Selasa, 05 Oktober 2010

WACANA TULIS DAN LISAN

Beberapa ahli bahasa memiliki anggapan bahwa mulanya linguistik bagian dari filsafat. Namun, karena kajian sebelumnya itu masih menimbulkan ketidakpuasan bagi para ahli, timbullah kajian linguistik modern yang mulai mempermasalahkan unsur-unsur bahasa seperti bunyi, kata, frasa, klausa, kalimat, di samping ada juga unsur makna (semantis). Belakangan, kajian kebahasaan semakin luas hingga dalam bentuk lebih besar yang disebut dengan wacana.

Alwi, dkk. (1998:419) mengatakan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain dan membentuk kesatuan. Kridalaksana (2001:231) menyatakan bahwa wacana merupakan satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana menurut Kridalaksana direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (misal novel, buku, seri ensiklopedia, dsb.), paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa sebuah wacana melebihi sebuah kalimat. Hal ini sesuai dengan pengertian bahasa secara sederhana, yakni “alat komunikasi”. Sebagai alat komunikasi, bahasa tentunya tidak diucapkan satu kalimat, tetapi penyampaian gagasan, pikiran, perasaan tersebut dapat berupa kalimat berangkai. Selain itu, analisis terhadap wacana dimaksudkan untuk menginterpretasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks linguistik dan konteks etnografii. Konteks linguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa. Inilah yang dimaksudkan dengan wacana dari definisi di atas.

Para penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga sepakat memberikan batasan wacana sebagai berikut.

“komunikasi verbal; percakapan; keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan; satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh seperti novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah; kemampuan atau prosedur berpikir sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat; pertukaran ide secara verbal” (KBBI, 2005:1265).

Batasa tersebut semakin menjelaskan bahwa analisis atau kajian wacana sangat luas, dapat terjadi dalam bentuk tuturan dan tulisan, ia digunakan dalam komunikasi sebagai salah satu interaksi kebahasaan. Dengan kata lain, wacana dapat dikatakan sebagai satuan bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Satuan bahasa itu dapat berupa rangkaian kalimat atau ujaran. Karena itu, wacana dapat berbentuk lisan atau tulis dan dapat bersifat transaksional atau interaksional.

Oleh karena komunikasi tersebut dapat terjadi dalam bentuk lebih dari satu kalimat, Alwi dkk. (1998:419) menyatakan bahwa pembicaraan tentang wacana memerlukan pengetahuan tentang kalimat dan segala hal yang ada hubungannya dengan kalimat. Namun demikian, yang menjadi persoalan kemudian adalah kalimat yang dipakai tersebut apakah sama saat diujarkan dengan dituliskan?

Sebagai contoh, interaksi memberi salam dan menjawab salam bagi dua orang apalagi antara tuan rumah dan tamu adalah sebuah keniscayaan. Namun, apakah sama memberi salam antara tamu dan tuan rumah tersebut dengan salam antara khatib (tukang ceramah) dengan audiens, antara dua orang sesama muslim yang berpapasan di jalan, atau antara anak dan orangtua saat akan berpamitan?

Jawaban salam dari tuan rumah kepada tamu sendiri tentunya masih mengalami perbedaan antara tuan rumah yang sudah melihat tamunya di depan (serambi) rumah dengan tuan rumah yang masih berada di dalam rumah (mungkin di dapur. Perbedaan tersebut terletak pada intonasi, situasi, tempat, dan waktu. Lantas, bagaimanakah kalimat atau ungkapan salam tersebut dilahirkan dalam wujud tulisan? Hal-hal seperti inilah yang menjadi pemikiran pentingnya menganalisis wacana dari segi lisan dan tulis, karena para ahli telah sepakat bahwa untuk menyampaikan ide atau perasaan sekecil apa pun, dapat dilakukan dengan lisan dan tulis.

Pertanyaan berikutnya yang menjadi landasan pemikiran meninjau tentang pemahaman wacana adalah mana yang lebih mudah dipahami; wacana lisan atau wacana tulis. Lantas bagaimana peran dan ciri-ciri kedua jenis wacana tersebut. Patut diingat pula bahwa jenis-jenis wacana masih dapat dibagi lagi. Namun, induk pembagian jenis wacana tetaplah lisan dan tulis. Dari dua pembagian ini kemudian dirincikan lagi jenis-jenis wacana lainnya. Adapun pembahasan dalam tulisan ini sekedar mencoba memberikan pemahaman tentang wacana lisan dan wacana tulis.

Wacana Lisan dan Wacana Tulis

Pemahaman wacana lisan jauh lebih banyak daripada sekedar mengawakode simbol-simbol yang tertera pada halaman tulisan. Hal itu menyangkut pengakuan akan apa yang sudah diketahui dan pengintegrasian yang baru ke dalam dasar pengetahuan yang sudah ada pada seseorang. Hal ini disebabkan dalam membaca kita membawa sejumlah besar informasi ke dalam teks dan mengambil sejumlah besar kesimpulan berdasarkan pengetahuan dasar atau pengetahuan skematis. Jika pengetahuan skematis tidak ada atau cacat, pemahaman akan terhalang. Hal ini sudah ditunjukkan oleh Steffensen (1981) yang dikutip kembali oleh Silangen (1992:67). Ia mengatakan:

1. tidak ada situasi yang umum, “situasi” (atau kerangka acuan) yang dikehendaki ada di dalam teks dan harus disimpulkan dari teks.
2. kata-kata berdiri sendiri. Mereka tidak ditopang oleh perilaku nonverbal (yang kita sebut peniruan) dan perilaku jamahan atau pernyataan verbal.
3. tak ada kesempatan untuk umpan balik kepada sumber. Jika asumsi penulis mengenai keadaan “w” dibesar-besarkan, tergantung pada pembacalah untuk menutup celahnya dengan cara sendiri.
4. membaca adalah monoton, tidak terputus-putus. Kurang kesempatan bagi pembaca untuk memberi respon yang terbuka. Jika ia memberikan respon yang terbuka (tertawa atau menuliskan catatan dan sebagainya), tulisan itu langsung diperkuat. Penulis tidak tahu apa tentang respon terbuka itu.
5. pengeditan teks dapat menghalangi pemahaman. Kesalahan dan hentian dalam bahasa lisan justru sesuai dengan titik-titik kemacetan dalam gerakan pikiran pembaca. Mereka mengisyaratkan kesulitan dan menyediakan waktu mengatasinya, baik pendengar maupun pembaca.
6. karena teks lebih lengkap daripada ujaran, teks cenderung lebih padat. Bagi pembaca yang belum dewasa teks juga tidak dikenal dalam hal pemilihan kata dan gaya. Bahasa adalah miliknya, gaya adalah asing.
7. penulis mengurutkan bahannya. Akan tetapi, urutan yang menurutnya terbaik mungkin bukan yang terbaik bagi pembaca tertentu.

Pengembangan Keterampilan Wacana

Keterampilan yang dimaksudkan dalam bagian ini secara khusus dihubungkan dengan pandangan teoretis, yaitu yang diperoleh dari aspek linguistik dan psikolinguistik pemrosesan.

Dalam pembelajaran, seharusnya di akhir proses pembelajaran, siswa mampu memanfaatkan pengetahuan dasar yang mereka miliki untuk memberikan orientasi pada tugas bacaan. Siswa diharapkan mampu menyusun gagasan tentang topik ke dalam hierarki konseptual. Kegiatan membaca seperti itu untuk mendorong para pembelajar mengemukakan informasi yang mereka miliki, membantu pembaca untuk memahami teks mengenai bahan yang diberikan.

Keterampilan lain yang bermanfaat dalam memahami wacana adalah kemampuan membaca cepat sebuah teks dan menghasilkan suatu garis besar struktur teks. Hal ini memberikan gambaran ikhtisar “atas-bawah” atau peta konseptual yang akan dipelajari oleh pembelajar secara rinci.

Ada berbagai relasi antarelemen dalam wacana. (1) Relasi koordinatif adalah relasi antarelemen yang memiliki kedudukan setara. (2) Relasi subordinatif adalah relasi antarelemen yang kedudukannya tidak setara. Dalam relasi subordinatif itu terdapat atasan dan elemen bawahan. (3) Relasi atribut adalah relasi antara elemen inti dengan atribut. Relasi atribut berkaitan dengan relasi subordinatif karena relasi atribut juga berarti relasi antara elemen atasan dengan elemen bawahan. (4) Relasi komplementatif adalah relasi antarelemen yang bersifat saling melengkapi. Dalam relasi itu, masing-masing elemen memiliki kedudukan yang otonom dalam membentuk teks. Dalam jenis ini tidak ada elemen atasan dan bawahan.

Hakikat Wacana Lisan

Richards (1983) mengemukakan bahwa:

…konsep koherensi yang diterapkan dalam wacana bercakap-cakap sangat berbeda dengan cara koherensi yang diciptakan dalam wacana tulis. Wacana tulisan direncanakan, diatur ketat, dan biasanya merupakan produk satu orang. Wacana lisan tidak direncanakan sebelumnya, tetapi diproduksi dalam waktu sinambung dengan saling kerja sama. Oleh karena itu, wacana lisan menyajikan makna dengan cara sama sekali berbeda dengan wacana tulisan. Topik dikembangkan secara berangsur-angsur, dan konvensi pengembangan topik dan perubahan topik adalah distingtif terhadap laras bahasa lisan. Para pendengar dapat menggunakan isyarat seperti ‘berbicara tentang itu, mengingatkan Anda pada… ngomong-ngomong, sejah hal itu’ untuk menunjukkan arah pengembangan topik.”

(Nunan, 1992:78)

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa hakikat wacana lisan sifatnya hanya sesaat dan biasanya interaktif, pembicara lebih banyak berasumsi tentang keadaan pengetahuan mutakhir pendengar daripada penulis terhadap pembaca. Karena itu, pengetahuan skematis sangat penting. Dalam usaha memahami wacana lisan, baik monolog (seperti mendengarkan berita radio) maupun dialog (semisal mendengar percakapan antara pentur asli), pendengar harus menafsirkan dan mengintegrasikan bahasa pada tingkat proposisional dan ilokasi.

Hakikat Wacana Tulis

Mengutip Smith (1978), Nuna menyebutkan pengalaman sangat penting dalam pemahaman lingusitik. Hal ini karena linguistik memiliki hubungan tekstual yang ditunjukkan oleh referensi, elipsis, konjungsi, dan kohesi leksikal.1 Sebuah komponen penting dalam pelajaran pemrosesan wacana adalah membantu pembelajar untuk mengembangkan keterampilan dalam mengenali hubungan-hubungan ini. Selain penting bagi pembelajar untuk membangun suatu kosa kata yang ekstensif dalam medan makna yang dimarkahi oleh kohesi leksikal, juga penting untuk mengembangkan keterampilan memanfaatkan informasi kontekstual untuk memahami kosa kata yang tidak diketahui.

Selain itu, perlu juga dikembangkan keterampilan yang lebih sulit untuk mengenali daya retorik informasi tekstual yang tidak dimarkahi secara eksplisit dengan beberapa bentuk konjungsi. Akhrinya, pembaca seharusnya mampu mendemonstrasikan penguasaan terhadap isi tekstual dengan beralih ke balik teks itu.

———————-

1Bagian ini akan dijelaskan pada lain kesempatan.

ANALISIS

Analisis wacana menginterprestasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks linguistik dan konteks etnografii. Konteks linguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti, sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa (Massofa, 2008).

Dalam analisis wacana berlaku dua prinsip, yakni prinsip interpretasi lokal dan prinsip analogi. Prinsip interpretasi lokal adalah prinsip interpretasi berdasarkan konteks, baik konteks linguistik atau koteks maupun konteks nonlinguistik. Konteks nonlinguistik yang merupakan konteks lokal tidak hanya berupa tempat, tetapi juga dapat berupa waktu, ranah penggunaan wacana, dan partisipan. Selanjutnya, prinsip interpretasi analogi adalah prinsip interpretasi suatu wacana berdasarkan pengalaman terdahulu yang sama atau yang sesuai. Dengan interpretasi analogi itu, analis sudah dapat memahami wacana dengan konteks yang relevan saja. Hal itu berarti bahwa analis tidak harus memperhitungkan semua konteks wancana.

Pemahaman Wacanan Lisan dan Tulis

Mengembangkan pemahaman atau pengertian yang baik pada sebuah wacana sebenarnya sama saja dengan mengembangkan pemikiran yang baik. Tak seorang pun dapat mengajarkan bagaimana caranya meningkatkan pemikiran hanya dalam tempo semalam. Namun demikian, ada langkah-langkah yang dapat dijalankan guna membantu bagaimana meningkatkan kemampuan membaca (memahami teks dan nonteks) jauh lebih cepat dari yang dibayangkan.

Proses pemahaman wacana adalah proses menemukan konfigurasi skemata yang menawarkan uraian yang memadai tentang bacaan yang bersangkutan (Alwi, dkk., 1998:450). Hal ini berkaitan tentang pemahaman wacana tulis. Ada beberapa penyebab kegagalan pemahaman wacana bacaaan meskipun penulis telah berusaha menulis dengan baik dan pembaca telah berusaha membaca dengan baik pula.

Pembaca mungkin tidak mempunyai skemata yang sesuai. Dalam hal ini, pembaca memang tidak dapat memahami konsep yang disampaikan penulis. Di sisi lain, meskipun pembaca memiliki sekmata, tetapi petunjuk-petunjuk yang disajikan oleh penulis mungkin tidak cukup memberi saran tentang skemata tersebut. Hal ini berarti bahwa pembaca tidak akan memahmi wacana. Namun, dengan petunjuk tambahan yang sesuai, mungkin ia dapat memahami bacaan dimaksud.

Kendati pembaca mungkin mendapat penafsir wacana secara tetap, tetapi mungkin tidak menemukan apa yang diinginkan oleh penulisnya. Artinya, pembaca mungkin memahami teks, hanya saja pemahaman dia kemungkinan berbeda dengan maksud yang hendak disampaikan oleh penulis teks.

Adapun yang dimaksud dengan skemata adalah pengetahuan yang terkemas secara sistematis dalam ingatan manusia. Skemata itu memiliki struktur pengendalian, yakni cara pengaktifan skemata sesuai dengan kebutuhan. Ada dua cara yang disebut pengaktifan dalam struktur itu, yakni (1) cara pengaktifan dari atas ke bawah dan (2) cara pengaktifan dari bawah ke atas. Pengaktifan atas ke bawah adalah proses pengendalian skemata dari konsep ke data atau dari keutuhan ke bagian. Pengaktifan bawah ke atas adalah proses pengendalian skemata dari data ke konsep atau dari bagian ke keutuhan.

Langkah pertama di dalam mengembangkan pemahaman ialah dengan mempraktikkan menemukan apa subjek atau pokok pikiran dari suatu paragraf. Manfaatkan waktu Anda memahami hal ini, tanpa harus berpikir lagi. Namun, perlu praktik melakukannya sehingga Anda dapat melakukannya ketika berjumpa dengan teks atau wacana yang sulit.

Berikut ini adalah latihan sederhana sebagai salah satu cara yang mungkin dapat dilakukan.

LATIHAN

Bahan: kertas, pensil

Tujuan: Belajar mengidentifikasi makna isi suatu paragraf.

1. Baca setiap paragraf di bawah ini secepat yang Anda dapat, dengan tangan Anda dan cari jawaban paragraf gagasan pokoknya tentang apa.

2. Dalam wacana ini, butir dari “A” hingga “F”. Sesudah membaca sebuah kalimat dalam paragraf sebanyak satu kali, kembali lagi, dan dalam kertas Anda tulis paragraf itu mengenai apa dalam beberapa kata saja.

CATATAN: Penting untuk membaca setiap wacana hanya sekali! Hindari untuk mengulanginya.

A. Semua pohon berwarna hijau.

B. Banyak burung terbang ke arah selatan di musim dingin.

C. Herman membersihkan halaman, Safriandi yang menyuruh.

D. Syahriandi suka main sepak bola. Ia ingin suatu saat menjadi pemain professional.

E. Syaid Saifullah adalah penulis terkenal dari Gemasastrin pada era 80-an. Ia seorang Islam yang taat.

F. Mitoha merupakan seorang guru SMP. Ia masih muda, manis, berambut hitam pendek, dan memiliki psotur tubuh ideal. Nama aslinya tidak biasa disebut orang karena ia menggunakan nama kecil, yakni Neng Geulis.

LIHAT!

1. Apakah Anda memperhatikan bahwa pokok atau subjek setiap wacana selalu berada pada kalimat pertama? Ini teori umum pada semua tulisan. Kenyataannya, hampir 95% dari semua paragraf, topik dipresentasikan pada kalimat pertama. Itu sebabnya, mengapa kalimat ini kerap disebut sebagai kalimat topik.

Perintah itu semua coba Anda kerjakan dan dilakukan secepat mungkin. Oleh karena dalam hampir setiap kasus topik terdapat pada kalimat pertama, bacalah kalimat pertama dengan sangat hati-hati apa yang dibahas dalam wacana dimaksud. Jika Anda menemukannya, sebenarnya Anda sudah menemukan tujuan yang telah saya berikan. Namun, selalu ada kesempatan, bahkan ini mungkin hal yang sangat mudah (mungkin kurang dari lima persen), bahwa topik yang sesungguhnya diberikan di mana saja dalam wacana itu. Dengan demikian, Anda dapat meneruskan membaca agar dapat melihat bahwa segala sesuatu terkait dengan topik yang sudah Anda baca. Kini tentu Anda dapat mulai lebih cepat lagi dari yang sebelumnya.

WACANA

WACANA (DISCOURSES)



Erti Perkataan Wacana


 Perkataan Wacana adalah padanan perkataan discourse dalam bahasa
Inggeris. Perkataan discourse dalam Kamus Webster, 1983 : 522 bererti:
 Hubungan fikiran dengan kata-kata; ekspresi idea-idea atau gagasan-gagasan; atau percakapan
 Hubungan secara umum, terutama sebagai suatu subjek kajian atau
pokok bahasan
 Risalah tulisan, disertasi formal; kuliah, ceramah; khutbah

 Perkataan wacana menurut Kamus Dewan Edisi Baru 1993 : 1484
bererti:
 Ucapan, pertuturan, percakapan, keseluruhan tutur yang merupakan suatu kesatuan
 Keseluruhan terbitan atau hasil karya dalam sesuatu bahasa

 Berdasarkan erti perkataan wacana di atas dapat disimpulkan bahawa
perkataan wacana itu sama dengan perkataan ucapan yang utuh untuk
wacana lisan, dan karangan yang utuh untuk wacana tulisan dalam
pengajaran bahasa Melayu sebelum ini.




Batasan Wacana


Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas, ada baiknya kita melihat batasan (definisi) wacana dariapada beberapa tokoh bahasa di bawah ini:

 STUBBS, MICHAEL: Wacana merupakan kesatuan bahasa yang lebih
besar daripada ayat atau klausa. Dengan kata lain, wacana merupakan
unit-unit linguistik yang lebih besar daripada ayat atau klausa, seperti
pertukaran-pertukaran percakapan atau teks-teks tertulis. Secara
ringkas; yang disebut teks bagi wacanaadalah ayat bagi ujaran.

 ASMAH HAJI OMAR: Wacana ialah unit bahasa yang melebihi batas
ayat, yang di dalamnya memperlihatkan hubungan-hubungan dan
perkembangan fikiran yang berurutan seperti ayat, sejumlah ayat,
ceraian, perenggan, bab, buku, novel, cerpen, cerita, dialog, siri buku
(cerita) dan sebagainya.

 HARIMURTI KRIDALAKSANA: Wacana adalah satuan bahasa
terlengkap; dalam hierarki tatabahasa merupakan satuan tatabahasa
tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk
karangan yang utuh (novel, buku, ensiklopedia, dan sebagainya),
paragraf, ayat atau kata yang membawa amanat yang lengkap.

 HENRY GUNTUR TARIGAN: Wacana adalah satuan bahasa yang
terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan
koherensi dan kohesi tinggiyang berkesinambungan yangg mempunyai
awal dan akhir yang nyata disampaikan secara lisan atau tertulis.



Huraian daripada beberapa batasan wacana ini memperlihatkan persamaan dan perbezaan pendapat, namun begitu kita dapat mengemukakan bahawa hakikat wacana itu adalah terdiri daripada lapan unsur penting, iaitu

1. Satuan bahasa
2. Terlengkap / terbsesar / tertinggi
3. Mengatasi ayat / klausa
4. Teratur / tersusun rapi / rasa koherensi (kepaduan)
5. Berkesinambungan
6. Rasa kohesi (kepautan)
7. Lisan / tulisan
8. Awal dan akhir

CONTOH ARTIKEL

Masjid Al-Aqsa
Masjid Al-Aqsa, juga ditulis Al-Aqsha, adalah salah satu tempat suci agama Islam yang menjadi bagian dari kompleks bangunan suci di Kota Lama Yerusalem (Yerusalem Timur). Tempat ini oleh umat Yahudi dan Kristen dikenal pula dengan sebutan Bait Allah, suatu tempat paling suci dalam agama Yahudi yang umumnya dipercaya merupakan tempat Bait Pertama dan Bait Kedua dahulu pernah berdiri. Masjid Al-Aqsa secara luas dianggap sebagai tempat suci ketiga oleh umat Islam. Kitab-kitab hadits menjelaskan bahwa Muhammad mengajarkan umat Islam berkiblat ke arah Masjid Al-Aqsa (Baitul Maqdis) hingga 17 bulan setelah hijrah ke Madinah. Setelah itu kiblat salat adalah Ka'bah di dalam Masjidil Haram, Mekkah, hingga sekarang. Pengertian Masjid Al-Aqsa pada peristiwa Isra' Mi'raj dalam Al-Qur'an (Surah Al-Isra' ayat 1) meliputi seluruh kawasan Al-Haram Asy-Syarif

ARTIKEL

Artikel pilihan adalah artikel-artikel terbaik di Wikipedia, yang ditentukan oleh komunitas. Sebelum dimasukkan ke dalam daftar ini, artikel-artikel tersebut dinilai dan dibahas di Wikipedia:Artikel pilihan/Usulan, untuk memastikan keakuratan, kenetralan, kelengkapan, dan gaya penulisan, berdasarkan Wikipedia:Kriteria artikel pilihan.

Saat ini terdapat 103 artikel pilihan dari 132.921 artikel di Wikipedia.

Artikel yang berhasil mendapatkan status artikel pilihan akan diberikan bintang (LinkFA-star.png) pada pojok kanan atasnya. Selain itu, apabila suatu artikel merupakan artikel pilihan di Wikipedia bahasa lain, akan diberikan bintang pada pranala interwiki di sisi kiri bawah artikel.

MEBACA BERITA

ditulis pada Seminar Jurnalistik, Diesemas ITB Bandung 6 Maret 2009. Berikut adalah panduan panduan bagi Anda yang ingin menjadi Presenter/Host di Televisi.

Persiapan Sebelum Membaca Berita

Pahami berita yang akan dibacakan.

Bila perlu, perbaiki naskah berita dengan sepengetahuan produser program.

Koordinasi dengan produser program terkait rundown berita dan wawancara bila ada.

Siapkan waktu cukup untuk rias wajah dan menata rambut.

Selalu siap bila terjadi hambatan teknis di saat sedang membawakan program.

1. Tetap tenang dan relaks tapi berpikir cepat dan ambil keputusan untuk langkah berikutnya
2. Minta maaf jika terjadi kesalahan
3. Siap berbagai versi kalimat yang akan disampaikan jika terjadi kesalahan

Contoh: “Pemirsa/ kami mohon maaf/ gambar yang baru saja kami tayangkan bukan tentang penggusuran di Jakarta tapi tentang tanggapan wakil presiden Yusuf Kalla tentang melonjaknya harga minyak goreng// Kita beralih ke informasi berikutnya///”

Selalu membawa naskah berita walaupun tersedia prompter.

Bagaimana Membaca Berita dengan Baik

Baca berita seperti bercerita kepada orang lain.

Tatap kamera seakan menatap lawan bicara.

Ekspresi presenter harus sesuai dengan berita yang dibacakan.

CARA MEMPELAJARI ANAK MEMBACA

Mengajari belajar membaca anak memang susah-susah gampang :) dan ini dibutuhkan kesabaran orang tua. Karena semakin orang tua tidak sabar, semakin susah anak untuk menangkap apa yang diajarkan, akhirnya jadi marah-marah hehehe dan dimalam hari saat melihat dia tidur… jadi trenyuh :) sebagian dari kita tentu pernah mengalami hal yang demikian itu.

Anak tidak bisa dipaksakan untuk berkembang secepat yang kita inginkan. Seperti halnya tanaman, perlu proses dari biji, kemudian tunas, kemudian menjadi pohon dan berbuah. Kalau tanaman kita paksa tumbuh cepat agar segera berbuah dengan memberikan pupuk yang melebihi dosis apa ya yang terjadi? Itulah sebabnya belajar membaca anak harus dilakukan dengan sabar. Akan lebih bijak kalau diberikan pujian-pujian (meskipun masih salah dalam membaca) daripada dimarahin :).

Dalam mengajari anak, kita perlu masuk ke dunia mereka, dunia anak-anak. Mungkin dengan mengajak bermain dengan permainan yang anak gemari, misalkan tebak-tebakan nama hewan, tumbuhan dll bisa dijadikan sarana untuk belajar. Permainan tebak2an dengan menyebutkan nama-nama hewan bisa kita akalin dengan “sebutkan nama-nama hewan dimulai dengan huruf k u” otomatis si anak akan berusaha mengeja huruf k dan u dan seterusnya. Permainan ini sangat efektif untuk mengajari anak mengeja, karena disamping permainannya sendiri mengasikkan, juga bisa kita lagukan dengan ceria. Kesabaran menjadi kunci belajar membaca anak agar si anak tidak terbebani dengan pelajaran membaca.

MEMBACA

Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Membaca melibatkan pengenalan simbol yang menyusun sebuah bahasa. Membaca dan mendengar adalah 2 cara paling umum untuk mendapatkan informasi. Informasi yang didapat dari membaca dapat termasuk hiburan, khususnya saat membaca cerita fiksi atau humor.

Sebagian besar kegiatan membaca sebagian besar dilakukan dari kertas. Batu atau kapur di sebuah papan tulis bisa juga dibaca. Tampilan komputer dapat pula dibaca.

Membaca dapat menjadi sesuatu yang dilakukan sendiri maupun dibaca keras-keras. Hal ini dapat menguntungkan pendengar lain, yang juga bisa membangun konsentrasi kita sendiri.

Senin, 04 Oktober 2010

Pembelajaran problem Solving dan problem Learning

PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING) DAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEKS (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)


1. PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING)

Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah

Model pengajaran berdasarkan masalah ini telah dikenal sejak zaman John Dewey. Menurut Dewey (dalam Trianto, 2009:91) belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus dan respon, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberikan masukan kepada siswa berupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis, serta dicari pemecahannya dengan baik.

Pengajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berfikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks.

Model pemblajaran berdasarkan masalah dilandasi teori konstruktivis. Pada model ini pembelajaran dimulai dengan menyajikan masalah nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama antara siswa, guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan, guru memberi contoh mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugas-tugas tersebut dapat diselessaikan. Guru menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan oleh siswa.

Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah

Menurut Arends dalam Trianto, karakteristik pembelajaran berbasis masalah adalah:

(1) Pengajuan pertanyaan atau masalah. Pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang keduanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna bagi siswa.

(2) Berfokus pada keterkaitan antardisiplin. Masalah yang akan diselidiki telah dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran.

(3) Penyelidikan autentik. Siswa dituntut untuk menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisa informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi, dan merumuskan kesimpulan.

(4) Menghasilkan produk dan memamerkannya. Produk itu dapat berupa laporan, model fisik, video maupun program komputer.

(5) Kolaborasi. Pembelajaran berdasarkan masalah dicirikan oleh siswa yang bekerjasama satu dengan yang lainnya, secara berpasangan atau dalam kelompok kecil.

Berdasarkan karekteristik tersebut, pembelajaran berdasarkan masalah memiliki tujuan:

a. membantu siswa mengembangkan keterampilan berfikir dan keterampilan pemecahan masalah

b. belajar peranan orang dewasa yang autentik

c. menjadi pebelajar yang mandiri.



Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Berdasarkan Masalah

Kelebihan pembelajaran berdasarkan masalah sebagai suatu model pembelajaran adalah:

· Realistik dengan kehidupan siswa

· Konsep sesuai dengan kebutuhan siswa

· Memupuk sifat inquiry siswa

· Retensi konsep menjadi kuat

· Memupuk kemampuan problem solving

Selain itu, kekurangannya adalah:

o Persiapan pembelajaran (alat, problem, konsep) yang kompleks

o Sulitnya mencari problem yang relevan

o Sering terjadi miss-konsepsi

o Memerlukan waktu yang cukup panjang



Sintaks Pembelajaran Berdasarkan Masalah

Sintaks suatu pembelajaran berisi langkah-langkah praktis yang harus dilakukan oleh guru dan siswa dalam suatu kegiatan. Dalam pembelajaran berdasarkan masalah, ada 5 langkah utama yaitu:

Tahap


Tingkah Laku guru

Tahap-1

Orientasi siswa pada masalah


Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih.

Tahap-2

Mengorganisasi siswa untuk belajar


Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut

Tahap-3

Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok


Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.

Tahap-4

Mengembangkan dan menyajikan hasil karya


Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.

Tahap-5

Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah


Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

2. PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEKS (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)

Definisi pembelajaran kontekstual secara umum masih belum disepakati oleh para ahli, tetapi tentang dasar dan unsur-unsur kuncinya lebih banyak yang mereka sepakati. Pembelajaran kontekstual sebagai terjemahan Contextual Teaching and Learning (CTL) memiliki dua peranan dalam pendidikan yaitu sebagai filosofi pendidikan dan sebagai rangkaian kesatuan dari strategi pendidikan. Sebagai filosofi pendidikan, CTL mengasumsikan bahwa peranan pendidik adalah membantu peserta didik menemukan makna dalam pendidikan dengan cara membuat hubungan antara apa yang mereka peroleh di dunia nyata dengan yang mereka pelajari di sekolah untuk kemudian menerapkan pengetahuan tersebut di dunia nyata. Dengan demikian, inti pembelajaran kontekstual adalah melibatkan situasi dunia nyata sebagai sumber maupun terapan materi pelajaran.

Pembelajaran kontekstual sebenarnya bukanlah ide baru. Pembelajaran tersebut berakar dari filosofi yang dikembangkan oleh John Dewey yang mengemukakan bahwa peserta didik akan belajar dengan baik, ketika apa yang dipelajarinya dikaitkan dengan apa yang mereka ketahui dan ketika mereka secara aktif belajar sendiri.

Dalam pembelajaran kontekstual, terdapat beberapa ciri, yaitu:

a. Pembelajaran aktif: peserta didik diaktifkan untuk mengkontsruksi pengetahuan dan memecahkan masalah.

b. Multi konteks: pembelajaran dalam konteks yang ganda akan memberikan peserta didik pengalaman yang dapat digunakan untuk mempelajari dan mengidentifikasi ataupun memecahkan masalah dalam konteks yang baru (terjadi transfer).

c. Kerjasama dan diskursus: peserta didik belajar dari orang lain melalui kerjasama, diskursus (penjelasan-penjelasan) kerja tim dan mandiri (self reflection).

d. Berhubungan dengan dunia nyata: pembelajaran yang menghubungkan dengan isu-isu kehidupan nyata melalui kegiatan pengalaman di luar kelas dan simulasi.

e. Pengetahuan prasyarat: pengalaman awal peserta didik dan situasi pengetahuan yang didapat mereka akan berarti atau bernilai dan nampak sebagai dasar dalam pembelajaran.

f. Pemecahan masalah: berpikir tingkat tinggi yang diperlukan dalam memecahkan masalah nyata harus ditekankan pada kebermaknaan memorasi dan pengulangan-pengulangan.

g. Mengarahkan sendiri (self-direction): peserta didik ditantang dan dimungkinkan untuk membuat pilihan-pilihan, mengembangkan alternatif-laternatif, dan diarahkan sendiri. Dengan demikian mereka bertanggung jawab sendiri dalam belajarnya (Aisyah, 2007).

Menerapkan CTL dalam suatu pembelajaran pada prisipnya sama saja dengan menciptakan suatu pembelajaran yang menantang daya cipta siswa untuk menemukan informasi baru dalam pembelajaran. Di dalam Depdiknas (2003) disebutkan bahwa ada tujuh prinsip pembelajaran CTL, yaitu:

(1) kontsruktivis (constructivism),

(2) inkuiri (inquiry),

(3) bertanya (questioning),

(4) masyarakat belajar (learning community),

(5) pemodelan (modeling),

(6) refleksi (reflection) dan

(7) penilaian yang sebenarnya (authentic assestment).



(1) Kontsruktivisme (Constructivism)

Siswa membangun pemahaman oleh diri sendiri dari pengalaman-pengalaman baru berdasarkan pengalaman awal. Pengalaman awal selalu merupakan dasar/tumpuan yang digabung dengan pengalaman baru untuk mendapatkan pengalaman baru. Pemahaman yang mendalam dikembangkan melalui pengalaman yang bermakna.

(2) Penemuan (Inquiry)

Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan induktif, diawali dengan pengamatan dalam rangka memahami suatu konsep. Dalam praktik, pembelajaran melewati siklus kegiatan mengamati, bertanya, menganalisis, dan merumuskan teori, baik secara individual maupun secara bersama-sama dengan temannya. Penemuan juga merupakan aktivitas untuk mengembangkan dan sekaligus menggunakan keterampilan berpikir kritis siswa.

(3) Bertanya (Questioning)

Pertanyaan merupakan komponen penting dalam pembelajaran kontekstual. Pertanyaan merupakan alat pembelajaran bagi guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Pertanyaan juga digunakan oleh siswa selama melaksanakan kegiatan yang berbasis penemuan.

(4) Masyarakat belajar (Learning Community)

Proses pembelajaran berlangsung dalam situasi sesama siswa saling berbicara dan menyimak, berbagi pengalaman dengan orang lain. Bekerja sama dengan orang lain untuk menciptakan pembelajaran siswa aktif lebih baik jika dibandingkan dengan belajar sendiri yang mendidik siswa untuk menjadi individu yang egoistis.

(5) Pemodelan (Modeling)

Aktivitas guru di kelas memiliki efek model bagi siswa. Jika guru mengajar dengan berbagai variasi metode dan teknik pembelajaran, secara tidak langsung siswa pun akan meniru metode atau teknik yang dilakukan guru tersebut. Kondisi semacam ini akan banyak memberika manfaat bagi guru untuk mengarahkan siswa melakukan sesuatu yang diinginkannya melalui pendemonstrasian cara yang diinginkan tersebut.

(6) Refleksi (Reflection)

Salah satu pembeda pendekatan kontekstual dengan pendekatan tradisional adalah cara-cara berpikir tentang sesuatu yang telah dipelajari oleh siswa. Dalam proses berpikir itu, siswa dapat merevisi dan merespon kejadian, aktivitas, dan pengalaman mereka.

(7) Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assestment)

Penilaian autentik ini bersifat mengukur produk pembelajaran yang bervariasi, yaitu pengetahuan dan keterampilan serta sikap siswa. Penilaian ini juga tidak hanya melihat produk akhir, tetapi juga prosesnya. Instruksi dan pertanyaan-pertanyaannya disusun yang kontekstual dan relevan.





Referensi:

Aisyah, Nyimas. 2007. Pengembangan Pembelajaran Matematika SD. Jakarta: Depdiknas

Depdiknas. 2003. Pendekatan Konteksual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta: Depdiknas

Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana

Kamis, 26 Agustus 2010

Skripsiku

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN ( UNSIQ )
JAWA TENGAH DI WONOSOBO

PROPOSAL SKRIPSI
NAMA : SUHIRMAN
N I M : 1606011
PROGRAM STUDI : PENDIDIKAN FISIKA

1. JUDUL PROPOSAL SKRIPSI

PENGGUNAAN METODE TUTOR SEBAYA DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SAINS POKOK BAHASAN GAYA DAN GERAK PADA KELAS VI MI HIDAYATUSSIBYAN LANCAR KABUPATEN WONOSOBO TAHUN PELAJARAN 2010/2011.

II. LATAR BELAKANG MASALAH

Mata pelajaran Sains merupakan salah satu mata pelajaran yang ada pada jenjang pendidikan sekolah dasar dan tidak sedikit anak yang merasa kesulitan dalam mempelajari Sains, hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa dari tahun ke tahun.
Dari hasil observasi dan wawancara dengan pihak sekolah (guru bidang studi) terdapat beberapa permasalahan yang bisa peneliti disimpulkan, diantaranya: siswa hanya mengandalkan informasi dari guru saja (teacher oriented), perhatian siswa kurang pada saat proses pembelajaran, serta kurangnya kemampuan guru dalam memanfaatkan alat peraga yang ada.

Berdasarkan pengalaman mengajar guru, ternyata dari hasil ulangan Sains yang dilaksanakan pada setiap akhir bab cenderung memperoleh hasil yang masih belum mencapai standar, ini terlihat dari rata-rata untuk masing-masing kelas VI.A = 61,60 ; VI.B = 50,0. dari hasil yang diperoleh sebagi guru baik di kelas IV, V maupun VII selalu merasa kurang puas dengan hasil belajar siswa.
Sebagi tindak lanjut atas ketercapaian ketuntasan belajar siswa yang masih belum mencapai standar yang di tetapkan, maka guru merancang kegiatan remidial untuk beberapa siswa yang dianggap belum tuntas, baru setelah diadakan kegiatan remidial, ketuntasan klasikal tercapai, dan itupun mesti dilakukan berulang kali, bahkan pada beberapa materi yang dianggap lebih sulit ulangan perbaikan ( remedial ) perlu diulang lagi.
Mengingat terbatasnya waktu berdasar pembagian jumlah jam pelajaran pada kurikulum yang digunakan sekarang, sangat tidak memungkinkan untuk memberikan ulangan perbaikan di pagi hari ( Pada jam-jam efektif) karena akan menghambat materi-materi berikutnya, maka guru merasa perlu mencari solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan di atas.
.Ada beberapa faktor lain juga yang menyebabkan rendahnya hasil belajar pada MI Hidayatussibyan Lancar. Dari hasil wawancara dengan guru bidang studi, sebagian besar siswa merasa malas belajar karena menganggap Sains identik dengan banyak hafalan. Mereka menganggap belajar Sains susah menghafalnya. Padahal belajar Sains sebenarnya tidak selalu harus menghafal, melainkan yang terpenting adalah bagaimana siswa memahami konsep-konsep yang mendasar. Selain dari faktor siswa, pembelajaran konvensional yang dilakukan oleh guru juga mempengaruhi hasil belajar siswa.
Belajar Sains lebih menekankan penalaran dalam pemahaman konsep melalui pembelajaran. Belajar Sains harus mau berfikir, sering disosialisasikan dengan kreativitas dan pemecahan masalah. Tanpa adanya rasa keingintahuan yang kuat atau motivasi tinggi hal tersebut tidak dapat tercapai.
Untuk mengatasi masalah tersebut, penggunaan model pembelajaran yang tepat sehingga nantinya bisa meningkatkan hasil belajar sangat menentukan. Oleh karena itu salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa adalah model pembelajaran Tutor Sebaya. Dalam model pembelajaran ini siswa didorong untuk terlibat secara optimal dalam pembelajaran. Berdasarkan latar belakang tersebut di atas peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul ”PENGGUNAAN METODE TUTOR SEBAYA DALAM MENINGKATKAN HASIL BELJAR SAINS POKOK BAHASAN GAYA DAN GERAK PADA KELAS VI MI HIDAYATUSSIBYAN LANCAR KABUPATEN WONOSOBO TAHUN PELAJARAN 2010/2011”.

III.IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan uraian di atas dapat diidentifikasikan masalahnya yaitu sebagai berikut:
1.Masih banyaknya siswa yang menganggap bahwa Sains itu sulit.
2.Kurangnya tingkat pemahaman guru dalam kegiatan belajar mengajar terutama mengenai pendekatan pembelajaran dan pemilihan metode belajar yang efektif dan efisien.
Apakah dengan model pembelajaran Tutor Sebaya dapa membantu meningkatkan belajar Sains siswa.

IV. PEMBATASAN MASALAH
Mengingat luasnya permasalahan yang di hadapi, maka penelitian ini di batasi pada penggunaan metode Tutor Sebaya dalam meningkatkan hasil belajar Sains pada materi pokok Gaya dan gerak di kelas VI MI Hidayatussibyan Lancar Tahun Pelajaran 2010/2011.
V. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalahnya adalah Bagaimana Penerapan Metode Tutor Sebaya dalam Meningkatkan Hasil Belajar Sains Kelas VI Siswa MI Hidayatussibyan Lancar Kecamatan Wadaslintang.

VI. PENEGASAN ISTILAH

Agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahami pengertian dalam judul penelitian, maka terlebih dahulu disini akan diuraikan bebrapa kata – kata yang penulis anggap penting dalam yang memungkinkan terjadinya salah arti bagi para pembaca :
1.Meningkatkan
Menjadi bertambah banyak
2.Hasil
Hasil /nilaiyang telah dicapai, dilakukan, dikerjakan.
3.Belajar
Berusaha ( berlatih dsb ) supaya mendapat suatu kepandaian.
4.Ilmu Pengetahuan Alam ( Sains )
Ilmu pengetahuan alam atau sains (science) diambil dari kata latin Scientia yang arti harfiahnya adalah pengetahuan, tetapi kemudian berkembang menjadi khusus Ilmu Pengetahuan Alam atau Sains. Sund dan Trowbribge merumuskan bahwa Sains merupakan kumpulan pengetahuan dan proses.
Sedangkan Kuslan Stone menyebutkan bahwa Sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu. Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan. "Real Science is both product and process, inseparably Joint" (Agus. S. 2003: 11)
5.Pemanfaatan
Guna, faedah,
6.Tutor sebaya
Tutor Sebaya dikenal dengan pembelajaran teman Sebaya atau antar peserta didik, hal ini bisa terjadi ketika peserta didik yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan kemudian membantu peserta didik lain yang kurang mampu. Alternatifnya, waktu khusus tiap harinya harus dialokasikan agar peserta didik saling membantu dalam belajar baik satu-satu atau kelompok kecil ketika mengungkapkan ataupun menyelesaikan permasalahan.
7.Gaya
Tarikan atau dorongan pada suatu benda
8.Gerak
Perubahan kedudukan atau tempat.

Jadi yang dimaksud dalam judul adalah “ Suatu kajian secara mendalam melalui sebuah penelitian tentang hasil yang telah dicapai untuk memperbanyak perhatian atau kecenderungan hati dalam berusaha atau berlatih pada bidang keilmuan yang membahas gaya dan gerak dengan menggunkan metode tutor sebaya pada siswa kelas VI MI Hiayatussibyan lancar Kabupaten Wonosobo Tahun Pelajaran 2010 / 2011

VII. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar Sans pada pokok bahasan Gaya dan Gerak pada siswa kelas VI Semester II MI Hidayatussibyan Lancar Kecamatan Wadaslintang Tahun Pelajaran 2010 / 2011.


VIII. MANFAAT PENELITIAN

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat :
1)Bagi Peneliti, berguna untuk mendapatkan pengetahuan baru mengenai model pembelajaaran Tutor Sebaya.
2)Bagi Siswa, diharapkan dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa sains.
3)Bagi Guru, diharapkan dapat mengetahui metode pengajaran yang sesuai dengan pokok bahasan yang akan disampaikan.
4)Bagi Sekolah, diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan mutu

IX. HIPOTESIS

Dari arti katanya hipotesis berasal adri 2 penggalan kata, “hypo” yang artinya “ di bawah” dan “Thesa” yang artinya “kebenaran”. Jadi hipotesis yang cara kemudian cara menulisnya disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia menjadi hipotesa, dan berkembang menjadi hipotesis (Suharsini A.2002: 64).
Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Berdasarkan pengertian di atas, maka hipotesis yang penulis ajukan merupakan hipotesis kerja atau hipotesis alternatif yaitu “. Proses pembelajaran dengan menggunakan metode Tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar Sains MI Hidayatussibyan Lancar Kabupaten Wonosobo tahun pelajaran 2010/2011.



X. KAJIAN PUSTAKA

a. Ilmu Pengetahuan Alam
Sebelum membicarakan tentang Ilmu Pengetahuan Alam, maka perlu kiranya mengetahui terlebih dahulu tentang pengertian secara umum sebagai titik tolak untuk memberikan pengertian Ilmu Pengetahuan Alam.
Science adalah ilmu pengetahun
Ilmu pengetahuan alam atau sains (science) diambil dari kata latin Scientia yang arti harfiahnya adalah pengetahuan, tetapi kemudian berkembang menjadi khusus Ilmu Pengetahuan Alam atau Sains. Sund dan Trowbribge merumuskan bahwa Sains merupakan kumpulan pengetahuan dan proses.
Sedangkan Kuslan Stone menyebutkan bahwa Sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu. Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan. "Real Science is both product and process, inseparably Joint" (Agus. S. 2003: 11)
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia Ilmu adalah pengetahuan atau kepandaian. , Pengetahuan adalah tahu dan Alam adalah segala yang ada di langit dan bumi . Jadi dapat penulis simpulkan sebagai pengetahuan atau kepandaian yang mengetahui atau membahas segala sesuatu yang ada di langit dan bumi ( alam semesta ).

b. Metode Tutor Sebaya
Tutor Sebaya dikenal dengan pembelajaran teman Sebaya atau antar peserta didik, hal ini bisa terjadi ketika peserta didik yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan kemudian membantu peserta didik lain yang kurang mampu. Alternatifnya, waktu khusus tiap harinya harus dialokasikan agar peserta didik saling membantu dalam belajar baik satu-satu atau kelompok kecil ketika mengungkapkan ataupun menyelesaikan permasalahan.
c. Gaya dan gerak

1.Hungan Gaya dan gerak
Pernahkah mencoba mainan traktor pegas, jungkat-jungkit, dan panah? Model tersebut dapat dibuat dengan mudah, bahan yang diperlukan salah satunya harus memiliki gaya pegas yang dapat mendorong benda lainnya. Untuk mempelajari hubungan gaya dan gerak, contoh alat yang berhubungan gaya dan gerak.
a).Traktor Pegas
Mainan traktor sederhana dapat dibuat dari kelosan benang, karet gelang sebagai pegas, lilin, batang kayu, dan paku kecil.
b). Panah
Panah terdiri dari busur dan anak panah. Panah sederhana dapat dibuat dari batang kayu atau belahan bambu yang lentur, tali, dan anak panah terbuat dari bambu atau batang plastik.
Pada panah, gaya pegas terdapat pada busurnya. Tali digunakan untuk menarik busur sampai melengkung. Ketika tali dilepaskan, bentuk busur akan kembali ke semula, menarik kembali tali yang membawa anak panah, sehingga anak panah akan terdorong dengan cepat dan jauh Menggunakan panah untuk mencapai sasaran yang tepat memerlukan keterampilan yang sangat tinggi. Oleh karena itu, olahraga memanah termasuk yang dilombakan di Olimpiade.
c). Jungkat-Jungkit.
Jungkat-jungkit pada awalnya diam (seimbang). Setelah ditekan ke bawah, kemudian dilepaskan, maka jungkat-jungkit bergerak naik turun. Ditekan berarti diberi gaya. Demikian pula ketika jungkat-jungkit diberi uang logam, maka jungkat-jungkit bergerak, mengapa? Uang logam tersebut memiliki berat dan berat itu termasuk gaya. Jadi, gaya menyebabkan jungkat-jungkit bergerak. Gaya pegas mempengaruhi gerak benda.

2. Penggunaan Alat yang Berhubungan dengan Gaya dan Gerak

Permainan jungkat-jungkit di bagian bawah tempat duduk terpasang pegas atau per. Pegas atau per sifatnya jika ditekan akan kembali ke semula sehingga benda yang di atasnya ikut bergerak. Dengan adanya per, jungkat-jungkit dapat memantul ketika digunakan. Berdasarkan pengamatan pada benda-benda tersebut ternyata gaya pegas yang menimbulkan dorongan dapat membantu berbagai pekerjaan dan membuat alat-alat lebih nyaman dipakai. Bahan apa yang dapat dibuat pegas pada benda-benda tersebut? Selain gaya pegas, gaya apa lagi pada benda yang gerakannya bermanfaat? Alat-alat yang dibuat ada yang harus diperhatikan penggunaannya. Kesimpulan tentang hubungan antara gaya dan gerak: Adanya hubungan antara gaya dan gerak dapat dimanfaatkan untuk alat-alat dalam kehidupan. Gerakan-gerakan yang diakibatkan suatu gaya dapat dimanfaatkan untuk benda-benda yang berguna bagi kehidupan manusia.


XI. METODOLOGI PENELITIAN

1.Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di. MI Hidayatussibyan lancar.Kecamatan Wadaslintang Kabupaten Wonosobo Kelas VI Semester I Tahun Akademik 2010/2011 yaitu pada bulan Juli – Agustus
2.Populasi dan Sampel Penelitian
a.Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan satuan analisis yang merupakan sasaran penelitian (W. Gulo, 2007 : 77)
Populasi dalam penelitian ini adalah Siswa Kelas VI MI Hidayatussibyan Lancar Kabupaten Wonosobo Tahun Ajaran 2010/2011 yang terdiri dari 2 kelas yaitu Kelas VI A dan Kelas VI B, dengan jumlah 50 siswa.
b.Sampel Penelitian
Sampel yaitu himpunan bagian (subset) dari suatu populasi (W. Gulo, 2007 : 78). Sebagai bagian dari populasi, sampel memberikan gambaran yang benar tentang populasi. Pengambilan sampel dari suatu populasi disebut penarikan sampel atau sampling. Populasi yang ditarik sampelnya pada waktu merencanakan suatu penelitian disebut target populasi, sedangkan populasi yang diteliti pada waktu melakukan penelitian disebut sampling populasi. Daftar nama satuan analisis pada sampling populasi ini sering disebut dnegan sample frame.
Target populasi dan sampling populasi dapat berbeda sebagai konsekuensi dari perbedaan waktu antara perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Dalam jarak waktu tersebut populasi bisa berubah, bertambah atau berkurang karena berbagai sebab. Oleh karena itu, jarak waktu antara perencanaan dan pelaksanaan sebaiknya jangan terlalu lama.
Masalah yang dihadapi dalam penarikan sampel adalah cara penarikan sampel dan ukuran besar sampel. Dalam penelitian ini, sampel di ambil secara random atau sampel acak. Penarikan sampel ini dikatakan random karena setiap anggota pada populasi mempunyai peluang yang sama untuk ditarik sebagai anggota sampel. Untuk penelitian ini, peneliti mengambil sampelnya yaitu 2 kelas secara random (acak). Kelompok pertama, pelajaran dilakukan dengan pendekatan Tutor yaitu kelas VI B (25 siswa) dan kelompok kedua, pembelajaran dilakukan seperti biasa dengan metode konvensional (ceramah) yaitu kelas VI A (25 siswa).
3.Desain Penelitian
Desain penelitian merupakan cetakan biru yang menentukan pelaksanaan selanjutnya (W. Gulo, 2007 : 99). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen, dengan desain eksperimen semu yaitu desain pretes-postes kelompok kontrol. Desainnya adalah sebagai berikut:
Kelompok
Pretes
Perlakuan
Postes
Eksperimen
T1
X
T2
Kontrol
T1

T2

T1 = Tes awal (pretes)
X = Perlakuan dengan tutor sebaya.
T2 = Tes akhir (postes)
Kelas eksperimen adalah kelas yang diberi perlakuan dengan menggunakan pendekatan tutor sebaya berjumlah satu kelas. Kelas kontrol adalah kelas yang diberi perlakuan dengan menggunakan metode konvensional yaitu metode ceramah yang sudah biasa dilakukan.
Pada awal proses pembelajaran peserta didik, baik pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol diberikan tes awal (pretes). Setelah diberikan pretes, peserta didik pada kelas eksperimen diberi perlakuan dengan menggunakan pembeajaran tutor sebaya. Kelompok ini akan mendiskusikan dan menyelesaikan tugas yang selanjutnya dipresentasikan dalam kelompok,setiap kelompok di pandu oleh seorang tutor yang telah dipilih sebelumnya,tor t, hal ini dilakukan untuk menyamakan pemikiran. Pada kelas kontrol materi pelajaran disampaikan dengan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Setelah pemberian perlakuan selesai, kedua kelas diberikan tes akhir untuk mengetahui hasil belajar siswa pada materi zat dan wujudnya.

4.Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah semua objek yag menjadi sasaran penyelidikan yang menunjukkan variasi, baik dalam jenisnya maupun dalam tingkatannya (Sutrisno Hadi, 2002 : 224).
Adapun Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.Variabel bebas : Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian. Dalam penelitian ini model yang digunakan adalah pembelajaran tutor sebaya dan metode konvensional (ceramah).
2.Variabel terikat : Hasil belajar sains pada poo bahasa Gaya dan gerak..
3.Variabel kontrol : Guru yang mengajar, pokok bahasan, lama pembelajaran, rentang waktu penelitian dan instrumen pembelajaran.
5.Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat bantu yang dipakai untuk mengumpulkan data yakni pedoman tertulis tentang wawancara, pengamatan atau daftar pertanyaan yang dipersiapkan untuk mendapatkan informasi (W. Gulo, 2007 : 123). Supaya instrumen itu berfungsi secara efektif, maka syarat validitas dan reliabilitas harus diperhatikan sungguh-sungguh. Instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen tes.
a.Soal pretes dan postes
Pretes diberikan pada siswa sebelum siswa diberikan materi pelajaran. Pretes ini diberikan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman atau kemampuan awal siswa terhadap materi yang akan diajarkan sedangkan postes diberikan diakhir kegiatan pembelajaran untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu memahami materi setelah diberi perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran tutor sebaya Apakah kemampuan pemahamannya sama atau berbeda.
Soal pretes dan postes yang digunakan dalam penelitian harus memiliki kesahihan (validitas) dan keandalan (reliabilitas). Untuk mengetahui validitas dan reliabilitas dari soal harus dilakukan uji validitas dan reliabilitas.
b.Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (Suharsimi Arikunto, 2002 : 144). Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi. Uji validitas atau kesahihan digunakan untuk mengetahui seberapa tepat suatu alat ukur untuk melakukan fungsi. Sesuatu dikatakan valid jika alat ukur yang dibuat sesuai dengan apa yang hendak diukur. Validitas pengukuran adalah kecocokan diantara alat ukur dan atau pengukuran dengan sasaran ukur. Uji validitas dilakukan dengan menggunakan program ITEMAN.
c.Uji Reliabilitas
Kata reliabilitas dalam bahasa Indonesia diambil dari kata reliability dalam bahasa Inggris, berasal dari kata reliable yang artinya dapat dipercaya (Suharsimi Arikunto, 2009 : 59). Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Setelah pengujian validitas, selanjutnya dilakukan pengujian reliabilitas. Pengertian reliabilitas berhubungan dengan masalah ketepatan. Tujuan utama pengujian reliabilitas adalah untuk mengetahui konsistensi atau keteraturan hasil pengukuran suatu instrumen apabila instrumen tersebut digunakan lagi sebagai alat ukur suatu objek atau responden.
Tingkat Reliabilitas Berdasarkan Nilai Alpha
Alpha
Tingkat Reliabilitas
0,00 s.d 0,20
Kurang Reliabel
>0,20 s.d 0,40
Agak Reliabel
>0,40 s.d 0,60
Cukup Reliabel
>0,60 s.d 0.80
Reliabel
>0,80 s.d 1,00
Sangat Reliabel

d.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dibuat sesuai dengan model pembelajaran yang dipakai pada masing-masing kelas.
e.Soal-soal latihan
Soal ini diberikan untuk memperbanyak latihan siswa agar siswa-siswi lebih paham terhadap materi yang telah diajarkan. Dalam proses belajar mengajar, kelas yang menggunakan model pendekatan tutor sebaya, soal diberikan dalam bentuk kuis, hal ini dilakukan untuk mengurangi kejenuhan siswa ketika mengerjakan soal, sehingga siswa-siswi tertarik dan merasa senang mengerjakannya. Dalam kuis, peserta didik tidak boleh bekerja sama dalam mengerjakan soal. Sedangkan pada pembelajaran konvensional, siswa disuruh mengerjakan soal tanpa menggunakan kuis. Soal-soal ini diberikan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa-siswi secara individu.
6.Metode Pengumpulan Data
Menyusun instrumen adalah pekerjaan penting di dalam penelitian. Akan tetapi mengumpulkan data jauh lebih penting lagi, terutama apabila peneliti menggunakan metode yang memiliki cukup besar celah untuk dimasuki unsur minat peneliti.
a.Metode Observasi
Observasi adalah menatap kejadian, gerak atau proses (Suharsimi Arikunto, 2002 : 205). Metode observasi ini dilakukan untuk mengambil data nilai sains. Dalam metode ini, peneliti mengadakan pengamatan yaitu mengetahui proses belajar mengajar di kelas.
b.Metode Tes
Tes adalah alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan (Suharsimi Arikunto, 2009 : 53). Metode tes dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur hasil prestasi belajar siswa. Tes dilakukan sebelum perlakuan dan setelah perlakuan untuk menunjukkan hasil belajar siswa pada sub pokok bahasan gaya dan gerak.

7.Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, data yang dipakai untuk menguji hipotesis adalah data hasil belajar sains. Hasil belajar siswa , dilihat dari hasil postes siswa. Soal yang digunakan untuk pretes dan postes terlebih dahulu harus dianalisis untuk mengetahui valid atau tidaknya, analisis butir soal ini dilakukan dengan menggunakan program ITEMAN meliputi reliabilitas tes, kesalahan pengukuran atau standard error dan distribusi skor. Untuk menghitung tingkat kesukaran atau tingkat kemudahan dapat menggunakan rumus:

Untuk mengukur tingkat kesukaran soal dapat digunakan ketentuan sebagai berikut (tim instruktur matematika, 1983):
Jika K 0,71 berarti mudah
Jika 0,30 K 0,70 berarti sedang
Jika K 0,30 berarti sukar
Akan tetapi, perkembangan terakhir, analisa tes tidak lagi membutuhkan waktu yang lama dan berbelit-belit, yaitu dengan menggunakan alat bantu komputer dengan program ITEMAN.
Dalam menganalisis data pada penelitian ini dilakukan evaluasi dan refleksi terlebih dahulu melalui semua catatan atau tindakan. Catatan diperoleh penelitian. Setelah semua data penelitian terkumpul kemudian dianalisis untuk mencapai tujuan-tujuan penelitian.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik kualitatif dan kuantitatif yaitu membandingkan data yang diperoleh dari kejadian-kejadian sebelum dilakukan tindakan dan kejadian-kejadian berikutnya setelah dilakukan tindakan.
Semua kejadian yang terjadi dan data-data yang didapat akan dimunculkan dalam bentuk tabel dari semua tindakan aktivitas, pemahaman konsep, sikap serta hasil belajar siswa.

Skripsiku

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN ( UNSIQ )
JAWA TENGAH DI WONOSOBO

PROPOSAL SKRIPSI
NAMA : SUHIRMAN
N I M : 1606011
PROGRAM STUDI : PENDIDIKAN FISIKA

1. JUDUL PROPOSAL SKRIPSI

PENGGUNAAN METODE TUTOR SEBAYA DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SAINS POKOK BAHASAN GAYA DAN GERAK PADA KELAS VI MI HIDAYATUSSIBYAN LANCAR KABUPATEN WONOSOBO TAHUN PELAJARAN 2010/2011.

II. LATAR BELAKANG MASALAH

Mata pelajaran Sains merupakan salah satu mata pelajaran yang ada pada jenjang pendidikan sekolah dasar dan tidak sedikit anak yang merasa kesulitan dalam mempelajari Sains, hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa dari tahun ke tahun.
Dari hasil observasi dan wawancara dengan pihak sekolah (guru bidang studi) terdapat beberapa permasalahan yang bisa peneliti disimpulkan, diantaranya: siswa hanya mengandalkan informasi dari guru saja (teacher oriented), perhatian siswa kurang pada saat proses pembelajaran, serta kurangnya kemampuan guru dalam memanfaatkan alat peraga yang ada.

Berdasarkan pengalaman mengajar guru, ternyata dari hasil ulangan Sains yang dilaksanakan pada setiap akhir bab cenderung memperoleh hasil yang masih belum mencapai standar, ini terlihat dari rata-rata untuk masing-masing kelas VI.A = 61,60 ; VI.B = 50,0. dari hasil yang diperoleh sebagi guru baik di kelas IV, V maupun VII selalu merasa kurang puas dengan hasil belajar siswa.
Sebagi tindak lanjut atas ketercapaian ketuntasan belajar siswa yang masih belum mencapai standar yang di tetapkan, maka guru merancang kegiatan remidial untuk beberapa siswa yang dianggap belum tuntas, baru setelah diadakan kegiatan remidial, ketuntasan klasikal tercapai, dan itupun mesti dilakukan berulang kali, bahkan pada beberapa materi yang dianggap lebih sulit ulangan perbaikan ( remedial ) perlu diulang lagi.
Mengingat terbatasnya waktu berdasar pembagian jumlah jam pelajaran pada kurikulum yang digunakan sekarang, sangat tidak memungkinkan untuk memberikan ulangan perbaikan di pagi hari ( Pada jam-jam efektif) karena akan menghambat materi-materi berikutnya, maka guru merasa perlu mencari solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan di atas.
.Ada beberapa faktor lain juga yang menyebabkan rendahnya hasil belajar pada MI Hidayatussibyan Lancar. Dari hasil wawancara dengan guru bidang studi, sebagian besar siswa merasa malas belajar karena menganggap Sains identik dengan banyak hafalan. Mereka menganggap belajar Sains susah menghafalnya. Padahal belajar Sains sebenarnya tidak selalu harus menghafal, melainkan yang terpenting adalah bagaimana siswa memahami konsep-konsep yang mendasar. Selain dari faktor siswa, pembelajaran konvensional yang dilakukan oleh guru juga mempengaruhi hasil belajar siswa.
Belajar Sains lebih menekankan penalaran dalam pemahaman konsep melalui pembelajaran. Belajar Sains harus mau berfikir, sering disosialisasikan dengan kreativitas dan pemecahan masalah. Tanpa adanya rasa keingintahuan yang kuat atau motivasi tinggi hal tersebut tidak dapat tercapai.
Untuk mengatasi masalah tersebut, penggunaan model pembelajaran yang tepat sehingga nantinya bisa meningkatkan hasil belajar sangat menentukan. Oleh karena itu salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa adalah model pembelajaran Tutor Sebaya. Dalam model pembelajaran ini siswa didorong untuk terlibat secara optimal dalam pembelajaran. Berdasarkan latar belakang tersebut di atas peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul ”PENGGUNAAN METODE TUTOR SEBAYA DALAM MENINGKATKAN HASIL BELJAR SAINS POKOK BAHASAN GAYA DAN GERAK PADA KELAS VI MI HIDAYATUSSIBYAN LANCAR KABUPATEN WONOSOBO TAHUN PELAJARAN 2010/2011”.

III.IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan uraian di atas dapat diidentifikasikan masalahnya yaitu sebagai berikut:
1.Masih banyaknya siswa yang menganggap bahwa Sains itu sulit.
2.Kurangnya tingkat pemahaman guru dalam kegiatan belajar mengajar terutama mengenai pendekatan pembelajaran dan pemilihan metode belajar yang efektif dan efisien.
Apakah dengan model pembelajaran Tutor Sebaya dapa membantu meningkatkan belajar Sains siswa.

IV. PEMBATASAN MASALAH
Mengingat luasnya permasalahan yang di hadapi, maka penelitian ini di batasi pada penggunaan metode Tutor Sebaya dalam meningkatkan hasil belajar Sains pada materi pokok Gaya dan gerak di kelas VI MI Hidayatussibyan Lancar Tahun Pelajaran 2010/2011.
V. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalahnya adalah Bagaimana Penerapan Metode Tutor Sebaya dalam Meningkatkan Hasil Belajar Sains Kelas VI Siswa MI Hidayatussibyan Lancar Kecamatan Wadaslintang.

VI. PENEGASAN ISTILAH

Agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahami pengertian dalam judul penelitian, maka terlebih dahulu disini akan diuraikan bebrapa kata – kata yang penulis anggap penting dalam yang memungkinkan terjadinya salah arti bagi para pembaca :
1.Meningkatkan
Menjadi bertambah banyak
2.Hasil
Hasil /nilaiyang telah dicapai, dilakukan, dikerjakan.
3.Belajar
Berusaha ( berlatih dsb ) supaya mendapat suatu kepandaian.
4.Ilmu Pengetahuan Alam ( Sains )
Ilmu pengetahuan alam atau sains (science) diambil dari kata latin Scientia yang arti harfiahnya adalah pengetahuan, tetapi kemudian berkembang menjadi khusus Ilmu Pengetahuan Alam atau Sains. Sund dan Trowbribge merumuskan bahwa Sains merupakan kumpulan pengetahuan dan proses.
Sedangkan Kuslan Stone menyebutkan bahwa Sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu. Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan. "Real Science is both product and process, inseparably Joint" (Agus. S. 2003: 11)
5.Pemanfaatan
Guna, faedah,
6.Tutor sebaya
Tutor Sebaya dikenal dengan pembelajaran teman Sebaya atau antar peserta didik, hal ini bisa terjadi ketika peserta didik yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan kemudian membantu peserta didik lain yang kurang mampu. Alternatifnya, waktu khusus tiap harinya harus dialokasikan agar peserta didik saling membantu dalam belajar baik satu-satu atau kelompok kecil ketika mengungkapkan ataupun menyelesaikan permasalahan.
7.Gaya
Tarikan atau dorongan pada suatu benda
8.Gerak
Perubahan kedudukan atau tempat.

Jadi yang dimaksud dalam judul adalah “ Suatu kajian secara mendalam melalui sebuah penelitian tentang hasil yang telah dicapai untuk memperbanyak perhatian atau kecenderungan hati dalam berusaha atau berlatih pada bidang keilmuan yang membahas gaya dan gerak dengan menggunkan metode tutor sebaya pada siswa kelas VI MI Hiayatussibyan lancar Kabupaten Wonosobo Tahun Pelajaran 2010 / 2011

VII. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar Sans pada pokok bahasan Gaya dan Gerak pada siswa kelas VI Semester II MI Hidayatussibyan Lancar Kecamatan Wadaslintang Tahun Pelajaran 2010 / 2011.


VIII. MANFAAT PENELITIAN

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat :
1)Bagi Peneliti, berguna untuk mendapatkan pengetahuan baru mengenai model pembelajaaran Tutor Sebaya.
2)Bagi Siswa, diharapkan dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa sains.
3)Bagi Guru, diharapkan dapat mengetahui metode pengajaran yang sesuai dengan pokok bahasan yang akan disampaikan.
4)Bagi Sekolah, diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan mutu

IX. HIPOTESIS

Dari arti katanya hipotesis berasal adri 2 penggalan kata, “hypo” yang artinya “ di bawah” dan “Thesa” yang artinya “kebenaran”. Jadi hipotesis yang cara kemudian cara menulisnya disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia menjadi hipotesa, dan berkembang menjadi hipotesis (Suharsini A.2002: 64).
Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Berdasarkan pengertian di atas, maka hipotesis yang penulis ajukan merupakan hipotesis kerja atau hipotesis alternatif yaitu “. Proses pembelajaran dengan menggunakan metode Tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar Sains MI Hidayatussibyan Lancar Kabupaten Wonosobo tahun pelajaran 2010/2011.



X. KAJIAN PUSTAKA

a. Ilmu Pengetahuan Alam
Sebelum membicarakan tentang Ilmu Pengetahuan Alam, maka perlu kiranya mengetahui terlebih dahulu tentang pengertian secara umum sebagai titik tolak untuk memberikan pengertian Ilmu Pengetahuan Alam.
Science adalah ilmu pengetahun
Ilmu pengetahuan alam atau sains (science) diambil dari kata latin Scientia yang arti harfiahnya adalah pengetahuan, tetapi kemudian berkembang menjadi khusus Ilmu Pengetahuan Alam atau Sains. Sund dan Trowbribge merumuskan bahwa Sains merupakan kumpulan pengetahuan dan proses.
Sedangkan Kuslan Stone menyebutkan bahwa Sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu. Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan. "Real Science is both product and process, inseparably Joint" (Agus. S. 2003: 11)
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia Ilmu adalah pengetahuan atau kepandaian. , Pengetahuan adalah tahu dan Alam adalah segala yang ada di langit dan bumi . Jadi dapat penulis simpulkan sebagai pengetahuan atau kepandaian yang mengetahui atau membahas segala sesuatu yang ada di langit dan bumi ( alam semesta ).

b. Metode Tutor Sebaya
Tutor Sebaya dikenal dengan pembelajaran teman Sebaya atau antar peserta didik, hal ini bisa terjadi ketika peserta didik yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan kemudian membantu peserta didik lain yang kurang mampu. Alternatifnya, waktu khusus tiap harinya harus dialokasikan agar peserta didik saling membantu dalam belajar baik satu-satu atau kelompok kecil ketika mengungkapkan ataupun menyelesaikan permasalahan.
c. Gaya dan gerak

1.Hungan Gaya dan gerak
Pernahkah mencoba mainan traktor pegas, jungkat-jungkit, dan panah? Model tersebut dapat dibuat dengan mudah, bahan yang diperlukan salah satunya harus memiliki gaya pegas yang dapat mendorong benda lainnya. Untuk mempelajari hubungan gaya dan gerak, contoh alat yang berhubungan gaya dan gerak.
a).Traktor Pegas
Mainan traktor sederhana dapat dibuat dari kelosan benang, karet gelang sebagai pegas, lilin, batang kayu, dan paku kecil.
b). Panah
Panah terdiri dari busur dan anak panah. Panah sederhana dapat dibuat dari batang kayu atau belahan bambu yang lentur, tali, dan anak panah terbuat dari bambu atau batang plastik.
Pada panah, gaya pegas terdapat pada busurnya. Tali digunakan untuk menarik busur sampai melengkung. Ketika tali dilepaskan, bentuk busur akan kembali ke semula, menarik kembali tali yang membawa anak panah, sehingga anak panah akan terdorong dengan cepat dan jauh Menggunakan panah untuk mencapai sasaran yang tepat memerlukan keterampilan yang sangat tinggi. Oleh karena itu, olahraga memanah termasuk yang dilombakan di Olimpiade.
c). Jungkat-Jungkit.
Jungkat-jungkit pada awalnya diam (seimbang). Setelah ditekan ke bawah, kemudian dilepaskan, maka jungkat-jungkit bergerak naik turun. Ditekan berarti diberi gaya. Demikian pula ketika jungkat-jungkit diberi uang logam, maka jungkat-jungkit bergerak, mengapa? Uang logam tersebut memiliki berat dan berat itu termasuk gaya. Jadi, gaya menyebabkan jungkat-jungkit bergerak. Gaya pegas mempengaruhi gerak benda.

2. Penggunaan Alat yang Berhubungan dengan Gaya dan Gerak

Permainan jungkat-jungkit di bagian bawah tempat duduk terpasang pegas atau per. Pegas atau per sifatnya jika ditekan akan kembali ke semula sehingga benda yang di atasnya ikut bergerak. Dengan adanya per, jungkat-jungkit dapat memantul ketika digunakan. Berdasarkan pengamatan pada benda-benda tersebut ternyata gaya pegas yang menimbulkan dorongan dapat membantu berbagai pekerjaan dan membuat alat-alat lebih nyaman dipakai. Bahan apa yang dapat dibuat pegas pada benda-benda tersebut? Selain gaya pegas, gaya apa lagi pada benda yang gerakannya bermanfaat? Alat-alat yang dibuat ada yang harus diperhatikan penggunaannya. Kesimpulan tentang hubungan antara gaya dan gerak: Adanya hubungan antara gaya dan gerak dapat dimanfaatkan untuk alat-alat dalam kehidupan. Gerakan-gerakan yang diakibatkan suatu gaya dapat dimanfaatkan untuk benda-benda yang berguna bagi kehidupan manusia.


XI. METODOLOGI PENELITIAN

1.Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di. MI Hidayatussibyan lancar.Kecamatan Wadaslintang Kabupaten Wonosobo Kelas VI Semester I Tahun Akademik 2010/2011 yaitu pada bulan Juli – Agustus
2.Populasi dan Sampel Penelitian
a.Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan satuan analisis yang merupakan sasaran penelitian (W. Gulo, 2007 : 77)
Populasi dalam penelitian ini adalah Siswa Kelas VI MI Hidayatussibyan Lancar Kabupaten Wonosobo Tahun Ajaran 2010/2011 yang terdiri dari 2 kelas yaitu Kelas VI A dan Kelas VI B, dengan jumlah 50 siswa.
b.Sampel Penelitian
Sampel yaitu himpunan bagian (subset) dari suatu populasi (W. Gulo, 2007 : 78). Sebagai bagian dari populasi, sampel memberikan gambaran yang benar tentang populasi. Pengambilan sampel dari suatu populasi disebut penarikan sampel atau sampling. Populasi yang ditarik sampelnya pada waktu merencanakan suatu penelitian disebut target populasi, sedangkan populasi yang diteliti pada waktu melakukan penelitian disebut sampling populasi. Daftar nama satuan analisis pada sampling populasi ini sering disebut dnegan sample frame.
Target populasi dan sampling populasi dapat berbeda sebagai konsekuensi dari perbedaan waktu antara perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Dalam jarak waktu tersebut populasi bisa berubah, bertambah atau berkurang karena berbagai sebab. Oleh karena itu, jarak waktu antara perencanaan dan pelaksanaan sebaiknya jangan terlalu lama.
Masalah yang dihadapi dalam penarikan sampel adalah cara penarikan sampel dan ukuran besar sampel. Dalam penelitian ini, sampel di ambil secara random atau sampel acak. Penarikan sampel ini dikatakan random karena setiap anggota pada populasi mempunyai peluang yang sama untuk ditarik sebagai anggota sampel. Untuk penelitian ini, peneliti mengambil sampelnya yaitu 2 kelas secara random (acak). Kelompok pertama, pelajaran dilakukan dengan pendekatan Tutor yaitu kelas VI B (25 siswa) dan kelompok kedua, pembelajaran dilakukan seperti biasa dengan metode konvensional (ceramah) yaitu kelas VI A (25 siswa).
3.Desain Penelitian
Desain penelitian merupakan cetakan biru yang menentukan pelaksanaan selanjutnya (W. Gulo, 2007 : 99). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen, dengan desain eksperimen semu yaitu desain pretes-postes kelompok kontrol. Desainnya adalah sebagai berikut:
Kelompok
Pretes
Perlakuan
Postes
Eksperimen
T1
X
T2
Kontrol
T1

T2

T1 = Tes awal (pretes)
X = Perlakuan dengan tutor sebaya.
T2 = Tes akhir (postes)
Kelas eksperimen adalah kelas yang diberi perlakuan dengan menggunakan pendekatan tutor sebaya berjumlah satu kelas. Kelas kontrol adalah kelas yang diberi perlakuan dengan menggunakan metode konvensional yaitu metode ceramah yang sudah biasa dilakukan.
Pada awal proses pembelajaran peserta didik, baik pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol diberikan tes awal (pretes). Setelah diberikan pretes, peserta didik pada kelas eksperimen diberi perlakuan dengan menggunakan pembeajaran tutor sebaya. Kelompok ini akan mendiskusikan dan menyelesaikan tugas yang selanjutnya dipresentasikan dalam kelompok,setiap kelompok di pandu oleh seorang tutor yang telah dipilih sebelumnya,tor t, hal ini dilakukan untuk menyamakan pemikiran. Pada kelas kontrol materi pelajaran disampaikan dengan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Setelah pemberian perlakuan selesai, kedua kelas diberikan tes akhir untuk mengetahui hasil belajar siswa pada materi zat dan wujudnya.

4.Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah semua objek yag menjadi sasaran penyelidikan yang menunjukkan variasi, baik dalam jenisnya maupun dalam tingkatannya (Sutrisno Hadi, 2002 : 224).
Adapun Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.Variabel bebas : Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian. Dalam penelitian ini model yang digunakan adalah pembelajaran tutor sebaya dan metode konvensional (ceramah).
2.Variabel terikat : Hasil belajar sains pada poo bahasa Gaya dan gerak..
3.Variabel kontrol : Guru yang mengajar, pokok bahasan, lama pembelajaran, rentang waktu penelitian dan instrumen pembelajaran.
5.Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat bantu yang dipakai untuk mengumpulkan data yakni pedoman tertulis tentang wawancara, pengamatan atau daftar pertanyaan yang dipersiapkan untuk mendapatkan informasi (W. Gulo, 2007 : 123). Supaya instrumen itu berfungsi secara efektif, maka syarat validitas dan reliabilitas harus diperhatikan sungguh-sungguh. Instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen tes.
a.Soal pretes dan postes
Pretes diberikan pada siswa sebelum siswa diberikan materi pelajaran. Pretes ini diberikan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman atau kemampuan awal siswa terhadap materi yang akan diajarkan sedangkan postes diberikan diakhir kegiatan pembelajaran untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu memahami materi setelah diberi perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran tutor sebaya Apakah kemampuan pemahamannya sama atau berbeda.
Soal pretes dan postes yang digunakan dalam penelitian harus memiliki kesahihan (validitas) dan keandalan (reliabilitas). Untuk mengetahui validitas dan reliabilitas dari soal harus dilakukan uji validitas dan reliabilitas.
b.Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (Suharsimi Arikunto, 2002 : 144). Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi. Uji validitas atau kesahihan digunakan untuk mengetahui seberapa tepat suatu alat ukur untuk melakukan fungsi. Sesuatu dikatakan valid jika alat ukur yang dibuat sesuai dengan apa yang hendak diukur. Validitas pengukuran adalah kecocokan diantara alat ukur dan atau pengukuran dengan sasaran ukur. Uji validitas dilakukan dengan menggunakan program ITEMAN.
c.Uji Reliabilitas
Kata reliabilitas dalam bahasa Indonesia diambil dari kata reliability dalam bahasa Inggris, berasal dari kata reliable yang artinya dapat dipercaya (Suharsimi Arikunto, 2009 : 59). Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Setelah pengujian validitas, selanjutnya dilakukan pengujian reliabilitas. Pengertian reliabilitas berhubungan dengan masalah ketepatan. Tujuan utama pengujian reliabilitas adalah untuk mengetahui konsistensi atau keteraturan hasil pengukuran suatu instrumen apabila instrumen tersebut digunakan lagi sebagai alat ukur suatu objek atau responden.
Tingkat Reliabilitas Berdasarkan Nilai Alpha
Alpha
Tingkat Reliabilitas
0,00 s.d 0,20
Kurang Reliabel
>0,20 s.d 0,40
Agak Reliabel
>0,40 s.d 0,60
Cukup Reliabel
>0,60 s.d 0.80
Reliabel
>0,80 s.d 1,00
Sangat Reliabel

d.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dibuat sesuai dengan model pembelajaran yang dipakai pada masing-masing kelas.
e.Soal-soal latihan
Soal ini diberikan untuk memperbanyak latihan siswa agar siswa-siswi lebih paham terhadap materi yang telah diajarkan. Dalam proses belajar mengajar, kelas yang menggunakan model pendekatan tutor sebaya, soal diberikan dalam bentuk kuis, hal ini dilakukan untuk mengurangi kejenuhan siswa ketika mengerjakan soal, sehingga siswa-siswi tertarik dan merasa senang mengerjakannya. Dalam kuis, peserta didik tidak boleh bekerja sama dalam mengerjakan soal. Sedangkan pada pembelajaran konvensional, siswa disuruh mengerjakan soal tanpa menggunakan kuis. Soal-soal ini diberikan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa-siswi secara individu.
6.Metode Pengumpulan Data
Menyusun instrumen adalah pekerjaan penting di dalam penelitian. Akan tetapi mengumpulkan data jauh lebih penting lagi, terutama apabila peneliti menggunakan metode yang memiliki cukup besar celah untuk dimasuki unsur minat peneliti.
a.Metode Observasi
Observasi adalah menatap kejadian, gerak atau proses (Suharsimi Arikunto, 2002 : 205). Metode observasi ini dilakukan untuk mengambil data nilai sains. Dalam metode ini, peneliti mengadakan pengamatan yaitu mengetahui proses belajar mengajar di kelas.
b.Metode Tes
Tes adalah alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan (Suharsimi Arikunto, 2009 : 53). Metode tes dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur hasil prestasi belajar siswa. Tes dilakukan sebelum perlakuan dan setelah perlakuan untuk menunjukkan hasil belajar siswa pada sub pokok bahasan gaya dan gerak.

7.Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, data yang dipakai untuk menguji hipotesis adalah data hasil belajar sains. Hasil belajar siswa , dilihat dari hasil postes siswa. Soal yang digunakan untuk pretes dan postes terlebih dahulu harus dianalisis untuk mengetahui valid atau tidaknya, analisis butir soal ini dilakukan dengan menggunakan program ITEMAN meliputi reliabilitas tes, kesalahan pengukuran atau standard error dan distribusi skor. Untuk menghitung tingkat kesukaran atau tingkat kemudahan dapat menggunakan rumus:

Untuk mengukur tingkat kesukaran soal dapat digunakan ketentuan sebagai berikut (tim instruktur matematika, 1983):
Jika K 0,71 berarti mudah
Jika 0,30 K 0,70 berarti sedang
Jika K 0,30 berarti sukar
Akan tetapi, perkembangan terakhir, analisa tes tidak lagi membutuhkan waktu yang lama dan berbelit-belit, yaitu dengan menggunakan alat bantu komputer dengan program ITEMAN.
Dalam menganalisis data pada penelitian ini dilakukan evaluasi dan refleksi terlebih dahulu melalui semua catatan atau tindakan. Catatan diperoleh penelitian. Setelah semua data penelitian terkumpul kemudian dianalisis untuk mencapai tujuan-tujuan penelitian.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik kualitatif dan kuantitatif yaitu membandingkan data yang diperoleh dari kejadian-kejadian sebelum dilakukan tindakan dan kejadian-kejadian berikutnya setelah dilakukan tindakan.
Semua kejadian yang terjadi dan data-data yang didapat akan dimunculkan dalam bentuk tabel dari semua tindakan aktivitas, pemahaman konsep, sikap serta hasil belajar siswa.

Senin, 16 Agustus 2010

Proposal skripsi

PROPOSAL SKRIPSI

PENGGUNAAN METODE TUTOR SEBAYA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SAINS POKOK BAHASAN GAYA DAN GERAK PADA KELAS VI MI HIDAYATUSSIBYAN LANCAR
TAHUN PELAJARAN 2010/2011








Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh
Gelar Sarjana Strata Satu (S.1) Dalam Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
( FITK)


Disusun Oleh

SUHIRMAN
NIM : 1606011

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK) UNIVERSITAS SAINS AL-QURAN ( UNSIQ )
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2010
LEMBAR PERSETUJUAN


Proposal ini telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan tim penguji proposal Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan ( FITK ) Universitas Sains Al-Quran (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo pada :
Hari : ………………………………………..
Tanggal : ………………………………………..





Wonosobo, …...………....2010


Tim Pembimbing


Pembimbing I Pembimbing II


Novi Rarna Dewi S.SI M.Pd. Sri Jumini S.Pd.








DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……………………………………………………………..i
LEMBAR PERSETUJUAN……………………………………….………………ii
DAFTAR ISI PROPOSAL………………………………………..………………iii
A. JUDUL...................................................................................................1
B. LATAR BELAKANG MASALAH.......................................................2
C. IDENTIFIKASI MASALAH...............................................................3
D. PEMBATASAN MASALAH................................................................4
E. RUMUSAN MASALAH......................................................................5
F. PENEGASAN ISTILAH......................................................................6
G. TUJUAN PENELITIAN.......................................................................7
H. KAJIAN PUSTAKA.............................................................................8
I. HIPOTESES..........................................................................................9
J. METODE PENELITIAN....................................................................10
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR RIWAYAT HIDUP










DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : SUHIRMAN
NIM : 1606011
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tempat Tagl Lahir : Wonosobo, 13 September 1985
Alamat : Somogede RT 19/05, Kecamatan Wadaslintang Kabupaten Wonosobo
- MTs Lulus Th. 1999
- SMA Lulus Th. 2005
Demikian penulis buat dengan sebenar-benarnya.



Wonosobo, ……….2010


Penulis











A. JUDUL PENELITIAN
PENGGUNAAN METODE TUTOR SEBAYA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SAINS POKOK BAHASAN GAYA PADA KELAS VI MI HIDAYATUSSIBYAN LANCAR TAHUN AJARAN 2010/2011

B. LATAR BELAKANG MASALAH
Mata pelajaran Sains merupakan salah satu mata pelajaran yang ada pada jenjang pendidikan sekolah dasar dan tidak sedikit anak yang merasa kesulitan dalam mempelajari Sains, hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa dari tahun ke tahun.
Dari hasil observasi dan wawancara dengan pihak sekolah (guru bidang studi) terdapat beberapa permasalahan yang bisa peneliti disimpulkan, diantaranya: siswa hanya mengandalkan informasi dari guru saja (teacher oriented), perhatian siswa kurang pada saat proses pembelajaran, serta kurangnya kemampuan guru dalam memanfaatkan alat peraga yang ada.
Berdasarkan pengalaman mengajar guru, ternyata dari hasil ulangan Sains yang dilaksanakan pada setiap akhir bab cenderung memperoleh hasil yang masih belum mencapai standar, ini terlihat dari rata-rata untuk masing-masing kelas VI.A = 61,60 ; VI.B = 50,0. dari hasil yang diperoleh sebagi guru baik di kelas IV, V maupun VII selalu merasa kurang puas dengan hasil belajar siswa.
Sebagi tindak lanjut atas ketercapaian ketuntasan belajar siswa yang masih belum mencapai standar yang di tetapkan, maka guru merancang kegiatan remidial untuk beberapa siswa yang dianggap belum tuntas, baru setelah diadakan kegiatan remidial, ketuntasan klasikal tercapai, dan itupun mesti dilakukan berulang kali, bahkan pada beberapa materi yang dianggap lebih sulit ulangan perbaikan ( remedial ) perlu diulang lagi.
Mengingat terbatasnya waktu berdasar pembagian jumlah jam pelajaran pada kurikulum yang digunakan sekarang, sangat tidak memungkinkan untuk memberikan ulangan perbaikan di pagi hari ( Pada jam-jam efektif) karena akan menghambat materi-materi berikutnya, maka guru merasa perlu mencari solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan di atas.
Ada beberapa faktor lain juga yang menyebabkan rendahnya hasil belajar pada MI Hidayatussibyan Lancar. Dari hasil wawancara dengan guru bidang studi, sebagian besar siswa merasa malas belajar karena menganggap Sains identik dengan banyak hafalan. Mereka menganggap belajar Sains susah menghafalnya. Padahal belajar Sains sebenarnya tidak selalu harus menghafal, melainkan yang terpenting adalah bagaimana siswa memahami konsep-konsep yang mendasar. Selain dari faktor siswa, pembelajaran konvensional yang dilakukan oleh guru juga mempengaruhi hasil belajar siswa.
Belajar Sains lebih menekankan penalaran dalam pemahaman konsep melalui pembelajaran. Belajar Sains harus mau berfikir, sering disosialisasikan dengan kreativitas dan pemecahan masalah. Tanpa adanya rasa keingintahuan yang kuat atau motivasi tinggi hal tersebut tidak dapat tercapai.
Untuk mengatasi masalah tersebut, penggunaan model pembelajaran yang tepat sehingga nantinya bisa meningkatkan hasil belajar sangat menentukan. Oleh karena itu salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa adalah model pembelajaran Tutor Sebaya. Dalam model pembelajaran ini siswa didorong untuk terlibat secara optimal dalam pembelajaran. Berdasarkan latar belakang tersebut di atas peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul “ Upaya meningkatkan Hasil Belajar Sains Melalui Penerapan metode Tutor Sebaya Pokok bahasan Gaya Pada Siswa Kelas VI MI Hidayatussibyan Lancar Kecamatan Wadaslintang Tahun Pelajaran 2009/2010.

B. IDENTIFIKASI MASALAH
1. Mengapa guru MI Hidayatussibyan Lancar belum menggunakan metode yang membuat siswa lebih aktif belajar ?
2. Apakah metode Tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar Sains kelas VI MI Hidayatussibyan Lancar ?
C.PEMBATASAN MASALAH
Mengingat luasnya permasalahan yang di hadapi, maka penelitian ini di batasi pada penggunaan metode Tutor Sebaya dalam meningkatkan hasil belajar Sains pada materi pokok Gaya di kelas VI MI Hidayatussibyan Lancar Tahun Pelajaran 2010/2011.

D. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalahnya adalah Bagaimana Penerapan Metode Tutor Sebaya dalam Meningkatkan Hasil Belajar Sains Kelas VI Siswa MI Hidayatussibyan Lancar Kecamatan Wadaslintang.
E.PENEGASAN ISTILAH
Supaya tidak terjadi kesalahan dalam mengartikan istilah-istilah yang digunakan judul ini maka perlu adanya penegasan istilah. Penegasan istilah dalam judul ini adalah sebagai berikut :
1. Pengertian Hasil Belajar.
Hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan murid dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu.Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnaya. Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran.
Proses penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi terhadap guru tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui kegatan belajar. Selanjutnya dari informasi tersebut guru dapat menyusun dan membina kegiatan-kegiatan siswa lebih lanjut, baik untuk keseluruhan kelas maupun individu.


Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar :
1). Kesiapan belajar
2). Motivasi.
3). Keaktifan siswa
3. Pengertian Metode Pembelajaran.
Metode Pembelajaran adalah cara guru menyampaikan materi pembelajaran
kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu . Metode pembelajaran adalah salah satu hal yang harus dikuasai guru agar siswa dapat memahami materi pelajaran yang disampaikan guru.
4. Tutor Sebaya.
Tutor Sebaya dikenal dengan pembelajaran teman Sebaya atau antar peserta didik, hal ini bisa terjadi ketika peserta didik yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan kemudian membantu peserta didik lain yang kurang mampu. Alternatifnya, waktu khusus tiap harinya harus dialokasikan agar peserta didik saling membantu dalam belajar baik satu-satu atau kelompok kecil ketika mengungkapkan ataupun menyelesaikan permasalahan.
5. MI Hidayatussibyan Lancar
MI Hidayatussibyan Lancar beralamat di Desa Lancar, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo Kode pos 56365. Sekolah ini terletak di sebelah barat kecamatan. MI Hidayatussibyan Lancar terdiri dari 2 tempat. Sekolah ini memiliki 14 ruang kelas yang jumlah setiap kelasnya rata-rata 28 siswa, dan jumlah guru 17 yaitu 14 guru Guru Kelas, 1 TU, 1 Tukang kebun dan 1 Kepala Sekolah.

E. TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan Umum
Secara umum penelitian ini bertujuan agar dengan digunakannya metode tutor sebaya dalam pembelajaran Sains dapat bermanfaat bagi siswa dan guru serta untuk mengungkap secara jelas dan menyeluruh dan mendapat informasi yang akurat mengenai penerapan tutor sebaya dalam mengatasi kesulitan belajar Sains
2. Tujuan Khusus
Adapaun tujuan khusus dari penelitian ini :“Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahwa dengan menerapkan metode Tutor sebaya pada proses belajar mengajar diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar Sains pada siswa kelas VI MI Hidayatussibyan Lancar Kecamatan Wadaslintang Tahun pelajaran 2010/2011.”

F. HIPOTESIS
Sebagai jawaban sementara atas permasalahan diatas bahwa:
1. Proses pembelajaran dengan menggunakan metode Tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar Sains MI Hidayatussibyan Lancar .
2. Dengan Menggunakan metode Tutor Sebaya dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran siswa yang efektif, aktif dan kreatif.

G. KAJIAN PUSTAKA
Pembelajaran Tutor sebaya adalah suatu pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam rangka memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Gaya dan Gerak:
Ketepel sering dibuat anak-anak untuk melontarkan batu kecil dengan cepat ke satu sasaran.Gaya apa yang terdapat pada ketepel? Banyak alat-alat yang dapat bergerak akibat gaya yang diberikan pada benda tersebut misalnya pada jungkat jungkit, traktor pegas, dan perahu air. Apakah ada hubungan antara gaya dan gerak?



1.Hubungan antara Gaya dan Gerak

Pernahkah mencoba mainan traktor pegas, jungkat-jungkit, dan panah? Model tersebut dapat dibuat dengan mudah, bahan yang diperlukan salah satunya harus memiliki gaya pegas yang dapat mendorong benda lainnya. Untuk mempelajari hubungan gaya dan gerak, contoh alat yang berhubungan gaya dan gerak.
a).Traktor Pegas
Mainan traktor sederhana dapat dibuat dari kelosan benang, karet gelang sebagai pegas, lilin, batang kayu, dan paku kecil.
b). Panah
Panah terdiri dari busur dan anak panah. Panah sederhana dapat dibuat dari batang kayu atau belahan bamboo yang lentur, tali, dan anak panah terbuat dari bambu atau batang plastik.
Pada panah, gaya pegas terdapat pada busurnya. Tali digunakan untuk menarik busur sampai melengkung. Ketika tali dilepaskan, bentuk busur akan kembali ke semula, menarik kembali tali yang membawa anak panah, sehingga anak panah akan terdorong dengan cepat dan jauh Menggunakan panah untuk mencapai sasaran yang tepat memerlukan keterampilan yang sangat tinggi. Oleh karena itu, olahraga memanah termasuk yang dilombakan di Olimpiade.
c). Jungkat-Jungkit.
Jungkat-jungkit pada awalnya diam (seimbang). Setelah ditekan ke bawah, kemudian dilepaskan, maka jungkat-jungkit bergerak naik turun. Ditekan berarti diberi gaya. Demikian pula ketika jungkat-jungkit diberi uang logam, maka jungkat-jungkit bergerak, mengapa? Uang logam tersebut memiliki berat dan berat itu termasuk gaya. Jadi, gaya menyebabkan jungkat-jungkit bergerak. Gaya pegas mempengaruhi gerak benda.

2. Penggunaan Alat yang Berhubungan dengan Gaya dan Gerak

Permainan jungkat-jungkit di bagian bawah tempat duduk terpasang pegas atau per. Pegas atau per sifatnya jika ditekan akan kembali ke semula sehingga benda yang di atasnya ikut bergerak. Dengan adanya per, jungkat-jungkit dapat memantul ketika digunakan. Berdasarkan pengamatan pada benda-benda tersebut ternyata gaya pegas yang menimbulkan dorongan dapat membantu berbagai pekerjaan dan membuat alat-alat lebih nyaman dipakai. Bahan apa yang dapat dibuat pegas pada benda-benda tersebut? Selain gaya pegas, gaya apa lagi pada benda yang gerakannya bermanfaat? Alat-alat yang dibuat ada yang harus diperhatikan penggunaannya. Kesimpulan tentang hubungan antara gaya dan gerak: Adanya hubungan antara gaya dan gerak dapat dimanfaatkan untuk alat-alat dalam kehidupan. Gerakan-gerakan yang diakibatkan suatu gaya dapat dimanfaatkan untuk benda-benda yang berguna bagi kehidupan manusia.


H. METODE PENELITIAN
1.Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.
2. Subyek penelitian.
Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Kelas VI MI Hidayatussibyan lancar.Kecamatan Wadaslintang
3.Desain penelitian
Penelitian ini dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dan guru Kelas VI yang dilaksanakan menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
4.Tempat Penelitian.
Dalam penelitian ini penulis mengambil tempat di MI Hidayatussibyan lancar.Kecamatan Wadaslintang
5.Sumber Data.
Sumber data primer berasal dari nilai ulangan harian Sains kelas VI. Sedangkan sumber data sekunder berasal dari hasil pengamatan.
6.Teknik dan Alat Pengumpulan Data.
1)Teknik Pengumpul Data
a) Tes berupa soal ulangan harian.
b) Non tes berupa pengamatan, ceck list, dan angket.
2).Alat pengumpul Data.
a) Teknik tes.
Berupa lembar kerja siswa ( LKS ), butir ulangan harian.
b) Teknis non tes
7. Analisis Data
Setelah data-data terkumpul dan disusun maka langkah selanjutnya adalah menganalisis data tersebut untuk mencari kebenaran hipotesis yang telah diajukan
Data kuantitatif akan dianalisis dengana analisis deskriptif komparatif dengan melihat perbandingan nilai ulangan harian pada setiap siklus rangkuman dan disimpulkan. Sedangkan data kualitatif akan dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif.
8. Indikator Kerja.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi pembelajaran, dalam hal ini hasil belajar siswa kelas VI MI Hidayatussibyan lancar.Kecamatan Wadaslintang, Oleh karena itu indikator keberhasilan pelitian ini ini ditandai dengan adanya peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa setelah menggunakan metode Tutor sebaya. Indikator keberhasilan yang lain yaitu terpenuhinya batas kriteria kelulusan minimal ( KKM ) yang berlaku disekolah tersebut seorang siswa dikatakan tuntas belajar bila telah mencapai skor 65. Secara klasikal ketuntasan siswa mencapai 70%.

9. Prosedur Tindakan.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian tindakan kelas. Menurut Hardjodipuro PTK adalah suatu pendekatan untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan, dengan mendorong para guru untuk memikirkan praktis untuk mengajarnyasendiri agar kritis terhadap praktis tersebut untuk merubahnya. Tahapan PTK sebagai berikut:
a) Perncanaan ( planning )
b) Pelaksanaanya ( acting )
c) Pengamatan ( observing )
d) Refleksi ( reflecting )
Tahapan-tahapan tindakannya sebagai berikut :
1). Perencanaan ( planning )
a) Kegiatan pendahuluan
Motivasi:
1) Apa yang menyebabkan batu dapat terlempar dari ketapel.?
Prasarat pengetahuan Pengaruh Gaya terhadap Gerak
Siswa telah membaca referensi tentang Gaya dan Gerak.
b). Kegiatan Inti.
Siswa membentuk kelompok kerja untuk mendiskusiksan tentang Gaya
dan gerak.
1) Siswa menuliskan jawaban pertanyaan yang ditulis guru dipapan tulis
2) Guru memberikan soal-soal Gaya dan gerak pada tiap kelompok.
3) Siswa mendiskusikan jawaban soal dalam kelompok masing-masing yang di bimbing oleh satu tutor.
4) Perwakilan kelompok menuliskan jawaban dipapan tulis.
c). Kegiatan Penutup.
1) Guru membimbing siswa membuat kesimpulan.
2) Guru mengadakan pos tes secara lesan.
3) Guru memberikan tugas
2). Pelaksanaan Tindakan.
Pembelajaran dilaksanakan dengan metode Tutor sebaya, Tutor Sebaya dikenal dengan pembelajaran teman Sebaya atau antar peserta didik, hal ini bisa terjadi ketika peserta didik yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan kemudian membantu peserta didik lain yang kurang mampu. Alternatifnya, waktu khusus tiap harinya harus dialokasikan agar peserta didik saling membantu dalam belajar baik satu-satu atau dalam kelompok kecil.
3). Observasi
Observasi dilakukan oleh guru peneliti dibantu oleh guru fisika sebagai pengamat . Observasi yang dilakukan meliputi pengamatan kemampuan psikomotorik siswa dan ketrampilan efektif siswa pada saat berlangsungnya kegiatan pembelajaran dengan menggunakan instrument observasi yang telah disiapkan.
4). Refleksi.
Pada tahap ini observasi dianalisis yang kemudian akan digunakan sebagai refleksi., manakan langkah-langkah pembelajaran yang kurang atau sudah dapat meningkatkan prestasi belajar fisika dengan metode tutor sebaya. Hasil observasi dan refleksi digunakan dalam menentukan perbaikan pada siklus pembelajaran berikutnya. Hal ini bertujuan untuk melakukan penyempurnaan pada siklus berikutnya.






















DAFTAR PUSTAKA

Sardiman A.M., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : PT Raja
Grafindo Persada, 2007
Yayat Ibayati, Sri Anggraeni, Ilmu Pengetahuan Alam: SD/MI Kelas VI/, Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
Peraturan Mentri Agama Rebublik Indonesia, Nomor 2 Tahun 2008.
Departemen Agama RI , Standar Isi Madrasah Ibtidaiyah, 2006
Ismail S.M., Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM,
Semarang : RASAIL Media Group, 2008
Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta : PT Raja Grafindo
Persada, 2008













A. Pilih jawaban yang paling tepat!
1. Benda-benda yang prinsip kerjanya menggunakan gaya pegas adalah
. . . .
a. gunting dan engsel c. ketepel dan panah
b. katrol dan roda d. jungkat-jungkit dan panah
2. Traktor mainan dapat bergerak karena gaya
. . . .
a. gravitasi
b. pegas
c. magnet
d. otot
3. Bahan-bahan di bawah ini untuk membuat traktor pegas, kecuali . . . .
a. karet gelang c. batang kayu
b. kelosan d. ranting bentuk Y
4. Perhatikan gambar model perahu berikut ini.
Perahu bergerak karena . . .
a. tarikan karet pada batu
b. batu mudah dilemparkan
c. karet yang meregang kembali ke semula
d. dorongan tangan pada batu
5. Bahan yang baik untuk membuat pegas atau per mobil adalah . . .
a. karet c. plastik
b. besi d. kain
6. Pada panah yang mempunyai gaya pegas pada
saat digunakan adalah . . . .
a. I
b. II
c. III
d. IV
II
I
III
IV
104
Ilmu Pengetahuan Alam SD dan MI Kelas VI
7. Jungkat-jungkit menjadi tidak seimbang karena ada gaya yang
berbeda. Gaya tersebut adalah gaya . . . .
a. dorong c. tarik
b. tekan d. magnet
8. Hubungan gaya dan gerak yang tepat terdapat pada . . . .
a. gaya gravitasi dengan gerak menggelinding
b. gaya listrik dengan gerak jatuh
c. gaya pegas dengan gerak mendorong
d. gaya gesekan dengan gerak tarik menarik
B. Salin dan lengkapi titik-titik berikut ini dengan benar!
1. Gaya pegas ditimbulkan akibat adanya tarikan dan . . . .
2. Olahraga yang menggunakan gaya pegas contohnya adalah . . . .
3. Makin jauh tarikan busur, anak panah akan terlontar makin . . . .
4. Benda yang menggunakan pegas untuk menimbang disebut . . . .
5. Traktor mainan dapat berjalan jauh karena . . . .
C. Jawab pertanyaan berikut dengan jelas dan singkat!
1. Jelaskan pengertian gaya pegas!
2. Jelaskan hubungan gaya pegas dan gerak pada mainan traktor pegas!
3. Bagaimana cara menggunakan panah agar kena sasaran dengan tepat?
4. Gambarkan mainan jungkat-jungkit. Mengapa anak-anak yang naik
jungkat-jangkit bisa naik turun?
5. Kalau kamu main panahan, apa saja hal-hal yang harus diperhatikan?
D. Tugas
Cari benda-benda di sekitarmu yang menggunakan gaya pegas, gaya
magnet, dan gaya gesek pada saat penggunaannya