQ

=
(2.35)
Mekanika
Listrik
x perpindahan
Q muatan
v kecepatan
I arus
m Massa
L induktansi
k kontanta pegas
C-1 kapasitansi
c Konstanta redaman
R resistansi
F gaya
V Beda Potensial
Tabel 2.1 Analogi Mekanika dengan Listrik
(Fowles, 1986:76)
Page 51
35
Pada saat t = 0, muatan pada kapasitor nol dan arusnya I0 = V/R maka
rumus iterasi:
)(
)(
)
(
t
t
ht
hi
q
q
+
=
+
(2.36)
di mana
RC
Q
R
V
I

=
(2.37)
Suatu rangkaian RL yang didalamnya induktansi L dan tahanan R
dihubungkan secara seri dengan baterai. Dengan menganggap bahwa tahanan R
meliputi tahanan kumparan induktor dan bahwa induktansi bagian lain rangkaian
tersebut dapat diabaikan dibandingkan dengan induktansi induktor. Saklar mula-
mula terbuka, sehingga tidak ada arus dalam rangkaiannya. Persis setelah saklar
ditutup, arus masih nol, tetapi arus tersebut berubah pada laju dI/dt, dan terdapat
ggl induksi yang besarnya L dI/dt dalam induktor. Dalam diagram rangkaian ini,
tanda plus dan minus telah diberikan pada induktor untuk memperlihatkan arah
ggl ketika arusnya meningkat, dengan kata lain, ketika dI/dt positif. Sesaat setelah
saklarnya ditutup, terdapat arus I dalam rangkaian dan potensial jatuh IR pada
tahanan (Tipler, 2001: 302). Dengan menggunakan kaidah Kirchoff pada
rangkaian ini akan diperoleh:
0
=


dt
dI
L
IR
V
(2.38)
L
IR
L
V
dt
dI

=
(2.39)
(Hardyanto, 2005)
Page 52
36
2.6.6. Sistem Tiga Benda
Dengan meninjau molekul yang hanya memiliki satu elektron yaitu ion
molekul hidrogen, H2
+, yang terbentuk jika dipisahkan salah satu dari kedua
elektron milik molekul hidrogen biasa, H2 (Krane, 1992: 528).
Gambar 2.5. Geometri dari Posisi dan Vektor Gaya pada Ion H2
Ion H2
+ adalah sistem fisika yang stabil. Karena kompleksitas sistem,
dengan mengasumsikan kedua proton tidak bergerak, sedangkan elektron
mengorbit pada kedua proton untuk tujuan praktis sifat-sifat alami proton dapat
diabaikan karena massa proton kira-kira 2000 kali dari massa elektron, sehingga
pusat massa dari kedua proton berada pada titik nol pada sistem koordinat.
Hukum Coulomb dan hukum kedua Newton mendasari gerak elektron
pada ion H2. hukum coulomb adalah:
^
2
2
1
r
r
QQ
kF
=
(2.40)
Page 53
37
k adalah tetepan Coulomb yang mempunyai harga k = 8,99 x 10 9 N.m2/C2
(Tipler, 2001: 10). Semua muatan di dalam ion H2 mempunyai nilai yang sama
(kecuali tandanya). Jadi Q1 = Q2 = e = 1,6 x 10-19 C dan m = 9,11 x 10-31 Kg.
Kedua proton terletak pada titik (d,0) dan (-d,0) pada jarak 2d. percepatan
ax dari elektron karena adanya proton pada (d,0) adalah:
m
F
ax
1
1 cosθ

=
(2.41)
2
3
2
2
2
]
)
[(
)
(
y
dxm
dxe
k
ax
+



=
(2.42)
Untuk mendapatkan percepatan karena gaya oleh proton pada (-d,0),
persamaan di atas diganti bagian (x-d) dan (x+d):
m
F
ax
2
2 cosθ

=
(2.43)
2
3
2
2
2
]
)
[(
)
(
y
dxm
dxe
k
ax
+
+
+

=
(2.44)
Ekspresi yang sama untuk ay akan diperoleh dengan mengganti pembilang
)
(dx
ą
dengan numerator y (Hardyanto, 2005)
2.6.7. Hamburan Rutherford
Sebuah eksperimen yang mendasar adalah eksperimen yang dilakukan
oleh Lord Rutherford (1871-1937) yang diperkenalkan oleh H. Geiger dan E.
Marsden. Struktur dari atom tetap merupakan misteri. Para ahli fisika memerlukan
kesepakatan, sehingga masalah ini menjadi cukup sederhana. Mencari medan
listrik E dalam jarak tertentu dari bola atom yang bermuatan positif. Juga
mencari E di dalam bola dengan asumsi muatan terdistribusi secara uniform.
Page 54
38
Selanjutnya menghitung gaya F = q E pada partikel alpha mendekati atom
dan/atau masuk ke atom.
Gambar 2.6. Partikel alpha yang mendekati atom emas. Pusat atom emas pada
(X,Y) dengan muatan Q yang terdistribusi uniform pada bola dengan radius R.
Partikel alpha dengan muatan q pada (x,y).
Meskipun pada prinsipnya sederhana, masalah menjadi kompleks
dibanding masalah hukum kedua Newton, karena terdapat empat kelompok
persamaan gerak untuk masing-masing koordinat dari partikel alpha dan atom.
Gambar 2.7. Geometri lokasi dari atom target (Q) dari partikel alpha (q)
Page 55
39
Dari gambar 2.6 dan 2.7 ditunjukkan lokasi q pada titik (x,y). vektor r
dari Q ke q yaitu dari titik (X,Y) ke titik (x,y). Di luar atom, r > R medan
listrik karena muatan titik Q adalah:
^
2
r
r
Q
kE
=

(2.45)
Di dalam atomRr

pada jarak r dari pusat dan besar medan listriknya
adalah:
^
2
3
3
r
r
Q
k
R
r
E =

(2.46)
Di mana faktor
3
3
R
r
sebagai hasil bahwa partikel alpha hanya
dipengaruhi oleh muatan di dalam bola dengan radius r dan muatan
terdistribusi secara uniform, bagian dari total muatan di dalam bola yang
berjari-jari r adalah
3
3
R
r
. Sedangkan gaya pada partikel alpha diperoleh
dengan persamaan F = qE dan percepatan dari persamaan qE = ma. Dengan
mengacu lagi pada gambar 2.7 maka didapatkan komponen x dan y dari
percepatan:
r
Xx
r
Qq
m
k
ax

=
2
(2.47)
2
3
2
2
])
()
[(
)
(
Yy
Xx
Xx
Qq
m
k
ax

+


=
(2.48)
dan
r
Yy
r
Qq
m
k
ay

=
2
(2.49)
Page 56
40
2
3
2
2
])
()
[(
)
(
Yy
Xx
Yy
Qq
m
k
ay

+


=
(2.50)
di mana m adalah massa partikel alpha. Dengan hukum ketiga Newton
percepatan atom dapat dihitung dengan persamaan:
x
x
ma
MA

=
(2.51)
x
x
a
M
m
A

=
(2.52)
dengan cara yang sama:
y
y
a
M
m
A

=
(2.53)
(Hardyanto, 2005)
2.6.8. Metode Runge Kutta
Penyelesaian persamaan diferensial biasa dengan metode Runge Kutta
orde empat adalah proses mencari nilai fungsi y(x) pada titik x tertentu dari
persamaan diferensial biasa f(x,y) yang diketahui dengan menggunakan persamaan
umum 2.54 (Munif, 2003: 267).
Persamaan gerak yang diturunkan dari hukum kedua Newton dapat ditulis:
),,(
2
vxtF
dt
xd
=
(2.54)
dimana F(t,x,v) berasal dari aplikasi hukum kedua Newton pada sistem. Formula
Runge Kutta diperlukan untuk menyelesaikan persamaan diferensial orde 2:
hk
k
k
k
y
y
i
i
)]
2
2
(
6
1
[
4
3
2
1
1
+
+
+
+
=
+
(2.55)
di mana
Page 57
41
),(
1
i
i
yxf
k =
(2.56)
)
2
,
2
(
1
2
k
h
y
h
xf
k
i
i
+
+
=
(2.57)
)
2
,
2
(
2
2
3
k
h
y
h
xf
k
i
i
+
+
=
(2.58)
)
,
(
3
4
hk
yhxf
k
i
i
+
+
=
(2.59)
(Hardyanto, 2005)
2.7. Deskripsi Sinau Online
Untuk membuka Sinau online maka dapat dilakukan langkah-langkah
sebagai berikut:
(1) Address bar diklik, kemudian http://192.168.1.4/elearning diketikan lalu
dienter. Maka akan muncul halaman utama. Seperti gambar 2.8
(2) Link Fisika diklik maka akan muncul seperti gambar 2.9
(3) Link Fisika Komputasi diklik maka akan muncul seperti gambar 2.10
(4) Bila tidak menginginkan account nama di moodle, maka pengguna tamu
diklik
(5) Bila belum memiliki account nama di moodle, maka untuk
mendaftarkanya anggota baru diklik.
(6) Kemudian form tersebut diisi dengan lengkap sesuai dengan kenyataan.
Nama pengguna dan password adalah user name dan kata sandi sebagai
nama login. Kemudian tombol buat keanggotaan baru diklik.
Page 58
42
Gambar 2.8 Halaman Utama
Gambar 2.9 Tampilan kategori kursus Fisika
Page 59
43
Gamabar 2.10 Halaman login Sinau Online
(7) Bila sudah punya account nama di moodle maka nama pengguna dan
password diisi kemudian tombol login diklik maka akan muncul seperti
pada gambar 2.11.
Gambar 2.11 Materi Komputasi Fisika
Page 60
44
2.8. Pemrograman Borland Delphi
2.8.1. Pengenalan Borland Delphi
Borland Delphi merupakan multi fungsi yang bekerja dalam sistem operasi
Windows dan juga sering disebut alat bantu (tool). Dalam sejarah pemrograman
sudah banyak digunakan oleh programer untuk menyusun sebuah aplikasi.
Microsoft Delphi 7.0 adalah bahasa pemrograman yang bekerja dalam lingkup
MS-Windows dan merupakan bahasa pemrograman tercepat saat ini untuk
membuat aplikasi pada sistem operasi Windows.
Hal ini disebabkan dengan menggunakan Microsoft Delphi tidak perlu
menuliskan instruksi pemrograman dalam kode-kode baris tetapi secara mudah
cukup dengan melakukan Drag and Drop obyek-obyek yang akan digunakan.
Selain itu Microsoft Visual Delphi 7.0 dapat memanfaatkan kemampuan
MS-windows secara optimal. Kemampuannya dapat dipakai untuk merancang
program aplikasi yang berpenampilan seperti aplikasi lainnya yang berbasis MS-
Windows. Microsoft visual delphi 7.0 memungkinkan pembuatan aplikasi atau
pemrograman yang menggunakan tampilan grafis sebagai alat komunikasi dengan
penggunaannya dan Delphi mempunyai fleksibelitas yang sangat baik untuk
berhubungan dengan aplikasi lain.
2.8.2. Bagian Umum Lingkungan Borland Delphi 7
Lingkungan pengembangan terpadu atau Integrated Development
Environment (IDE) dalam program Delphi terbagi menjadi delapan bagian umum,
yaitu Main Menu, ToolBar, Component Palette, Form Designer, Code Editor,
Page 61
45
Object Inspector, Exploring, dan Object Tree View. Untuk lebih jelasnya lihat
gambar 2.12.
IDE merupakan sebuah lingkungan di mana semua tombol perintah yang
diperlukan untuk mendesain aplikasi, menjalankan dan menguji sebuah aplikasi
disajikan dengan baik untuk memudahkan pengembangan program (Madcoms,
2003: 2). Lingkungan pengembangan terpadu dalam program delphi terdiri dari:
(1) Main Menu
Menu utama pada Delphi memiliki kegunaan yang sama seperti program
aplikasi windows lainnya. Dengan mengunakan fasilitas menu, program
dapat dipanggil atau disimpan. Pada dasarnya semua perintah yang
diberikan dapat ditemukan pada bagian menu utama ini.
(2) Tool bar
Delphi memiliki beberapa toolbar yang masing-masing memiliki
perbedaan fungsi dan setiap tombol pada bagian toolbar berfungsi
sebagai pengganti suatu menu perintah yang sering digunakan. Tombol-
tombol yang terletak pada bagian toolbar dapat ditambah atau dikurangi
sesuai kebutuhan.
(3) Component Palette
Component palette berisi kumpulan ikon yang melambangkan
komponen-komponen yang terdapat pada VCL (Visual Component
Library). Pada komponen palette dapat ditemukan beberapa page
control, seperti standard, additional, win 32, system, data access dan
lain-lain.
Page 62
46
Gambar 2.12 Lembar Kerja Borland Delphi
(4) Form Designer
Form designer merupakan suatu obyek yang dapat dipakai sebagai
tempat untuk merancang program aplikasi. Form berbentuk sebuah meja
kerja yang dapat diisi dengan komponen-komponen yang diambil dari
component palette. Dalam sebuah form terdapat titik-titik yang disebut
grid yang berguna untuk membantu pengaturan tata letak obyek yang
dimasukkan dalam form.
Main Menu
Toolbar
Component Palette
Form Designer
Object Inspector
Code Editor
Code Explorer
Object Tree View
Page 63
47
(5) Object Inspector
Object inspector digunakan untuk mengubah properti atau karakteristik
dari sebuah komponen. Object inspector terdiri dari dua tab yaitu
properties dan event.
(6) Code Editor
Code editor merupakan tempat kode program dituliskan. Pernyataan-
pernyataan dalam obyek Pascal dapat dituliskan pada bagian ini.
Keuntungan bagi pemakai Delphi adalah tidak perlu menuliskan kode-
kode sumber, karena Delphi telah menyediakan kerangka penulisan
sebuah program. Code editor dilengkapi dengan fasilitas highlight yang
memudahkan pemakai menemukan kesalahan.
(7) Code Explorer
Jendela pada code explorer adalah lembar kerja baru yang terdapat di
dalam Delphi 7 yang tidak ditemukan pada versi-versi sebelumnya. Code
explorer digunakan untuk memudahkan pemakai berpindah antar file unit
yang terdapat di dalam jendela code editor.
(8) Object Tree View
Object Tree View menampilkan diagram pohon dari komponen-
komponen yang bersifat visual maupun non visual yang telah terdapat
dalam form, data module, atau frame. Object tree view juga menampilkan
hubungan logika antar komponen.
Page 64
48
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Desain Penelitian
3.1.1. Luaran
(1) Menghasilkan bahan pembelajaran Komputasi Fisika dengan
menggunakan moodle secara online.
(2) Pengetesan bahan pembelajaran mandiri komputasi fisika.
3.1.2. Tempat dan Waktu
(1) Tempat
: Laboratorium komputer D9 Lantai 3 Jurusan Fisika
FMIPA Unnes.
(2) Waktu
: Oktober 2005 – Agustus 2006.
3.1.3. Indikator
Suatu penelitian pengembangan bahan pembelajaran menggunakan
moodle secara online terlebih dahulu menentukan indikator pokok. Adapun
indikator yang digunakan dalam pengembangan bahan pembelajaran komputasi
fisika secara online ini terbagi dalam:
(1) User satisfaction (tingkat kepuasan subyektif pemakai)
a. Rasa senang menggunakan moodle secara online.
b. Sering membuka sinau online komputasi fisika.
c. Tertarik dengan materi e-learning.
48
Page 65
49
(2) Usability (kemudahan pengguna)
a. Mudah dipelajari cara pemakaiannya oleh pengguna.
b. Mudah dioperasikan pengunjung.
c. Menu-menu mudah diikuti oleh pengunjung.
(3) Sistem Navigasi
Kemudahan bernavigasi (menjelajahi) sistem sinau online dengan
menggunakan hyperlink.
(4) Graphic Design (Rancangan Grafis)
Rancangan/desain grafis yang menarik, yang dapat memberikan
kepuasan visual user secara subyektif, melalui lay out, menu-menu dan
pemilihan warna.
(5) Content (Isi)
Materi-materi dan soal-soal dapat dilihat dan dibaca oleh user/pemakai
dengan mudah.
(6) Loading Time (Waktu Panggil)
Faktor yang menyebabkan surfers betah di halaman sinau online adalah
kecepatan loading-nya. Kecepatan loading ini ditentukan oleh ukuran
file, sebaiknya ukuran HTML dan images didalamnya sekitar 50-60 Kb.
(7) Individual Impact (Pengaruh Terhadap individu)
Pengaruh yang diharapkan adalah motivasi untuk belajar dan rasa ingin
tahu (Alamsyah, 2004: 8).
Page 66
50
3.1.4. Prosedur Kerja
Untuk menjaga agar penelitian ini sesuai dengan tujuan yang diharapkan
maka perlu disusun prosedur kerja. Adapun hal-hal yang akan dikerjakan dalam
penelitian ini adalah :
(1) Pembuatan bahan pembelajaran Komputasi Fisika dengan menggunakan
moodle yang dapat diakses secara online.
Agar bahan pembelajaran yang dibuat menarik untuk dikunjungi,
maka halaman-halaman dari materi e-learning tersebut haruslah didesain
dengan se-menarik mungkin.
(2) Uji coba produk materi e-learning dilakukan untuk :
a. Mengukur keterbacaan teks bahan pembelajaran komputasi fisika.
b. Mengukur ketertarikan user terhadap bahan pembelajaran
komputasi fisika.
3.2. Metode Penentuan Obyek Penelitian
3.2.1.
Populasi
Menurut Arikunto (1998), populasi adalah keseluruhan subyek penelitian.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa Jurusan Fisika Universitas
Negeri Semarang.
3.2.2.
Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Sampel dalam
penelitian ini adalah mahasiswa Fisika yang mengikuti semester pendek mata
Page 67
51
kuliah komputasi fisika di Universitas Negeri Semarang tahun akademik
2005/2006 (Arikunto, 1998: 117).
3.3. Instrumen Penelitian Bahan Pembelajaran
3.3.1. Tes Rumpang
Tes rumpang adalah sejenis tes untuk mengukur keterbacaan teks dari
bahan tulis (sesuai dengan aslinya) yang beberapa katanya dihilangkan secara
sistematis (biasanya kata ke-5) (Widodo, 1993, dalam Gunawan 2004).
Instrumen tes tingkat keterbacaan teks bahan pembelajaran dalam
penelitian ini terdiri dari 30 soal. Adapun prosedur penyusunan instrumen
penelitian tes tingkat keterbacaan teks bahan pembelajaran adalah sebagai berikut:
(1) Materi diambil dari bahan pembelajaran sesuai dengan aslinya.
(2) Memilih teks dalam bahan pembelajaran yang relatif panjang.
(3) Kata yang dihilangkan dari teks bahan pembelajaran merupakan butir
soal tes (biasanya kata yang dihilangkan adalah kata ke-5 dari kalimat
atau paragraf).
(4) Jika kata kelima dari kalimat atau paragraf tersebut adalah tahun, nama
kota, nama orang, kata sambung, dan kata ganti maka butir soal tes
diambil dari kata sebelum atau sesudah kata kelima.
(5) Setelah tes diberikan kepada siswa, hasil jawaban benar saja yang
digunakan untuk menentukan skor.
Untuk menentukan kriteria mudah sukarnya bahan pembelajaran
digunakan kriteria dari Bormuth. Menurut Bormuth skor di bawah 37
Page 68
52
menunjukkan bahwa bahan pembelajaran sukar dipahami sedangkan skor di atas
57 menunjukkan bahwa bahan pembelajaran mudah dipahami.
3.3.2. Angket atau Kuesioner.
Angket ini berisi pernyataan-pernyataan yang ditujukan kepada user atau
pemakai bahan pembelajaran mengunakan moodle secara online. Dalam angket
ini terdapat 20 pernyataan yang dapat dijawab oleh user setelah mempelajari
bahan pembelajaran menggunakan moodle tersebut. Setiap pernyataan dalam
angket terdapat empat jawaban yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), kurang setuju
(KS), dan tidak setuju (TS).
Sedangkan penentuan jumlah skor untuk jawaban pernyataan dalam
angket adalah skor 5 untuk jawaban sangat setuju (SS), skor 4 untuk jawaban
setuju (S), skor 2 untuk jawaban kurang setuju (KS), dan skor 1 untuk jawaban
tidak setuju (TS) (Riduwan, 2005: 13).
3.4. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah suatu metode atau cara yang
digunakan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam suatu
penelitian. Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang dilakukan
adalah sebagai berikut:
(1) Metode tes
(2) Metode angket
3.4.1. Metode Tes
Metode tes yang digunakan adalah tes rumpang (cloze test). Metode tes
rumpang digunakan untuk mengetahui tingkat keterbacan teks bahan
Page 69
53
pembelajaran sehingga diperoleh informasi bahwa bahan pembelajaran tersebut
mudah dipahami atau tidak.
3.4.2. Metode Angket
Angket adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain yang
bersedia memberikan respons sesuai dengan permintaan pengguna. Metode
angket yang digunakan adalah rating scale (skala bertingkat). Metode angket
digunakan untuk mengetahui tingkat ketertarikan user terhadap bahan
pembelajaran komputasi fisika sehingga diperoleh informasi bahwa bahan
pembelajaran tersebut menarik atau tidak.
3.5. Langkah-langkah Penelitian
Langkah-langkah penelitian yang dilakukan untuk bahan pembelajaran
tertulis adalah:
(1) Bahan pembelajaran yang telah dikembangkan oleh penulis diupload ke
dalam jaringan intranet.
(2) User atau pemakai dapat mengakses bahan pembelajaran tersebut melalui
web site http://192.168.1.4/elearning (di Laboratorium komputer D9
Lantai 3 Jurusan Fisika FMIPA
Unnes).
(3) Melakukan tes tingkat keterbacaan dan tingkat ketertarikan user kepada
mahasiswa fisika peserta kuliah Semester Pendek (SP) komputasi fisika
dengan menggunakan instrumen tes rumpang dan instrumen angket dari
bahan pembelajaran yang telah dipelajari.
Page 70
54
(4) Melakukan analisis data untuk mengetahui tingkat keterbacaan teks
bahan pembelajaran dan tingkat ketertarikan user setelah mempelajari
bahan pembelajaran komputasi fisika secara online.
3.6. Metode Analisis Data
Setelah data diperoleh, maka langkah selanjutnya adalah menganalisis
data. Dalam penelitian ini lebih menitikberatkan tentang bagaimana paket
bahan pembelajaran mandiri secara online dan tidak melihat aspek statistiknya
secara mendalam, sehingga dalam penelitian ini data dianalisis dengan sistem
diskriptif prosentase.
Untuk memperoleh data tersebut diperlukan alat ukur yaitu berupa
item-item soal atau instrumen evalusi. Bentuk instrumen yang digunakan
adalah tes tingkat keterbacaan (tes rumpang) dan angket.
3.6.1. Tingkat Keterbacaan Teks
Untuk mengetahui tingkat keterbacaan teks bahan pembelajaran
dihitung dengan mencari proporsi jawaban benar dikalikan 100. Secara
matematis:
%100
n
x
x
i

=
keterangan:
x
= Besarnya tingkat keterbacaan teks bahan pembelajaran.
∑ i
x = Jumlah proporsi jawaban yang benar.
n
= Banyak siswa
(Widodo:1993, dalam Gunawan: 2004)
Page 71
55
Hasil akhir keterbacan teks bahan pembelajaran dalam bentuk skor,
kemudian dibandingkan dengan kriteria Bormuth sebagai berikut:
< 37 %
= Bahan pembelajaran sukar dipahami.
37 % - 57 % = Bahan pembelajaran telah memenuhi syarat
keterbacaan.
> 57 %
= Bahan pembelajaran mudah dipahami.
3.6.2. Tingkat Ketertarikan User
Untuk menganalisis data dari angket dilakukan langkah-langkah
sebagai berikut :
(1) Angket yang telah diisi oleh responden, diperiksa kelengkapan
jawabannya, kemudian disusun sesuai dengan kode responden.
(2) Mengkuantitatifkan jawaban setiap pertanyaan dengan memberikan skor
sesuai dengan bobot yang telah ditentukan sebelumnya.
(3) Membuat tabulasi data.
(4) Menghitung prosentase dari tiap-tiap subvariabel. Adapun prosentase
untuk tiap-tiap subvariabel dihitung dengan menggunakan rumus :
%100
×
=
N
S
Ps
keterangan
Ps = prosentase subvariabel
S = Jumlah nilai tiap subvariabel/faktor
N = Jumlah skor maksimum
Page 72
56
(5) Dari prosentase yang telah diperoleh kemudian ditransformasikan ke
dalam kalimat yang bersifat kualitatif. Untuk menentukan kriteria
kualitatif dilakukan dengan cara :
a. Menentukan prosentase skor ideal (skor maksimal) = 100 %
b. Menentukan prosentase skor terendah (skor minimal) = 0 %
c. Menentukan range 100 – 0 = 100
d. Menentukan interval yang dikehendaki 4 kriteria (baik, cukup,
kurang baik, tidak baik)
e. Menentukan lebar interval 100/4 = 25
Berdasarkan perhitungan di atas maka range prosentase dan kriteria
kualitatif ketertarikan user dapat ditetapkan sebagaimana dalam tabel 3.1
berikut:
Tabel 3.1. Range prosentase dan kriteria kualitatif ketertarikan user
Nomor
Interval
Kriteria
1.
76 % < Skor ≤ 100 %
Baik
2.
51% < Skor ≤ 75 %
Cukup
3.
26 < Skor ≤ 50 % Kurang baik
4.
0 % < Skor ≤ 25 % Tidak baik
(Wibowo, 2004: 37)
Page 73
57
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.1.1. Tingkat Keterbacaan Teks Bahan Pembelajaran
Perhitungan tingkat keterbacaan teks bahan pembelajaran komputasi fisika
dapat dilihat pada lampiran 7. Besarnya skor prosentase tingkat keterbacaan
adalah 83,5 % apabila dikonsultasikan dengan kriteria Bormuth, maka bahan
pembelajaran komputasi fisika termasuk ke dalam kriteria mudah dipahami.
4.1.2. Tingkat Ketertarikan User terhadap Bahan Pembelajaran
Tingkat ketertarikan user terhadap bahan pembelajaran fisika
menggunakan moodle dapat dilihat dari hasil angket yang telah diisi oleh user
setelah mempelajari bahan pembelajaran menggunakan moodle yang dilakukan
selama kurun waktu 2 minggu. Dari daftar peserta kuliah Semester Pendek (SP)
komputasi fisika sebanyak 17 orang user yang menggunakan moodle yang dapat
diakses secara online. Sedangkan yang telah mengisi angket observasi bahan
pembelajaran komputasi fisika secara online sebanyak 14 user.
Hasil perhitungan rata-rata skor observasi terhadap 14 orang user dapat
dilihat pada lampiran 13. Besarnya rata-rata skor prosentase observasi dari 14
orang user yaitu 78,21 %. Menurut kriteria tingkat ketertarikan user (BAB III :
56), apabila tingkat ketertarikan user terletak pada interval 76 % sampai dengan
57
Page 74
58
100 %, maka tingkat ketertarikan user terhadap bahan pembelajaran
menggunakan moodle termasuk ke dalam kategori baik.
Analisis skor angket manual untuk tiap sub variabel yang diteliti dapat
dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.1: Analisis Skor Angket untuk Sub Variabel
Kepuasan Pengguna (User Satisfaction)
Sub sub
variabel
Senang
menggunakan
Sering
menggunakan
Ketertarikan
Item soal
2
9
20
Skor
59
38
58
Prosentase
84 %
54 %
83 %
Kriteria
B
CB
B
Tabel 4.2: Analisis Skor Angket untuk Sub Variabel
Kemudahan dalam Penggunaan (Usability)
Sub sub
variabel
Pemakaian
mudah
Mudah
dioperasikan
Mudah diikuti
Item soal
3
4
18
Skor
57
58
57
Prosentase
81 %
83 %
81 %
Kriteria
B
B
B
Tabel 4.3: Analisis Skor Angket untuk Sub Variabel
Sistem Navigasi
Sub sub
variabel
Penggunaan
hyperlink
Item soal
13
Skor
54
Prosentase
77 %
Kriteria
B
Page 75
59
Tabel 4.4: Analisis Skor Angket untuk Sub Variabel
Rancangan Grafis (Graphic Design)
Sub sub
variabel
Tampilan lay
out
Menu-menu
Warna-warna
Item soal
10
11
17
Skor
57
47
60
Prosentase
81 %
67 %
86 %
Kriteria
B
CB
B
Tabel 4.5: Analisis Skor Angket untuk Sub Variabel
Isi (Content)
Sub sub
variabel
Penyajian
konsep
fisika
Penyelesaian
numerik
Gambar
memperjelas
Penulisan
rumus
Item soal
1
12
15
16
Skor
57
53
56
54
Prosentase
81 %
76 %
80 %
77 %
Kriteria
B
B
B
B
Tabel 4.6: Analisis Skor Angket untuk Sub Variabel
Waktu Pemanggilan (Loading Time)
Sub sub
variabel
Kecepatan
pemanggilan
Item soal
5
Skor
53
Prosentase
76 %
Kriteria
B
Tabel 4.7: Analisis Skor Angket untuk Sub Variabel
Pengaruh terhadap Individu (Individual Impact)
Sub sub
variabel
Keinginan
mengembangkan
Keingin-
tahuan
Motivasi Sumber
informasi
Membutuhkan
bantuan
Item soal
6
7
8
14
19
Skor
54
61
55
58
49
Prosentase
77 %
87 %
79 %
83 %
70 %
Kriteria
B
B
B
B
CB
Page 76
60
4.2. Pembahasan
Sinau online ini telah diujicobakan kepada responden yaitu mahasiswa SP
komputasi fisika tahun akademik 2005/2006. Tes rumpang dan angket online
disediakan bagi semua peserta yang mengikuti pembelajaran berbasis web
tersebut.
Bahan pembelajaran fisika komputasi menggunakan moodle yang
dikembangkan oleh penulis diujikan kepada user selama kurun waktu 2 minggu
untuk mengetahui besarnya tingkat keterbacaan teks dan ketertarikan user selama
kurun waktu 2 minggu terdapat 16 orang user yang telah mengisi tes rumpang dan
14 orang user yang telah mengisi angket observasi bahan pembelajaran
menggunakan moodle yang dapat diakses secara online.
Bahan pembelajaran fisika komputasi yang telah dikembangkan oleh
penulis mempunyai tingkat keterbacaan teks bahan pembelajaran fisika termasuk
ke dalam kategori mudah dipahami. Besar kecilnya tingkat keterbacaan teks dari
bahan pembelajaran tergantung pada panjang pendeknya kalimat yang digunakan,
struktur bahasa dan juga penggunaan bahasa sebagai media komunikasi antara
penulis dan pemakai.
Bahan pembelajaran yang mudah dipahami oleh pemakainya berarti bahan
pembelajaran tersebut telah memenuhi syarat sebagai bahan pembelajaran yang
baik. Bahan pembelajaran yang mudah untuk dipahami akan mendorong pemakai
untuk mempelajari bahan pembelajaran secara lebih mendalam.
Berdasarkan analisis skor angket untuk mahasiswa dapat dilakukan
pembahasan sebagai berikut: dalam kriteria bahan pembelajaran komputasi online
Page 77
61
secara umum tergolong baik (78 %). Kepuasan pengguna yang meliputi senang
menggunakan tergolong baik (84 %), sering menggunakan tergolong cukup baik
(54 %), dan ketertarikan tergolong baik (83 %).
Untuk kriteria kemudahan dalam penggunaan yang meliputi pemakaian
mudah tergolong baik (81 %), menu-menu tergolong cukup baik (67 %), dan
warna-warna tergolong baik (86 %).
Dalam kriteria isi yang meliputi penyajian konsep fisika tergolong baik (81
%), penyelesaian numerik tergolong baik (76 %) merupakan faktor yang penting
untuk menentukan kualitas dari sebuah bahan pembelajaran secara online.
Faktor pengaruh terhadap individu (individual impact) berperan besar
terhadap hasil yang diperoleh dalam sebuah pembelajaran. Kriteria individual
impact yang meliputi keinginan mengembangkan tergolong baik (77 %), ingin
tahu tergolong baik (87 %), termotivasi tergolong baik (79 %), sumber informasi
tergolong baik (83 %), dan membutuhkan guru tergolong cukup baik (70 %).
Hasil Analisis data dari uji coba yang telah dilakukan berdasarkan
responden mahasiswa setidaknya dapat memberikan gambaran bagi kita, bahwa
pengembangan bahan pembelajaran seperti ini perlu untuk dikembangkan lagi,
mengingat tanggapan positif dari responden terhadap program ini, sehingga dapat
digunakan untuk pembelajaran mata kuliah di perguruan tinggi.
Page 78
62
4.3. Keterbatasan dan kelemahan Penelitian
4.3.1. Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah sebagai
berikut:
(1) Bahan pembelajaran fisika komputasi yang dikembangkan oleh penulis
hanya diujikan kepada mahasiswa fisika peserta semester pendek mata
kuliah fisika komputasi yaitu sebanyak 17 mahasiswa.
(2) Waktu yang terbatas.
4.3.2. Kelemahan Penelitian
Kelemahan penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah sebagai berikut:
(1) Kemampuan awal mahasiswa tidak diteliti terlebih dahulu sehingga
penulis tidak mengetahui kemampuan awal yang dimiliki mahasiswa.
(2) Bahan pembelajaran menggunakan moodle yang dikembangkan oleh
penulis masih banyak terdapat kekurangan jika dilihat dari jarangnya
mahasiswa membuka sinau online komputasi fisika dibandingkan dengan
membaca buku teks dan menu-menu sinau online yang kurang lengkap
berdasarkan hasil angket.
(3) Dalam bahan pembelajaran menggunakan moodle yang dikembangkan
oleh penulis terdapat kolom saran dan kritik yang tidak diisi oleh user
sehingga penulis tidak mengetahui saran dan kritik yang mungkin ingin
disampaikan oleh user.
Page 79
63
BAB V
PENUTUP
5.1. Simpulan
Simpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah:
(1) Bahan pembelajaran komputasi Fisika yang dikembangkan oleh penulis
mempunyai tingkat keterbacaan teks sebesar 83,5 %, hal ini berarti bahan
pembelajaran tersebut termasuk ke dalam kategori mudah dipahami.
(2) Bahan pembelajaran komputasi fisika yang dikembangkan oleh penulis
mempunyai tingkat ketertarikan user terhadap bahan pembelajaran
sebesar 78,2 % termasuk kategori baik.
(3) Bahan pembelajaran dapat digunakan sebagai sarana untuk belajar
mandiri.
(4) Telah dihasilkan sebuah bahan pembelajaran komputasi fisika
menggunakan moodle secara online di jurusan fisika Universitas Negeri
Semarang.
5.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan, penulis mengajukan saran
sebagai berikut:
(1) Diperlukan adanya pengembangan untuk menyempurnakan bahan
pembelajaran ini dalam rangka pembelajaran yang berkelanjutan.
63
Page 80
64
(2) Program ini perlu terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan dan
perkembangan IPTEK supaya mahasiswa yang menggunakan tidak
ketinggalan informasi dan ilmu pengetahuan yang baru.
(3) Dalam melakukan penelitian bahan pembelajaran, sebaiknya kurun
waktu yang diberikan kepada user cukup lama, sehingga user dapat
mempelajari bahan pembelajaran tersebut dengan baik.
(4) Setiap program pembelajaran secara online yang baru dikembangkan
memerlukan masa uji coba yang melibatkan berbagai komponen internal
dan eksternal.

Cara Menyusun Skripsi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), skripsi diartikan sebagai karangan ilmiah yang diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis. Buat sebagian mahasiswa, skripsi adalah sesuatu yang lumrah. Tetapi buat sebagian mahasiswa yang lain, skripsi bisa jadi momok yang terus menghantui dan menjadi mimpi buruk. Banyak juga yang berujar “lebih baik sakit gigi daripada bikin skripsi”.

Saya juga sering mendapat kiriman pertanyaan tentang bagaimana menyusun skripsi dengan baik dan benar. Ada juga beberapa yang menanyakan masalah teknis tertentu dengan skripsinya. Karena keterbatasan waktu, lebih baik saya jawab saja secara berjamaah di sini. Sekalian supaya bisa disimak oleh audiens yang lain.

Karena target pembacanya cukup luas dan tidak spesifik, maka tulisan ini akan lebih memaparkan tentang konsep dan prinsip dasar. Tulisan ini tidak akan menjelaskan terlalu jauh tentang aspek teknis skripsi/penelitian. Jadi, jangan menanyakan saya soal cara menyiasati internal validity, tips meningkatakan response rate, cara-cara dalam pengujian statistik, bagaimana melakukan interpretasi hasil, dan seterusnya. Itu adalah tugas pembimbing Anda. Bukan tugas saya.

* Apa itu Skripsi?


Saya yakin (hampir) semua orang sudah tahu apa itu skripsi. Seperti sudah dituliskan di atas, skripsi adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi sebagai bagian untuk mendapatkan gelar sarjana (S1). Skripsi inilah yang juga menjadi salah satu pembeda antara jenjang pendidikan sarjana (S1) dan diploma (D3).

Ada beberapa syarat yang musti dipenuhi sebelum seorang mahasiswa bisa menulis skripsi. Tiap universitas/fakultas memang mempunyai kebijakan tersendiri, tetapi umumnya persyaratan yang harus dipenuhi hampir sama. Misalnya, mahasiswa harus sudah memenuhi sejumlah SKS, tidak boleh ada nilai D atau E, IP Kumulatif semester tersebut minimal 2.00, dan seterusnya. Anda mungkin saat ini belum “berhak” untuk menulis skripsi, akan tetapi tidak ada salahnya untuk mempersiapkan segalanya sejak awal.

Skripsi tersebut akan ditulis dan direvisi hingga mendapat persetujuan dosen pembimbing. Setelah itu, Anda harus mempertahankan skripsi Anda di hadapan penguji dalam ujian skripsi nantinya. Nilai Anda bisa bervariasi, dan terkadang, bisa saja Anda harus mengulang skripsi Anda (tidak lulus).

Skripsi juga berbeda dari tesis (S2) dan disertasi (S3). Untuk disertasi, mahasiswa S3 memang diharuskan untuk menemukan dan menjelaskan teori baru. Sementara untuk tesis, mahasiswa bisa menemukan teori baru atau memverikasi teori yang sudah ada dan menjelaskan dengan teori yang sudah ada. Sementara untuk mahasiswa S1, skripsi adalah “belajar meneliti”.

Jadi, skripsi memang perlu disiapkan secara serius. Akan tetapi, juga nggak perlu disikapi sebagai mimpi buruk atau beban yang maha berat.

* Miskonsepsi tentang Skripsi


Banyak mahasiswa yang merasa bahwa skripsi hanya “ditujukan” untuk mahasiswa-mahasiswa dengan kecerdasan di atas rata-rata. Menurut saya pribadi, penulisan skripsi adalah kombinasi antara kemauan, kerja keras, dan relationships yang baik. Kesuksesan dalam menulis skripsi tidak selalu sejalan dengan tingkat kepintaran atau tinggi/rendahnya IPK mahasiswa yang bersangkutan. Seringkali terjadi mahasiswa dengan kecerdasan rata-rata air lebih cepat menyelesaikan skripsinya daripada mahasiswa yang di atas rata-rata.

Masalah yang juga sering terjadi adalah seringkali mahasiswa datang berbicara ngalor ngidul dan membawa topik skripsi yang terlalu muluk. Padahal, untuk tataran mahasiswa S1, skripsi sejatinya adalah belajar melakukan penelitian dan menyusun laporan menurut kaidah keilmiahan yang baku. Skripsi bukan untuk menemukan teori baru atau memberikan kontribusi ilmiah. Karenanya, untuk mahasiswa S1 sebenarnya replikasi adalah sudah cukup.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa penelitian, secara umum, terbagi dalam dua pendekatan yang berbeda: pendekatan saintifik dan pendekatan naturalis. Pendekatan saintifik (scientific approach) biasanya mempunyai struktur teori yang jelas, ada pengujian kuantitif (statistik), dan juga menolak grounded theory. Sebaliknya, pendekatan naturalis (naturalist approach) umumnya tidak menggunakan struktur karena bertujuan untuk menemukan teori, hipotesis dijelaskan hanya secara implisit, lebih banyak menggunakan metode eksploratori, dan sejalan dengan grounded theory.

Mana yang lebih baik antara kedua pendekatan tersebut? Sama saja. Pendekatan satu dengan pendekatan lain bersifat saling melengkapi satu sama lain (komplementer). Jadi, tidak perlu minder jika Anda mengacu pada pendekatan yang satu, sementara teman Anda menggunakan pendekatan yang lain. Juga, tidak perlu kuatir jika menggunakan pendekatan tertentu akan menghasilkan nilai yang lebih baik/buruk daripada menggunakan pendekatan yang lain.

* Hal-hal yang Perlu Dilakukan


Siapkan Diri. Hal pertama yang wajib dilakukan adalah persiapan dari diri Anda sendiri. Niatkan kepada Tuhan bahwa Anda ingin menulis skripsi. Persiapkan segalanya dengan baik. Lakukan dengan penuh kesungguhan dan harus ada kesediaan untuk menghadapi tantangan/hambatan seberat apapun.

Minta Doa Restu. Saya percaya bahwa doa restu orang tua adalah tiada duanya. Kalau Anda tinggal bersama orang tua, mintalah pengertian kepada mereka dan anggota keluarga lainnya bahwa selama beberapa waktu ke depan Anda akan konsentrasi untuk menulis skripsi. Kalau Anda tinggal di kos, minta pengertian dengan teman-teman lain. Jangan lupa juga untuk membuat komitmen dengan pacar. Berantem dengan pacar (walau sepele) bisa menjatuhkan semangat untuk menyelesaikan skripsi.

Buat Time Table. Ini penting agar penulisan skripsi tidak telalu time-consuming. Buat planning yang jelas mengenai kapan Anda mencari referensi, kapan Anda harus mendapatkan judul, kapan Anda melakukan bimbingan/konsultasi, juga target waktu kapan skripsi harus sudah benar-benar selesai.

Berdayakan Internet. Internet memang membuat kita lebih produktif. Manfaatkan untuk mencari referensi secara cepat dan tepat untuk mendukung skripsi Anda. Bahan-bahan aktual bisa ditemukan lewat Google Scholar atau melalui provider-provider komersial seperti EBSCO atau ProQuest.

Jadilah Proaktif. Dosen pembimbing memang “bertugas” membimbing Anda. Akan tetapi, Anda tidak selalu bisa menggantungkan segalanya pada dosen pembimbing. Selalu bersikaplah proaktif. Mulai dari mencari topik, mengumpulkan bahan, “mengejar” untuk bimbingan, dan seterusnya.

Be Flexible. Skripsi mempunyai tingkat “ketidakpastian” tinggi. Bisa saja skripsi anda sudah setengah jalan tetapi dosen pembimbing meminta Anda untuk mengganti topik. Tidak jarang dosen Anda tiba-tiba membatalkan janji untuk bimbingan pada waktu yang sudah disepakati sebelumnya. Terkadang Anda merasa bahwa kesimpulan/penelitian Anda sudah benar, tetapi dosen Anda merasa sebaliknya. Jadi, tetaplah fleksibel dan tidak usah merasa sakit hati dengan hal-hal yang demikian itu.

Jujur. Sebaiknya jangan menggunakan jasa “pihak ketiga” yang akan membantu membuatkan skripsi untuk Anda atau menolong dalam mengolah data. Skripsi adalah buah tangan Anda sendiri. Kalau dalam perjalanannya Anda benar-benar tidak tahu atau menghadapi kesulitan besar, sampaikan saja kepada dosen pembimbing Anda. Kalau disampaikan dengan tulus, pastilah dengan senang hati ia akan membantu Anda.

Siapkan Duit. Skripsi jelas menghabiskan dana yang cukup lumayan (dengan asumsi tidak ada sponsorships). Mulai dari akses internet, biaya cetak mencetak, ongkos kirim kuesioner, ongkos untuk membeli suvenir bagi responden penelitian, biaya transportasi menuju tempat responden, dan sebagainya. Jangan sampai penulisan skripsi macet hanya karena kehabisan dana. Ironis kan?

* Tahap-tahap Persiapan


Kalau Anda beruntung, bisa saja dosen pembimbing sudah memiliki topik dan menawarkan judul skripsi ke Anda. Biasanya, dalam hal ini dosen pembimbing sedang terlibat dalam proyek penelitian dan Anda akan “ditarik” masuk ke dalamnya. Kalau sudah begini, penulisan skripsi jauh lebih mudah dan (dijamin) lancar karena segalanya akan dibantu dan disiapkan oleh dosen pembimbing.

Sayangnya, kebanyakan mahasiswa tidak memiliki keberuntungan semacam itu. Mayoritas mahasiswa, seperti ditulis sebelumnya, harus bersikap proaktif sedari awal. Jadi, persiapan sedari awal adalah sesuatu yang mutlak diperlukan.

Idealnya, skripsi disiapkan satu-dua semester sebelum waktu terjadwal. Satu semester tersebut bisa dilakukan untuk mencari referensi, mengumpulkan bahan, memilih topik dan alternatif topik, hingga menyusun proposal dan melakukan bimbingan informal.

Dalam mencari referensi/bahan acuan, pilih jurnal/paper yang mengandung unsur kekinian dan diterbitkan oleh jurnal yang terakreditasi. Jurnal-jurnal top berbahasa asing juga bisa menjadi pilihan. Kalau Anda mereplikasi jurnal/paper yang berkelas, maka bisa dipastikan skripsi Anda pun akan cukup berkualitas.

Unsur kekinian juga perlu diperhatikan. Pertama, topik-topik baru lebih disukai dan lebih menarik, bahkan bagi dosen pembimbing/penguji. Kalau Anda mereplikasi topik-topik lawas, penguji biasanya sudah “hafal di luar kepala” sehingga akan sangat mudah untuk menjatuhkan Anda pada ujian skripsi nantinya.

Kedua, jurnal/paper yang terbit dalam waktu 10 tahun terakhir, biasanya mengacu pada referensi yang terbit 5-10 tahun sebelumnya. Percayalah bahwa mencari dan menelusur referensi yang terbit tahun sepuluh-dua puluh tahun terakhir jauh lebih mudah daripada melacak referensi yang bertahun 1970-1980.

Salah satu tahap persiapan yang penting adalah penulisan proposal. Tentu saja proposal tidak selalu harus ditulis secara “baku”. Bisa saja ditulis secara garis besar (pointer) saja untuk direvisi kemudian. Proposal ini akan menjadi guidance Anda selama penulisan skripsi agar tidak terlalu keluar jalur nantinya. Proposal juga bisa menjadi alat bantu yang akan digunakan ketika Anda mengajukan topik/judul kepada dosen pembimbing Anda. Proposal yang bagus bisa menjadi indikator yang baik bahwa Anda adalah mahasiswa yang serius dan benar-benar berkomitmen untuk menyelesaikan skripsi dengan baik.

* Kiat Memilih Dosen Pembimbing


Dosen pembimbing (academic advisor) adalah vital karena nasib Anda benar-benar berada di tangannya. Memang benar bahwa dosen pembimbing bertugas mendampingi Anda selama penulisan skripsi. Akan tetapi, pada prakteknya ada dosen pembimbing yang “benar-benar membimbing” skripsi Anda dengan intens. Ada pula yang membimbing Anda dengan “melepas” dan memberi Anda kebebasan. Mempelajari dan menyesuaikan diri dengan dosen pembimbing adalah salah satu elemen penting yang mendukung kesuksesan Anda dalam menyusun skripsi.

Tiap universitas/fakultas mempunyai kebijakan tersendiri soal dosen pembimbing ini. Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing yang Anda inginkan. Tapi ada juga universitas/fakultas yang memilihkan dosen pembimbing buat Anda. Tentu saja lebih “enak” kalau Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing untuk skripsi Anda.

Lalu, bagaimana memilih dosen pembimbing yang benar-benar tepat?

Secara garis besar, dosen bisa dikategorikan sebagai: (1) dosen senior, dan (2) dosen junior. Dosen senior umumnya berusia di atas 40-an tahun, setidaknya bergelar doktor (atau professor), dengan jam terbang yang cukup tinggi. Sebaliknya, dosen junior biasanya berusia di bawah 40 tahun, umumnya masih bergelar master, dan masih gampang dijumpai di lingkungan kampus.

Tentu saja, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagai contoh, kalau Anda memilih dosen pembimbing senior, biasanya Anda akan mengalami kesulitan sebagai berikut:

Proses bimbingan cukup sulit, karena umumnya dosen senior sangat perfeksionis.
Anda akan kesulitan untuk bertemu muka karena umumnya dosen senior memiliki jam terbang tinggi dan jadwal yang sangat padat.

Tapi, keuntungannya:

Kualitas skripsi Anda, secara umum, akan lebih memukau daripada rekan Anda.
Anda akan “tertolong” saat ujian skripsi/pendadaran, karena dosen penguji lain (yang kemungkinan masih junior/baru bergelar master) akan merasa sungkan untuk “membantai” Anda.
Dalam beberapa kasus, bisa dipastikan Anda akan mendapat nilai A.

Sebaliknya, kalau Anda memilih dosen pembimbing junior, maka Anda akan lebih mudah selama proses bimbingan. Dosen Anda akan mudah dijumpai di lingkungan kampus karena jam terbangnya belum terlalu tinggi. Dosen muda umumnya juga tidak “jaim” dan “sok” kepada mahasiswanya.

Tapi, kerugiannya, Anda akan benar-benar “sendirian” ketika menghadapi ujian skripsi. Kalau dosen penguji lain lebih senior daripada dosen pembimbing Anda, bisa dipastikan Anda akan “dihajar” cukup telak. Dan dosen pembimbing Anda tidak berada dalam posisi yang bisa membantu/membela Anda.

Jadi, hati-hati juga dalam memilih dosen pembimbing.

* Format Skripsi yang Benar


Biasanya, setiap fakultas/universitas sudah menerbitkan acuan/pedoman penulisan hasil penelitian yang baku. Mulai dari penyusunan konten, tebal halaman, jenis kertas dan sampul, hingga ukuran/jenis huruf dan spasi yang digunakan. Akan tetapi, secara umum format hasil penelitian dibagi ke dalam beberapa bagian sebagai berikut.

Pendahuluan. Bagian pertama ini menjelaskan tentang isu penelitian, motivasi yang melandasi penelitian tersebut dilakukan, tujuan yang diharapkan dapat tercapai melalui penelitian ini, dan kontribusi yang akan diberikan dari penelitian ini.

Pengkajian Teori & Pengembangan Hipotesis. Setelah latar belakang penelitian dipaparkan jelas di bab pertama, kemudian dilanjutkan dengan kaji teori dan pengembangan hipotesis. Pastikan bahwa bagian ini align juga dengan bagian sebelumnya. Mengingat banyak juga mahasiswa yang “gagal” menyusun alignment ini. Akibatnya, skripsinya terasa kurang make sense dan nggak nyambung.

Metodologi Penelitian. Berisi penjelasan tentang data yang digunakan, pemodelan empiris yang dipakai, tipe dan rancangan sampel, bagaimana menyeleksi data dan karakter data yang digunakan, model penelitian yang diacu, dan sebagainya.

Hasil Penelitian. Bagian ini memaparkan hasil pengujian hipotesis, biasanya meliputi hasil pengolahan secara statistik, pengujian validitas dan reliabilitas, dan diterima/tidaknya hipotesis yang diajukan.

Penutup. Berisi ringkasan, simpulan, diskusi, keterbatasan, dan saran. Hasil penelitian harus disarikan dan didiskusikan mengapa hasil yang diperoleh begini dan begitu. Anda juga harus menyimpulkan keberhasilan tujuan riset yang dapat dicapai, manakah hipotesis yang didukung/ditolak, keterbatasan apa saja yang mengganggu, juga saran-saran untuk penelitian mendatang akibat dari keterbatasan yang dijumpai pada penelitian ini.

Jangan lupa untuk melakukan proof-reading dan peer-review. Proof-reading dilakukan untuk memastikan tidak ada kesalahan tulis (typo) maupun ketidaksesuaian tata letak penulisan skripsi. Peer-review dilakukan untuk mendapatkan second opinion dari pihak lain yang kompeten. Bisa melalui dosen yang Anda kenal baik (meski bukan dosen pembimbing Anda), kakak kelas/senior Anda, teman-teman Anda yang dirasa kompeten, atau keluarga/orang tua (apabila latar belakang pendidikannya serupa dengan Anda).

* Beberapa Kesalahan Pemula


Ketidakjelasan Isu. Isu adalah titik awal sebelum melakukan penelitian. Isu seharusnya singkat, jelas, padat, dan mudah dipahami. Isu harus menjelaskan tentang permasalahan, peluang, dan fenomena yang diuji. Faktanya, banyak mahasiswa yang menuliskan isu (atau latar belakang) berlembar-lembar, tetapi sama sekali sulit untuk dipahami.

Tujuan Riset & Tujuan Periset. Tidak jarang mahasiswa menulis “sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar kesarjanaan” sebagai tujuan risetnya. Hal ini adalah kesalahan fatal. Tujuan riset adalah menguji, mengobservasi, atau meneliti fenomena dan permasalahan yang terjadi, bukan untuk mendapatkan gelar S1.

Bab I: Bagian Terpenting. Banyak mahasiswa yang mengira bahwa bagian terpenting dari sebuah skripsi adalah bagian pengujian hipotesis. Banyak yang menderita sindrom ketakutan jika nantinya hipotesis yang diajukan ternyata salah atau ditolak. Padahal, menurut saya, bagian terpenting skripsi adalah Bab I. Logikanya, kalau isu, motivasi, tujuan, dan kontribusi riset bisa dijelaskan secara runtut, biasanya bab-bab berikutnya akan mengikuti dengan sendirinya. (baca juga: Joint Hypotheses)

Padding. Ini adalah fenomena yang sangat sering terjadi. Banyak mahasiswa yang menuliskan terlalu banyak sumber acuan dalam daftar pustaka, walaupun sebenarnya mahasiswa yang bersangkutan hanya menggunakan satu-dua sumber saja. Sebaliknya, banyak juga mahasiswa yang menggunakan beragam acuan dalam skripsinya, tetapi ketika ditelusur ternyata tidak ditemukan dalam daftar acuan.

Joint Hypotheses. Menurut pendekatan saintifik, pengujian hipotesis adalah kombinasi antara fenomena yang diuji dan metode yang digunakan. Dalam melakukan penelitian ingatlah selalu bahwa fenomena yang diuji adalah sesuatu yang menarik dan memungkinkan untuk diuji. Begitu pula dengan metode yang digunakan, haruslah metode yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kalau keduanya terpenuhi, yakinlah bahwa skripsi Anda akan outstanding. Sebaliknya, kalau Anda gagal memenuhi salah satu (atau keduanya), bersiaplah untuk dibantai dan dicecar habis-habisan.

Keterbatasan & Kemalasan. Mahasiswa sering tidak bisa membedakan antara keterbatasan riset dan “kemalasan riset”. Keterbatasan adalah sesuatu hal yang terpaksa tidak dapat terpenuhi (atau tidak dapat dilakukan) karena situasi dan kondisi yang ada. Bukan karena kemalasan periset, ketiadaan dana, atau sempitnya waktu.

Kontribusi Riset. Ini penting (terutama) jika penelitian Anda ditujukan untuk menarik sponsor atau dibiayai dengan dana pihak sponsor. Kontribusi riset selayaknya dijelaskan dengan lugas dan gamblang, termasuk pihak mana saja yang akan mendapatkan manfaat dari penelitian ini, apa korelasinya dengan penelitian yang sedang dilakukan, dan seterusnya. Kegagalan dalam menjelaskan kontribusi riset akan berujung pada kegagalan mendapatkan dana sponsor.

* Menghadapi Ujian Skripsi


Benar. Banyak mahasiswa yang benar-benar takut menghadapi ujian skripsi (oral examination). Terlebih lagi, banyak mahasiswa terpilih yang jenius tetapi ternyata gagal dalam menghadapi ujian pendadaran. Di dalam ruang ujian sendiri tidak jarang mahasiswa mengalami ketakutan, grogi, gemetar, berkeringat, yang pada akhirnya menggagalkan ujian yang harus dihadapi.

Setelah menulis skripsi, Anda memang harus mempertahankannya di hadapan dewan penguji. Biasanya dewan penguji terdiri dari satu ketua penguji dan beberapa anggota penguji. Lulus tidaknya Anda dan berapa nilai yang akan Anda peroleh adalah akumulasi dari skor yang diberikan oleh masing-masing penguji. Tiap penguji secara bergantian (terkadang juga keroyokan) akan menanyai Anda tentang skripsi yang sudah Anda buat. Waktu yang diberikan biasanya berkisar antara 30 menit hingga 1 jam.

Ujian skripsi kadang diikuti juga dengan ujian komprehensif yang akan menguji sejauh mana pemahaman Anda akan bidang yang selama ini Anda pelajari. Tentu saja tidak semua mata kuliah diujikan, melainkan hanya mata kuliah inti (core courses) saja dengan beberapa pertanyaan yang spesifik, baik konseptual maupun teknis.

Grogi, cemas, kuatir itu wajar dan manusiawi. Akan tetapi, ujian skripsi sebaiknya tidak perlu disikapi sebagai sesuatu yang terlalu menakutkan. Ujian skripsi adalah “konfirmasi” atas apa yang sudah Anda lakukan. Kalau Anda melakukan sendiri penelitian Anda, tahu betul apa yang Anda lakukan, dan tidak grogi di ruang ujian, bisa dipastikan Anda akan perform well.

Cara terbaik untuk menghadapi ujian skripsi adalah Anda harus tahu betul apa yang Anda lakukan dan apa yang Anda teliti. Siapkan untuk melakukan presentasi. Akan tetapi, tidak perlu Anda paparkan semuanya secara lengkap. Buatlah “lubang jebakan” agar penguji nantinya akan menanyakan pada titik tersebut. Tentu saja, Anda harus siapkan jawabannya dengan baik. Dengan begitu Anda akan tampak outstanding di hadapan dewan penguji.

Juga, ada baiknya beberapa malam sebelum ujian, digiatkan untuk berdoa atau menjalankan sholat tahajud di malam hari. Klise memang. Tapi benar-benar sangat membantu.

Jujur saja, saya (dulu) menyelesaikan skripsi dalam tempo 4 minggu tanpa ada kendala dan kesulitan yang berarti. Dosen pembimbing saya adalah seorang professor dengan jam terbang sangat tinggi. Selama berada dalam ruang ujian, kami lebih banyak berbicara santai sembari sesekali tertawa. Dan Alhamdulillah saya mendapat nilai A.

Bukan. Bukan saya bermaksud sombong, tetapi hanya untuk memotivasi Anda. Kalau saya bisa, seharusnya Anda sekalian pun bisa.

* Pasca Ujian Skripsi


Banyak yang mengira, setelah ujian skripsi segalanya selesai. Tinggal revisi, bawa ke tukang jilid/fotokopi, urus administrasi, daftar wisuda, lalu traktir makan teman-teman. Memang benar. Setelah Anda dinyatakan lulus ujian skripsi, Anda sudah berhak menyandang gelar sarjana yang selama ini Anda inginkan.

Faktanya, lulus ujian skripsi saja sebenarnya belum terlalu cukup. Sebenarnya Anda bisa melakukan lebih jauh lagi dengan skripsi Anda. Caranya?

Cara paling gampang adalah memodifikasi dan memperbaiki skripsi Anda untuk kemudian dikirimkan pada media/jurnal publikasi. Cara lain, kalau Anda memang ingin serius terjun di dunia ilmiah, lanjutkan dan kembangkan saja penelitian/skripsi Anda untuk jenjang S2 atau S3. Dengan demikian, kelak akan semakin banyak penelitian dan publikasi yang mudah-mudahan bisa memberi manfaat bagi bangsa ini.

Bukan apa-apa, saya cuma ingin agar bangsa ini bisa lebih cerdas dan arif dalam menciptakan serta mengelola pengetahuan. Sekarang mungkin kita memang tertinggal dari bangsa lain. Akan tetapi, dengan melakukan penelitian, membuat publikasi, dan seterusnya, bangsa ini bisa cepat bangkit mengejar ketertinggalan.

Jadi, menyusun skripsi itu sebenarnya mudah kan?

2 orang pinter yang di hujat oleh bangsanya sendiri tapi di hargai bangsa lain




1.BJ HABIBIE
Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Beliau merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Habibie yang menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12 Mei 1962 ini dikaruniai dua orang putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.

Masa kecil Habibie dilalui bersama saudara-saudaranya di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Sifat tegas berpegang pada prinsip telah ditunjukkan Habibie sejak kanak-kanak. Habibie yang punya kegemaran menunggang kuda ini, harus kehilangan bapaknya yang meninggal dunia pada 3 September 1950 karena terkena serangan jantung. Tak lama setelah bapaknya meninggal, Habibie pindah ke Bandung untuk menuntut ilmu di Gouvernments Middlebare School. Di SMA, beliau mulai tampak menonjol prestasinya, terutama dalam pelajaran-pelajaran eksakta. Habibie menjadi sosok favorit di sekolahnya.

Setelah tamat SMA di bandung tahun 1954, beliau masuk Universitas Indonesia di Bandung (Sekarang ITB). Beliau mendapat gelar Diploma dari Technische Hochschule, Jerman tahun 1960 yang kemudian mendapatkan gekar Doktor dari tempat yang sama tahun 1965. Habibie menikah tahun 1962, dan dikaruniai dua orang anak. Tahun 1967, menjadi Profesor kehormatan (Guru Besar) pada Institut Teknologi Bandung.

Langkah-langkah Habibie banyak dikagumi, penuh kontroversi, banyak pengagum namun tak sedikit pula yang tak sependapat dengannya. Setiap kali, peraih penghargaan bergengsi Theodore van Karman Award, itu kembali dari “habitat”-nya Jerman, beliau selalu menjadi berita. Habibie hanya setahun kuliah di ITB Bandung, 10 tahun kuliah hingga meraih gelar doktor konstruksi pesawat terbang di Jerman dengan predikat Summa Cum laude. Lalu bekerja di industri pesawat terbang terkemuka MBB Gmbh Jerman, sebelum memenuhi panggilan Presiden Soeharto untuk kembali ke Indonesia.

Di Indonesia, Habibie 20 tahun menjabat Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT, memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi Wakil Presiden RI, dan disumpah oleh Ketua Mahkamah Agung menjadi Presiden RI menggantikan Soeharto. Soeharto menyerahkan jabatan presiden itu kepada Habibie berdasarkan Pasal 8 UUD 1945. Sampai akhirnya Habibie dipaksa pula lengser akibat refrendum Timor Timur yang memilih merdeka. Pidato Pertanggungjawabannya ditolak MPR RI. Beliau pun kembali menjadi warga negara biasa, kembali pula hijrah bermukim ke Jerman.

Sebagian Karya beliau dalam menghitung dan mendesain beberapa proyek pembuatan pesawat terbang :

* VTOL ( Vertical Take Off & Landing ) Pesawat Angkut DO-31.
* Pesawat Angkut Militer TRANSALL C-130.
* Hansa Jet 320 ( Pesawat Eksekutif ).
* Airbus A-300 ( untuk 300 penumpang )
* CN - 235
* N-250
* dan secara tidak langsung turut berpartisipasi dalam menghitung dan mendesain:
· Helikopter BO-105.
· Multi Role Combat Aircraft (MRCA).
· Beberapa proyek rudal dan satelit.

Sebagian Tanda Jasa/Kehormatannya :
* 1976 - 1998 Direktur Utama PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara/ IPTN.
* 1978 - 1998 Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia.
* Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi / BPPT
* 1978 - 1998 Direktur Utama PT. PAL Indonesia (Persero).
* 1978 - 1998 Ketua Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam/ Opdip Batam.
* 1980 - 1998 Ketua Tim Pengembangan Industri Pertahanan Keamanan (Keppres No. 40, 1980)
* 1983 - 1998 Direktur Utama, PT Pindad (Persero).
* 1988 - 1998 Wakil Ketua Dewan Pembina Industri Strategis.
* 1989 - 1998 Ketua Badan Pengelola Industri Strategis/ BPIS.
* 1990 - 1998 Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-lndonesia/lCMI.
* 1993 Koordinator Presidium Harian, Dewan Pembina Golkar.
* 10 Maret - 20 Mei 1998 Wakil Presiden Republik Indonesia
* 21 Mei 1998 - Oktober 1999 Presiden Republik Indonesia\
2.Sry Mulyani
Sri Mulyani Indrawati lahir di Tanjungkarang, Lampung, 26 Agustus 1962. Ia menjabat sebagai Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI) sejak Juni 1998. Ia kemudian dipercaya oleh Presiden SBY untuk menjabat Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Bappenas. Pada 5 Desember 2005 ketika Presiden SBY mengumumkan perombakan (Reshuffle) kabinet, Sri Mulyani dipindahkan menjadi Menteri Keuangan menggantikan Jusuf Anwar.

Sebelum diangkat menjabat Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Kabinet Indonesia Bersatu, Sri Mulyani hijrah ke Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, sebagai konsultan di USAid sejak Agustus 2001 dalam rangka kerjasama untuk memperkuat institusi di daerah. Yaitu, memberikan beasiswa S-2 untuk pengajar universitas di daerah. Disana ia banyak memberikan saran dan nasihat mengenai bagaimana mendesain program S-2 untuk pendidikan universitas di daerah maupun program USAid lainnya di Indonesia, terutama di bidang ekonomi. Di samping itu, ia juga mengajar tentang perekonomian Indonesia dan ekonomi makro di Georgia University serta banyak melakukan riset dan menulis buku.

Sejak tahun 2008, ia menjabat Pelaksana Tugas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, setelah Menko Perekonomian Dr. Boediono dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia. Ia dinobatkan sebagai Menteri Keuangan terbaik Asia untuk tahun 2006 oleh Emerging Markets pada 18 September 2006 di sela Sidang Tahunan Bank Dunia dan IMF di Singapura.[1] Ia juga terpilih sebagai wanita paling berpengaruh ke-23 di dunia versi majalah Forbes tahun 2008[2] dan wanita paling berpengaruh ke-2 di Indonesia versi majalah Globe Asia bulan Oktober

Sri Mulyani Indrawati atau akrab dengan panggilan Mbak Ani, adalah seorang ekonom yang sering tampil di panggung-panggung seminar atau dikutip di berbagai media massa. Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE-UI) ini juga sempat aktif menjadi penasehat pemerintah bersama sejumlah ekonom terkemuka lain dalam wadah Dewan Ekonomi Nasional (DEN) pada era pemerintahan Abdurrahman Wahid. Seperti halnya di Indonesia, di Amerika ia juga sering mengikuti seminar, tetapi lebih banyak masalah internasional daripada di Indonesia.

Pada awal Oktober 2002, Sri Mulyani terpilih menjadi Executive Director Dana Moneter Internasional (IMF) mewakili 12 negara di Asia Tenggara (South East Asia/SEA Group). Sejak 1 November 2002, ia mewakili 12 negara anggota SEA Group di IMF. Tugasnya sebagai executive director terkait dengan pengambilan keputusan. Untuk menentukan berbagai program dan keputusan yang harus diambil IMF. Jadi ia tidak hanya mewakili kepentingan Indonesia, namun mewakili kepentingan negara-negara anggota di lembaga IMF maupun forum internasional yang relevan.

PENDIDIKAN:
• Sarjana Ekonomi di Universitas Indonesia Jakarta, Indonesia. (1981 – 1986)
• Master of Science of Policy Economics di University of lllinois Urbana Champaign, U.S.A. (1988 – 1990)
• Ph. D of Economics di University of lllinois Urbana-Champaign, U.S.A. (1990 – 1992)

PENGALAMAN KERJA:
• Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI), Juni 1998 – Sekarang
• Nara Sumber Sub Tim Perubahan UU Perbankan, Tim Reformasi Hukum – Departemen Kehakiman RI, Agustus 1998 s/d Maret 1999.
• Tim Penyelenggara Konsultan Ahli Badan Pembinaan Hukum Nasional Tahun 1999 – 2000, Kelompok Kerja Bidang Hukum Bisnis, Menteri Kehakiman Republik Indonesia, 15 Mei 1999 – Sekarang
• Anggota Tim Asistensi Menteri Keuangan Bidang Keuangan dan Moneter, Departemen Keuangan RI, Juni 1998 s/d sekarang.
• Dewan Juri Lomba Karya Ilmiah Remaja LIPI-TVRI XXXI, Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial, Kebudayaan dan Kemanusiaan, terhitung 1 April 1999 – Sekarang
• Redaktur Ahli Majalah bulanan Manajemen Usahawan Indonesia, Agustus 1998 – Sekarang
• Anggota Komisi Pembimbing mahasiswa S3 atas nama Sdr. Andrianto Widjaya NRP. 95507 Program Doktor (S3) Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian, Institute Pertanian Bogor, Juni 1998
• Ketua I Bidang Kebijakan Ekonomi Dalam dan Luar Negeri serta Kebijaksanaan Pembangunan, PP Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), 1996 – 2000
• Kepala Program Magister Perencanaan Kebijakan Publik-UI, 1996-Maret 1999
• Wakil Kepala Bidang Penelitian LPEM FEUI, Mei 1995 – Juni 1998
• Wakil Kepala Bidang Pendidikan dan Latihan LPEM FEUI, 1993 – Mei 1995
• Research Associate, LPEM FEUI, 1992 – Sekarang
• Pengajar Program S1 & Program Extension FEUI, S2, S3, Magister Manajemen Universitas Indonesia, 1986 – Sekarang
• Anggota Kelompok Kerja – GATS Departemen Keuangan, RI 1995
• Anggota Kelompak Kerja Mobilitas Penduduk Menteri Negara Kependudukan – BKKBN, 1995
• Anggota Kelompok Kerja Mobilitas Penduduk, Asisten IV Menteri Negara Kependudukan, BKKBN, Mei – Desember 1995
• Staf Ahli Bidang Analisis Kebijaksanaan OTO-BAPPENAS, 1994 – 1995
• Asisten Profesor, University of lllinois at Urbana, Champaign, USA, 1990 – 1992
• Asisten Pengajar Fakultas Ekonomi – Universitas Indonesia, 1985 – 1986


Kenapa mesti kejadian di negara kita yang tercinta ini sih......
kenapa orang pada g percaya sama kedua orang pinter ini dan juga masih banyak lagi gan orang pinter yang tidak terpakai di negara kita tapi sangat di butuh kan di negara luar,

8 Pemuda terkaya di Dunia




1.Larry Page dan Sergey Brin
Menemukan Google pada tahun 1998 ketika mereka baru berusia 24 tahun. Mulai di dalam garasi yang menjadi “kantor” pertama mereka, dua orang ini mengilhami ribuan anak muda untuk mencari uang online. Larry dan Sergey kemudian menciptakan perusahaan senilai satu multi milyar dollaryang mengguncangkan Internet.
2.Mark Zuckerberg
Mark Zuckerberg, mahasiswa universitas Harvard yang menemukan Facebook sebagai satu platform jaringan sosial bagi remaja di perguruan tinggi ketika dia baru berusia 19 tahun. Facebook kini merupakan situs web jaringan sosial terbesar kedua setelah MySpace. Facebook terus tumbuh hari demi hari, dengan jutaan penggunabaru yang terus mendaftar setiap bulan!

3.Steve Chen dan Chad Hurley
Para pencipta dari situs web “berbagi video online”, YouTube. Mereka mendirikan YouTube pada 2005 ketika Chad berusia 28 tahun dan Steve 27 tahun. YouTube kemudian diakuisisi oleh Google dengan nilai $1.65 milyar.

Facebook Bangun Gedung Baru

Facebook Inc., Kamis (21/01) lalu akan segera membangun pusat data seluas 147,000 meter persegi di Prineville, Oregon. Proyek data center tersebut diperkirakan akan memakan biaya $180 juta. Data center tersebut akan menjadi pusat data pertama yang dimiliki perusahaan jejaring social dengan jumlah member 350 juta tersebut. Pusat data akan digunakan untuk menyimpan dan mendistribusikan informasi yang diposting oleh pengguna Facebook.

Facebook sendiri akan mempekerjakan 200 pekerja selama 12 bulan untuk pembangunan dan 35 orang full timer ketika sudah dioperasikan. Direktur operasi Facebook, Tom Furlong, mengatakan bahwa Prineville memiliki element terbaik, termasuk iklim bagus untuk mendinginkan lingkungan, dan sumber tenaga yang dapat diperbarui. Pusat data memang memerlukan tenaga yang banyak, sama seperti server computer bank yang memerlukan pendinginan secara continue, tambah Furlong. Gedung pusat data Facebook didesain untuk menyesuaikan standard desain ramah energy dan lingkungan.

Kapal Nabi Nuh Di temukan di Gunung Ararat Turki

Dikisahkan, sekitar 4.800 tahun lalu, banjir bandang menerjang Bumi. Sebelum bencana mahadahsyat itu terjadi, Nabi Nuh — nabi tiga agama, Islam, Kristen, dan Yahudi, diberi wahyu untuk membuat kapal besar — demi menyelamatkan umat manusia dan mahluk Bumi lainnya.

Cerita tentang bahtera Nabi Nuh dikisah dalam berbagai buku, sejumlah film dan lain-lain. Sejumlah ahli sejarah dari berbagai negara sudah lama penasaran dengan kebenaran kisah ini.

Untuk membuktikan kebenaran cerita itulah, kelompok peneliti dari China dan Turki yang tergabung dalam ‘Noah’s Ark Ministries International’ selama bertahun-tahun mencari sisa-sisa perahu legendaris tersebut.

Kemarin, 26 April 2010 mereka mengumumkan mereka menemukan perahu Nabi Nuh di Turki. Mereka mengklaim menemukan sisa-sisa perahu Nabi Nuh berada di ketinggian 4.000 meter di Gunung Agri atau Gunung Ararat, di Turki Timur.

Read more

Tag: Kapal, Nabi Nuh,

Jumat, 07 Mei 2010

Komik Lucu





GAMBAR UNIK




Kamis, 06 Mei 2010

Masalah Pendidikan di Indonesia

ualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).

Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.

Memasuki abad ke- 21 dunia pendidikan di Indonesia menjadi heboh. Kehebohan tersebut bukan disebabkan oleh kehebatan mutu pendidikan nasional tetapi lebih banyak disebabkan karena kesadaran akan bahaya keterbelakangan pendidikan di Indonesia. Perasan ini disebabkan karena beberapa hal yang mendasar.

Salah satunya adalah memasuki abad ke- 21 gelombang globalisasi dirasakan kuat dan terbuka. Kemajaun teknologi dan perubahan yang terjadi memberikan kesadaran baru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri sendiri. Indonesia berada di tengah-tengah dunia yang baru, dunia terbuka sehingga orang bebas membandingkan kehidupan dengan negara lain.

Yang kita rasakan sekarang adalah adanya ketertinggalan didalam mutu pendidikan. Baik pendidikan formal maupun informal. Dan hasil itu diperoleh setelah kita membandingkannya dengan negara lain. Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. Oleh karena itu, kita seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di negara-negara lain.

Setelah kita amati, nampak jelas bahwa masalah yang serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenjang pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal. Dan hal itulah yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan yang menghambat penyediaan sumber daya menusia yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi pembangunan bangsa di berbagai bidang.

Kualitas pendidikan Indonesia yang rendah itu juga ditunjukkan data Balitbang (2003) bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP).

Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain adalah masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran. Hal tersebut masih menjadi masalah pendidikan di Indonesia pada umumnya. Adapun permasalahan khusus dalam dunia pendidikan yaitu:

(1). Rendahnya sarana fisik,

(2). Rendahnya kualitas guru,

(3). Rendahnya kesejahteraan guru,

(4). Rendahnya prestasi siswa,

(5). Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan,

(6). Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan,

(7). Mahalnya biaya pendidikan.

Permasalahan-permasalahan yang tersebut di atas akan menjadi bahan bahasan dalam makalah yang berjudul “ Rendahnya Kualitas Pendidikan di Indonesia” ini.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana ciri-ciri pendidikan di Indonesia?

2. Bagaimana kualitas pendidikan di Indonesia?

3. Apa saja yang menjadi penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia?

4. Bagaimana solusi yang dapat diberikan dari permasalahan-permasalahan pendidikan di Indonesia?

C. Tujuan Penulisan

1. Mendeskripsikan ciri-ciri pendidikan di Indonesia.

2. Mendeskripsikan kualitas pendidikan di Indonesia saat ini.

3. Mendeskripsikan hal-hal yang menjadi penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia.

4. Mendeskripsikan solusi yang dapat diberikan dari permasalahan-permasalahan pendidikan di Indonesia.

D. Manfaat Penulisan

1. Bagi Pemerintah

Bisa dijadikan sebagai sumbangsih dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

2. Bagi Guru

Bisa dijadikan sebagai acuan dalam mengajar agar para peserta didiknya dapat berprestasi lebih baik dimasa yang akan datang.

3. Bagi Mahasiswa

Bisa dijadikan sebagai bahan kajian belajar dalam rangka meningkatkan prestasi diri pada khususnya dan meningkatkan kualitas pendidikan pada umumnya.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Ciri-ciri Pendidikan di Indonesia

Cara melaksanakan pendidikan di Indonesia sudah tentu tidak terlepas dari tujuan pendidikan di Indonesia, sebab pendidikan Indonesia yang dimaksud di sini ialah pendidikan yang dilakukan di bumi Indonesia untuk kepentingan bangsa Indonesia.

Aspek ketuhanan sudah dikembangkan dengan banyak cara seperti melalui pendidikan-pendidikan agama di sekolah maupun di perguruan tinggi, melalui ceramah-ceramah agama di masyarakat, melalui kehidupan beragama di asrama-asrama, lewat mimbar-mimbar agama dan ketuhanan di televisi, melalui radio, surat kabar dan sebagainya. Bahan-bahan yang diserap melalui media itu akan berintegrasi dalam rohani para siswa/mahasiswa.

Pengembangan pikiran sebagian besar dilakukan di sekolah-sekolah atau perguruan-perguruan tinggi melalui bidang studi-bidang studi yang mereka pelajari. Pikiran para siswa/mahasiswa diasah melalui pemecahan soal-soal, pemecahan berbagai masalah, menganalisis sesuatu serta menyimpulkannya.

B. Kualitas Pendidikan di Indonesia

Seperti yang telah kita ketahui, kualitas pendidikan di Indonesia semakin memburuk. Hal ini terbukti dari kualitas guru, sarana belajar, dan murid-muridnya. Guru-guru tentuya punya harapan terpendam yang tidak dapat mereka sampaikan kepada siswanya. Memang, guru-guru saat ini kurang kompeten. Banyak orang yang menjadi guru karena tidak diterima di jurusan lain atau kekurangan dana. Kecuali guru-guru lama yang sudah lama mendedikasikan dirinya menjadi guru. Selain berpengalaman mengajar murid, mereka memiliki pengalaman yang dalam mengenai pelajaran yang mereka ajarkan. Belum lagi masalah gaji guru. Jika fenomena ini dibiarkan berlanjut, tidak lama lagi pendidikan di Indonesia akan hancur mengingat banyak guru-guru berpengalaman yang pensiun.

Sarana pembelajaran juga turut menjadi faktor semakin terpuruknya pendidikan di Indonesia, terutama bagi penduduk di daerah terbelakang. Namun, bagi penduduk di daerah terbelakang tersebut, yang terpenting adalah ilmu terapan yang benar-benar dipakai buat hidup dan kerja. Ada banyak masalah yang menyebabkan mereka tidak belajar secara normal seperti kebanyakan siswa pada umumnya, antara lain guru dan sekolah.

“Pendidikan ini menjadi tanggung jawab pemerintah sepenuhnya,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono usai rapat kabinet terbatas di Gedung Depdiknas, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (12/3/2007).

Presiden memaparkan beberapa langkah yang akan dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, antara lain yaitu:

· Langkah pertama yang akan dilakukan pemerintah, yakni meningkatkan akses terhadap masyarakat untuk bisa menikmati pendidikan di Indonesia. Tolak ukurnya dari angka partisipasi.

· Langkah kedua, menghilangkan ketidakmerataan dalam akses pendidikan, seperti ketidakmerataan di desa dan kota, serta jender.

· Langkah ketiga, meningkatkan mutu pendidikan dengan meningkatkan kualifikasi guru dan dosen, serta meningkatkan nilai rata-rata kelulusan dalam ujian nasional.

· Langkah keempat, pemerintah akan menambah jumlah jenis pendidikan di bidang kompetensi atau profesi sekolah kejuruan. Untuk menyiapkan tenaga siap pakai yang dibutuhkan.

· Langkah kelima, pemerintah berencana membangun infrastruktur seperti menambah jumlah komputer dan perpustakaan di sekolah-sekolah.

· Langkah keenam, pemerintah juga meningkatkan anggaran pendidikan. Untuk tahun ini dianggarkan Rp 44 triliun.

· Langkah ketujuh, adalah penggunaan teknologi informasi dalam aplikasi pendidikan.

· Langkah terakhir, pembiayaan bagi masyarakat miskin untuk bisa menikmati fasilitas penddikan.

C. Penyebab Rendahnya Kualitas Pendidikan di Indonesia

Di bawah ini akan diuraikan beberapa penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia secara umum, yaitu:

1. Efektifitas Pendidikan Di Indonesia

Pendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian, pendidik (dosen, guru, instruktur, dan trainer) dituntut untuk dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat berguna.

Efektifitas pendidikan di Indonesia sangat rendah. Setelah praktisi pendidikan melakukan penelitian dan survey ke lapangan, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelm kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Hal ini menyebabkan peserta didik dan pendidik tidak tahu “goal” apa yang akan dihasilkan sehingga tidak mempunyai gambaran yang jelas dalam proses pendidikan. Jelas hal ini merupakan masalah terpenting jika kita menginginkan efektifitas pengajaran. Bagaimana mungkin tujuan akan tercapai jika kita tidak tahu apa tujuan kita.

Selama ini, banyak pendapat beranggapan bahwa pendidikan formal dinilai hanya menjadi formalitas saja untuk membentuk sumber daya manusia Indonesia. Tidak perduli bagaimana hasil pembelajaran formal tersebut, yang terpenting adalah telah melaksanakan pendidikan di jenjang yang tinggi dan dapat dianggap hebat oleh masyarakat. Anggapan seperti itu jugalah yang menyebabkan efektifitas pengajaran di Indonesia sangat rendah. Setiap orang mempunyai kelebihan dibidangnya masing-masing dan diharapkan dapat mengambil pendidikaan sesuai bakat dan minatnya bukan hanya untuk dianggap hebat oleh orang lain.

Dalam pendidikan di sekolah menegah misalnya, seseorang yang mempunyai kelebihan dibidang sosial dan dipaksa mengikuti program studi IPA akan menghasilkan efektifitas pengajaran yang lebih rendah jika dibandingkan peserta didik yang mengikuti program studi yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Hal-hal sepeti itulah yang banyak terjadi di Indonesia. Dan sayangnya masalah gengsi tidak kalah pentingnya dalam menyebabkan rendahnya efektifitas pendidikan di Indonesia.

2. Efisiensi Pengajaran Di Indonesia

Efisien adalah bagaimana menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan dengan proses yang lebih ‘murah’. Dalam proses pendidikan akan jauh lebih baik jika kita memperhitungkan untuk memperoleh hasil yang baik tanpa melupakan proses yang baik pula. Hal-hal itu jugalah yang kurang jika kita lihat pendidikan di Indonesia. Kita kurang mempertimbangkan prosesnya, hanya bagaimana dapat meraih standar hasil yang telah disepakati.

Beberapa masalah efisiensi pengajaran di dindonesia adalah mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia. Yang juga berpengaruh dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik.

Masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia sudah menjadi rahasia umum bagi kita. Sebenarnya harga pendidikan di Indonesia relative lebih randah jika kita bandingkan dengan Negara lain yang tidak mengambil sitem free cost education. Namun mengapa kita menganggap pendidikan di Indonesia cukup mahal? Hal itu tidak kami kemukakan di sini jika penghasilan rakyat Indonesia cukup tinggi dan sepadan untuk biaya pendidiakan.

Jika kita berbicara tentang biaya pendidikan, kita tidak hanya berbicara tenang biaya sekolah, training, kursus atau lembaga pendidikan formal atau informal lain yang dipilih, namun kita juga berbicara tentang properti pendukung seperti buku, dan berbicara tentang biaya transportasi yang ditempuh untuk dapat sampai ke lembaga pengajaran yang kita pilih. Di sekolah dasar negeri, memang benar jika sudah diberlakukan pembebasan biaya pengajaran, nemun peserta didik tidak hanya itu saja, kebutuhan lainnya adalah buku teks pengajaran, alat tulis, seragam dan lain sebagainya yang ketika kami survey, hal itu diwajibkan oleh pendidik yang berssngkutan. Yang mengejutkanya lagi, ada pendidik yang mewajibkan les kepada peserta didiknya, yang tentu dengan bayaran untuk pendidik tersebut.

Selain masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, masalah lainnya adalah waktu pengajaran. Dengan survey lapangan, dapat kita lihat bahwa pendidikan tatap muka di Indonesia relative lebih lama jika dibandingkan negara lain. Dalam pendidikan formal di sekolah menengah misalnya, ada sekolah yang jadwal pengajarnnya perhari dimulai dari pukul 07.00 dan diakhiri sampai pukul 16.00.. Hal tersebut jelas tidak efisien, karena ketika kami amati lagi, peserta didik yang mengikuti proses pendidikan formal yang menghabiskan banyak waktu tersebut, banyak peserta didik yang mengikuti lembaga pendidikan informal lain seperti les akademis, bahasa, dan sebagainya. Jelas juga terlihat, bahwa proses pendidikan yang lama tersebut tidak efektif juga, karena peserta didik akhirnya mengikuti pendidikan informal untuk melengkapi pendidikan formal yang dinilai kurang.

Selain itu, masalah lain efisiensi pengajaran yang akan kami bahas adalah mutu pengajar. Kurangnya mutu pengajar jugalah yang menyebabkan peserta didik kurang mencapai hasil yang diharapkan dan akhirnya mengambil pendidikan tambahan yang juga membutuhkan uang lebih.

Yang kami lihat, kurangnya mutu pengajar disebabkan oleh pengajar yang mengajar tidak pada kompetensinya. Misalnya saja, pengajar A mempunyai dasar pendidikan di bidang bahasa, namun di mengajarkan keterampilan, yang sebenarnya bukan kompetensinya. Hal-tersebut benar-benar terjadi jika kita melihat kondisi pendidikan di lapangan yang sebanarnya. Hal lain adalah pendidik tidak dapat mengomunikasikan bahan pengajaran dengan baik, sehingga mudah dimengerti dan menbuat tertarik peserta didik.

Sistem pendidikan yang baik juga berperan penting dalam meningkatkan efisiensi pendidikan di Indonesia. Sangat disayangkan juga sistem pendidikan kita berubah-ubah sehingga membingungkan pendidik dan peserta didik.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, kita menggunakan sistem pendidikan kurikulum 1994, kurikulum 2004, kurikulum berbasis kompetensi yang pengubah proses pengajaran menjadi proses pendidikan aktif, hingga kurikulum baru lainnya. Ketika mengganti kurikulum, kita juga mengganti cara pendidikan pengajar, dan pengajar harus diberi pelatihan terlebih dahulu yang juga menambah cost biaya pendidikan. Sehingga amat disayangkan jika terlalu sering mengganti kurikulum yang dianggap kuaran efektif lalu langsung menggantinya dengan kurikulum yang dinilai lebih efektif.

Konsep efisiensi akan tercipta jika keluaran yang diinginkan dapat dihasilkan secara optimal dengan hanya masukan yang relative tetap, atau jika masukan yang sekecil mungkin dapat menghasilkan keluaran yang optimal. Konsep efisiensi sendiri terdiri dari efisiensi teknologis dan efisiensi ekonomis. Efisiensi teknologis diterapkan dalam pencapaian kuantitas keluaran secara fisik sesuai dengan ukuran hasil yang sudah ditetapkan. Sementara efisiensi ekonomis tercipta jika ukuran nilai kepuasan atau harga sudah diterapkan terhadap keluaran.

Konsep efisiensi selalu dikaitkan dengan efektivitas. Efektivitas merupakan bagian dari konsep efisiensi karena tingkat efektivitas berkaitan erat dengan pencapaian tujuan relative terhadap harganya. Apabila dikaitkan dengan dunia pendidikan, maka suatu program pendidikan yang efisien cenderung ditandai dengan pola penyebaran dan pendayagunaansumber-sumber pendidikan yang sudah ditata secara efisien. Program pendidikan yang efisien adalah program yang mampu menciptakan keseimbangan antara penyediaan dan kebutuhan akan sumber-sumber pendidikan sehingga upaya pencapaian tujuan tidak mengalami hambatan.

3. Standardisasi Pendidikan Di Indonesia

Jika kita ingin meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, kita juga berbicara tentang standardisasi pengajaran yang kita ambil. Tentunya setelah melewati proses untuk menentukan standar yang akan diambil.

Dunia pendidikan terus berudah. Kompetensi yang dibutuhka oleh masyarakat terus-menertus berunah apalagi di dalam dunia terbuka yaitu di dalam dunia modern dalam ere globalisasi. Kompetendi-kompetensi yang harus dimiliki oleh seseorang dalam lembaga pendidikan haruslah memenuhi standar.

Seperti yang kita lihat sekarang ini, standar dan kompetensi dalam pendidikan formal maupun informal terlihat hanya keranjingan terhadap standar dan kompetensi. Kualitas pendidikan diukur oleh standard an kompetensi di dalam berbagai versi, demikian pula sehingga dibentuk badan-badan baru untuk melaksanakan standardisasi dan kompetensi tersebut seperti Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP).

Tinjauan terhadap standardisasi dan kompetensi untuk meningkatkan mutu pendidikan akhirnya membawa kami dalam pengunkapan adanya bahaya yang tersembunyi yaitu kemungkinan adanya pendidikan yang terkekung oleh standar kompetensi saja sehngga kehilangan makna dan tujuan pendidikan tersebut.

Peserta didik Indonesia terkadang hanya memikirkan bagaiman agar mencapai standar pendidikan saja, bukan bagaimana agar pendidikan yang diambil efektif dan dapat digunakan. Tidak perduli bagaimana cara agar memperoleh hasil atau lebih spesifiknya nilai yang diperoleh, yang terpentinga adalah memenuhi nilai di atas standar saja.

Hal seperti di atas sangat disayangkan karena berarti pendidikan seperti kehilangan makna saja karena terlalu menuntun standar kompetensi. Hal itu jelas salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia.

Selain itu, akan lebih baik jika kita mempertanyakan kembali apakah standar pendidikan di Indonesia sudah sesuai atau belum. Dalam kasus UAN yang hampir selalu menjadi kontrofesi misalnya. Kami menilai adanya sistem evaluasi seperti UAN sudah cukup baik, namun yang kami sayangkan adalah evaluasi pendidikan seperti itu yang menentukan lulus tidaknya peserta didik mengikuti pendidikan, hanya dilaksanakan sekali saja tanpa melihat proses yang dilalu peserta didik yang telah menenpuh proses pendidikan selama beberapa tahun. Selain hanya berlanhsug sekali, evaluasi seperti itu hanya mengevaluasi 3 bidang studi saja tanpa mengevaluasi bidang studi lain yang telah didikuti oleh peserta didik.

Banyak hal lain juga yang sebenarnya dapat kami bahas dalam pembahasan sandardisasi pengajaran di Indonesia. Juga permasalahan yang ada di dalamnya, yang tentu lebih banyak, dan membutuhkan penelitian yang lebih dalam lagi

Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia juga tentu tidah hanya sebatas yang kami bahas di atas. Banyak hal yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan kita. Tentunya hal seperti itu dapat kita temukan jika kita menggali lebih dalam akar permasalahannya. Dan semoga jika kita mengetehui akar permasalahannya, kita dapat memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia sehingga jadi kebih baik lagi.

Selain beberapa penyebab rendahnya kualitas pendidikan di atas, berikut ini akan dipaparkan pula secara khusus beberapa masalah yang menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.

1. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik

Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.

Data Balitbang Depdiknas (2003) menyebutkan untuk satuan SD terdapat 146.052 lembaga yang menampung 25.918.898 siswa serta memiliki 865.258 ruang kelas. Dari seluruh ruang kelas tersebut sebanyak 364.440 atau 42,12% berkondisi baik, 299.581 atau 34,62% mengalami kerusakan ringan dan sebanyak 201.237 atau 23,26% mengalami kerusakan berat. Kalau kondisi MI diperhitungkan angka kerusakannya lebih tinggi karena kondisi MI lebih buruk daripada SD pada umumnya. Keadaan ini juga terjadi di SMP, MTs, SMA, MA, dan SMK meskipun dengan persentase yang tidak sama.

2. Rendahnya Kualitas Guru

Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.

Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar. Persentase guru menurut kelayakan mengajar dalam tahun 2002-2003 di berbagai satuan pendidikan sbb: untuk SD yang layak mengajar hanya 21,07% (negeri) dan 28,94% (swasta), untuk SMP 54,12% (negeri) dan 60,99% (swasta), untuk SMA 65,29% (negeri) dan 64,73% (swasta), serta untuk SMK yang layak mengajar 55,49% (negeri) dan 58,26% (swasta).

Kelayakan mengajar itu jelas berhubungan dengan tingkat pendidikan guru itu sendiri. Data Balitbang Depdiknas (1998) menunjukkan dari sekitar 1,2 juta guru SD/MI hanya 13,8% yang berpendidikan diploma D2-Kependidikan ke atas. Selain itu, dari sekitar 680.000 guru SLTP/MTs baru 38,8% yang berpendidikan diploma D3-Kependidikan ke atas. Di tingkat sekolah menengah, dari 337.503 guru, baru 57,8% yang memiliki pendidikan S1 ke atas. Di tingkat pendidikan tinggi, dari 181.544 dosen, baru 18,86% yang berpendidikan S2 ke atas (3,48% berpendidikan S3).

Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru.

3. Rendahnya Kesejahteraan Guru

Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Berdasarkan survei FGII (Federasi Guru Independen Indonesia) pada pertengahan tahun 2005, idealnya seorang guru menerima gaji bulanan serbesar Rp 3 juta rupiah. Sekarang, pendapatan rata-rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5 juta. guru bantu Rp, 460 ribu, dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam. Dengan pendapatan seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya (Republika, 13 Juli, 2005).

Dengan adanya UU Guru dan Dosen, barangkali kesejahteraan guru dan dosen (PNS) agak lumayan. Pasal 10 UU itu sudah memberikan jaminan kelayakan hidup. Di dalam pasal itu disebutkan guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang pantas dan memadai, antara lain meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan profesi, dan/atau tunjangan khusus serta penghasilan lain yang berkaitan dengan tugasnya. Mereka yang diangkat pemkot/pemkab bagi daerah khusus juga berhak atas rumah dinas.

Tapi, kesenjangan kesejahteraan guru swasta dan negeri menjadi masalah lain yang muncul. Di lingkungan pendidikan swasta, masalah kesejahteraan masih sulit mencapai taraf ideal. Diberitakan Pikiran Rakyat 9 Januari 2006, sebanyak 70 persen dari 403 PTS di Jawa Barat dan Banten tidak sanggup untuk menyesuaikan kesejahteraan dosen sesuai dengan amanat UU Guru dan Dosen (Pikiran Rakyat 9 Januari 2006).

4. Rendahnya Prestasi Siswa

Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah. Menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003 (2004), siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains. Dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.

Dalam hal prestasi, 15 September 2004 lalu United Nations for Development Programme (UNDP) juga telah mengumumkan hasil studi tentang kualitas manusia secara serentak di seluruh dunia melalui laporannya yang berjudul Human Development Report 2004. Di dalam laporan tahunan ini Indonesia hanya menduduki posisi ke-111 dari 177 negara. Apabila dibanding dengan negara-negara tetangga saja, posisi Indonesia berada jauh di bawahnya.

Dalam skala internasional, menurut Laporan Bank Dunia (Greaney,1992), studi IEA (Internasional Association for the Evaluation of Educational Achievement) di Asia Timur menunjukan bahwa keterampilan membaca siswa kelas IV SD berada pada peringkat terendah. Rata-rata skor tes membaca untuk siswa SD: 75,5 (Hongkong), 74,0 (Singapura), 65,1 (Thailand), 52,6 (Filipina), dan 51,7 (Indonesia).

Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.

Selain itu, hasil studi The Third International Mathematic and Science Study-Repeat-TIMSS-R, 1999 (IEA, 1999) memperlihatkan bahwa, diantara 38 negara peserta, prestasi siswa SLTP kelas 2 Indonesia berada pada urutan ke-32 untuk IPA, ke-34 untuk Matematika. Dalam dunia pendidikan tinggi menurut majalah Asia Week dari 77 universitas yang disurvai di asia pasifik ternyata 4 universitas terbaik di Indonesia hanya mampu menempati peringkat ke-61, ke-68, ke-73 dan ke-75.

5. Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan

Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. Data Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jenderal Binbaga Departemen Agama tahun 2000 menunjukan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk anak usia SD pada tahun 1999 mencapai 94,4% (28,3 juta siswa). Pencapaian APM ini termasuk kategori tinggi. Angka Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih rendah yaitu 54, 8% (9,4 juta siswa). Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.


6. Rendahnya Relevansi Pendidikan Dengan Kebutuhan

Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur. Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/S0 sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%, sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%. Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.

7. Mahalnya Biaya Pendidikan

Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh sekolah.

Untuk masuk TK dan SDN saja saat ini dibutuhkan biaya Rp 500.000, — sampai Rp 1.000.000. Bahkan ada yang memungut di atas Rp 1 juta. Masuk SLTP/SLTA bisa mencapai Rp 1 juta sampai Rp 5 juta.

Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha.

Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah Komite Sekolah terbentuk, segala pungutan uang selalu berkedok, “sesuai keputusan Komite Sekolah”. Namun, pada tingkat implementasinya, ia tidak transparan, karena yang dipilih menjadi pengurus dan anggota Komite Sekolah adalah orang-orang dekat dengan Kepala Sekolah. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan Kepala Sekolah, dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap permasalahan pendidikan rakyatnya.

Kondisi ini akan lebih buruk dengan adanya RUU tentang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP). Berubahnya status pendidikan dari milik publik ke bentuk Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan perubahan status itu Pemerintah secara mudah dapat melemparkan tanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas. Perguruan Tinggi Negeri pun berubah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Munculnya BHMN dan MBS adalah beberapa contoh kebijakan pendidikan yang kontroversial. BHMN sendiri berdampak pada melambungnya biaya pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi favorit.

Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pelayanan publik tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35-40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor pendorong privatisasi pendidikan. Akibatnya, sektor yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas, 10/5/2005).

Dari APBN 2005 hanya 5,82% yang dialokasikan untuk pendidikan. Bandingkan dengan dana untuk membayar hutang yang menguras 25% belanja dalam APBN (www.kau.or.id). Rencana Pemerintah memprivatisasi pendidikan dilegitimasi melalui sejumlah peraturan, seperti Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, RUU Badan Hukum Pendidikan, Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pendidikan Dasar dan Menengah, dan RPP tentang Wajib Belajar. Penguatan pada privatisasi pendidikan itu, misalnya, terlihat dalam Pasal 53 (1) UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dalam pasal itu disebutkan, penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan.

Seperti halnya perusahaan, sekolah dibebaskan mencari modal untuk diinvestasikan dalam operasional pendidikan. Koordinator LSM Education Network for Justice (ENJ), Yanti Mukhtar (Republika, 10/5/2005) menilai bahwa dengan privatisasi pendidikan berarti Pemerintah telah melegitimasi komersialisasi pendidikan dengan menyerahkan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ke pasar. Dengan begitu, nantinya sekolah memiliki otonomi untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraan pendidikan. Sekolah tentu saja akan mematok biaya setinggi-tingginya untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu. Akibatnya, akses rakyat yang kurang mampu untuk menikmati pendidikan berkualitas akan terbatasi dan masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial, antara yang kaya dan miskin.

Hal senada dituturkan pengamat ekonomi Revrisond Bawsir. Menurut dia, privatisasi pendidikan merupakan agenda Kapitalisme global yang telah dirancang sejak lama oleh negara-negara donor lewat Bank Dunia. Melalui Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP), Pemerintah berencana memprivatisasi pendidikan. Semua satuan pendidikan kelak akan menjadi badan hukum pendidikan (BHP) yang wajib mencari sumber dananya sendiri. Hal ini berlaku untuk seluruh sekolah negeri, dari SD hingga perguruan tinggi.

Bagi masyarakat tertentu, beberapa PTN yang sekarang berubah status menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) itu menjadi momok. Jika alasannya bahwa pendidikan bermutu itu harus mahal, maka argumen ini hanya berlaku di Indonesia. Di Jerman, Prancis, Belanda, dan di beberapa negara berkembang lainnya, banyak perguruan tinggi yang bermutu namun biaya pendidikannya rendah. Bahkan beberapa negara ada yang menggratiskan biaya pendidikan.

Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak harus murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataannya Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk ‘cuci tangan’.

D. Solusi dari Permasalahan-permasalahan Pendidikan di Indonesia

Untuk mengatasi masalah-masalah di atas, secara garis besar ada dua solusi yang dapat diberikan yaitu:

Pertama, solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan.

Maka, solusi untuk masalah-masalah yang ada, khususnya yang menyangkut perihal pembiayaan –seperti rendahnya sarana fisik, kesejahteraan guru, dan mahalnya biaya pendidikan– berarti menuntut juga perubahan sistem ekonomi yang ada. Akan sangat kurang efektif kita menerapkan sistem pendidikan Islam dalam atmosfer sistem ekonomi kapitalis yang kejam. Maka sistem kapitalisme saat ini wajib dihentikan dan diganti dengan sistem ekonomi Islam yang menggariskan bahwa pemerintah-lah yang akan menanggung segala pembiayaan pendidikan negara.

Kedua, solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa.

Maka, solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kualitas pendidikan di Indonesia memang masih sangat rendah bila di bandingkan dengan kualitas pendidikan di negara-negara lain. Hal-hal yang menjadi penyebab utamanya yaitu efektifitas, efisiensi, dan standardisasi pendidikan yang masih kurang dioptimalkan. Masalah-masalah lainya yang menjadi penyebabnya yaitu:

(1). Rendahnya sarana fisik,

(2). Rendahnya kualitas guru,

(3). Rendahnya kesejahteraan guru,

(4). Rendahnya prestasi siswa,

(5). Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan,

(6). Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan,

(7). Mahalnya biaya pendidikan.

Adapun solusi yang dapat diberikan dari permasalahan di atas antara lain dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan, dan meningkatkan kualitas guru serta prestasi siswa.

B. Saran

Perkembangan dunia di era globalisasi ini memang banyak menuntut perubahan kesistem pendidikan nasional yang lebih baik serta mampu bersaing secara sehat dalam segala bidang. Salah satu cara yang harus di lakukan bangsa Indonesia agar tidak semakin ketinggalan dengan negara-negara lain adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikannya terlebih dahulu.

Dengan meningkatnya kualitas pendidikan berarti sumber daya manusia yang terlahir akan semakin baik mutunya dan akan mampu membawa bangsa ini bersaing secara sehat dalam segala bidang di dunia internasional.

Teori Behavioral dan Kognitif dalam Pembelajaran

Jika menelaah literatur psikologi, kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. Dalam tautan di bawah ini akan dikemukakan empat jenis teori belajar, yaitu: (A) teori behaviorisme; (B) teori belajar kognitif menurut Piaget; (C) teori pemrosesan informasi dari Gagne, dan (D) teori belajar gestalt.

A. Teori Behaviorisme

Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.
Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya :

1. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike.

Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya:
Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus – Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons.

* Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
* Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.

2. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov

Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :

* Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
* Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.

3. Operant Conditioning menurut B.F. Skinner

Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :

* Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
* Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.

Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.

4. Social Learning menurut Albert Bandura

Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.

Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini, seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan, Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method), metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method), Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan.

B. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget

Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu : (1) sensory motor; (2) pre operational; (3) concrete operational dan (4) formal operational. Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu yaitu asimilasi dan akomodasi. James Atherton (2005) menyebutkan bahwa asisimilasi adalah “the process by which a person takes material into their mind from the environment, which may mean changing the evidence of their senses to make it fit” dan akomodasi adalah “the difference made to one’s mind or concepts by the process of assimilation”

Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :

1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.

C. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne

Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.

Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1) motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik.

D. Teori Belajar Gestalt

Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Menurut Koffka dan Kohler, ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu :

1. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship); yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat samar-samar, maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.
2. Kedekatan (proxmity); bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.
3. Kesamaan (similarity); bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki.
4. Arah bersama (common direction); bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu.
5. Kesederhanaan (simplicity); bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana, penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan; dan
6. Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.

Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt, yaitu:

1. Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar, sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. Berlari, berjalan, mengikuti kuliah, bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”.
2. Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada, sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. Misalnya, gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. (lingkungan behavioral), padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis).
3. Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa, akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. Misalnya, adanya penamaan kumpulan bintang, seperti : sagitarius, virgo, pisces, gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Contoh lain, gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu.
4. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima.

Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :

1. Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
2. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
3. Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
4. Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
5. Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.