Selasa, 05 Oktober 2010

MANAJEMEN ORGANISASI / LEMBAGA

Maha kuasa Tuhan Allah SWT. Yang menciptakan manusia yang begitu sempurna dari pada makhluk lain. Manusia diciptakan dengan penuh fasilitas yang tepat dan sesuai dengan porsinya, diciptakan manusia dengan diberi fasilitas akal, jiwa, dan fisik yang kesemuanya bisa saling bersinergi dan tetap menjalankan tugas masing-masing yang telah diberikan.
Demikian juga dengan fasilitas lain yang diberikan seperti mata yang di tempatkan di atas-depan, dua telingah masing-masing kiri dan kanan, dua kaki masing-masing posisi di bawah, kepala sebagai symbol pemimpin ditempatkan pada posisi atas, dua tangan di tengah-tengah masing-masing kiri dan kanan dengan kemampuan menjangkau seluruh bagian tubuh.

Kesemuanya menjalankan amanah sesuai dengan job dan atau fingsi yang diberikan. Walaupun perbedaan job yang diberikan namun tetap saling bekerja sama, bahwasan dalam kondisi tertentu, terkadang yang satu dapat menjalankan fungsi yang lainnya, tanpa pamrih.

Kita tidak dapat membayangkan sekiranya Allah SWT. Menciptakan manusia dengan menempatkan; kepala di kaki atau sebaliknya kaki di kepala, yang lebih ironis lagi sekiranya mata di ujung telunjuk, atau lubang hidung menghadap ke atas!!! Kesemua itu, Allah SWT yang dengan kekuasaannya tidak ada yang luput darinya, semuanya dapat terjadi atas kehendaki-Nya.

Kesempurnaan yang di miliki manusia tersebut, maka pantaslah manusia diberikan gelar “raja mahluki”, Namun ketika amanah itu tidak dijalankan sebagai mestinya maka manusia akan lebih hina dari pada binatang dengan gelar “asfala saafiliin”

Dengan demikian bagaimana menjalankan oranganisasi sebagaimana gambaran yang ada pada tubuh manusia yang sempurna penciptaannya ?

Managemen organisasi sebagaimana yang kita pahami secara umum merupakan kelompok manusia yang berhimpun dan bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan bersama. Diskursus tentang managemen organisasi ada tiga unsur yang sulit dipisahkan (three in one) keberadaannya, tanpa ketiga tersebut maka tidak akan berjalan dengan baik sebagaimana mestinya, ketiga hal tersebut yaitu: organisasi, manajemen, dan kepemimpinan.
Guna memahami dari ketiga tersebut, di bawah ini dapat dilihat masing-masing gambarannya, yaitu

A. Organisasi
1. Organisasi adalah suatu kumpulan manusia atau kelompok yang bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.
2. Organisasi mempunyai struktur atau hierarki jabatan, baik vertikal maupun horisontal.
3. Dalam jabatan ada job description, tugas, wewenang, dan tanggung jawab tiap-tiap jabatan.
4. Dalam susunan anggota organisasi ada atasan dan bawahan (hierarki) yang dinamakan pimpinan dan anak buah (bawahan).
5. Organisasi mempunyai sumber-sumber dana, fasilitas, dan tata cara penggunaannya.
6. Organisasi bentuknya bisa formal (mempunyai legalitas) atau informal

B. Manajemen
1. Manajemen adalah mengerjakan sesuatu melalui orang lain (doing things through other people).
2. Manajemen adalah “do things right” (efisien) dan “do the right things” (efektif).
3. Manajemen adalah melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi untuk pencapaian tujuan organisasi.
4. Manajemen memanfaatkan sumber-sumber berupa SDM, alat produksi, modal, metode, outsourcing, bahan baku, pasar, informasi, network,

C. Pemimpin
1. Pemimpin ada dalam kelompok manusia atau organisasi.
2. Pemimpin adalah pucuk pimpinan organisasi atau suborganisasi, dan mempunyai anak buah, bawahan, subordinat, atau pengikut
3. Dengan visinya, pemimpin harus dapat membawa atau mengerahkan anak buahnya secara bersama-sama dalam suatu jalinan kerja yang kompak dan terpadu untuk mencapai tujuan organisasi.
4. Pemimpin dalam organisasi mempunyai kedudukan formal-artinya ada tugas, wewenang, dan tanggung jawab formal, tetapi harus pula dapat bertindak secara informal melalui pendekatan kemanusiaan dengan para anak buahnya untuk memberikan dukungan-dukungan moril dan motivasi sehingga moral, prestasi, produktivitas anak buah selalu meningkat.
5. Dalam tingkat kualitas dan prestasi tertentu, seorang pemimpin sebagai individu dapat melekat atau selalu diasosiasikan dengan organisasi yang ia pimpin sebagai pengakuan atas prestasi pemimpin tersebut. Artinya, mendengar organisasi akan teringat pemimpinnya atau mendengar pemimpin akan teringat organisasinya.

Untuk mencapai tujuan bersama dalam sebuah organisasi, maka tidak hanya karena organisasi tersebut besar secara struktural, ternama, punya founding yang jelas, power yang hebat, namun juga diperlukan adanya:
1. pembagian kerja di dalam organisasi berupa struktur organisasi dan deskripsi kerja. Ada hierarkhi yang disebut atasan dan bawahan, ada pangkat dan jabatan,
2. rencana kerja baik jangka pendek maupun jangka panjang
3. taktik dan strategi dalam mencapai tujuan kelompok dan organisasi
4. dukungan lahir dan bathin dari pemimpin pada anak buahnya berupa loyalitas, demikian pula sebaliknya berupa kepatuhan agar ada kesatuan jiwa
5. pembinaan yang berkelanjutan dari pemimpin kepada pengikut.
6. persatuan dan kesatuan harus selalu dijaga dalam kelompok atau organisai, agar selalu kompak, solid, dan menjaga keharmonisan di atara anggota organisasinya.
7. semangat, moral serta motivasi yang tinggi dari seluruh anggota kelompok atau organisasi, agar tumbuh tekad kebersamaan.
8. figure pemimpin sebagai tauladan dan mengayomi bagi anak buahnya, agar timbul moral, ketenangan, dan lahir bathin pada anak buahnya.
9. pemimpin harus dapat mengatasi konflik anggota kelompok dengan bijak dan sebaik-baiknya, konflik harus menjadi konstruktif bukan destruktif.
10. pemimpin harus dapat membuat keputusan-keputusan dengan cepat dan tepat sasaran dalam segala situasi apakah situasi normal ataupun pada situasi kritis dan krisis.

Rendahnya Kepiawaian kepemimpinan nasional saat ini baik di pemerintah maupun di sektor swasta. Memang harus diakui kepemimpinan karena di era Orde Baru mulai akhir tahun 1980-an sampai sekarang banyak menggunakan pendekatan otoriter dan sangat mendidik manusia Indonesia menjadi bermental bebek yang hanya mengiyakan, berteriak, selalu minta petunjuk, dan bekerja berdasarkan asal selamat.


Setelah krisis ekonomi pada akhir 1997, mulai terkuak bagaimana sulitnya bawahan melepaskan diri dari kebiasaan tergantung kepada pimpinan. Sebaliknya, sang pemimpin juga tidak menyadari bahwa dia bukan yang selalu benar dan segala sesuatu tidak harus terus di bawah kendalinya. Kalau kita tidak melakukan suatu perubahan mendasar, kita akan semakin sulit untuk keluar dari situasi ini. Sumber: Ariwibowo Prijosaksono & Ping Hartono, 2002, :x iii-xiv.)

Tidak bisa dipungkiri bahwa di Indonesi dan demikian juga di Negara lain jutaan organisasi yang terlahir dengan semboyang masing-masing. Baik organisasi formal maupun non formal. Namun juga tidak dapat mencapai tujuan dan cita ideal sebagaiman yang diharapkan sebelum dibentuk. Tentu hal tersebut bukan hanya karena factor organisasi dan managemennnya yang kurang baik, akan tetapi juga kegagalan orang –orang yang memimpin, berikut di bawah ini beberapa sumber kegagalan dalam memimpin suatu organisasi, yaitu :


1. pemimpin selalu menempatkan diri hanya pada kedudukan formal sebagai pimpinan saja. Akibatnya, banyak mengandalkan kepada kekuasaan formal saja, tanpa memperhatikan hubungan kemanusiaan dengan anak buah. Biasanya, pemimpin seperti ini kalau sudah tidak menjabat lagi, tidak akan dihormati atau dipedulikan mantan anak buahnya. Hal inilah biasanya yang menyakitkan para mantan pemimpin seperti itu. Ingat, kepemimpinan adalah hubungan sesama manusia, bukan hubungan dengan benda mati atau robot.


2. Tidak mampu membangun team work, sehingga sulit untuk mengarahkan anak buah dalam suatu kesatuan atau sinergi untuk mencapai tujuan dengan efektif dan efisien. Hal itu disebabkan karena anggota tim tidak mempunyai motivasi dan spirit yang tinggi dalam kebersamaan di dalam kelompoknya dalam proses mencapai tujuannya. Pemimpin seperti ini akan membingungkan anak buahnya


3. Hanya ingin dilayani. Padahal, pemimpin juga sebaiknya mau melayani anak buahnya. Namun, karena pengaruh sifat feodalisme yang sangat kental pada bangsa ini, banyak pemimpin yang hanya ingin dilayani, seolah-olah hanya dia yang berhak dilayani, bahkan anak buahnya juga harus memberikan upeti. Oleh sebab itu, ingatlah akan ungkapan “pemimpinmu adalah pelayanmu”. Melayani anak buah itu memang berat, tetapi inilah salah satu konsekuensi menjadi pemimpin


4. Tidak mau menanggung risiko. Akibatnya, anak buah dikorbankan dan menjadi kambing hitam jika terjadi suatu kesalahan. Perlu diingat, dalam pepatah militer “Tidak ada prajurit yang salah; yang salah adalah komandannya”. Pemimpin harus mau berkorban untuk melindungi anak buahnya, bukan hanya mencari selamat sendiri. Akibatnya pemimpin seperti ini akan dibenci anak buahnya


5. Tidak mampu memberikan motivasi kepada anak buah agar tumbuh semangat team work yang kompak dan solid untuk menjadi tim unggul. Bersifat masa bodoh pada anak buahnya-anak buah mau pintar atau bodoh terserah masing-masing tetapi ia bersikap reaktif. Tidak mau mendengar usulan-usulan atau gagasan-gagasan dari bawahan, tetapi kalau terjadi kesalahan maka anak buahnya akan disalahkan dan dimarahi habis-habisan. Kalau ada usulan atau gagasan yang baik dari anak buah akan ditolak, tetapi nanti usulan tersebut kalau ternyata baik akan dimanfaatkan, seolah-olah merupakan hasil pemikirannya sendiri.


6. Menghendaki loyalitas dari anak buah atau bawahan sebaliknya pemimpin tersebut tidak loyal pada anak buah, tidak memperhatikan kebahagiaan dan tidak memelihara semangat anak buah. Loyalitas yang benar itu harus dua arah,


7. Banyak pemimpin yang dikelilingi oleh para penjilat, pembisik, pembebek, berjiwa budak, punakawan, oportunis, yes-man, munafik yang bersikap ABS (asal bapak senang, dan koruptor, sehingga pemimpin kehilangan objektivitasnya dalam mempertimbangkan sesuatu dan dalam membuat keputusan-keputusan.


8, Tidak bisa menempatkan diri sebagai panutan dengan keteladanan dalam perbuatan. Padahal, seorang pemimpin harus berkata “Do as I do”, bukan “Do as I say”.


9. Anggapan bahwa kedudukannya seolah-olah bias ditempati seumur hidup, sudah duduk lupa berdiri, bahkan merasa kedudukannya bisa diwariskan kepada anaknya, sehingga lupa bahwa kinerja organisasi yang jelek bisa mernbuat seorang pemimpin jatuh atau diberhentikan. Semakin tinggi kedudukan atau jabatan, semakin banyak orang yang menyoroti tingkah laku pemimpinnya. Selarna menjadi pemimpin ia hanya menikmati kedudukan dengan berbagai fasilitas yang dapat dinikmatinya, dan melakukan korupsi untuk memperkaya diri sendiri. Inilah pemimpin yang celaka. Begitu jatuh, pemimpin seperti ini akan disoraki anak buahnya.


10. Pemimpin yang memang tidak pintar. Garis tangan nasiblah yang membuat ia bisa menduduki jabatan tertentu meskipun sebenarnya ia tidak layak menjadi pemimpin. Bisa saja jabatan itu didapat karena kedekatan dengan atasannya, atau dengan cara-cara yang tidak elok seperti menyogok, menjilat, memfitnah, menempel, menghambakan diri pada atasan, menjelekkan orang lain, melakukan praktik perdukunan, dan lain-lain. Di Indonesia masih ada pemimpin seperti ini dan rasakanlah akibatnya, negara kita sulit maju. Atau bisa saja karena belum mantapnya demokrasi dan hukum di Indonesia dalam praktik di lapangan, sehingga kecemasan Socrates di Athena dulu dan kaum intelektual zaman ini terbukti, bahwa demokrasi memungkinkan orang-orang dungu akan memerintah orang-orang pintar.

Bagaimana mahasiswa menjadi pemimpin ?
Mahasiswa sebagai generasi pelanjut tongkat estafet pembangunan bangsa dan Negara tentunya harus senantiasa membiasakan diri mempelajari teori dan tekni dalam kepemimpinan. Bagaimanapun juga dengan perjalanan waktu maka mahasiswa sebagai bagian dari generasi yang dimaksudkan mau tidak mau kedepan akan diberikan beban dan tanggung jawab dalam menjalankan dan melanjutkan amanah Negara Republik Indonesia, baik ia di dalam system pemerintahan maupun diluar system pemerintahan.


Tentunya jauh sebelumnya harus dipersiapkan lebih dini, dalam hal ini wada yang sangat efektif dalam proses penggalian tersbut adalah dalam dunia kampua, maka bagaimana cara melatih diri dalam kepemimpinan? Berikut ini dalam lingkup mahasiswa yang dapat dijasikans sebagai referensi:
1. bahwasanya, bakat bawaan atau tidak berbakat, bukan menjadi soal. Yang penting punya kemauan, niat, tekad, dan segera berbuat.
2. berinteraksi dengan lingkungan melalui cara bergaul untuk hal-hal yang positif dan produktif.
3. mau masuk dalam organisasi dan menajdi anggota aktif. Jadilah anak buah yang baik sebelum menjadi pemimpin yang baik, kemudian berusaha menjadi pengurus organisasi. Dikampus banyak aktivitas ekstrakokurikuler
4. manfaatkan setiap peluang untuk menjdapatkan pengalaman dalam memimpin dimulai dari hal-hal terkecil. Dinataranya :
- mengerjakan tugas dengn baik
- mampu bekerjasama baik secara vertical maupun horizontal.
- Berani serta mau berinisiatif dan kreatif
- Berani berkorban
- Sedikit bicara dan bayak kerja
- Belajar berdiskudi, bertanya, mengemukakan pendapat
- Belajar menghargai hasil karya orang lain
- Mengembangkan kesetiakawanan
- Mengembangkan personal network
- Mengembangkan kemampuan berkomunikasi.
- Mengembangkan kemampuan membuat gagasan, konsep, ataupun proposal-proposal dalam bentuk tulisan.
- Membuat laporan pertanggung jawaban.
Patut disimak, bahwa banyak orang yang berhasil di masyarakat, baik dalam karir, politik, maupun bisnis, adalah mereka yang dulunya sangat aktif dalam berorganisasi dan kegiatan ekstra kurikuler sewaktu jadi mahasiswa. Sebaliknya Justru yang ketika masih mahasiswa pintar, prestasi akademisnya baik, bahkan lulusnya menyandang predikat cum laude tapi kurang gaul, sedikit yang berhasil dalam berkarir-terutama yang menjadi pemimpin di masyarakat, karena terdapat kelemahan dalam bidang leadership dan kemampuan bergaul


Dilain sisi, Dalam organisasi pemerintah maupun swasta, banyak pegawai yang mempunyai prestasi akademis yang baik waktu di perguruan tinggi, ternyata dipimpin oleh mereka yang prestasi akademisnya biasa saja. Maka , kemampuan bergaul sangat penting sekali dalam suatu kepemimpinan.
Dengan demikian, jadilah mahasiswa yang aktif dalam kegiatan organisasi dan ekstra kurikuler serta pandai bergaul tanpa mengabaikan tugas-tugas intrakurikuler supaya tidak kena DO, agar suatu saat kalau sudah menjadi sarjana dan berkecimpung di masyarakat sudah terbiasa memimpin dan dapat menjadi pemimpin yang baik, bahkan bisa menjadi entrepreneur yang baik, sukses, dan tangguh, karena nantinya selain mempunyai IQ (intellegence quotient) yang tinggi juga memiliki kecerdasan emosional yang diistilahkan EI (emotional intelligence) dan EQ (emotional quotient), serta kecerdasan sosial (social quotient)

Pengembangan Konsep Dasar IPS (SD)

PEMBELAJARAN PENDIDIKAN IPS DI TINGKAT SEKOLAH DASAR

Judul: PEMBELAJARAN PENDIDIKAN IPS DI TINGKAT SEKOLAH DASAR
Bahan ini cocok untuk Perguruan Tinggi bagian IPS / SOCIAL SCIENCE.
Nama & E-mail (Penulis): Arief Achmad Mangkoesapoetra
Saya Guru di SMAN 21 Bandung
Topik: Model Pembelajaran
Tanggal: 16 Agustus 2005

Menyongsong Diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi :
PEMBELAJARAN PENDIDIKAN IPS DI TINGKAT SEKOLAH DASAR
Oleh :
Drs. ARIEF ACHMAD MSP., M.Pd.

Pendahuluan

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) secara nasional akan diimplementasikan pada tahun pembelajaran 2004-2005, meskipun semenjak digulirkan (2001) sudah ada beberapa sekolah yang memberlakukannya, dalam bentuk uji coba atau menjadi pilot project dari Depdiknas. Gaung KBK kiranya sudah menggema ke seluruh pelosok persada tanah air tercinta, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), khususnya di kalangan pendidikan. Demikian halnya harapan yang sama ditujukan bagi KBK pendidikan IPS di tingkat SD.

Tulisan ini mencoba memberikan deskripsi tentang hal-hal apa saja yang perlu diketahui, dipahami, dan diimplementasikan dari KBK IPS di tingkat SD itu.

Pendidikan IPS untuk Sekolah Dasar

Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD harus memperhatikan kebutuhan anak yang berusia antara 6-12 tahun. Anak dalam kelompok usia 7-11 tahun menurut Piaget (1963) berada dalam perkembangan kemampuan intelektual/kognitifnya pada tingkatan kongkrit operasional. Mereka memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh, dan menganggap tahun yang akan datang sebagai waktu yang masih jauh. Yang mereka pedulikan adalah sekarang (=kongkrit), dan bukan masa depan yang belum bisa mereka pahami (=abstrak). Padahal bahan materi IPS penuh dengan pesan-pesan yang bersifat abstrak. Konsep-konsep seperti waktu, perubahan, kesinambungan (continuity), arah mata angin, lingkungan, ritual, akulturasi, kekuasaan, demokrasi, nilai, peranan, permintaan, atau kelangkaan adalah konsep-konsep abstrak yang dalam program studi IPS harus dibelajarkan kepada siswa SD.

Berbagai cara dan teknik pembelajaran dikaji untuk memungkinkan konsep-konsep abstrak itu dipahami anak. Bruner (1978) memberikan pemecahan berbentuk jembatan bailey untuk mengkongkritkan yang abstrak itu dengan enactive, iconic, dan symbolic melalui percontohan dengan gerak tubuh, gambar, bagan, peta, grafik, lambang, keterangan lanjut, atau elaborasi dalam kata-kata yang dapat dipahami siswa. Itulah sebabnya IPS SD bergerak dari yang kongkrit ke yang abstrak dengan mengikuti pola pendekatan lingkungan yang semakin meluas (expanding environment approach) dan pendekatan spiral dengan memulai dari yang mudah kepada yang sukar, dari yang sempit menjadi lebih luas, dari yang dekat ke yang jauh, dan seterusnya : dunia-negara tetangga-negara-propinsi-kota/kabupaten-kecamatan-kelurahan/desa-RT/RW-tetangga-keluarga-Aku.

Pola Pendekatan Lingkungan yang Semakin Meluas

Pembelajaran IPS SD akan dimulai dengan pengenalan diri (self), kemudian keluarga, tetangga, lingkungan RT, RW, kelurahan/desa, kecamatan, kota/kabupaten, propinsi, negara, negara tetangga, kemudian dunia. Anak bukanlah sehelai kertas putih yang menunggu untuk ditulisi, atau replika orang dewasa dalam format kecil yang dapat dimanipulasi sebagai tenaga buruh yang murah, melainkan, anak adalah entitas yang unik, yang memiliki berbagai potensi yang masih latent dan memerlukan proses serta sentuhan-sentuhan tertentu dalam perkembangannya. Mereka yang memulai dari egosentrisme dirinya kemudian belajar, akan menjadi berkembang dengan kesadaran akan ruang dan waktu yang semakin meluas, dan mencoba serta berusaha melakukan aktivitas yang berbentuk intervensi dalam dunianya. Maka dari itu, pendidikan IPS adalah salah satu upaya yang akan membawa kesadaran terhadap ruang, waktu, dan lingkungan sekitar bagi anak (Farris and Cooper, 1994 : 46).

Pendidikan IPS dalam Struktur Program Kurikulum (KBK) SD

Pendidikan IPS SD disajikan dalam bentuk synthetic science, karena basis dari disiplin ini terletak pada fenomena yang telah diobservasi di dunia nyata. Konsep, generalisasi, dan temuan-temuan penelitian dari synthetic science ditentukan setelah fakta terjadi atau diobservasi, dan tidak sebelumnya, walaupun diungkapkan secara filosofis. Para peneliti menggunakan logika, analisis, dan keterampilan (skills) lainnya untuk melakukan inkuiri terhadap fenomena secara sistematik. Agar diterima, hasil temuan dan prosedur inkuiri harus diakui secara publik (Welton and Mallan, 1988 : 66-67).

IPS SD diprogramkan dalam bentuk pelajaran Sejarah bersama-sama Kewargaanegara (Citizenship) dengan alokasi waktu 3 jam pelajaran setiap minggu, dan Ilmu Sosial (Social Sciences) sebanyak 3 jam pelajaram setiap minggu sejak kelas III, IV, V, dan VI. Kemungkinan besar alasan pembagian seperti ini dilandasi oleh pertimbangan, bahwa tiga tradisi besar IPS (Social Studies) adalah good citizenship, social sciences, dan reflective inquiry.

Tema-tema IPS SD yang Perlu Mendapat Perhatian

Secara gradual, di bawah ini akan diungkapkan beberapa tema IPS SD yang perlu mendapat perhatian kita bersama, antara lain :

(1) IPS SD sebagai Pendidikan Nilai (value education), yakni :
· Mendidikkan nilai-nilai yang baik yang merupakan norma-norma keluarga dan masyarakat;
· Memberikan klarifikasi nilai-nilai yang sudah dimiliki siswa;
· Nilai-nilai inti/utama (core values) seperti menghormati hak-hak perorangan, kesetaraan, etos kerja, dan martabat manusia (the dignity of man and work) sebagai upaya membangun kelas yang demokratis.

(2) IPS SD sebagai Pendidikan Multikultural (multicultural eduacation), yakni
· Mendidik siswa bahwa perbedaan itu wajar;
· Menghormati perbedaan etnik, budaya, agama, yang menjadikan kekayaan budaya bangsa;
· Persamaan dan keadilan dalam perlakuan terhadap kelompok etnik atau minoritas.

(3) IPS SD sebagai Pendidikan Global (global education), yakni :
· Mendidik siswa akan kebhinekaan bangsa, budaya, dan peradaban di dunia;
· Menanamkan kesadaran ketergantungan antar bangsa;
· Menanamkan kesadaran semakin terbukanya komunikasi dan transportasi antar bangsa di dunia;
· Mengurangi kemiskinan, kebodohan dan perusakan lingkungan.

Metode Pembelajaran IPS SD

Sesuai dengan karakteristik anak dan IPS SD, maka metode ekspositori akan menyebabkan siswa bersikap pasif, dan menurunkan derajat IPS menjadi pelajaran hafalan yang membosankan. Guru yang bersikap memonopoli peran sebagai sumber informasi, selayaknya meningkatkan kinerjanya dengan metode pembelajaran yang bervariasi, seperti menyajikan cooperative learning model, role playing, membaca sajak, buku (novel), atau surat kabar/majalah/jurnal agar siswa diikutsertakan dalam aktivitas akademik. Tentu saja guru harus menimba ilmunya dan melatih keterampilannya, agar ia mampu menyajikan pembelajaran IPS SD dengan menarik.

Penutup

Perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur program kurikulum KBK, yang menyangkut pembelajaran IPS berikut pembagiannya menjadi Kewarganegaraan (Citizenship) dan Sejarah serta Ilmu Sosial, masih belum jelas kerangka berfikir berikut landasannya. Landasan permasalahan yang menyangkut kondisi kemasyarakatan membebani IPS SD dengan tekanan-tekanan dalam bentuk tuntutan keinginan dan harapan yang tidak sesuai dengan tingkat kematangan fisik, mental, dan intelektual siswa SD, dan berada di luar jangkauan peraihannya.

Bagi guru, tekanan dan tuntutan melaksanakan program baru ini juga tidak kecil. Mereka harus dipersiapkan agar mampu menyajikan ilmu sosial untuk jenjang Sekolah Dasar dengan metode-metode pembelajaran yang beragam.

DAFTAR PUSTAKA

Bruner, J. (1978). The Process of Educational Technology. Cambridge : Harvard University.

Farris, P.J. and Cooper, S.M. (1994). Elementary Social Studies. Dubuque, USA : Brown Communications, Inc.

Weton, D. A and Mallan, J.T. (1988). Children and Their World. Boston : Houghton Mifflin Coy.

Konsep Dasar IPS(Perguruan Tinggi)

KONSEP DASAR ILMU SOSIAL


PENGERTIAN KONSEP

Pengertian yang tergambar dalam pikiran yang menceritakan suatu benda atau suatu gagasan baik konkrit atau abstrak Konsep IPS: suatu pengertian yang menceritakan suatu fenomena atau benda yang berkaitan dengan IPS- Konsep IPS disini bisa bermakna konotatif atau pun juga denotatif


KONSEP GEOGRAFI

1. Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dg sudut pandang lingkungan atau kewilayahan dalam kontek keruangan”

2. Obyek studi geografi: Geosfer/ permukaan bumi terdiri dari : atmosfer/lap. Udara, hidrosfer/lap.air , litosfer/lap batuan, biosfer/ lap Kehidupan-


KONSEP DASAR GEOGRAFI

a.Konsep bumi sebagai Planet

b. Variasi cara hidup

c. Variasi wilayah-wilayah alami

d. Makna Wilayah bg manusia

e. Pentingnya Lokasi dalam memahami peristiwa dunia


KONSEP SEJARAH

-Masa lampau (tidak dapat diulang kembali)

-Obyek bs berupa benda, peristiwa, riwayat, pengalaman

-Digambarkan/ dinarassikan sbg fakta

-Semua obyek dianalisis/ ditafsirkan/ diteliti dg menggunakan metode tertentu yang sesuai.

Dengan menggunakan metode peristiwa masa lampau dapat direkuntruksi dan disusun kenbali sehingga bs menjadi pelajaran dan peringatan-peringatan ( ada ungkapan sejarah berulang kembali/ meangambil pelajaran dari sejarah


PENGERTIAN SEJARAH

Sejarah adalah: Gambaran tentang peristiwai-pegawai masa lampau yang dialami manusia, disusun scr alamiah meliputi urutan waktu, diberi tafsiran dan analisis kritis sehingga mudah dipahami dan dimengerti dan dipahami


HUB SEJARH DAN WAKTU

Dengan mempelajari masa lampau dan dihubungkan dengan pengalaman / kejadian aktual saat ini kita dpt mengkaji / mengetahui perkembangan shg kejadian-kejadian mendatang dapat diprediksi.-

Maka mempelajari sejarah bukan merupakan suatu kegiatan yang statis malah justru mrp telah yang dinamis ke masa yang akan datang)


KONSEP DASAR SEJARAH

-Waktu

-Dokumen

-alur peristiwa

-kronologis

-peta

-tahap-tahap peradapan

=Ruang

-evolusi

-revolusi

Waktu lampau menjelaskan sifat bobot dan warna peristiwa yang bersangkutan.Peristiwa sejarah dpt dinyatakan sejarah jk berkaitan dg waktu.Sejarah mengungkapkan kapan terjadinya suatu peristiwa. Dan Geografi memberi petunjuk dimana peristiwa itu terjadi.PETA alat bantu tentang lokaasi suatu peristiwa terjadi.

ALUR rentetan peristiwa berdasrkan urutan waktu terjadinya.


KONSEP DASAR ANTROPOLOGI

Kebudayaan

Tradisi

Pengetahuan

Ilmu

Teknologi

Norma

Lembaga

Seni

Bahasa

Lambang


-Kebudayaan adalah hal-hal yang berhubungan dg budi dan atau akal(Kuntjaraningrat)#-Tradisi=kebiasaan- kebiasaan yang terpolakan secara budayadi masyarakat#Kebiasaan lebih melekat pada perorangan sedangkaan tradisi melekat pada kehidupan dan alam pikiran masyarakat.

Mengetuk pintu, tegur sapa, berpakaian rapi merupakankebiasaan , Namun pulang mudik leabaran di masyrakat taertentu masmih mrpk tradisi

Penget. Ilmu DAN Tekonologi merupakan konsep dasar yang terkakit dengan belajar, ketiga nya sangat erat maka digabungkan dengan IPTEK



NILAI DAN NORMA

1. Dalam kehidupan masyarakat melekat apa yang dikatakan baik, buruk, sopan tak sopan, cocok dan tak cocok, salah benar, hal ini merupakan nilai –

2. Sedangkan norma lebih mengarah pada ukuran dan aturan kehidupan yang berlaku dalam masyarakat (tapi tak tertulis)

Nilai mengatur, membatasi, menjaga keserasian hidup dalam masyarakat. Orang yang tak sopan berarti orang tsb tak mempunyai nilai

Contoh orang yang bertanya di kelas hrs mengacungkan terlebih dahulun dan dalam bertanya harus sopan

(angkat tangan itu norma dan kesopanan itu nilai)


PRANATA VS LEMBAGA
*

Pranata (intitution) adalah sistem norma atau aturan-aturan yang mengenai suatu aktivitas yag khusus
*

Lembaga adalah Badan yang melaksanakna aktivitas dari panata


No Lembaga, Intitut, organisasi Pranata, Institution


1 SMPN 3 Tarakan Sekolah Menengah

2 FKIP Pendidikan guru

3 IPSI Olah raga silat

4 Dep HANKAM Keamanan Neg.

5 BNI 46 Bank

6 PSSI Olah raga sepak Bola


KONSEP DASAR SOSIOLOGI

Sosiologi adalah ilmu sosial yang scr khusus mempelajari interaksi sosial .

Frank H. Hankin mendefinisikan sosiologi adalah studi ilmiah tentang fenomena yang timbul dari hubungan kelompok umat manusia.


MATERI POKOK SOSIOLOGI

Interaksi sosial

Sosialisasi

Kelompok Sosial

Perlapisan Sosial

Proses Sosial

Perubahan sosial

Mobilisasi sosial

Modernisasi

Patologi sosial

Dsn konsep lain yang ada di masy.


Manusia sebagai makhluk sosial selalu mengadakan interaksi , baik itu interaksi edukatif, intr ekonomi, interkasi budaya, dan intreaksi politik.

Sosialisasi adalah Proses penenaman nilai dan pembelajaran norma sosial dalam rangka pengembangan individu yang bersangkutan.


Kelompok Sosisal: kumpulan manusia yang terdiri dari dua orang atau lebih yang saling mengenal dalm waktu relatif lama, ada kaitan senasib diikat oleh nilai dan norma yang sama serta memiliki rasa persatuan.

Ikatan persamaan spt pendidikan, ekonomi, mata pencaharian,

Shg ada kel miskin, menengah , kaya yang ini namanya perlapisan sosial


Proses sosial tak pernah berhenti dalam masyarakat, sll beranjak dari tingkat terbelakang-berkembang- modern. sbg akibat dari proses sosial trjd perubahan sosial, jk proses sosial daan perubahan ini mengarah pada kpd kemajuan , mk masy. Tsb mengalamai proses modernisasi.


Terjadinya proses sosial, perubahan sosial, dan modernisasi (perorangan/kel) akan mengakibatkan perubahan status dari lapisan bwah-menengah-atas.

Perubahan status baik perorangan maupun kelompok disebut mobilitas sosial.


Terjadinya proses sosial, perubahan sosial, dan modernisasi (perorangan/kel) akan mengakibatkan perubahan status dari lapisan bwah-menengah-atas.

Perubahan status baik perorangan maupun kelompok disebut mobilitas sosial.


Patologi Sosial adalah segala penyakit masy. yang menjadi masalah sosial. Spt kejahatan, penganguran, kemiskinan, gelandangan, tawuran remaja dll.


PSIKOLOGI SOSIAL

Psikoloogi sosial adalah studi ilmiah tenatng proses mental manusia sebagai makhluk sosial.

Psikologi sosial dapat didefinisikan juga sebagai ilmu tentang pperistoiwa perilaku antarpersonal.


MATERI POKO PSIKOLOGISOSIAL

Emosi. Perhatian . Minat Kemauan

Motivasi kecerdasan Penghayatan

Kesadaran

Harga diri, Sikap mental

Kepribadian

Jadwal Kuliah PGSD

ENIN 07:00 - 08:40 F12 - 108 (LAB IPA) PENDIDIKAN IPA SD Djukri 3 III.A Kampus 2

SENIN 07:00 - 08:40 F12 - 108 (LAB IPA) PENDIDIKAN IPA SD Woro Sri Hastuti 3 III.A Kampus 2

SENIN 11:00 - 13:50 F12 - 108 (LAB IPA) PENDIDIKAN IPA SD Djukri 3 III.A Kampus 2

SENIN 11:00 - 13:50 F12 - 108 (LAB IPA) PENDIDIKAN IPA SD Woro Sri Hastuti 3 III.A Kampus 2

SENIN 14:00 - 15:40 F14 - 102 TEORI BILANGAN T. Wakiman 3 III.A Kampus 2

SELASA 07:00 - 08:40 F14 - 102 MANAJEMEN PENDIDIKAN Sudiyono 3 III.A Kampus 2

SELASA 09:00 - 10:40 F11 - 104 PENELITIAN PENDIDIKAN Harun Rasyid 3 III.A Kampus 2

SELASA 11:00 - 13:50 F11 - 104 PENELITIAN PENDIDIKAN Harun Rasyid 3 III.A Kampus 2

SELASA 14:00 - 15:40 F16 - 102 PSIKOLOGI PENDIDIKAN Diana Septi Purnama 3 III.A Kampus 2

RABU 07:00 - 09:30 F11 - 104 PENGEMBANGAN KONSEP DASAR IPS Anwar Senen 3 III.A Kampus 2

RABU 09:40 - 11:50 F14 - 101 KEMAMPUAN BERBAHASA & SASTRA INDONESIA HB. Sumardi 3 III.A Kampus 2

KAMIS 07:00 - 08:40 F11 - 105 STRATEGI BELAJAR MENGAJAR Anik Ghufron 3 III.A Kampus 2

KAMIS 11:00 - 13:50 F11 - 104 PENDIDIKAN KESEHATAN ANAK SD Sudarmanto 3 III.A Kampus 2

Ketoprak

Ketoprak (bahasa Jawa: kethoprak) adalah sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa. Dalam sebuah pentasan ketoprak, sandiwara yang diselingi dengan lagu-lagu Jawa, yang diiringi dengan gamelan disajikan.

Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Banyak pula diambil cerita dari luar negeri. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata. Sebab nanti pertunjukkan bukan ketoprak lagi melainkan menjadi pertunjukan wayang orang.

Beberapa tahun terakhir ini, muncul sebuah genre baru; Ketoprak Humor yang ditayangkan di stasiun televisi RCTI. Dalam pentasan jenis ini, banyak dimasukkan unsur humor.

Komedi

Melawak merupakan suatu usaha untuk membuat orang lain tertawa, atau sekadar membuat orang lain gembira. Caranya bermacam-macam, tergantung si pelawak dan biasanya disesuaikan dengan kondisi orang yang akan dibuat tertawa. Cara yang paling umum adalah dengan mengucapkan lelucon, dengan subjek lelucon orang lain, atau diri sendiri. Cara lainnya adalah dengan tingkah laku yang dibuat-buat hingga dapat terlihat lucu dan pentas ditertawakan di hadapan orang lain. Belakangan ini, lawak menjadi salah satu program utama di beberapa stasiun televisi baik di Indonesia maupun di mancanegara.

Di Indonesia bentuk lawak yang paling terkenal adalah grup lawak, melawak dengan beberapa pelawak yang menggabungkan diri menjadi satu kelompok dan mementaskan suatu cerita lucu. Masing-masing memerankan satu karakter dan kelucuan yang terjadi berasal dari interaksi antar karakter-karakter ini. Beberapa contoh grup lawak seperti ini adalah Srimulat, Warkop DKI dan Patrio.

Di Amerika Serikat yang lebih terkenal adalah standup comedy, di mana seorang pelawak berdiri di depan penonton dan mengucapkan monolog mengenai sesuatu. Jenis lawakan seperti ini lebih bergantung pada cara penyampaian dan isi cerita. Contoh-contoh pelawak standup adalah Robin Williams, Jim Carrey, Jerry Seinfeld, Jeff Foxworthy, dan Eddie Izzard.

Selain itu juga terdapat beberapa kelompok lawak dari Inggris dan Amerika seperti Monty Python dan Marx Brothers.

Pantun

Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan, dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan, dan dalam bahasa Batak dikenal sebagai umpasa (baca: uppasa). Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), bersajak akhir dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a (tidak boleh a-a-b-b, atau a-b-b-a). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.

Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.

Karmina dan talibun merupakan bentuk kembangan pantun, dalam artian memiliki bagian sampiran dan isi. Karmina merupakan pantun "versi pendek" (hanya dua baris), sedangkan talibun adalah "versi panjang" (enam baris atau lebih).

Novel

Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif; biasanya dalam bentuk cerita. Penulis novel disebut novelis. Kata novel berasal dari bahasa Italia novella yang berarti "sebuah kisah, sepotong berita".

Novel lebih panjang (setidaknya 40.000 kata) dan lebih kompleks dari cerpen, dan tidak dibatasi keterbatasan struktural dan metrikal sandiwara atau sajak. Umumnya sebuah novel bercerita tentang tokoh-tokoh dan kelakuan mereka dalam kehidupan sehari-hari, dengan menitik beratkan pada sisi-sisi yang aneh dari naratif tersebut.

Novel dalam bahasa Indonesia dibedakan dari roman. Sebuah roman alur ceritanya lebih kompleks dan jumlah pemeran atau tokoh cerita juga lebih banyak.

Cerpen

Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.

Cerita pendek berasal dari anekdot, sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya, dengan parallel pada tradisi penceritaan lisan. Dengan munculnya novel yang realistis, cerita pendek berkembang sebagai sebuah miniatur, dengan contoh-contoh dalam cerita-cerita karya E.T.A. Hoffmann dan Anton Chekhov.

Sage

Sage adalah perangkat lunak bebas GNU yang dipakai untuk penyelesaian berbagai masalah matematika seperti analisis numerik, aljabar, kombinatorik dan kalkulus. Perangkat lunak ini dirancang agar dapat setara dengan kemampuan perangkat lunak MATLAB, Maple, Magma, dan Mathematica.

Mitte

Mitte di Berlin merupakan pusat ibu kota Jerman. Pada tanggal 1 Januari 2001, tiga mantan Bezirke Mitte, Tiergarten dan Wedding bergabung menjadi Bezirk Mitte. Namun di mulut rakyat, "Mitte" artinya sampai sekarang masih mantan Bezirk Berlin-Mitte, dan bukan Bezirk ini secara keseluruhan.

Di Bezirk ini sebagian besar gedung-gedung pemerintahan Jerman terdapatkan. Selain itu sebagian besar Kedutaan Besar negara-negara sahabat juga terletak di Bezirk ini.

LEGENDA

Legenda (Latin legere) adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang enpunya cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Oleh karena itu, legenda sering kali dianggap sebagai "sejarah" kolektif (folk history). Walaupun demikian, karena tidak tertulis, maka kisah tersebut telah mengalami distorsi sehingga sering kali jauh berbeda dengan kisah aslinya. Oleh karena itu, jika legenda hendak dipergunakan sebagai bahan untuk merekonstruksi sejarah, maka legenda harus dibersihkan terlebih dahulu bagian-bagiannya dari yang mengandung sifat-sifat folklor Menurut Pudentia[rujukan?], legenda adalah cerita yang dipercaya oleh beberapa penduduk setempat benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci atau sakral yang juga membedakannya dengan mite. Dalam KBBI 2005[1], legenda adalah cerita rakyat pada zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah. Menurut Emeis[rujukan?], legenda adalah cerita kuno yang setengah berdasarkan sejarah dan yang setengah lagi berdasarkan angan-angan. Menurut William R. Bascom[rujukan?], legenda adalah cerita yang mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan mite, yaitu dianggap benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Menurut Hooykaas[rujukan?], legenda adalah dongeng tentang hal-hal yang berdasarkan sejarah yang mengandung sesuatu hal yang ajaib atau kejadian yang menandakan kesaktian.

FABEL

Fabel, diambil dari bahasa Belanda adalah cerita yang menggunakan hewan sebagai tokoh utamanya. Misalkan cerita kancil atau cerita Tantri di Indonesia.

Banyak satrawan dan penulis dunia yang juga memanfaatkan bentuk fabel dalam karangannya. Salah seorang pengarang fabel yang terkenal adalah Michael de La Fontaine dari Perancis. Penyair Sufi Fariduddin Attar dari Persia juga menuliskan karyanya yang termashur yakni Musyawarah Burung dalam bentuk fabel.

Biasa pada sebuah fabel tersirat moral atau makna yang lebih mendalam.

WACANA TULIS DAN LISAN

Beberapa ahli bahasa memiliki anggapan bahwa mulanya linguistik bagian dari filsafat. Namun, karena kajian sebelumnya itu masih menimbulkan ketidakpuasan bagi para ahli, timbullah kajian linguistik modern yang mulai mempermasalahkan unsur-unsur bahasa seperti bunyi, kata, frasa, klausa, kalimat, di samping ada juga unsur makna (semantis). Belakangan, kajian kebahasaan semakin luas hingga dalam bentuk lebih besar yang disebut dengan wacana.

Alwi, dkk. (1998:419) mengatakan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain dan membentuk kesatuan. Kridalaksana (2001:231) menyatakan bahwa wacana merupakan satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana menurut Kridalaksana direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (misal novel, buku, seri ensiklopedia, dsb.), paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa sebuah wacana melebihi sebuah kalimat. Hal ini sesuai dengan pengertian bahasa secara sederhana, yakni “alat komunikasi”. Sebagai alat komunikasi, bahasa tentunya tidak diucapkan satu kalimat, tetapi penyampaian gagasan, pikiran, perasaan tersebut dapat berupa kalimat berangkai. Selain itu, analisis terhadap wacana dimaksudkan untuk menginterpretasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks linguistik dan konteks etnografii. Konteks linguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa. Inilah yang dimaksudkan dengan wacana dari definisi di atas.

Para penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga sepakat memberikan batasan wacana sebagai berikut.

“komunikasi verbal; percakapan; keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan; satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh seperti novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah; kemampuan atau prosedur berpikir sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat; pertukaran ide secara verbal” (KBBI, 2005:1265).

Batasa tersebut semakin menjelaskan bahwa analisis atau kajian wacana sangat luas, dapat terjadi dalam bentuk tuturan dan tulisan, ia digunakan dalam komunikasi sebagai salah satu interaksi kebahasaan. Dengan kata lain, wacana dapat dikatakan sebagai satuan bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Satuan bahasa itu dapat berupa rangkaian kalimat atau ujaran. Karena itu, wacana dapat berbentuk lisan atau tulis dan dapat bersifat transaksional atau interaksional.

Oleh karena komunikasi tersebut dapat terjadi dalam bentuk lebih dari satu kalimat, Alwi dkk. (1998:419) menyatakan bahwa pembicaraan tentang wacana memerlukan pengetahuan tentang kalimat dan segala hal yang ada hubungannya dengan kalimat. Namun demikian, yang menjadi persoalan kemudian adalah kalimat yang dipakai tersebut apakah sama saat diujarkan dengan dituliskan?

Sebagai contoh, interaksi memberi salam dan menjawab salam bagi dua orang apalagi antara tuan rumah dan tamu adalah sebuah keniscayaan. Namun, apakah sama memberi salam antara tamu dan tuan rumah tersebut dengan salam antara khatib (tukang ceramah) dengan audiens, antara dua orang sesama muslim yang berpapasan di jalan, atau antara anak dan orangtua saat akan berpamitan?

Jawaban salam dari tuan rumah kepada tamu sendiri tentunya masih mengalami perbedaan antara tuan rumah yang sudah melihat tamunya di depan (serambi) rumah dengan tuan rumah yang masih berada di dalam rumah (mungkin di dapur. Perbedaan tersebut terletak pada intonasi, situasi, tempat, dan waktu. Lantas, bagaimanakah kalimat atau ungkapan salam tersebut dilahirkan dalam wujud tulisan? Hal-hal seperti inilah yang menjadi pemikiran pentingnya menganalisis wacana dari segi lisan dan tulis, karena para ahli telah sepakat bahwa untuk menyampaikan ide atau perasaan sekecil apa pun, dapat dilakukan dengan lisan dan tulis.

Pertanyaan berikutnya yang menjadi landasan pemikiran meninjau tentang pemahaman wacana adalah mana yang lebih mudah dipahami; wacana lisan atau wacana tulis. Lantas bagaimana peran dan ciri-ciri kedua jenis wacana tersebut. Patut diingat pula bahwa jenis-jenis wacana masih dapat dibagi lagi. Namun, induk pembagian jenis wacana tetaplah lisan dan tulis. Dari dua pembagian ini kemudian dirincikan lagi jenis-jenis wacana lainnya. Adapun pembahasan dalam tulisan ini sekedar mencoba memberikan pemahaman tentang wacana lisan dan wacana tulis.

Wacana Lisan dan Wacana Tulis

Pemahaman wacana lisan jauh lebih banyak daripada sekedar mengawakode simbol-simbol yang tertera pada halaman tulisan. Hal itu menyangkut pengakuan akan apa yang sudah diketahui dan pengintegrasian yang baru ke dalam dasar pengetahuan yang sudah ada pada seseorang. Hal ini disebabkan dalam membaca kita membawa sejumlah besar informasi ke dalam teks dan mengambil sejumlah besar kesimpulan berdasarkan pengetahuan dasar atau pengetahuan skematis. Jika pengetahuan skematis tidak ada atau cacat, pemahaman akan terhalang. Hal ini sudah ditunjukkan oleh Steffensen (1981) yang dikutip kembali oleh Silangen (1992:67). Ia mengatakan:

1. tidak ada situasi yang umum, “situasi” (atau kerangka acuan) yang dikehendaki ada di dalam teks dan harus disimpulkan dari teks.
2. kata-kata berdiri sendiri. Mereka tidak ditopang oleh perilaku nonverbal (yang kita sebut peniruan) dan perilaku jamahan atau pernyataan verbal.
3. tak ada kesempatan untuk umpan balik kepada sumber. Jika asumsi penulis mengenai keadaan “w” dibesar-besarkan, tergantung pada pembacalah untuk menutup celahnya dengan cara sendiri.
4. membaca adalah monoton, tidak terputus-putus. Kurang kesempatan bagi pembaca untuk memberi respon yang terbuka. Jika ia memberikan respon yang terbuka (tertawa atau menuliskan catatan dan sebagainya), tulisan itu langsung diperkuat. Penulis tidak tahu apa tentang respon terbuka itu.
5. pengeditan teks dapat menghalangi pemahaman. Kesalahan dan hentian dalam bahasa lisan justru sesuai dengan titik-titik kemacetan dalam gerakan pikiran pembaca. Mereka mengisyaratkan kesulitan dan menyediakan waktu mengatasinya, baik pendengar maupun pembaca.
6. karena teks lebih lengkap daripada ujaran, teks cenderung lebih padat. Bagi pembaca yang belum dewasa teks juga tidak dikenal dalam hal pemilihan kata dan gaya. Bahasa adalah miliknya, gaya adalah asing.
7. penulis mengurutkan bahannya. Akan tetapi, urutan yang menurutnya terbaik mungkin bukan yang terbaik bagi pembaca tertentu.

Pengembangan Keterampilan Wacana

Keterampilan yang dimaksudkan dalam bagian ini secara khusus dihubungkan dengan pandangan teoretis, yaitu yang diperoleh dari aspek linguistik dan psikolinguistik pemrosesan.

Dalam pembelajaran, seharusnya di akhir proses pembelajaran, siswa mampu memanfaatkan pengetahuan dasar yang mereka miliki untuk memberikan orientasi pada tugas bacaan. Siswa diharapkan mampu menyusun gagasan tentang topik ke dalam hierarki konseptual. Kegiatan membaca seperti itu untuk mendorong para pembelajar mengemukakan informasi yang mereka miliki, membantu pembaca untuk memahami teks mengenai bahan yang diberikan.

Keterampilan lain yang bermanfaat dalam memahami wacana adalah kemampuan membaca cepat sebuah teks dan menghasilkan suatu garis besar struktur teks. Hal ini memberikan gambaran ikhtisar “atas-bawah” atau peta konseptual yang akan dipelajari oleh pembelajar secara rinci.

Ada berbagai relasi antarelemen dalam wacana. (1) Relasi koordinatif adalah relasi antarelemen yang memiliki kedudukan setara. (2) Relasi subordinatif adalah relasi antarelemen yang kedudukannya tidak setara. Dalam relasi subordinatif itu terdapat atasan dan elemen bawahan. (3) Relasi atribut adalah relasi antara elemen inti dengan atribut. Relasi atribut berkaitan dengan relasi subordinatif karena relasi atribut juga berarti relasi antara elemen atasan dengan elemen bawahan. (4) Relasi komplementatif adalah relasi antarelemen yang bersifat saling melengkapi. Dalam relasi itu, masing-masing elemen memiliki kedudukan yang otonom dalam membentuk teks. Dalam jenis ini tidak ada elemen atasan dan bawahan.

Hakikat Wacana Lisan

Richards (1983) mengemukakan bahwa:

…konsep koherensi yang diterapkan dalam wacana bercakap-cakap sangat berbeda dengan cara koherensi yang diciptakan dalam wacana tulis. Wacana tulisan direncanakan, diatur ketat, dan biasanya merupakan produk satu orang. Wacana lisan tidak direncanakan sebelumnya, tetapi diproduksi dalam waktu sinambung dengan saling kerja sama. Oleh karena itu, wacana lisan menyajikan makna dengan cara sama sekali berbeda dengan wacana tulisan. Topik dikembangkan secara berangsur-angsur, dan konvensi pengembangan topik dan perubahan topik adalah distingtif terhadap laras bahasa lisan. Para pendengar dapat menggunakan isyarat seperti ‘berbicara tentang itu, mengingatkan Anda pada… ngomong-ngomong, sejah hal itu’ untuk menunjukkan arah pengembangan topik.”

(Nunan, 1992:78)

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa hakikat wacana lisan sifatnya hanya sesaat dan biasanya interaktif, pembicara lebih banyak berasumsi tentang keadaan pengetahuan mutakhir pendengar daripada penulis terhadap pembaca. Karena itu, pengetahuan skematis sangat penting. Dalam usaha memahami wacana lisan, baik monolog (seperti mendengarkan berita radio) maupun dialog (semisal mendengar percakapan antara pentur asli), pendengar harus menafsirkan dan mengintegrasikan bahasa pada tingkat proposisional dan ilokasi.

Hakikat Wacana Tulis

Mengutip Smith (1978), Nuna menyebutkan pengalaman sangat penting dalam pemahaman lingusitik. Hal ini karena linguistik memiliki hubungan tekstual yang ditunjukkan oleh referensi, elipsis, konjungsi, dan kohesi leksikal.1 Sebuah komponen penting dalam pelajaran pemrosesan wacana adalah membantu pembelajar untuk mengembangkan keterampilan dalam mengenali hubungan-hubungan ini. Selain penting bagi pembelajar untuk membangun suatu kosa kata yang ekstensif dalam medan makna yang dimarkahi oleh kohesi leksikal, juga penting untuk mengembangkan keterampilan memanfaatkan informasi kontekstual untuk memahami kosa kata yang tidak diketahui.

Selain itu, perlu juga dikembangkan keterampilan yang lebih sulit untuk mengenali daya retorik informasi tekstual yang tidak dimarkahi secara eksplisit dengan beberapa bentuk konjungsi. Akhrinya, pembaca seharusnya mampu mendemonstrasikan penguasaan terhadap isi tekstual dengan beralih ke balik teks itu.

———————-

1Bagian ini akan dijelaskan pada lain kesempatan.

ANALISIS

Analisis wacana menginterprestasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks linguistik dan konteks etnografii. Konteks linguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti, sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa (Massofa, 2008).

Dalam analisis wacana berlaku dua prinsip, yakni prinsip interpretasi lokal dan prinsip analogi. Prinsip interpretasi lokal adalah prinsip interpretasi berdasarkan konteks, baik konteks linguistik atau koteks maupun konteks nonlinguistik. Konteks nonlinguistik yang merupakan konteks lokal tidak hanya berupa tempat, tetapi juga dapat berupa waktu, ranah penggunaan wacana, dan partisipan. Selanjutnya, prinsip interpretasi analogi adalah prinsip interpretasi suatu wacana berdasarkan pengalaman terdahulu yang sama atau yang sesuai. Dengan interpretasi analogi itu, analis sudah dapat memahami wacana dengan konteks yang relevan saja. Hal itu berarti bahwa analis tidak harus memperhitungkan semua konteks wancana.

Pemahaman Wacanan Lisan dan Tulis

Mengembangkan pemahaman atau pengertian yang baik pada sebuah wacana sebenarnya sama saja dengan mengembangkan pemikiran yang baik. Tak seorang pun dapat mengajarkan bagaimana caranya meningkatkan pemikiran hanya dalam tempo semalam. Namun demikian, ada langkah-langkah yang dapat dijalankan guna membantu bagaimana meningkatkan kemampuan membaca (memahami teks dan nonteks) jauh lebih cepat dari yang dibayangkan.

Proses pemahaman wacana adalah proses menemukan konfigurasi skemata yang menawarkan uraian yang memadai tentang bacaan yang bersangkutan (Alwi, dkk., 1998:450). Hal ini berkaitan tentang pemahaman wacana tulis. Ada beberapa penyebab kegagalan pemahaman wacana bacaaan meskipun penulis telah berusaha menulis dengan baik dan pembaca telah berusaha membaca dengan baik pula.

Pembaca mungkin tidak mempunyai skemata yang sesuai. Dalam hal ini, pembaca memang tidak dapat memahami konsep yang disampaikan penulis. Di sisi lain, meskipun pembaca memiliki sekmata, tetapi petunjuk-petunjuk yang disajikan oleh penulis mungkin tidak cukup memberi saran tentang skemata tersebut. Hal ini berarti bahwa pembaca tidak akan memahmi wacana. Namun, dengan petunjuk tambahan yang sesuai, mungkin ia dapat memahami bacaan dimaksud.

Kendati pembaca mungkin mendapat penafsir wacana secara tetap, tetapi mungkin tidak menemukan apa yang diinginkan oleh penulisnya. Artinya, pembaca mungkin memahami teks, hanya saja pemahaman dia kemungkinan berbeda dengan maksud yang hendak disampaikan oleh penulis teks.

Adapun yang dimaksud dengan skemata adalah pengetahuan yang terkemas secara sistematis dalam ingatan manusia. Skemata itu memiliki struktur pengendalian, yakni cara pengaktifan skemata sesuai dengan kebutuhan. Ada dua cara yang disebut pengaktifan dalam struktur itu, yakni (1) cara pengaktifan dari atas ke bawah dan (2) cara pengaktifan dari bawah ke atas. Pengaktifan atas ke bawah adalah proses pengendalian skemata dari konsep ke data atau dari keutuhan ke bagian. Pengaktifan bawah ke atas adalah proses pengendalian skemata dari data ke konsep atau dari bagian ke keutuhan.

Langkah pertama di dalam mengembangkan pemahaman ialah dengan mempraktikkan menemukan apa subjek atau pokok pikiran dari suatu paragraf. Manfaatkan waktu Anda memahami hal ini, tanpa harus berpikir lagi. Namun, perlu praktik melakukannya sehingga Anda dapat melakukannya ketika berjumpa dengan teks atau wacana yang sulit.

Berikut ini adalah latihan sederhana sebagai salah satu cara yang mungkin dapat dilakukan.

LATIHAN

Bahan: kertas, pensil

Tujuan: Belajar mengidentifikasi makna isi suatu paragraf.

1. Baca setiap paragraf di bawah ini secepat yang Anda dapat, dengan tangan Anda dan cari jawaban paragraf gagasan pokoknya tentang apa.

2. Dalam wacana ini, butir dari “A” hingga “F”. Sesudah membaca sebuah kalimat dalam paragraf sebanyak satu kali, kembali lagi, dan dalam kertas Anda tulis paragraf itu mengenai apa dalam beberapa kata saja.

CATATAN: Penting untuk membaca setiap wacana hanya sekali! Hindari untuk mengulanginya.

A. Semua pohon berwarna hijau.

B. Banyak burung terbang ke arah selatan di musim dingin.

C. Herman membersihkan halaman, Safriandi yang menyuruh.

D. Syahriandi suka main sepak bola. Ia ingin suatu saat menjadi pemain professional.

E. Syaid Saifullah adalah penulis terkenal dari Gemasastrin pada era 80-an. Ia seorang Islam yang taat.

F. Mitoha merupakan seorang guru SMP. Ia masih muda, manis, berambut hitam pendek, dan memiliki psotur tubuh ideal. Nama aslinya tidak biasa disebut orang karena ia menggunakan nama kecil, yakni Neng Geulis.

LIHAT!

1. Apakah Anda memperhatikan bahwa pokok atau subjek setiap wacana selalu berada pada kalimat pertama? Ini teori umum pada semua tulisan. Kenyataannya, hampir 95% dari semua paragraf, topik dipresentasikan pada kalimat pertama. Itu sebabnya, mengapa kalimat ini kerap disebut sebagai kalimat topik.

Perintah itu semua coba Anda kerjakan dan dilakukan secepat mungkin. Oleh karena dalam hampir setiap kasus topik terdapat pada kalimat pertama, bacalah kalimat pertama dengan sangat hati-hati apa yang dibahas dalam wacana dimaksud. Jika Anda menemukannya, sebenarnya Anda sudah menemukan tujuan yang telah saya berikan. Namun, selalu ada kesempatan, bahkan ini mungkin hal yang sangat mudah (mungkin kurang dari lima persen), bahwa topik yang sesungguhnya diberikan di mana saja dalam wacana itu. Dengan demikian, Anda dapat meneruskan membaca agar dapat melihat bahwa segala sesuatu terkait dengan topik yang sudah Anda baca. Kini tentu Anda dapat mulai lebih cepat lagi dari yang sebelumnya.

WACANA

WACANA (DISCOURSES)



Erti Perkataan Wacana


 Perkataan Wacana adalah padanan perkataan discourse dalam bahasa
Inggeris. Perkataan discourse dalam Kamus Webster, 1983 : 522 bererti:
 Hubungan fikiran dengan kata-kata; ekspresi idea-idea atau gagasan-gagasan; atau percakapan
 Hubungan secara umum, terutama sebagai suatu subjek kajian atau
pokok bahasan
 Risalah tulisan, disertasi formal; kuliah, ceramah; khutbah

 Perkataan wacana menurut Kamus Dewan Edisi Baru 1993 : 1484
bererti:
 Ucapan, pertuturan, percakapan, keseluruhan tutur yang merupakan suatu kesatuan
 Keseluruhan terbitan atau hasil karya dalam sesuatu bahasa

 Berdasarkan erti perkataan wacana di atas dapat disimpulkan bahawa
perkataan wacana itu sama dengan perkataan ucapan yang utuh untuk
wacana lisan, dan karangan yang utuh untuk wacana tulisan dalam
pengajaran bahasa Melayu sebelum ini.




Batasan Wacana


Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas, ada baiknya kita melihat batasan (definisi) wacana dariapada beberapa tokoh bahasa di bawah ini:

 STUBBS, MICHAEL: Wacana merupakan kesatuan bahasa yang lebih
besar daripada ayat atau klausa. Dengan kata lain, wacana merupakan
unit-unit linguistik yang lebih besar daripada ayat atau klausa, seperti
pertukaran-pertukaran percakapan atau teks-teks tertulis. Secara
ringkas; yang disebut teks bagi wacanaadalah ayat bagi ujaran.

 ASMAH HAJI OMAR: Wacana ialah unit bahasa yang melebihi batas
ayat, yang di dalamnya memperlihatkan hubungan-hubungan dan
perkembangan fikiran yang berurutan seperti ayat, sejumlah ayat,
ceraian, perenggan, bab, buku, novel, cerpen, cerita, dialog, siri buku
(cerita) dan sebagainya.

 HARIMURTI KRIDALAKSANA: Wacana adalah satuan bahasa
terlengkap; dalam hierarki tatabahasa merupakan satuan tatabahasa
tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk
karangan yang utuh (novel, buku, ensiklopedia, dan sebagainya),
paragraf, ayat atau kata yang membawa amanat yang lengkap.

 HENRY GUNTUR TARIGAN: Wacana adalah satuan bahasa yang
terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan
koherensi dan kohesi tinggiyang berkesinambungan yangg mempunyai
awal dan akhir yang nyata disampaikan secara lisan atau tertulis.



Huraian daripada beberapa batasan wacana ini memperlihatkan persamaan dan perbezaan pendapat, namun begitu kita dapat mengemukakan bahawa hakikat wacana itu adalah terdiri daripada lapan unsur penting, iaitu

1. Satuan bahasa
2. Terlengkap / terbsesar / tertinggi
3. Mengatasi ayat / klausa
4. Teratur / tersusun rapi / rasa koherensi (kepaduan)
5. Berkesinambungan
6. Rasa kohesi (kepautan)
7. Lisan / tulisan
8. Awal dan akhir

CONTOH ARTIKEL

Masjid Al-Aqsa
Masjid Al-Aqsa, juga ditulis Al-Aqsha, adalah salah satu tempat suci agama Islam yang menjadi bagian dari kompleks bangunan suci di Kota Lama Yerusalem (Yerusalem Timur). Tempat ini oleh umat Yahudi dan Kristen dikenal pula dengan sebutan Bait Allah, suatu tempat paling suci dalam agama Yahudi yang umumnya dipercaya merupakan tempat Bait Pertama dan Bait Kedua dahulu pernah berdiri. Masjid Al-Aqsa secara luas dianggap sebagai tempat suci ketiga oleh umat Islam. Kitab-kitab hadits menjelaskan bahwa Muhammad mengajarkan umat Islam berkiblat ke arah Masjid Al-Aqsa (Baitul Maqdis) hingga 17 bulan setelah hijrah ke Madinah. Setelah itu kiblat salat adalah Ka'bah di dalam Masjidil Haram, Mekkah, hingga sekarang. Pengertian Masjid Al-Aqsa pada peristiwa Isra' Mi'raj dalam Al-Qur'an (Surah Al-Isra' ayat 1) meliputi seluruh kawasan Al-Haram Asy-Syarif

ARTIKEL

Artikel pilihan adalah artikel-artikel terbaik di Wikipedia, yang ditentukan oleh komunitas. Sebelum dimasukkan ke dalam daftar ini, artikel-artikel tersebut dinilai dan dibahas di Wikipedia:Artikel pilihan/Usulan, untuk memastikan keakuratan, kenetralan, kelengkapan, dan gaya penulisan, berdasarkan Wikipedia:Kriteria artikel pilihan.

Saat ini terdapat 103 artikel pilihan dari 132.921 artikel di Wikipedia.

Artikel yang berhasil mendapatkan status artikel pilihan akan diberikan bintang (LinkFA-star.png) pada pojok kanan atasnya. Selain itu, apabila suatu artikel merupakan artikel pilihan di Wikipedia bahasa lain, akan diberikan bintang pada pranala interwiki di sisi kiri bawah artikel.

MEBACA BERITA

ditulis pada Seminar Jurnalistik, Diesemas ITB Bandung 6 Maret 2009. Berikut adalah panduan panduan bagi Anda yang ingin menjadi Presenter/Host di Televisi.

Persiapan Sebelum Membaca Berita

Pahami berita yang akan dibacakan.

Bila perlu, perbaiki naskah berita dengan sepengetahuan produser program.

Koordinasi dengan produser program terkait rundown berita dan wawancara bila ada.

Siapkan waktu cukup untuk rias wajah dan menata rambut.

Selalu siap bila terjadi hambatan teknis di saat sedang membawakan program.

1. Tetap tenang dan relaks tapi berpikir cepat dan ambil keputusan untuk langkah berikutnya
2. Minta maaf jika terjadi kesalahan
3. Siap berbagai versi kalimat yang akan disampaikan jika terjadi kesalahan

Contoh: “Pemirsa/ kami mohon maaf/ gambar yang baru saja kami tayangkan bukan tentang penggusuran di Jakarta tapi tentang tanggapan wakil presiden Yusuf Kalla tentang melonjaknya harga minyak goreng// Kita beralih ke informasi berikutnya///”

Selalu membawa naskah berita walaupun tersedia prompter.

Bagaimana Membaca Berita dengan Baik

Baca berita seperti bercerita kepada orang lain.

Tatap kamera seakan menatap lawan bicara.

Ekspresi presenter harus sesuai dengan berita yang dibacakan.

CARA MEMPELAJARI ANAK MEMBACA

Mengajari belajar membaca anak memang susah-susah gampang :) dan ini dibutuhkan kesabaran orang tua. Karena semakin orang tua tidak sabar, semakin susah anak untuk menangkap apa yang diajarkan, akhirnya jadi marah-marah hehehe dan dimalam hari saat melihat dia tidur… jadi trenyuh :) sebagian dari kita tentu pernah mengalami hal yang demikian itu.

Anak tidak bisa dipaksakan untuk berkembang secepat yang kita inginkan. Seperti halnya tanaman, perlu proses dari biji, kemudian tunas, kemudian menjadi pohon dan berbuah. Kalau tanaman kita paksa tumbuh cepat agar segera berbuah dengan memberikan pupuk yang melebihi dosis apa ya yang terjadi? Itulah sebabnya belajar membaca anak harus dilakukan dengan sabar. Akan lebih bijak kalau diberikan pujian-pujian (meskipun masih salah dalam membaca) daripada dimarahin :).

Dalam mengajari anak, kita perlu masuk ke dunia mereka, dunia anak-anak. Mungkin dengan mengajak bermain dengan permainan yang anak gemari, misalkan tebak-tebakan nama hewan, tumbuhan dll bisa dijadikan sarana untuk belajar. Permainan tebak2an dengan menyebutkan nama-nama hewan bisa kita akalin dengan “sebutkan nama-nama hewan dimulai dengan huruf k u” otomatis si anak akan berusaha mengeja huruf k dan u dan seterusnya. Permainan ini sangat efektif untuk mengajari anak mengeja, karena disamping permainannya sendiri mengasikkan, juga bisa kita lagukan dengan ceria. Kesabaran menjadi kunci belajar membaca anak agar si anak tidak terbebani dengan pelajaran membaca.