KONSEP DASAR ILMU SOSIAL
PENGERTIAN KONSEP
Pengertian yang tergambar dalam pikiran yang menceritakan suatu benda atau suatu gagasan baik konkrit atau abstrak Konsep IPS: suatu pengertian yang menceritakan suatu fenomena atau benda yang berkaitan dengan IPS- Konsep IPS disini bisa bermakna konotatif atau pun juga denotatif
KONSEP GEOGRAFI
1. Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dg sudut pandang lingkungan atau kewilayahan dalam kontek keruangan”
2. Obyek studi geografi: Geosfer/ permukaan bumi terdiri dari : atmosfer/lap. Udara, hidrosfer/lap.air , litosfer/lap batuan, biosfer/ lap Kehidupan-
KONSEP DASAR GEOGRAFI
a.Konsep bumi sebagai Planet
b. Variasi cara hidup
c. Variasi wilayah-wilayah alami
d. Makna Wilayah bg manusia
e. Pentingnya Lokasi dalam memahami peristiwa dunia
KONSEP SEJARAH
-Masa lampau (tidak dapat diulang kembali)
-Obyek bs berupa benda, peristiwa, riwayat, pengalaman
-Digambarkan/ dinarassikan sbg fakta
-Semua obyek dianalisis/ ditafsirkan/ diteliti dg menggunakan metode tertentu yang sesuai.
Dengan menggunakan metode peristiwa masa lampau dapat direkuntruksi dan disusun kenbali sehingga bs menjadi pelajaran dan peringatan-peringatan ( ada ungkapan sejarah berulang kembali/ meangambil pelajaran dari sejarah
PENGERTIAN SEJARAH
Sejarah adalah: Gambaran tentang peristiwai-pegawai masa lampau yang dialami manusia, disusun scr alamiah meliputi urutan waktu, diberi tafsiran dan analisis kritis sehingga mudah dipahami dan dimengerti dan dipahami
HUB SEJARH DAN WAKTU
Dengan mempelajari masa lampau dan dihubungkan dengan pengalaman / kejadian aktual saat ini kita dpt mengkaji / mengetahui perkembangan shg kejadian-kejadian mendatang dapat diprediksi.-
Maka mempelajari sejarah bukan merupakan suatu kegiatan yang statis malah justru mrp telah yang dinamis ke masa yang akan datang)
KONSEP DASAR SEJARAH
-Waktu
-Dokumen
-alur peristiwa
-kronologis
-peta
-tahap-tahap peradapan
=Ruang
-evolusi
-revolusi
Waktu lampau menjelaskan sifat bobot dan warna peristiwa yang bersangkutan.Peristiwa sejarah dpt dinyatakan sejarah jk berkaitan dg waktu.Sejarah mengungkapkan kapan terjadinya suatu peristiwa. Dan Geografi memberi petunjuk dimana peristiwa itu terjadi.PETA alat bantu tentang lokaasi suatu peristiwa terjadi.
ALUR rentetan peristiwa berdasrkan urutan waktu terjadinya.
KONSEP DASAR ANTROPOLOGI
Kebudayaan
Tradisi
Pengetahuan
Ilmu
Teknologi
Norma
Lembaga
Seni
Bahasa
Lambang
-Kebudayaan adalah hal-hal yang berhubungan dg budi dan atau akal(Kuntjaraningrat)#-Tradisi=kebiasaan- kebiasaan yang terpolakan secara budayadi masyarakat#Kebiasaan lebih melekat pada perorangan sedangkaan tradisi melekat pada kehidupan dan alam pikiran masyarakat.
Mengetuk pintu, tegur sapa, berpakaian rapi merupakankebiasaan , Namun pulang mudik leabaran di masyrakat taertentu masmih mrpk tradisi
Penget. Ilmu DAN Tekonologi merupakan konsep dasar yang terkakit dengan belajar, ketiga nya sangat erat maka digabungkan dengan IPTEK
NILAI DAN NORMA
1. Dalam kehidupan masyarakat melekat apa yang dikatakan baik, buruk, sopan tak sopan, cocok dan tak cocok, salah benar, hal ini merupakan nilai –
2. Sedangkan norma lebih mengarah pada ukuran dan aturan kehidupan yang berlaku dalam masyarakat (tapi tak tertulis)
Nilai mengatur, membatasi, menjaga keserasian hidup dalam masyarakat. Orang yang tak sopan berarti orang tsb tak mempunyai nilai
Contoh orang yang bertanya di kelas hrs mengacungkan terlebih dahulun dan dalam bertanya harus sopan
(angkat tangan itu norma dan kesopanan itu nilai)
PRANATA VS LEMBAGA
*
Pranata (intitution) adalah sistem norma atau aturan-aturan yang mengenai suatu aktivitas yag khusus
*
Lembaga adalah Badan yang melaksanakna aktivitas dari panata
No Lembaga, Intitut, organisasi Pranata, Institution
1 SMPN 3 Tarakan Sekolah Menengah
2 FKIP Pendidikan guru
3 IPSI Olah raga silat
4 Dep HANKAM Keamanan Neg.
5 BNI 46 Bank
6 PSSI Olah raga sepak Bola
KONSEP DASAR SOSIOLOGI
Sosiologi adalah ilmu sosial yang scr khusus mempelajari interaksi sosial .
Frank H. Hankin mendefinisikan sosiologi adalah studi ilmiah tentang fenomena yang timbul dari hubungan kelompok umat manusia.
MATERI POKOK SOSIOLOGI
Interaksi sosial
Sosialisasi
Kelompok Sosial
Perlapisan Sosial
Proses Sosial
Perubahan sosial
Mobilisasi sosial
Modernisasi
Patologi sosial
Dsn konsep lain yang ada di masy.
Manusia sebagai makhluk sosial selalu mengadakan interaksi , baik itu interaksi edukatif, intr ekonomi, interkasi budaya, dan intreaksi politik.
Sosialisasi adalah Proses penenaman nilai dan pembelajaran norma sosial dalam rangka pengembangan individu yang bersangkutan.
Kelompok Sosisal: kumpulan manusia yang terdiri dari dua orang atau lebih yang saling mengenal dalm waktu relatif lama, ada kaitan senasib diikat oleh nilai dan norma yang sama serta memiliki rasa persatuan.
Ikatan persamaan spt pendidikan, ekonomi, mata pencaharian,
Shg ada kel miskin, menengah , kaya yang ini namanya perlapisan sosial
Proses sosial tak pernah berhenti dalam masyarakat, sll beranjak dari tingkat terbelakang-berkembang- modern. sbg akibat dari proses sosial trjd perubahan sosial, jk proses sosial daan perubahan ini mengarah pada kpd kemajuan , mk masy. Tsb mengalamai proses modernisasi.
Terjadinya proses sosial, perubahan sosial, dan modernisasi (perorangan/kel) akan mengakibatkan perubahan status dari lapisan bwah-menengah-atas.
Perubahan status baik perorangan maupun kelompok disebut mobilitas sosial.
Terjadinya proses sosial, perubahan sosial, dan modernisasi (perorangan/kel) akan mengakibatkan perubahan status dari lapisan bwah-menengah-atas.
Perubahan status baik perorangan maupun kelompok disebut mobilitas sosial.
Patologi Sosial adalah segala penyakit masy. yang menjadi masalah sosial. Spt kejahatan, penganguran, kemiskinan, gelandangan, tawuran remaja dll.
PSIKOLOGI SOSIAL
Psikoloogi sosial adalah studi ilmiah tenatng proses mental manusia sebagai makhluk sosial.
Psikologi sosial dapat didefinisikan juga sebagai ilmu tentang pperistoiwa perilaku antarpersonal.
MATERI POKO PSIKOLOGISOSIAL
Emosi. Perhatian . Minat Kemauan
Motivasi kecerdasan Penghayatan
Kesadaran
Harga diri, Sikap mental
Kepribadian
Selasa, 05 Oktober 2010
Jadwal Kuliah PGSD
ENIN 07:00 - 08:40 F12 - 108 (LAB IPA) PENDIDIKAN IPA SD Djukri 3 III.A Kampus 2
SENIN 07:00 - 08:40 F12 - 108 (LAB IPA) PENDIDIKAN IPA SD Woro Sri Hastuti 3 III.A Kampus 2
SENIN 11:00 - 13:50 F12 - 108 (LAB IPA) PENDIDIKAN IPA SD Djukri 3 III.A Kampus 2
SENIN 11:00 - 13:50 F12 - 108 (LAB IPA) PENDIDIKAN IPA SD Woro Sri Hastuti 3 III.A Kampus 2
SENIN 14:00 - 15:40 F14 - 102 TEORI BILANGAN T. Wakiman 3 III.A Kampus 2
SELASA 07:00 - 08:40 F14 - 102 MANAJEMEN PENDIDIKAN Sudiyono 3 III.A Kampus 2
SELASA 09:00 - 10:40 F11 - 104 PENELITIAN PENDIDIKAN Harun Rasyid 3 III.A Kampus 2
SELASA 11:00 - 13:50 F11 - 104 PENELITIAN PENDIDIKAN Harun Rasyid 3 III.A Kampus 2
SELASA 14:00 - 15:40 F16 - 102 PSIKOLOGI PENDIDIKAN Diana Septi Purnama 3 III.A Kampus 2
RABU 07:00 - 09:30 F11 - 104 PENGEMBANGAN KONSEP DASAR IPS Anwar Senen 3 III.A Kampus 2
RABU 09:40 - 11:50 F14 - 101 KEMAMPUAN BERBAHASA & SASTRA INDONESIA HB. Sumardi 3 III.A Kampus 2
KAMIS 07:00 - 08:40 F11 - 105 STRATEGI BELAJAR MENGAJAR Anik Ghufron 3 III.A Kampus 2
KAMIS 11:00 - 13:50 F11 - 104 PENDIDIKAN KESEHATAN ANAK SD Sudarmanto 3 III.A Kampus 2
SENIN 07:00 - 08:40 F12 - 108 (LAB IPA) PENDIDIKAN IPA SD Woro Sri Hastuti 3 III.A Kampus 2
SENIN 11:00 - 13:50 F12 - 108 (LAB IPA) PENDIDIKAN IPA SD Djukri 3 III.A Kampus 2
SENIN 11:00 - 13:50 F12 - 108 (LAB IPA) PENDIDIKAN IPA SD Woro Sri Hastuti 3 III.A Kampus 2
SENIN 14:00 - 15:40 F14 - 102 TEORI BILANGAN T. Wakiman 3 III.A Kampus 2
SELASA 07:00 - 08:40 F14 - 102 MANAJEMEN PENDIDIKAN Sudiyono 3 III.A Kampus 2
SELASA 09:00 - 10:40 F11 - 104 PENELITIAN PENDIDIKAN Harun Rasyid 3 III.A Kampus 2
SELASA 11:00 - 13:50 F11 - 104 PENELITIAN PENDIDIKAN Harun Rasyid 3 III.A Kampus 2
SELASA 14:00 - 15:40 F16 - 102 PSIKOLOGI PENDIDIKAN Diana Septi Purnama 3 III.A Kampus 2
RABU 07:00 - 09:30 F11 - 104 PENGEMBANGAN KONSEP DASAR IPS Anwar Senen 3 III.A Kampus 2
RABU 09:40 - 11:50 F14 - 101 KEMAMPUAN BERBAHASA & SASTRA INDONESIA HB. Sumardi 3 III.A Kampus 2
KAMIS 07:00 - 08:40 F11 - 105 STRATEGI BELAJAR MENGAJAR Anik Ghufron 3 III.A Kampus 2
KAMIS 11:00 - 13:50 F11 - 104 PENDIDIKAN KESEHATAN ANAK SD Sudarmanto 3 III.A Kampus 2
Ketoprak
Ketoprak (bahasa Jawa: kethoprak) adalah sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa. Dalam sebuah pentasan ketoprak, sandiwara yang diselingi dengan lagu-lagu Jawa, yang diiringi dengan gamelan disajikan.
Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Banyak pula diambil cerita dari luar negeri. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata. Sebab nanti pertunjukkan bukan ketoprak lagi melainkan menjadi pertunjukan wayang orang.
Beberapa tahun terakhir ini, muncul sebuah genre baru; Ketoprak Humor yang ditayangkan di stasiun televisi RCTI. Dalam pentasan jenis ini, banyak dimasukkan unsur humor.
Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Banyak pula diambil cerita dari luar negeri. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata. Sebab nanti pertunjukkan bukan ketoprak lagi melainkan menjadi pertunjukan wayang orang.
Beberapa tahun terakhir ini, muncul sebuah genre baru; Ketoprak Humor yang ditayangkan di stasiun televisi RCTI. Dalam pentasan jenis ini, banyak dimasukkan unsur humor.
Komedi
Melawak merupakan suatu usaha untuk membuat orang lain tertawa, atau sekadar membuat orang lain gembira. Caranya bermacam-macam, tergantung si pelawak dan biasanya disesuaikan dengan kondisi orang yang akan dibuat tertawa. Cara yang paling umum adalah dengan mengucapkan lelucon, dengan subjek lelucon orang lain, atau diri sendiri. Cara lainnya adalah dengan tingkah laku yang dibuat-buat hingga dapat terlihat lucu dan pentas ditertawakan di hadapan orang lain. Belakangan ini, lawak menjadi salah satu program utama di beberapa stasiun televisi baik di Indonesia maupun di mancanegara.
Di Indonesia bentuk lawak yang paling terkenal adalah grup lawak, melawak dengan beberapa pelawak yang menggabungkan diri menjadi satu kelompok dan mementaskan suatu cerita lucu. Masing-masing memerankan satu karakter dan kelucuan yang terjadi berasal dari interaksi antar karakter-karakter ini. Beberapa contoh grup lawak seperti ini adalah Srimulat, Warkop DKI dan Patrio.
Di Amerika Serikat yang lebih terkenal adalah standup comedy, di mana seorang pelawak berdiri di depan penonton dan mengucapkan monolog mengenai sesuatu. Jenis lawakan seperti ini lebih bergantung pada cara penyampaian dan isi cerita. Contoh-contoh pelawak standup adalah Robin Williams, Jim Carrey, Jerry Seinfeld, Jeff Foxworthy, dan Eddie Izzard.
Selain itu juga terdapat beberapa kelompok lawak dari Inggris dan Amerika seperti Monty Python dan Marx Brothers.
Di Indonesia bentuk lawak yang paling terkenal adalah grup lawak, melawak dengan beberapa pelawak yang menggabungkan diri menjadi satu kelompok dan mementaskan suatu cerita lucu. Masing-masing memerankan satu karakter dan kelucuan yang terjadi berasal dari interaksi antar karakter-karakter ini. Beberapa contoh grup lawak seperti ini adalah Srimulat, Warkop DKI dan Patrio.
Di Amerika Serikat yang lebih terkenal adalah standup comedy, di mana seorang pelawak berdiri di depan penonton dan mengucapkan monolog mengenai sesuatu. Jenis lawakan seperti ini lebih bergantung pada cara penyampaian dan isi cerita. Contoh-contoh pelawak standup adalah Robin Williams, Jim Carrey, Jerry Seinfeld, Jeff Foxworthy, dan Eddie Izzard.
Selain itu juga terdapat beberapa kelompok lawak dari Inggris dan Amerika seperti Monty Python dan Marx Brothers.
Pantun
Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan, dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan, dan dalam bahasa Batak dikenal sebagai umpasa (baca: uppasa). Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), bersajak akhir dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a (tidak boleh a-a-b-b, atau a-b-b-a). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.
Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.
Karmina dan talibun merupakan bentuk kembangan pantun, dalam artian memiliki bagian sampiran dan isi. Karmina merupakan pantun "versi pendek" (hanya dua baris), sedangkan talibun adalah "versi panjang" (enam baris atau lebih).
Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.
Karmina dan talibun merupakan bentuk kembangan pantun, dalam artian memiliki bagian sampiran dan isi. Karmina merupakan pantun "versi pendek" (hanya dua baris), sedangkan talibun adalah "versi panjang" (enam baris atau lebih).
Novel
Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif; biasanya dalam bentuk cerita. Penulis novel disebut novelis. Kata novel berasal dari bahasa Italia novella yang berarti "sebuah kisah, sepotong berita".
Novel lebih panjang (setidaknya 40.000 kata) dan lebih kompleks dari cerpen, dan tidak dibatasi keterbatasan struktural dan metrikal sandiwara atau sajak. Umumnya sebuah novel bercerita tentang tokoh-tokoh dan kelakuan mereka dalam kehidupan sehari-hari, dengan menitik beratkan pada sisi-sisi yang aneh dari naratif tersebut.
Novel dalam bahasa Indonesia dibedakan dari roman. Sebuah roman alur ceritanya lebih kompleks dan jumlah pemeran atau tokoh cerita juga lebih banyak.
Novel lebih panjang (setidaknya 40.000 kata) dan lebih kompleks dari cerpen, dan tidak dibatasi keterbatasan struktural dan metrikal sandiwara atau sajak. Umumnya sebuah novel bercerita tentang tokoh-tokoh dan kelakuan mereka dalam kehidupan sehari-hari, dengan menitik beratkan pada sisi-sisi yang aneh dari naratif tersebut.
Novel dalam bahasa Indonesia dibedakan dari roman. Sebuah roman alur ceritanya lebih kompleks dan jumlah pemeran atau tokoh cerita juga lebih banyak.
Cerpen
Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.
Cerita pendek berasal dari anekdot, sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya, dengan parallel pada tradisi penceritaan lisan. Dengan munculnya novel yang realistis, cerita pendek berkembang sebagai sebuah miniatur, dengan contoh-contoh dalam cerita-cerita karya E.T.A. Hoffmann dan Anton Chekhov.
Cerita pendek berasal dari anekdot, sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya, dengan parallel pada tradisi penceritaan lisan. Dengan munculnya novel yang realistis, cerita pendek berkembang sebagai sebuah miniatur, dengan contoh-contoh dalam cerita-cerita karya E.T.A. Hoffmann dan Anton Chekhov.
Sage
Sage adalah perangkat lunak bebas GNU yang dipakai untuk penyelesaian berbagai masalah matematika seperti analisis numerik, aljabar, kombinatorik dan kalkulus. Perangkat lunak ini dirancang agar dapat setara dengan kemampuan perangkat lunak MATLAB, Maple, Magma, dan Mathematica.
Mitte
Mitte di Berlin merupakan pusat ibu kota Jerman. Pada tanggal 1 Januari 2001, tiga mantan Bezirke Mitte, Tiergarten dan Wedding bergabung menjadi Bezirk Mitte. Namun di mulut rakyat, "Mitte" artinya sampai sekarang masih mantan Bezirk Berlin-Mitte, dan bukan Bezirk ini secara keseluruhan.
Di Bezirk ini sebagian besar gedung-gedung pemerintahan Jerman terdapatkan. Selain itu sebagian besar Kedutaan Besar negara-negara sahabat juga terletak di Bezirk ini.
Di Bezirk ini sebagian besar gedung-gedung pemerintahan Jerman terdapatkan. Selain itu sebagian besar Kedutaan Besar negara-negara sahabat juga terletak di Bezirk ini.
LEGENDA
Legenda (Latin legere) adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang enpunya cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Oleh karena itu, legenda sering kali dianggap sebagai "sejarah" kolektif (folk history). Walaupun demikian, karena tidak tertulis, maka kisah tersebut telah mengalami distorsi sehingga sering kali jauh berbeda dengan kisah aslinya. Oleh karena itu, jika legenda hendak dipergunakan sebagai bahan untuk merekonstruksi sejarah, maka legenda harus dibersihkan terlebih dahulu bagian-bagiannya dari yang mengandung sifat-sifat folklor Menurut Pudentia[rujukan?], legenda adalah cerita yang dipercaya oleh beberapa penduduk setempat benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci atau sakral yang juga membedakannya dengan mite. Dalam KBBI 2005[1], legenda adalah cerita rakyat pada zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah. Menurut Emeis[rujukan?], legenda adalah cerita kuno yang setengah berdasarkan sejarah dan yang setengah lagi berdasarkan angan-angan. Menurut William R. Bascom[rujukan?], legenda adalah cerita yang mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan mite, yaitu dianggap benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Menurut Hooykaas[rujukan?], legenda adalah dongeng tentang hal-hal yang berdasarkan sejarah yang mengandung sesuatu hal yang ajaib atau kejadian yang menandakan kesaktian.
FABEL
Fabel, diambil dari bahasa Belanda adalah cerita yang menggunakan hewan sebagai tokoh utamanya. Misalkan cerita kancil atau cerita Tantri di Indonesia.
Banyak satrawan dan penulis dunia yang juga memanfaatkan bentuk fabel dalam karangannya. Salah seorang pengarang fabel yang terkenal adalah Michael de La Fontaine dari Perancis. Penyair Sufi Fariduddin Attar dari Persia juga menuliskan karyanya yang termashur yakni Musyawarah Burung dalam bentuk fabel.
Biasa pada sebuah fabel tersirat moral atau makna yang lebih mendalam.
Banyak satrawan dan penulis dunia yang juga memanfaatkan bentuk fabel dalam karangannya. Salah seorang pengarang fabel yang terkenal adalah Michael de La Fontaine dari Perancis. Penyair Sufi Fariduddin Attar dari Persia juga menuliskan karyanya yang termashur yakni Musyawarah Burung dalam bentuk fabel.
Biasa pada sebuah fabel tersirat moral atau makna yang lebih mendalam.
WACANA TULIS DAN LISAN
Beberapa ahli bahasa memiliki anggapan bahwa mulanya linguistik bagian dari filsafat. Namun, karena kajian sebelumnya itu masih menimbulkan ketidakpuasan bagi para ahli, timbullah kajian linguistik modern yang mulai mempermasalahkan unsur-unsur bahasa seperti bunyi, kata, frasa, klausa, kalimat, di samping ada juga unsur makna (semantis). Belakangan, kajian kebahasaan semakin luas hingga dalam bentuk lebih besar yang disebut dengan wacana.
Alwi, dkk. (1998:419) mengatakan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain dan membentuk kesatuan. Kridalaksana (2001:231) menyatakan bahwa wacana merupakan satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana menurut Kridalaksana direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (misal novel, buku, seri ensiklopedia, dsb.), paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa sebuah wacana melebihi sebuah kalimat. Hal ini sesuai dengan pengertian bahasa secara sederhana, yakni “alat komunikasi”. Sebagai alat komunikasi, bahasa tentunya tidak diucapkan satu kalimat, tetapi penyampaian gagasan, pikiran, perasaan tersebut dapat berupa kalimat berangkai. Selain itu, analisis terhadap wacana dimaksudkan untuk menginterpretasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks linguistik dan konteks etnografii. Konteks linguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa. Inilah yang dimaksudkan dengan wacana dari definisi di atas.
Para penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga sepakat memberikan batasan wacana sebagai berikut.
“komunikasi verbal; percakapan; keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan; satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh seperti novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah; kemampuan atau prosedur berpikir sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat; pertukaran ide secara verbal” (KBBI, 2005:1265).
Batasa tersebut semakin menjelaskan bahwa analisis atau kajian wacana sangat luas, dapat terjadi dalam bentuk tuturan dan tulisan, ia digunakan dalam komunikasi sebagai salah satu interaksi kebahasaan. Dengan kata lain, wacana dapat dikatakan sebagai satuan bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Satuan bahasa itu dapat berupa rangkaian kalimat atau ujaran. Karena itu, wacana dapat berbentuk lisan atau tulis dan dapat bersifat transaksional atau interaksional.
Oleh karena komunikasi tersebut dapat terjadi dalam bentuk lebih dari satu kalimat, Alwi dkk. (1998:419) menyatakan bahwa pembicaraan tentang wacana memerlukan pengetahuan tentang kalimat dan segala hal yang ada hubungannya dengan kalimat. Namun demikian, yang menjadi persoalan kemudian adalah kalimat yang dipakai tersebut apakah sama saat diujarkan dengan dituliskan?
Sebagai contoh, interaksi memberi salam dan menjawab salam bagi dua orang apalagi antara tuan rumah dan tamu adalah sebuah keniscayaan. Namun, apakah sama memberi salam antara tamu dan tuan rumah tersebut dengan salam antara khatib (tukang ceramah) dengan audiens, antara dua orang sesama muslim yang berpapasan di jalan, atau antara anak dan orangtua saat akan berpamitan?
Jawaban salam dari tuan rumah kepada tamu sendiri tentunya masih mengalami perbedaan antara tuan rumah yang sudah melihat tamunya di depan (serambi) rumah dengan tuan rumah yang masih berada di dalam rumah (mungkin di dapur. Perbedaan tersebut terletak pada intonasi, situasi, tempat, dan waktu. Lantas, bagaimanakah kalimat atau ungkapan salam tersebut dilahirkan dalam wujud tulisan? Hal-hal seperti inilah yang menjadi pemikiran pentingnya menganalisis wacana dari segi lisan dan tulis, karena para ahli telah sepakat bahwa untuk menyampaikan ide atau perasaan sekecil apa pun, dapat dilakukan dengan lisan dan tulis.
Pertanyaan berikutnya yang menjadi landasan pemikiran meninjau tentang pemahaman wacana adalah mana yang lebih mudah dipahami; wacana lisan atau wacana tulis. Lantas bagaimana peran dan ciri-ciri kedua jenis wacana tersebut. Patut diingat pula bahwa jenis-jenis wacana masih dapat dibagi lagi. Namun, induk pembagian jenis wacana tetaplah lisan dan tulis. Dari dua pembagian ini kemudian dirincikan lagi jenis-jenis wacana lainnya. Adapun pembahasan dalam tulisan ini sekedar mencoba memberikan pemahaman tentang wacana lisan dan wacana tulis.
Wacana Lisan dan Wacana Tulis
Pemahaman wacana lisan jauh lebih banyak daripada sekedar mengawakode simbol-simbol yang tertera pada halaman tulisan. Hal itu menyangkut pengakuan akan apa yang sudah diketahui dan pengintegrasian yang baru ke dalam dasar pengetahuan yang sudah ada pada seseorang. Hal ini disebabkan dalam membaca kita membawa sejumlah besar informasi ke dalam teks dan mengambil sejumlah besar kesimpulan berdasarkan pengetahuan dasar atau pengetahuan skematis. Jika pengetahuan skematis tidak ada atau cacat, pemahaman akan terhalang. Hal ini sudah ditunjukkan oleh Steffensen (1981) yang dikutip kembali oleh Silangen (1992:67). Ia mengatakan:
1. tidak ada situasi yang umum, “situasi” (atau kerangka acuan) yang dikehendaki ada di dalam teks dan harus disimpulkan dari teks.
2. kata-kata berdiri sendiri. Mereka tidak ditopang oleh perilaku nonverbal (yang kita sebut peniruan) dan perilaku jamahan atau pernyataan verbal.
3. tak ada kesempatan untuk umpan balik kepada sumber. Jika asumsi penulis mengenai keadaan “w” dibesar-besarkan, tergantung pada pembacalah untuk menutup celahnya dengan cara sendiri.
4. membaca adalah monoton, tidak terputus-putus. Kurang kesempatan bagi pembaca untuk memberi respon yang terbuka. Jika ia memberikan respon yang terbuka (tertawa atau menuliskan catatan dan sebagainya), tulisan itu langsung diperkuat. Penulis tidak tahu apa tentang respon terbuka itu.
5. pengeditan teks dapat menghalangi pemahaman. Kesalahan dan hentian dalam bahasa lisan justru sesuai dengan titik-titik kemacetan dalam gerakan pikiran pembaca. Mereka mengisyaratkan kesulitan dan menyediakan waktu mengatasinya, baik pendengar maupun pembaca.
6. karena teks lebih lengkap daripada ujaran, teks cenderung lebih padat. Bagi pembaca yang belum dewasa teks juga tidak dikenal dalam hal pemilihan kata dan gaya. Bahasa adalah miliknya, gaya adalah asing.
7. penulis mengurutkan bahannya. Akan tetapi, urutan yang menurutnya terbaik mungkin bukan yang terbaik bagi pembaca tertentu.
Pengembangan Keterampilan Wacana
Keterampilan yang dimaksudkan dalam bagian ini secara khusus dihubungkan dengan pandangan teoretis, yaitu yang diperoleh dari aspek linguistik dan psikolinguistik pemrosesan.
Dalam pembelajaran, seharusnya di akhir proses pembelajaran, siswa mampu memanfaatkan pengetahuan dasar yang mereka miliki untuk memberikan orientasi pada tugas bacaan. Siswa diharapkan mampu menyusun gagasan tentang topik ke dalam hierarki konseptual. Kegiatan membaca seperti itu untuk mendorong para pembelajar mengemukakan informasi yang mereka miliki, membantu pembaca untuk memahami teks mengenai bahan yang diberikan.
Keterampilan lain yang bermanfaat dalam memahami wacana adalah kemampuan membaca cepat sebuah teks dan menghasilkan suatu garis besar struktur teks. Hal ini memberikan gambaran ikhtisar “atas-bawah” atau peta konseptual yang akan dipelajari oleh pembelajar secara rinci.
Ada berbagai relasi antarelemen dalam wacana. (1) Relasi koordinatif adalah relasi antarelemen yang memiliki kedudukan setara. (2) Relasi subordinatif adalah relasi antarelemen yang kedudukannya tidak setara. Dalam relasi subordinatif itu terdapat atasan dan elemen bawahan. (3) Relasi atribut adalah relasi antara elemen inti dengan atribut. Relasi atribut berkaitan dengan relasi subordinatif karena relasi atribut juga berarti relasi antara elemen atasan dengan elemen bawahan. (4) Relasi komplementatif adalah relasi antarelemen yang bersifat saling melengkapi. Dalam relasi itu, masing-masing elemen memiliki kedudukan yang otonom dalam membentuk teks. Dalam jenis ini tidak ada elemen atasan dan bawahan.
Hakikat Wacana Lisan
Richards (1983) mengemukakan bahwa:
…konsep koherensi yang diterapkan dalam wacana bercakap-cakap sangat berbeda dengan cara koherensi yang diciptakan dalam wacana tulis. Wacana tulisan direncanakan, diatur ketat, dan biasanya merupakan produk satu orang. Wacana lisan tidak direncanakan sebelumnya, tetapi diproduksi dalam waktu sinambung dengan saling kerja sama. Oleh karena itu, wacana lisan menyajikan makna dengan cara sama sekali berbeda dengan wacana tulisan. Topik dikembangkan secara berangsur-angsur, dan konvensi pengembangan topik dan perubahan topik adalah distingtif terhadap laras bahasa lisan. Para pendengar dapat menggunakan isyarat seperti ‘berbicara tentang itu, mengingatkan Anda pada… ngomong-ngomong, sejah hal itu’ untuk menunjukkan arah pengembangan topik.”
(Nunan, 1992:78)
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa hakikat wacana lisan sifatnya hanya sesaat dan biasanya interaktif, pembicara lebih banyak berasumsi tentang keadaan pengetahuan mutakhir pendengar daripada penulis terhadap pembaca. Karena itu, pengetahuan skematis sangat penting. Dalam usaha memahami wacana lisan, baik monolog (seperti mendengarkan berita radio) maupun dialog (semisal mendengar percakapan antara pentur asli), pendengar harus menafsirkan dan mengintegrasikan bahasa pada tingkat proposisional dan ilokasi.
Hakikat Wacana Tulis
Mengutip Smith (1978), Nuna menyebutkan pengalaman sangat penting dalam pemahaman lingusitik. Hal ini karena linguistik memiliki hubungan tekstual yang ditunjukkan oleh referensi, elipsis, konjungsi, dan kohesi leksikal.1 Sebuah komponen penting dalam pelajaran pemrosesan wacana adalah membantu pembelajar untuk mengembangkan keterampilan dalam mengenali hubungan-hubungan ini. Selain penting bagi pembelajar untuk membangun suatu kosa kata yang ekstensif dalam medan makna yang dimarkahi oleh kohesi leksikal, juga penting untuk mengembangkan keterampilan memanfaatkan informasi kontekstual untuk memahami kosa kata yang tidak diketahui.
Selain itu, perlu juga dikembangkan keterampilan yang lebih sulit untuk mengenali daya retorik informasi tekstual yang tidak dimarkahi secara eksplisit dengan beberapa bentuk konjungsi. Akhrinya, pembaca seharusnya mampu mendemonstrasikan penguasaan terhadap isi tekstual dengan beralih ke balik teks itu.
———————-
1Bagian ini akan dijelaskan pada lain kesempatan.
ANALISIS
Analisis wacana menginterprestasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks linguistik dan konteks etnografii. Konteks linguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti, sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa (Massofa, 2008).
Dalam analisis wacana berlaku dua prinsip, yakni prinsip interpretasi lokal dan prinsip analogi. Prinsip interpretasi lokal adalah prinsip interpretasi berdasarkan konteks, baik konteks linguistik atau koteks maupun konteks nonlinguistik. Konteks nonlinguistik yang merupakan konteks lokal tidak hanya berupa tempat, tetapi juga dapat berupa waktu, ranah penggunaan wacana, dan partisipan. Selanjutnya, prinsip interpretasi analogi adalah prinsip interpretasi suatu wacana berdasarkan pengalaman terdahulu yang sama atau yang sesuai. Dengan interpretasi analogi itu, analis sudah dapat memahami wacana dengan konteks yang relevan saja. Hal itu berarti bahwa analis tidak harus memperhitungkan semua konteks wancana.
Pemahaman Wacanan Lisan dan Tulis
Mengembangkan pemahaman atau pengertian yang baik pada sebuah wacana sebenarnya sama saja dengan mengembangkan pemikiran yang baik. Tak seorang pun dapat mengajarkan bagaimana caranya meningkatkan pemikiran hanya dalam tempo semalam. Namun demikian, ada langkah-langkah yang dapat dijalankan guna membantu bagaimana meningkatkan kemampuan membaca (memahami teks dan nonteks) jauh lebih cepat dari yang dibayangkan.
Proses pemahaman wacana adalah proses menemukan konfigurasi skemata yang menawarkan uraian yang memadai tentang bacaan yang bersangkutan (Alwi, dkk., 1998:450). Hal ini berkaitan tentang pemahaman wacana tulis. Ada beberapa penyebab kegagalan pemahaman wacana bacaaan meskipun penulis telah berusaha menulis dengan baik dan pembaca telah berusaha membaca dengan baik pula.
Pembaca mungkin tidak mempunyai skemata yang sesuai. Dalam hal ini, pembaca memang tidak dapat memahami konsep yang disampaikan penulis. Di sisi lain, meskipun pembaca memiliki sekmata, tetapi petunjuk-petunjuk yang disajikan oleh penulis mungkin tidak cukup memberi saran tentang skemata tersebut. Hal ini berarti bahwa pembaca tidak akan memahmi wacana. Namun, dengan petunjuk tambahan yang sesuai, mungkin ia dapat memahami bacaan dimaksud.
Kendati pembaca mungkin mendapat penafsir wacana secara tetap, tetapi mungkin tidak menemukan apa yang diinginkan oleh penulisnya. Artinya, pembaca mungkin memahami teks, hanya saja pemahaman dia kemungkinan berbeda dengan maksud yang hendak disampaikan oleh penulis teks.
Adapun yang dimaksud dengan skemata adalah pengetahuan yang terkemas secara sistematis dalam ingatan manusia. Skemata itu memiliki struktur pengendalian, yakni cara pengaktifan skemata sesuai dengan kebutuhan. Ada dua cara yang disebut pengaktifan dalam struktur itu, yakni (1) cara pengaktifan dari atas ke bawah dan (2) cara pengaktifan dari bawah ke atas. Pengaktifan atas ke bawah adalah proses pengendalian skemata dari konsep ke data atau dari keutuhan ke bagian. Pengaktifan bawah ke atas adalah proses pengendalian skemata dari data ke konsep atau dari bagian ke keutuhan.
Langkah pertama di dalam mengembangkan pemahaman ialah dengan mempraktikkan menemukan apa subjek atau pokok pikiran dari suatu paragraf. Manfaatkan waktu Anda memahami hal ini, tanpa harus berpikir lagi. Namun, perlu praktik melakukannya sehingga Anda dapat melakukannya ketika berjumpa dengan teks atau wacana yang sulit.
Berikut ini adalah latihan sederhana sebagai salah satu cara yang mungkin dapat dilakukan.
LATIHAN
Bahan: kertas, pensil
Tujuan: Belajar mengidentifikasi makna isi suatu paragraf.
1. Baca setiap paragraf di bawah ini secepat yang Anda dapat, dengan tangan Anda dan cari jawaban paragraf gagasan pokoknya tentang apa.
2. Dalam wacana ini, butir dari “A” hingga “F”. Sesudah membaca sebuah kalimat dalam paragraf sebanyak satu kali, kembali lagi, dan dalam kertas Anda tulis paragraf itu mengenai apa dalam beberapa kata saja.
CATATAN: Penting untuk membaca setiap wacana hanya sekali! Hindari untuk mengulanginya.
A. Semua pohon berwarna hijau.
B. Banyak burung terbang ke arah selatan di musim dingin.
C. Herman membersihkan halaman, Safriandi yang menyuruh.
D. Syahriandi suka main sepak bola. Ia ingin suatu saat menjadi pemain professional.
E. Syaid Saifullah adalah penulis terkenal dari Gemasastrin pada era 80-an. Ia seorang Islam yang taat.
F. Mitoha merupakan seorang guru SMP. Ia masih muda, manis, berambut hitam pendek, dan memiliki psotur tubuh ideal. Nama aslinya tidak biasa disebut orang karena ia menggunakan nama kecil, yakni Neng Geulis.
LIHAT!
1. Apakah Anda memperhatikan bahwa pokok atau subjek setiap wacana selalu berada pada kalimat pertama? Ini teori umum pada semua tulisan. Kenyataannya, hampir 95% dari semua paragraf, topik dipresentasikan pada kalimat pertama. Itu sebabnya, mengapa kalimat ini kerap disebut sebagai kalimat topik.
Perintah itu semua coba Anda kerjakan dan dilakukan secepat mungkin. Oleh karena dalam hampir setiap kasus topik terdapat pada kalimat pertama, bacalah kalimat pertama dengan sangat hati-hati apa yang dibahas dalam wacana dimaksud. Jika Anda menemukannya, sebenarnya Anda sudah menemukan tujuan yang telah saya berikan. Namun, selalu ada kesempatan, bahkan ini mungkin hal yang sangat mudah (mungkin kurang dari lima persen), bahwa topik yang sesungguhnya diberikan di mana saja dalam wacana itu. Dengan demikian, Anda dapat meneruskan membaca agar dapat melihat bahwa segala sesuatu terkait dengan topik yang sudah Anda baca. Kini tentu Anda dapat mulai lebih cepat lagi dari yang sebelumnya.
Alwi, dkk. (1998:419) mengatakan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain dan membentuk kesatuan. Kridalaksana (2001:231) menyatakan bahwa wacana merupakan satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana menurut Kridalaksana direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (misal novel, buku, seri ensiklopedia, dsb.), paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa sebuah wacana melebihi sebuah kalimat. Hal ini sesuai dengan pengertian bahasa secara sederhana, yakni “alat komunikasi”. Sebagai alat komunikasi, bahasa tentunya tidak diucapkan satu kalimat, tetapi penyampaian gagasan, pikiran, perasaan tersebut dapat berupa kalimat berangkai. Selain itu, analisis terhadap wacana dimaksudkan untuk menginterpretasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks linguistik dan konteks etnografii. Konteks linguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa. Inilah yang dimaksudkan dengan wacana dari definisi di atas.
Para penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga sepakat memberikan batasan wacana sebagai berikut.
“komunikasi verbal; percakapan; keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan; satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh seperti novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah; kemampuan atau prosedur berpikir sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat; pertukaran ide secara verbal” (KBBI, 2005:1265).
Batasa tersebut semakin menjelaskan bahwa analisis atau kajian wacana sangat luas, dapat terjadi dalam bentuk tuturan dan tulisan, ia digunakan dalam komunikasi sebagai salah satu interaksi kebahasaan. Dengan kata lain, wacana dapat dikatakan sebagai satuan bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Satuan bahasa itu dapat berupa rangkaian kalimat atau ujaran. Karena itu, wacana dapat berbentuk lisan atau tulis dan dapat bersifat transaksional atau interaksional.
Oleh karena komunikasi tersebut dapat terjadi dalam bentuk lebih dari satu kalimat, Alwi dkk. (1998:419) menyatakan bahwa pembicaraan tentang wacana memerlukan pengetahuan tentang kalimat dan segala hal yang ada hubungannya dengan kalimat. Namun demikian, yang menjadi persoalan kemudian adalah kalimat yang dipakai tersebut apakah sama saat diujarkan dengan dituliskan?
Sebagai contoh, interaksi memberi salam dan menjawab salam bagi dua orang apalagi antara tuan rumah dan tamu adalah sebuah keniscayaan. Namun, apakah sama memberi salam antara tamu dan tuan rumah tersebut dengan salam antara khatib (tukang ceramah) dengan audiens, antara dua orang sesama muslim yang berpapasan di jalan, atau antara anak dan orangtua saat akan berpamitan?
Jawaban salam dari tuan rumah kepada tamu sendiri tentunya masih mengalami perbedaan antara tuan rumah yang sudah melihat tamunya di depan (serambi) rumah dengan tuan rumah yang masih berada di dalam rumah (mungkin di dapur. Perbedaan tersebut terletak pada intonasi, situasi, tempat, dan waktu. Lantas, bagaimanakah kalimat atau ungkapan salam tersebut dilahirkan dalam wujud tulisan? Hal-hal seperti inilah yang menjadi pemikiran pentingnya menganalisis wacana dari segi lisan dan tulis, karena para ahli telah sepakat bahwa untuk menyampaikan ide atau perasaan sekecil apa pun, dapat dilakukan dengan lisan dan tulis.
Pertanyaan berikutnya yang menjadi landasan pemikiran meninjau tentang pemahaman wacana adalah mana yang lebih mudah dipahami; wacana lisan atau wacana tulis. Lantas bagaimana peran dan ciri-ciri kedua jenis wacana tersebut. Patut diingat pula bahwa jenis-jenis wacana masih dapat dibagi lagi. Namun, induk pembagian jenis wacana tetaplah lisan dan tulis. Dari dua pembagian ini kemudian dirincikan lagi jenis-jenis wacana lainnya. Adapun pembahasan dalam tulisan ini sekedar mencoba memberikan pemahaman tentang wacana lisan dan wacana tulis.
Wacana Lisan dan Wacana Tulis
Pemahaman wacana lisan jauh lebih banyak daripada sekedar mengawakode simbol-simbol yang tertera pada halaman tulisan. Hal itu menyangkut pengakuan akan apa yang sudah diketahui dan pengintegrasian yang baru ke dalam dasar pengetahuan yang sudah ada pada seseorang. Hal ini disebabkan dalam membaca kita membawa sejumlah besar informasi ke dalam teks dan mengambil sejumlah besar kesimpulan berdasarkan pengetahuan dasar atau pengetahuan skematis. Jika pengetahuan skematis tidak ada atau cacat, pemahaman akan terhalang. Hal ini sudah ditunjukkan oleh Steffensen (1981) yang dikutip kembali oleh Silangen (1992:67). Ia mengatakan:
1. tidak ada situasi yang umum, “situasi” (atau kerangka acuan) yang dikehendaki ada di dalam teks dan harus disimpulkan dari teks.
2. kata-kata berdiri sendiri. Mereka tidak ditopang oleh perilaku nonverbal (yang kita sebut peniruan) dan perilaku jamahan atau pernyataan verbal.
3. tak ada kesempatan untuk umpan balik kepada sumber. Jika asumsi penulis mengenai keadaan “w” dibesar-besarkan, tergantung pada pembacalah untuk menutup celahnya dengan cara sendiri.
4. membaca adalah monoton, tidak terputus-putus. Kurang kesempatan bagi pembaca untuk memberi respon yang terbuka. Jika ia memberikan respon yang terbuka (tertawa atau menuliskan catatan dan sebagainya), tulisan itu langsung diperkuat. Penulis tidak tahu apa tentang respon terbuka itu.
5. pengeditan teks dapat menghalangi pemahaman. Kesalahan dan hentian dalam bahasa lisan justru sesuai dengan titik-titik kemacetan dalam gerakan pikiran pembaca. Mereka mengisyaratkan kesulitan dan menyediakan waktu mengatasinya, baik pendengar maupun pembaca.
6. karena teks lebih lengkap daripada ujaran, teks cenderung lebih padat. Bagi pembaca yang belum dewasa teks juga tidak dikenal dalam hal pemilihan kata dan gaya. Bahasa adalah miliknya, gaya adalah asing.
7. penulis mengurutkan bahannya. Akan tetapi, urutan yang menurutnya terbaik mungkin bukan yang terbaik bagi pembaca tertentu.
Pengembangan Keterampilan Wacana
Keterampilan yang dimaksudkan dalam bagian ini secara khusus dihubungkan dengan pandangan teoretis, yaitu yang diperoleh dari aspek linguistik dan psikolinguistik pemrosesan.
Dalam pembelajaran, seharusnya di akhir proses pembelajaran, siswa mampu memanfaatkan pengetahuan dasar yang mereka miliki untuk memberikan orientasi pada tugas bacaan. Siswa diharapkan mampu menyusun gagasan tentang topik ke dalam hierarki konseptual. Kegiatan membaca seperti itu untuk mendorong para pembelajar mengemukakan informasi yang mereka miliki, membantu pembaca untuk memahami teks mengenai bahan yang diberikan.
Keterampilan lain yang bermanfaat dalam memahami wacana adalah kemampuan membaca cepat sebuah teks dan menghasilkan suatu garis besar struktur teks. Hal ini memberikan gambaran ikhtisar “atas-bawah” atau peta konseptual yang akan dipelajari oleh pembelajar secara rinci.
Ada berbagai relasi antarelemen dalam wacana. (1) Relasi koordinatif adalah relasi antarelemen yang memiliki kedudukan setara. (2) Relasi subordinatif adalah relasi antarelemen yang kedudukannya tidak setara. Dalam relasi subordinatif itu terdapat atasan dan elemen bawahan. (3) Relasi atribut adalah relasi antara elemen inti dengan atribut. Relasi atribut berkaitan dengan relasi subordinatif karena relasi atribut juga berarti relasi antara elemen atasan dengan elemen bawahan. (4) Relasi komplementatif adalah relasi antarelemen yang bersifat saling melengkapi. Dalam relasi itu, masing-masing elemen memiliki kedudukan yang otonom dalam membentuk teks. Dalam jenis ini tidak ada elemen atasan dan bawahan.
Hakikat Wacana Lisan
Richards (1983) mengemukakan bahwa:
…konsep koherensi yang diterapkan dalam wacana bercakap-cakap sangat berbeda dengan cara koherensi yang diciptakan dalam wacana tulis. Wacana tulisan direncanakan, diatur ketat, dan biasanya merupakan produk satu orang. Wacana lisan tidak direncanakan sebelumnya, tetapi diproduksi dalam waktu sinambung dengan saling kerja sama. Oleh karena itu, wacana lisan menyajikan makna dengan cara sama sekali berbeda dengan wacana tulisan. Topik dikembangkan secara berangsur-angsur, dan konvensi pengembangan topik dan perubahan topik adalah distingtif terhadap laras bahasa lisan. Para pendengar dapat menggunakan isyarat seperti ‘berbicara tentang itu, mengingatkan Anda pada… ngomong-ngomong, sejah hal itu’ untuk menunjukkan arah pengembangan topik.”
(Nunan, 1992:78)
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa hakikat wacana lisan sifatnya hanya sesaat dan biasanya interaktif, pembicara lebih banyak berasumsi tentang keadaan pengetahuan mutakhir pendengar daripada penulis terhadap pembaca. Karena itu, pengetahuan skematis sangat penting. Dalam usaha memahami wacana lisan, baik monolog (seperti mendengarkan berita radio) maupun dialog (semisal mendengar percakapan antara pentur asli), pendengar harus menafsirkan dan mengintegrasikan bahasa pada tingkat proposisional dan ilokasi.
Hakikat Wacana Tulis
Mengutip Smith (1978), Nuna menyebutkan pengalaman sangat penting dalam pemahaman lingusitik. Hal ini karena linguistik memiliki hubungan tekstual yang ditunjukkan oleh referensi, elipsis, konjungsi, dan kohesi leksikal.1 Sebuah komponen penting dalam pelajaran pemrosesan wacana adalah membantu pembelajar untuk mengembangkan keterampilan dalam mengenali hubungan-hubungan ini. Selain penting bagi pembelajar untuk membangun suatu kosa kata yang ekstensif dalam medan makna yang dimarkahi oleh kohesi leksikal, juga penting untuk mengembangkan keterampilan memanfaatkan informasi kontekstual untuk memahami kosa kata yang tidak diketahui.
Selain itu, perlu juga dikembangkan keterampilan yang lebih sulit untuk mengenali daya retorik informasi tekstual yang tidak dimarkahi secara eksplisit dengan beberapa bentuk konjungsi. Akhrinya, pembaca seharusnya mampu mendemonstrasikan penguasaan terhadap isi tekstual dengan beralih ke balik teks itu.
———————-
1Bagian ini akan dijelaskan pada lain kesempatan.
ANALISIS
Analisis wacana menginterprestasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks linguistik dan konteks etnografii. Konteks linguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti, sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa (Massofa, 2008).
Dalam analisis wacana berlaku dua prinsip, yakni prinsip interpretasi lokal dan prinsip analogi. Prinsip interpretasi lokal adalah prinsip interpretasi berdasarkan konteks, baik konteks linguistik atau koteks maupun konteks nonlinguistik. Konteks nonlinguistik yang merupakan konteks lokal tidak hanya berupa tempat, tetapi juga dapat berupa waktu, ranah penggunaan wacana, dan partisipan. Selanjutnya, prinsip interpretasi analogi adalah prinsip interpretasi suatu wacana berdasarkan pengalaman terdahulu yang sama atau yang sesuai. Dengan interpretasi analogi itu, analis sudah dapat memahami wacana dengan konteks yang relevan saja. Hal itu berarti bahwa analis tidak harus memperhitungkan semua konteks wancana.
Pemahaman Wacanan Lisan dan Tulis
Mengembangkan pemahaman atau pengertian yang baik pada sebuah wacana sebenarnya sama saja dengan mengembangkan pemikiran yang baik. Tak seorang pun dapat mengajarkan bagaimana caranya meningkatkan pemikiran hanya dalam tempo semalam. Namun demikian, ada langkah-langkah yang dapat dijalankan guna membantu bagaimana meningkatkan kemampuan membaca (memahami teks dan nonteks) jauh lebih cepat dari yang dibayangkan.
Proses pemahaman wacana adalah proses menemukan konfigurasi skemata yang menawarkan uraian yang memadai tentang bacaan yang bersangkutan (Alwi, dkk., 1998:450). Hal ini berkaitan tentang pemahaman wacana tulis. Ada beberapa penyebab kegagalan pemahaman wacana bacaaan meskipun penulis telah berusaha menulis dengan baik dan pembaca telah berusaha membaca dengan baik pula.
Pembaca mungkin tidak mempunyai skemata yang sesuai. Dalam hal ini, pembaca memang tidak dapat memahami konsep yang disampaikan penulis. Di sisi lain, meskipun pembaca memiliki sekmata, tetapi petunjuk-petunjuk yang disajikan oleh penulis mungkin tidak cukup memberi saran tentang skemata tersebut. Hal ini berarti bahwa pembaca tidak akan memahmi wacana. Namun, dengan petunjuk tambahan yang sesuai, mungkin ia dapat memahami bacaan dimaksud.
Kendati pembaca mungkin mendapat penafsir wacana secara tetap, tetapi mungkin tidak menemukan apa yang diinginkan oleh penulisnya. Artinya, pembaca mungkin memahami teks, hanya saja pemahaman dia kemungkinan berbeda dengan maksud yang hendak disampaikan oleh penulis teks.
Adapun yang dimaksud dengan skemata adalah pengetahuan yang terkemas secara sistematis dalam ingatan manusia. Skemata itu memiliki struktur pengendalian, yakni cara pengaktifan skemata sesuai dengan kebutuhan. Ada dua cara yang disebut pengaktifan dalam struktur itu, yakni (1) cara pengaktifan dari atas ke bawah dan (2) cara pengaktifan dari bawah ke atas. Pengaktifan atas ke bawah adalah proses pengendalian skemata dari konsep ke data atau dari keutuhan ke bagian. Pengaktifan bawah ke atas adalah proses pengendalian skemata dari data ke konsep atau dari bagian ke keutuhan.
Langkah pertama di dalam mengembangkan pemahaman ialah dengan mempraktikkan menemukan apa subjek atau pokok pikiran dari suatu paragraf. Manfaatkan waktu Anda memahami hal ini, tanpa harus berpikir lagi. Namun, perlu praktik melakukannya sehingga Anda dapat melakukannya ketika berjumpa dengan teks atau wacana yang sulit.
Berikut ini adalah latihan sederhana sebagai salah satu cara yang mungkin dapat dilakukan.
LATIHAN
Bahan: kertas, pensil
Tujuan: Belajar mengidentifikasi makna isi suatu paragraf.
1. Baca setiap paragraf di bawah ini secepat yang Anda dapat, dengan tangan Anda dan cari jawaban paragraf gagasan pokoknya tentang apa.
2. Dalam wacana ini, butir dari “A” hingga “F”. Sesudah membaca sebuah kalimat dalam paragraf sebanyak satu kali, kembali lagi, dan dalam kertas Anda tulis paragraf itu mengenai apa dalam beberapa kata saja.
CATATAN: Penting untuk membaca setiap wacana hanya sekali! Hindari untuk mengulanginya.
A. Semua pohon berwarna hijau.
B. Banyak burung terbang ke arah selatan di musim dingin.
C. Herman membersihkan halaman, Safriandi yang menyuruh.
D. Syahriandi suka main sepak bola. Ia ingin suatu saat menjadi pemain professional.
E. Syaid Saifullah adalah penulis terkenal dari Gemasastrin pada era 80-an. Ia seorang Islam yang taat.
F. Mitoha merupakan seorang guru SMP. Ia masih muda, manis, berambut hitam pendek, dan memiliki psotur tubuh ideal. Nama aslinya tidak biasa disebut orang karena ia menggunakan nama kecil, yakni Neng Geulis.
LIHAT!
1. Apakah Anda memperhatikan bahwa pokok atau subjek setiap wacana selalu berada pada kalimat pertama? Ini teori umum pada semua tulisan. Kenyataannya, hampir 95% dari semua paragraf, topik dipresentasikan pada kalimat pertama. Itu sebabnya, mengapa kalimat ini kerap disebut sebagai kalimat topik.
Perintah itu semua coba Anda kerjakan dan dilakukan secepat mungkin. Oleh karena dalam hampir setiap kasus topik terdapat pada kalimat pertama, bacalah kalimat pertama dengan sangat hati-hati apa yang dibahas dalam wacana dimaksud. Jika Anda menemukannya, sebenarnya Anda sudah menemukan tujuan yang telah saya berikan. Namun, selalu ada kesempatan, bahkan ini mungkin hal yang sangat mudah (mungkin kurang dari lima persen), bahwa topik yang sesungguhnya diberikan di mana saja dalam wacana itu. Dengan demikian, Anda dapat meneruskan membaca agar dapat melihat bahwa segala sesuatu terkait dengan topik yang sudah Anda baca. Kini tentu Anda dapat mulai lebih cepat lagi dari yang sebelumnya.
WACANA
WACANA (DISCOURSES)
Erti Perkataan Wacana
Perkataan Wacana adalah padanan perkataan discourse dalam bahasa
Inggeris. Perkataan discourse dalam Kamus Webster, 1983 : 522 bererti:
Hubungan fikiran dengan kata-kata; ekspresi idea-idea atau gagasan-gagasan; atau percakapan
Hubungan secara umum, terutama sebagai suatu subjek kajian atau
pokok bahasan
Risalah tulisan, disertasi formal; kuliah, ceramah; khutbah
Perkataan wacana menurut Kamus Dewan Edisi Baru 1993 : 1484
bererti:
Ucapan, pertuturan, percakapan, keseluruhan tutur yang merupakan suatu kesatuan
Keseluruhan terbitan atau hasil karya dalam sesuatu bahasa
Berdasarkan erti perkataan wacana di atas dapat disimpulkan bahawa
perkataan wacana itu sama dengan perkataan ucapan yang utuh untuk
wacana lisan, dan karangan yang utuh untuk wacana tulisan dalam
pengajaran bahasa Melayu sebelum ini.
Batasan Wacana
Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas, ada baiknya kita melihat batasan (definisi) wacana dariapada beberapa tokoh bahasa di bawah ini:
STUBBS, MICHAEL: Wacana merupakan kesatuan bahasa yang lebih
besar daripada ayat atau klausa. Dengan kata lain, wacana merupakan
unit-unit linguistik yang lebih besar daripada ayat atau klausa, seperti
pertukaran-pertukaran percakapan atau teks-teks tertulis. Secara
ringkas; yang disebut teks bagi wacanaadalah ayat bagi ujaran.
ASMAH HAJI OMAR: Wacana ialah unit bahasa yang melebihi batas
ayat, yang di dalamnya memperlihatkan hubungan-hubungan dan
perkembangan fikiran yang berurutan seperti ayat, sejumlah ayat,
ceraian, perenggan, bab, buku, novel, cerpen, cerita, dialog, siri buku
(cerita) dan sebagainya.
HARIMURTI KRIDALAKSANA: Wacana adalah satuan bahasa
terlengkap; dalam hierarki tatabahasa merupakan satuan tatabahasa
tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk
karangan yang utuh (novel, buku, ensiklopedia, dan sebagainya),
paragraf, ayat atau kata yang membawa amanat yang lengkap.
HENRY GUNTUR TARIGAN: Wacana adalah satuan bahasa yang
terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan
koherensi dan kohesi tinggiyang berkesinambungan yangg mempunyai
awal dan akhir yang nyata disampaikan secara lisan atau tertulis.
Huraian daripada beberapa batasan wacana ini memperlihatkan persamaan dan perbezaan pendapat, namun begitu kita dapat mengemukakan bahawa hakikat wacana itu adalah terdiri daripada lapan unsur penting, iaitu
1. Satuan bahasa
2. Terlengkap / terbsesar / tertinggi
3. Mengatasi ayat / klausa
4. Teratur / tersusun rapi / rasa koherensi (kepaduan)
5. Berkesinambungan
6. Rasa kohesi (kepautan)
7. Lisan / tulisan
8. Awal dan akhir
Erti Perkataan Wacana
Perkataan Wacana adalah padanan perkataan discourse dalam bahasa
Inggeris. Perkataan discourse dalam Kamus Webster, 1983 : 522 bererti:
Hubungan fikiran dengan kata-kata; ekspresi idea-idea atau gagasan-gagasan; atau percakapan
Hubungan secara umum, terutama sebagai suatu subjek kajian atau
pokok bahasan
Risalah tulisan, disertasi formal; kuliah, ceramah; khutbah
Perkataan wacana menurut Kamus Dewan Edisi Baru 1993 : 1484
bererti:
Ucapan, pertuturan, percakapan, keseluruhan tutur yang merupakan suatu kesatuan
Keseluruhan terbitan atau hasil karya dalam sesuatu bahasa
Berdasarkan erti perkataan wacana di atas dapat disimpulkan bahawa
perkataan wacana itu sama dengan perkataan ucapan yang utuh untuk
wacana lisan, dan karangan yang utuh untuk wacana tulisan dalam
pengajaran bahasa Melayu sebelum ini.
Batasan Wacana
Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas, ada baiknya kita melihat batasan (definisi) wacana dariapada beberapa tokoh bahasa di bawah ini:
STUBBS, MICHAEL: Wacana merupakan kesatuan bahasa yang lebih
besar daripada ayat atau klausa. Dengan kata lain, wacana merupakan
unit-unit linguistik yang lebih besar daripada ayat atau klausa, seperti
pertukaran-pertukaran percakapan atau teks-teks tertulis. Secara
ringkas; yang disebut teks bagi wacanaadalah ayat bagi ujaran.
ASMAH HAJI OMAR: Wacana ialah unit bahasa yang melebihi batas
ayat, yang di dalamnya memperlihatkan hubungan-hubungan dan
perkembangan fikiran yang berurutan seperti ayat, sejumlah ayat,
ceraian, perenggan, bab, buku, novel, cerpen, cerita, dialog, siri buku
(cerita) dan sebagainya.
HARIMURTI KRIDALAKSANA: Wacana adalah satuan bahasa
terlengkap; dalam hierarki tatabahasa merupakan satuan tatabahasa
tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk
karangan yang utuh (novel, buku, ensiklopedia, dan sebagainya),
paragraf, ayat atau kata yang membawa amanat yang lengkap.
HENRY GUNTUR TARIGAN: Wacana adalah satuan bahasa yang
terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan
koherensi dan kohesi tinggiyang berkesinambungan yangg mempunyai
awal dan akhir yang nyata disampaikan secara lisan atau tertulis.
Huraian daripada beberapa batasan wacana ini memperlihatkan persamaan dan perbezaan pendapat, namun begitu kita dapat mengemukakan bahawa hakikat wacana itu adalah terdiri daripada lapan unsur penting, iaitu
1. Satuan bahasa
2. Terlengkap / terbsesar / tertinggi
3. Mengatasi ayat / klausa
4. Teratur / tersusun rapi / rasa koherensi (kepaduan)
5. Berkesinambungan
6. Rasa kohesi (kepautan)
7. Lisan / tulisan
8. Awal dan akhir
CONTOH ARTIKEL
Masjid Al-Aqsa
Masjid Al-Aqsa, juga ditulis Al-Aqsha, adalah salah satu tempat suci agama Islam yang menjadi bagian dari kompleks bangunan suci di Kota Lama Yerusalem (Yerusalem Timur). Tempat ini oleh umat Yahudi dan Kristen dikenal pula dengan sebutan Bait Allah, suatu tempat paling suci dalam agama Yahudi yang umumnya dipercaya merupakan tempat Bait Pertama dan Bait Kedua dahulu pernah berdiri. Masjid Al-Aqsa secara luas dianggap sebagai tempat suci ketiga oleh umat Islam. Kitab-kitab hadits menjelaskan bahwa Muhammad mengajarkan umat Islam berkiblat ke arah Masjid Al-Aqsa (Baitul Maqdis) hingga 17 bulan setelah hijrah ke Madinah. Setelah itu kiblat salat adalah Ka'bah di dalam Masjidil Haram, Mekkah, hingga sekarang. Pengertian Masjid Al-Aqsa pada peristiwa Isra' Mi'raj dalam Al-Qur'an (Surah Al-Isra' ayat 1) meliputi seluruh kawasan Al-Haram Asy-Syarif
Masjid Al-Aqsa, juga ditulis Al-Aqsha, adalah salah satu tempat suci agama Islam yang menjadi bagian dari kompleks bangunan suci di Kota Lama Yerusalem (Yerusalem Timur). Tempat ini oleh umat Yahudi dan Kristen dikenal pula dengan sebutan Bait Allah, suatu tempat paling suci dalam agama Yahudi yang umumnya dipercaya merupakan tempat Bait Pertama dan Bait Kedua dahulu pernah berdiri. Masjid Al-Aqsa secara luas dianggap sebagai tempat suci ketiga oleh umat Islam. Kitab-kitab hadits menjelaskan bahwa Muhammad mengajarkan umat Islam berkiblat ke arah Masjid Al-Aqsa (Baitul Maqdis) hingga 17 bulan setelah hijrah ke Madinah. Setelah itu kiblat salat adalah Ka'bah di dalam Masjidil Haram, Mekkah, hingga sekarang. Pengertian Masjid Al-Aqsa pada peristiwa Isra' Mi'raj dalam Al-Qur'an (Surah Al-Isra' ayat 1) meliputi seluruh kawasan Al-Haram Asy-Syarif
ARTIKEL
Artikel pilihan adalah artikel-artikel terbaik di Wikipedia, yang ditentukan oleh komunitas. Sebelum dimasukkan ke dalam daftar ini, artikel-artikel tersebut dinilai dan dibahas di Wikipedia:Artikel pilihan/Usulan, untuk memastikan keakuratan, kenetralan, kelengkapan, dan gaya penulisan, berdasarkan Wikipedia:Kriteria artikel pilihan.
Saat ini terdapat 103 artikel pilihan dari 132.921 artikel di Wikipedia.
Artikel yang berhasil mendapatkan status artikel pilihan akan diberikan bintang (LinkFA-star.png) pada pojok kanan atasnya. Selain itu, apabila suatu artikel merupakan artikel pilihan di Wikipedia bahasa lain, akan diberikan bintang pada pranala interwiki di sisi kiri bawah artikel.
Saat ini terdapat 103 artikel pilihan dari 132.921 artikel di Wikipedia.
Artikel yang berhasil mendapatkan status artikel pilihan akan diberikan bintang (LinkFA-star.png) pada pojok kanan atasnya. Selain itu, apabila suatu artikel merupakan artikel pilihan di Wikipedia bahasa lain, akan diberikan bintang pada pranala interwiki di sisi kiri bawah artikel.
MEBACA BERITA
ditulis pada Seminar Jurnalistik, Diesemas ITB Bandung 6 Maret 2009. Berikut adalah panduan panduan bagi Anda yang ingin menjadi Presenter/Host di Televisi.
Persiapan Sebelum Membaca Berita
Pahami berita yang akan dibacakan.
Bila perlu, perbaiki naskah berita dengan sepengetahuan produser program.
Koordinasi dengan produser program terkait rundown berita dan wawancara bila ada.
Siapkan waktu cukup untuk rias wajah dan menata rambut.
Selalu siap bila terjadi hambatan teknis di saat sedang membawakan program.
1. Tetap tenang dan relaks tapi berpikir cepat dan ambil keputusan untuk langkah berikutnya
2. Minta maaf jika terjadi kesalahan
3. Siap berbagai versi kalimat yang akan disampaikan jika terjadi kesalahan
Contoh: “Pemirsa/ kami mohon maaf/ gambar yang baru saja kami tayangkan bukan tentang penggusuran di Jakarta tapi tentang tanggapan wakil presiden Yusuf Kalla tentang melonjaknya harga minyak goreng// Kita beralih ke informasi berikutnya///”
Selalu membawa naskah berita walaupun tersedia prompter.
Bagaimana Membaca Berita dengan Baik
Baca berita seperti bercerita kepada orang lain.
Tatap kamera seakan menatap lawan bicara.
Ekspresi presenter harus sesuai dengan berita yang dibacakan.
Persiapan Sebelum Membaca Berita
Pahami berita yang akan dibacakan.
Bila perlu, perbaiki naskah berita dengan sepengetahuan produser program.
Koordinasi dengan produser program terkait rundown berita dan wawancara bila ada.
Siapkan waktu cukup untuk rias wajah dan menata rambut.
Selalu siap bila terjadi hambatan teknis di saat sedang membawakan program.
1. Tetap tenang dan relaks tapi berpikir cepat dan ambil keputusan untuk langkah berikutnya
2. Minta maaf jika terjadi kesalahan
3. Siap berbagai versi kalimat yang akan disampaikan jika terjadi kesalahan
Contoh: “Pemirsa/ kami mohon maaf/ gambar yang baru saja kami tayangkan bukan tentang penggusuran di Jakarta tapi tentang tanggapan wakil presiden Yusuf Kalla tentang melonjaknya harga minyak goreng// Kita beralih ke informasi berikutnya///”
Selalu membawa naskah berita walaupun tersedia prompter.
Bagaimana Membaca Berita dengan Baik
Baca berita seperti bercerita kepada orang lain.
Tatap kamera seakan menatap lawan bicara.
Ekspresi presenter harus sesuai dengan berita yang dibacakan.
CARA MEMPELAJARI ANAK MEMBACA
Mengajari belajar membaca anak memang susah-susah gampang :) dan ini dibutuhkan kesabaran orang tua. Karena semakin orang tua tidak sabar, semakin susah anak untuk menangkap apa yang diajarkan, akhirnya jadi marah-marah hehehe dan dimalam hari saat melihat dia tidur… jadi trenyuh :) sebagian dari kita tentu pernah mengalami hal yang demikian itu.
Anak tidak bisa dipaksakan untuk berkembang secepat yang kita inginkan. Seperti halnya tanaman, perlu proses dari biji, kemudian tunas, kemudian menjadi pohon dan berbuah. Kalau tanaman kita paksa tumbuh cepat agar segera berbuah dengan memberikan pupuk yang melebihi dosis apa ya yang terjadi? Itulah sebabnya belajar membaca anak harus dilakukan dengan sabar. Akan lebih bijak kalau diberikan pujian-pujian (meskipun masih salah dalam membaca) daripada dimarahin :).
Dalam mengajari anak, kita perlu masuk ke dunia mereka, dunia anak-anak. Mungkin dengan mengajak bermain dengan permainan yang anak gemari, misalkan tebak-tebakan nama hewan, tumbuhan dll bisa dijadikan sarana untuk belajar. Permainan tebak2an dengan menyebutkan nama-nama hewan bisa kita akalin dengan “sebutkan nama-nama hewan dimulai dengan huruf k u” otomatis si anak akan berusaha mengeja huruf k dan u dan seterusnya. Permainan ini sangat efektif untuk mengajari anak mengeja, karena disamping permainannya sendiri mengasikkan, juga bisa kita lagukan dengan ceria. Kesabaran menjadi kunci belajar membaca anak agar si anak tidak terbebani dengan pelajaran membaca.
Anak tidak bisa dipaksakan untuk berkembang secepat yang kita inginkan. Seperti halnya tanaman, perlu proses dari biji, kemudian tunas, kemudian menjadi pohon dan berbuah. Kalau tanaman kita paksa tumbuh cepat agar segera berbuah dengan memberikan pupuk yang melebihi dosis apa ya yang terjadi? Itulah sebabnya belajar membaca anak harus dilakukan dengan sabar. Akan lebih bijak kalau diberikan pujian-pujian (meskipun masih salah dalam membaca) daripada dimarahin :).
Dalam mengajari anak, kita perlu masuk ke dunia mereka, dunia anak-anak. Mungkin dengan mengajak bermain dengan permainan yang anak gemari, misalkan tebak-tebakan nama hewan, tumbuhan dll bisa dijadikan sarana untuk belajar. Permainan tebak2an dengan menyebutkan nama-nama hewan bisa kita akalin dengan “sebutkan nama-nama hewan dimulai dengan huruf k u” otomatis si anak akan berusaha mengeja huruf k dan u dan seterusnya. Permainan ini sangat efektif untuk mengajari anak mengeja, karena disamping permainannya sendiri mengasikkan, juga bisa kita lagukan dengan ceria. Kesabaran menjadi kunci belajar membaca anak agar si anak tidak terbebani dengan pelajaran membaca.
MEMBACA
Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Membaca melibatkan pengenalan simbol yang menyusun sebuah bahasa. Membaca dan mendengar adalah 2 cara paling umum untuk mendapatkan informasi. Informasi yang didapat dari membaca dapat termasuk hiburan, khususnya saat membaca cerita fiksi atau humor.
Sebagian besar kegiatan membaca sebagian besar dilakukan dari kertas. Batu atau kapur di sebuah papan tulis bisa juga dibaca. Tampilan komputer dapat pula dibaca.
Membaca dapat menjadi sesuatu yang dilakukan sendiri maupun dibaca keras-keras. Hal ini dapat menguntungkan pendengar lain, yang juga bisa membangun konsentrasi kita sendiri.
Sebagian besar kegiatan membaca sebagian besar dilakukan dari kertas. Batu atau kapur di sebuah papan tulis bisa juga dibaca. Tampilan komputer dapat pula dibaca.
Membaca dapat menjadi sesuatu yang dilakukan sendiri maupun dibaca keras-keras. Hal ini dapat menguntungkan pendengar lain, yang juga bisa membangun konsentrasi kita sendiri.
Senin, 04 Oktober 2010
Pembelajaran problem Solving dan problem Learning
PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING) DAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEKS (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)
1. PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING)
Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah
Model pengajaran berdasarkan masalah ini telah dikenal sejak zaman John Dewey. Menurut Dewey (dalam Trianto, 2009:91) belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus dan respon, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberikan masukan kepada siswa berupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis, serta dicari pemecahannya dengan baik.
Pengajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berfikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks.
Model pemblajaran berdasarkan masalah dilandasi teori konstruktivis. Pada model ini pembelajaran dimulai dengan menyajikan masalah nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama antara siswa, guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan, guru memberi contoh mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugas-tugas tersebut dapat diselessaikan. Guru menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan oleh siswa.
Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah
Menurut Arends dalam Trianto, karakteristik pembelajaran berbasis masalah adalah:
(1) Pengajuan pertanyaan atau masalah. Pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang keduanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna bagi siswa.
(2) Berfokus pada keterkaitan antardisiplin. Masalah yang akan diselidiki telah dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran.
(3) Penyelidikan autentik. Siswa dituntut untuk menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisa informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi, dan merumuskan kesimpulan.
(4) Menghasilkan produk dan memamerkannya. Produk itu dapat berupa laporan, model fisik, video maupun program komputer.
(5) Kolaborasi. Pembelajaran berdasarkan masalah dicirikan oleh siswa yang bekerjasama satu dengan yang lainnya, secara berpasangan atau dalam kelompok kecil.
Berdasarkan karekteristik tersebut, pembelajaran berdasarkan masalah memiliki tujuan:
a. membantu siswa mengembangkan keterampilan berfikir dan keterampilan pemecahan masalah
b. belajar peranan orang dewasa yang autentik
c. menjadi pebelajar yang mandiri.
Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Kelebihan pembelajaran berdasarkan masalah sebagai suatu model pembelajaran adalah:
· Realistik dengan kehidupan siswa
· Konsep sesuai dengan kebutuhan siswa
· Memupuk sifat inquiry siswa
· Retensi konsep menjadi kuat
· Memupuk kemampuan problem solving
Selain itu, kekurangannya adalah:
o Persiapan pembelajaran (alat, problem, konsep) yang kompleks
o Sulitnya mencari problem yang relevan
o Sering terjadi miss-konsepsi
o Memerlukan waktu yang cukup panjang
Sintaks Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Sintaks suatu pembelajaran berisi langkah-langkah praktis yang harus dilakukan oleh guru dan siswa dalam suatu kegiatan. Dalam pembelajaran berdasarkan masalah, ada 5 langkah utama yaitu:
Tahap
Tingkah Laku guru
Tahap-1
Orientasi siswa pada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih.
Tahap-2
Mengorganisasi siswa untuk belajar
Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut
Tahap-3
Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
Tahap-4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
Tahap-5
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
2. PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEKS (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)
Definisi pembelajaran kontekstual secara umum masih belum disepakati oleh para ahli, tetapi tentang dasar dan unsur-unsur kuncinya lebih banyak yang mereka sepakati. Pembelajaran kontekstual sebagai terjemahan Contextual Teaching and Learning (CTL) memiliki dua peranan dalam pendidikan yaitu sebagai filosofi pendidikan dan sebagai rangkaian kesatuan dari strategi pendidikan. Sebagai filosofi pendidikan, CTL mengasumsikan bahwa peranan pendidik adalah membantu peserta didik menemukan makna dalam pendidikan dengan cara membuat hubungan antara apa yang mereka peroleh di dunia nyata dengan yang mereka pelajari di sekolah untuk kemudian menerapkan pengetahuan tersebut di dunia nyata. Dengan demikian, inti pembelajaran kontekstual adalah melibatkan situasi dunia nyata sebagai sumber maupun terapan materi pelajaran.
Pembelajaran kontekstual sebenarnya bukanlah ide baru. Pembelajaran tersebut berakar dari filosofi yang dikembangkan oleh John Dewey yang mengemukakan bahwa peserta didik akan belajar dengan baik, ketika apa yang dipelajarinya dikaitkan dengan apa yang mereka ketahui dan ketika mereka secara aktif belajar sendiri.
Dalam pembelajaran kontekstual, terdapat beberapa ciri, yaitu:
a. Pembelajaran aktif: peserta didik diaktifkan untuk mengkontsruksi pengetahuan dan memecahkan masalah.
b. Multi konteks: pembelajaran dalam konteks yang ganda akan memberikan peserta didik pengalaman yang dapat digunakan untuk mempelajari dan mengidentifikasi ataupun memecahkan masalah dalam konteks yang baru (terjadi transfer).
c. Kerjasama dan diskursus: peserta didik belajar dari orang lain melalui kerjasama, diskursus (penjelasan-penjelasan) kerja tim dan mandiri (self reflection).
d. Berhubungan dengan dunia nyata: pembelajaran yang menghubungkan dengan isu-isu kehidupan nyata melalui kegiatan pengalaman di luar kelas dan simulasi.
e. Pengetahuan prasyarat: pengalaman awal peserta didik dan situasi pengetahuan yang didapat mereka akan berarti atau bernilai dan nampak sebagai dasar dalam pembelajaran.
f. Pemecahan masalah: berpikir tingkat tinggi yang diperlukan dalam memecahkan masalah nyata harus ditekankan pada kebermaknaan memorasi dan pengulangan-pengulangan.
g. Mengarahkan sendiri (self-direction): peserta didik ditantang dan dimungkinkan untuk membuat pilihan-pilihan, mengembangkan alternatif-laternatif, dan diarahkan sendiri. Dengan demikian mereka bertanggung jawab sendiri dalam belajarnya (Aisyah, 2007).
Menerapkan CTL dalam suatu pembelajaran pada prisipnya sama saja dengan menciptakan suatu pembelajaran yang menantang daya cipta siswa untuk menemukan informasi baru dalam pembelajaran. Di dalam Depdiknas (2003) disebutkan bahwa ada tujuh prinsip pembelajaran CTL, yaitu:
(1) kontsruktivis (constructivism),
(2) inkuiri (inquiry),
(3) bertanya (questioning),
(4) masyarakat belajar (learning community),
(5) pemodelan (modeling),
(6) refleksi (reflection) dan
(7) penilaian yang sebenarnya (authentic assestment).
(1) Kontsruktivisme (Constructivism)
Siswa membangun pemahaman oleh diri sendiri dari pengalaman-pengalaman baru berdasarkan pengalaman awal. Pengalaman awal selalu merupakan dasar/tumpuan yang digabung dengan pengalaman baru untuk mendapatkan pengalaman baru. Pemahaman yang mendalam dikembangkan melalui pengalaman yang bermakna.
(2) Penemuan (Inquiry)
Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan induktif, diawali dengan pengamatan dalam rangka memahami suatu konsep. Dalam praktik, pembelajaran melewati siklus kegiatan mengamati, bertanya, menganalisis, dan merumuskan teori, baik secara individual maupun secara bersama-sama dengan temannya. Penemuan juga merupakan aktivitas untuk mengembangkan dan sekaligus menggunakan keterampilan berpikir kritis siswa.
(3) Bertanya (Questioning)
Pertanyaan merupakan komponen penting dalam pembelajaran kontekstual. Pertanyaan merupakan alat pembelajaran bagi guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Pertanyaan juga digunakan oleh siswa selama melaksanakan kegiatan yang berbasis penemuan.
(4) Masyarakat belajar (Learning Community)
Proses pembelajaran berlangsung dalam situasi sesama siswa saling berbicara dan menyimak, berbagi pengalaman dengan orang lain. Bekerja sama dengan orang lain untuk menciptakan pembelajaran siswa aktif lebih baik jika dibandingkan dengan belajar sendiri yang mendidik siswa untuk menjadi individu yang egoistis.
(5) Pemodelan (Modeling)
Aktivitas guru di kelas memiliki efek model bagi siswa. Jika guru mengajar dengan berbagai variasi metode dan teknik pembelajaran, secara tidak langsung siswa pun akan meniru metode atau teknik yang dilakukan guru tersebut. Kondisi semacam ini akan banyak memberika manfaat bagi guru untuk mengarahkan siswa melakukan sesuatu yang diinginkannya melalui pendemonstrasian cara yang diinginkan tersebut.
(6) Refleksi (Reflection)
Salah satu pembeda pendekatan kontekstual dengan pendekatan tradisional adalah cara-cara berpikir tentang sesuatu yang telah dipelajari oleh siswa. Dalam proses berpikir itu, siswa dapat merevisi dan merespon kejadian, aktivitas, dan pengalaman mereka.
(7) Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assestment)
Penilaian autentik ini bersifat mengukur produk pembelajaran yang bervariasi, yaitu pengetahuan dan keterampilan serta sikap siswa. Penilaian ini juga tidak hanya melihat produk akhir, tetapi juga prosesnya. Instruksi dan pertanyaan-pertanyaannya disusun yang kontekstual dan relevan.
Referensi:
Aisyah, Nyimas. 2007. Pengembangan Pembelajaran Matematika SD. Jakarta: Depdiknas
Depdiknas. 2003. Pendekatan Konteksual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta: Depdiknas
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana
1. PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING)
Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah
Model pengajaran berdasarkan masalah ini telah dikenal sejak zaman John Dewey. Menurut Dewey (dalam Trianto, 2009:91) belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus dan respon, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberikan masukan kepada siswa berupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis, serta dicari pemecahannya dengan baik.
Pengajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berfikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks.
Model pemblajaran berdasarkan masalah dilandasi teori konstruktivis. Pada model ini pembelajaran dimulai dengan menyajikan masalah nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama antara siswa, guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan, guru memberi contoh mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugas-tugas tersebut dapat diselessaikan. Guru menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan oleh siswa.
Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah
Menurut Arends dalam Trianto, karakteristik pembelajaran berbasis masalah adalah:
(1) Pengajuan pertanyaan atau masalah. Pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang keduanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna bagi siswa.
(2) Berfokus pada keterkaitan antardisiplin. Masalah yang akan diselidiki telah dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran.
(3) Penyelidikan autentik. Siswa dituntut untuk menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisa informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi, dan merumuskan kesimpulan.
(4) Menghasilkan produk dan memamerkannya. Produk itu dapat berupa laporan, model fisik, video maupun program komputer.
(5) Kolaborasi. Pembelajaran berdasarkan masalah dicirikan oleh siswa yang bekerjasama satu dengan yang lainnya, secara berpasangan atau dalam kelompok kecil.
Berdasarkan karekteristik tersebut, pembelajaran berdasarkan masalah memiliki tujuan:
a. membantu siswa mengembangkan keterampilan berfikir dan keterampilan pemecahan masalah
b. belajar peranan orang dewasa yang autentik
c. menjadi pebelajar yang mandiri.
Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Kelebihan pembelajaran berdasarkan masalah sebagai suatu model pembelajaran adalah:
· Realistik dengan kehidupan siswa
· Konsep sesuai dengan kebutuhan siswa
· Memupuk sifat inquiry siswa
· Retensi konsep menjadi kuat
· Memupuk kemampuan problem solving
Selain itu, kekurangannya adalah:
o Persiapan pembelajaran (alat, problem, konsep) yang kompleks
o Sulitnya mencari problem yang relevan
o Sering terjadi miss-konsepsi
o Memerlukan waktu yang cukup panjang
Sintaks Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Sintaks suatu pembelajaran berisi langkah-langkah praktis yang harus dilakukan oleh guru dan siswa dalam suatu kegiatan. Dalam pembelajaran berdasarkan masalah, ada 5 langkah utama yaitu:
Tahap
Tingkah Laku guru
Tahap-1
Orientasi siswa pada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih.
Tahap-2
Mengorganisasi siswa untuk belajar
Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut
Tahap-3
Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
Tahap-4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
Tahap-5
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
2. PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEKS (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)
Definisi pembelajaran kontekstual secara umum masih belum disepakati oleh para ahli, tetapi tentang dasar dan unsur-unsur kuncinya lebih banyak yang mereka sepakati. Pembelajaran kontekstual sebagai terjemahan Contextual Teaching and Learning (CTL) memiliki dua peranan dalam pendidikan yaitu sebagai filosofi pendidikan dan sebagai rangkaian kesatuan dari strategi pendidikan. Sebagai filosofi pendidikan, CTL mengasumsikan bahwa peranan pendidik adalah membantu peserta didik menemukan makna dalam pendidikan dengan cara membuat hubungan antara apa yang mereka peroleh di dunia nyata dengan yang mereka pelajari di sekolah untuk kemudian menerapkan pengetahuan tersebut di dunia nyata. Dengan demikian, inti pembelajaran kontekstual adalah melibatkan situasi dunia nyata sebagai sumber maupun terapan materi pelajaran.
Pembelajaran kontekstual sebenarnya bukanlah ide baru. Pembelajaran tersebut berakar dari filosofi yang dikembangkan oleh John Dewey yang mengemukakan bahwa peserta didik akan belajar dengan baik, ketika apa yang dipelajarinya dikaitkan dengan apa yang mereka ketahui dan ketika mereka secara aktif belajar sendiri.
Dalam pembelajaran kontekstual, terdapat beberapa ciri, yaitu:
a. Pembelajaran aktif: peserta didik diaktifkan untuk mengkontsruksi pengetahuan dan memecahkan masalah.
b. Multi konteks: pembelajaran dalam konteks yang ganda akan memberikan peserta didik pengalaman yang dapat digunakan untuk mempelajari dan mengidentifikasi ataupun memecahkan masalah dalam konteks yang baru (terjadi transfer).
c. Kerjasama dan diskursus: peserta didik belajar dari orang lain melalui kerjasama, diskursus (penjelasan-penjelasan) kerja tim dan mandiri (self reflection).
d. Berhubungan dengan dunia nyata: pembelajaran yang menghubungkan dengan isu-isu kehidupan nyata melalui kegiatan pengalaman di luar kelas dan simulasi.
e. Pengetahuan prasyarat: pengalaman awal peserta didik dan situasi pengetahuan yang didapat mereka akan berarti atau bernilai dan nampak sebagai dasar dalam pembelajaran.
f. Pemecahan masalah: berpikir tingkat tinggi yang diperlukan dalam memecahkan masalah nyata harus ditekankan pada kebermaknaan memorasi dan pengulangan-pengulangan.
g. Mengarahkan sendiri (self-direction): peserta didik ditantang dan dimungkinkan untuk membuat pilihan-pilihan, mengembangkan alternatif-laternatif, dan diarahkan sendiri. Dengan demikian mereka bertanggung jawab sendiri dalam belajarnya (Aisyah, 2007).
Menerapkan CTL dalam suatu pembelajaran pada prisipnya sama saja dengan menciptakan suatu pembelajaran yang menantang daya cipta siswa untuk menemukan informasi baru dalam pembelajaran. Di dalam Depdiknas (2003) disebutkan bahwa ada tujuh prinsip pembelajaran CTL, yaitu:
(1) kontsruktivis (constructivism),
(2) inkuiri (inquiry),
(3) bertanya (questioning),
(4) masyarakat belajar (learning community),
(5) pemodelan (modeling),
(6) refleksi (reflection) dan
(7) penilaian yang sebenarnya (authentic assestment).
(1) Kontsruktivisme (Constructivism)
Siswa membangun pemahaman oleh diri sendiri dari pengalaman-pengalaman baru berdasarkan pengalaman awal. Pengalaman awal selalu merupakan dasar/tumpuan yang digabung dengan pengalaman baru untuk mendapatkan pengalaman baru. Pemahaman yang mendalam dikembangkan melalui pengalaman yang bermakna.
(2) Penemuan (Inquiry)
Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan induktif, diawali dengan pengamatan dalam rangka memahami suatu konsep. Dalam praktik, pembelajaran melewati siklus kegiatan mengamati, bertanya, menganalisis, dan merumuskan teori, baik secara individual maupun secara bersama-sama dengan temannya. Penemuan juga merupakan aktivitas untuk mengembangkan dan sekaligus menggunakan keterampilan berpikir kritis siswa.
(3) Bertanya (Questioning)
Pertanyaan merupakan komponen penting dalam pembelajaran kontekstual. Pertanyaan merupakan alat pembelajaran bagi guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Pertanyaan juga digunakan oleh siswa selama melaksanakan kegiatan yang berbasis penemuan.
(4) Masyarakat belajar (Learning Community)
Proses pembelajaran berlangsung dalam situasi sesama siswa saling berbicara dan menyimak, berbagi pengalaman dengan orang lain. Bekerja sama dengan orang lain untuk menciptakan pembelajaran siswa aktif lebih baik jika dibandingkan dengan belajar sendiri yang mendidik siswa untuk menjadi individu yang egoistis.
(5) Pemodelan (Modeling)
Aktivitas guru di kelas memiliki efek model bagi siswa. Jika guru mengajar dengan berbagai variasi metode dan teknik pembelajaran, secara tidak langsung siswa pun akan meniru metode atau teknik yang dilakukan guru tersebut. Kondisi semacam ini akan banyak memberika manfaat bagi guru untuk mengarahkan siswa melakukan sesuatu yang diinginkannya melalui pendemonstrasian cara yang diinginkan tersebut.
(6) Refleksi (Reflection)
Salah satu pembeda pendekatan kontekstual dengan pendekatan tradisional adalah cara-cara berpikir tentang sesuatu yang telah dipelajari oleh siswa. Dalam proses berpikir itu, siswa dapat merevisi dan merespon kejadian, aktivitas, dan pengalaman mereka.
(7) Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assestment)
Penilaian autentik ini bersifat mengukur produk pembelajaran yang bervariasi, yaitu pengetahuan dan keterampilan serta sikap siswa. Penilaian ini juga tidak hanya melihat produk akhir, tetapi juga prosesnya. Instruksi dan pertanyaan-pertanyaannya disusun yang kontekstual dan relevan.
Referensi:
Aisyah, Nyimas. 2007. Pengembangan Pembelajaran Matematika SD. Jakarta: Depdiknas
Depdiknas. 2003. Pendekatan Konteksual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta: Depdiknas
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana
Langganan:
Postingan (Atom)